"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kue brownies di pagi hari.
Sore ini Nadia dan Rehan sedang bersepeda mengelilingi kompleks perumahan keluarga Mahendra. Nadia duduk di boncengan sepeda, sedangkan Rehan yang ngegoes sepedanya.
Mereka berdua ingin pergi ke taman kompleks, sore begini suasana di tanam sangat enak.
"Rey, nanti beliin aku es krim ya?" Nadia memeluk perut sixpack Rehan dari belakang. Nadia terus bergerak, hingga terkadang membuat sepeda yang mereka naiki oleng.
"Iya, asal nanti malam aku dapat jatah 3 Ronde." Seketika Nadia langsung mencubit pinggang suaminya. Perkataan vulgarnya membuat dia sangat malu.
"Aduh yank, Ngapain kamu cubit pinggang aku? Untung aku masih bisa fokus ngelihat kejalanan, kalau tiba-tiba tadi kita jatuh gimana?" Ringis Rehan. Cubitan yang Nadia berikan kepadanya membuat pinggangnya terasa nyeri.
"Salah sendiri kalau ngomong gak pernah di saring. Dasar suami mesum." Bukannya marah, Rehan malah tertawa keras.
"Gak usah sok malu-malu, yang semalam minta jangan berhenti siapa?" Goda Rehan. Nadia menganga, pipinya merah karena malu.
Nadia tidak mau menyahuti ucapan Rehan yang sangat vulgar. Dia turun dari boncengan sepedanya sambil menggandeng tangan Rehan.
Kedua insan yang baru menikah itu terlihat sangat menikmati suasana ramai di taman kompleks perumahan Jakarta.
"Sekarang aku tagih janji kamu, beliin aku es krim. Tuh, tuh disana." Nadia menunjuk penjual es krim yang lagi nangkring di pinggir taman.
"Kamu gak ikut?" Nadia menjawab pertanyaan Rehan dengan gelengan kepala.
"Aku tunggu sini." Cengir Nadia.
Rehan menghela nafas pasrah. Dia berjalan menghampiri penjual es krim sendiri.
"Es krim rasa coklat dua pak." Ucap Rehan.
"Siap, Mas."
Masih di tempat yang sama, Nadia sedang duduk di ayunan pohon sambil bermain heandpone.
Kakinya dia ayunkan kedepan dan kebelakang, sepertinya Nadia sangat menikmati kebebasannya disini.
Plok...
Nadia kaget, sontak dia langsung menjatuhkan heandpon yang dia pegang. Hampir saja ada bola yang mengenai dirinya.
"Maaf Tante, Ken salah." Anak laki-laki bernama Ken itu mengambil bolanya. Dari tatapan matanya, dia terlihat sangat takut kepada Nadia.
"Jangan marah ya tante, aku benar-benar tidak sengaja." Ujar anak 6 tahun di depan Nadia.
Nadia tersenyum, dia mengambil heandpon miliknya. Bibirnya tersenyum dikala menatap mata biru anak lelaki di depannya. Sepertinya anak itu bukan anak orang Indonesia. Apa mungkin anak itu blesteran Indonesia dan luar negeri?
"Gak apa-apa kok, Ken. Oh ya, nama Tante Nadia. Kamu disini sama siapa?" Nadia menggendong anak kecil yang bernama Ken. Dia mencium pipi Ken dengan gemas.
"Sama Mama dan papa, tapi mereka sedang pergi sebentar untuk menjemput kakak Ken di tempat Les." Bibir anak laki-laki itu berwarna pink, sepertinya dia memang bukan anak dari pasangan Indonesia.
"Jadi kamu disini sendiri? Kalau gitu, kamu jangan pergi. Tunggu kedua orang tua kami datang, baru kamu boleh pergi. Tante takut kamu hilang." Nadia terlihat cemas, Rehan yang berdiri di belakang Nadia tersenyum tipis.
"Ada yang gak sabar punya anak nih," Sindir Rehan sambil terkekeh.
Nadia cemberut, dia menurunkan Ken dari gendongannya. Spontan Nadia langsung mengambil es krim yang ada di tangan Rehan.
"Untuk ku?" Tanya anak kecil itu ragu.
"Tentu." Jawab Nadia, sambil tersenyum.
Mereka berdua memakan es krimnya bersama. Nadia dan Ken duduk di bawah pohon rindang yang sangat besar.
"Sayang, untuk aku?" Nadia melirik suaminya yang sedang menatapnya, memelas.
"Beli aja lagi." Ketus Nadia.
***
Malam ini Nadia sedang tiduran di kamar. Sedangkan Rehan, lelaki itu sedang berendam di air hangat karena Nadia yang tidak mau disentuh. Nadia sedang badmood gara-gara dirinya terus mengajak pulang sore tadi, padahal Nadia masih ingin bermain dengan Ken.
Nadia meraih heandponenya, lalu dia membuka aplikasi Instagram miliknya. Bibirnya tersungging keatas, dia mempunyai ide yang sangat bagus untuk membuat dirinya tidak bosan berada di kamar.
@Nadia_Zaen
♥️3.345 like
Alone:(
Komentar lainnya......
@Melody Suami tercinta kemana?
@Raditia Mau aku temani gak, Nad?
@Miko ***** bodynya...😍
@Luwis Kayak kenal dinding kamarnya 🤔
@Jeo Lempar ke aku @Rehan_Mahendra Kalau kamu bosan.
@Nadia Maaf, saya bukan barang. @Jeo
@Danil Perfeck 😘
@Mahira Tetap cantik dari dulu sampai sekarang.
@Rara Gak ada yang berubah dari SMA
@Lelvin Aku tunggu jandamu.
Nadia membaringkan tubuhnya, sedangkan Rehan sedang sibuk menyisir rambut hitamnya. Rehan mulai sibuk dengan rutinitasnya, duduk di depan leptop dan berkas-berkasnya.
Nadia berulang kali menelan saliva_nya ketika melihat Rehan bertelanjang dada. Air yang terus menetes di ujung rambut Rehan, membuat ketampanan laki-laki itu terlihat berlipat-lipat ganda.
"Kenapa aku ketularan dia sih? Mesum banget." Nadia menutup matanya, Nadia bergerak kesana-kemari.
Nadia menggigit bibirnya sendiri. Suaminya benar-benar menggoda imannya.
"Rey..." Nadia bangkit dari duduknya. Dia mengusap-usap dada Rehan. Sengaja memang dia membuat suaminya itu tersiksa.
"Argg..., sayang. Aku sedang bekerja, bisakah kamu tidak mengganggu ku dulu?" Rehan benar-benar tersiksa dengan cara Nadia memperlakukannya.
Bibir Nadia tersenyum jahil, dia langsung ******* habis bibir Rehan. Sontak mata Rehan terbelalak. Benarkah ini istri galaknya yang memulai mencumbunya?
"Argg..." Erang Rehan. Nadia tertawa puas ketika melihat bibir suaminya berdarah.
"Kamu yang memulainya, sekarang siap-siap kamu aku terkam." Rehan menggendong istrinya, mereka saling tatap di atas kasur. Tangan Nadia masih melingkar di leher Rehan.
"Emmm..." Suara erangan itu mulai terdengar dari bibir Nadia.
***
"Ma, enak gak brownies buatan aku?" Nadia menghampiri Eva yang sedang makan brownies buatannya di meja makan.
"Enak banget sayang. Mama mau ngasih coba papa kamu dulu ya? Pasti dia senang." Nadia mengangguk, dia membiarkan Eva menemui Bram yang sedang mengurus burung-burungnya di samping rumah.
"Rey, cobain kue buatan aku." Nadia berlari menghampiri Rehan yang sedang mencuci mobil dengan bibir tersenyum.
Tangan Nadia terurur untuk menyuapi Rehan. Bukan karena dia dan Rehan ingin terlihat mesra, itu karena tangan Rehan kotor terkena sabun, sehingga dia tidak bisa makan sendiri.
"Bagaimana rasanya? Kurang gula? Atau kemanisan? Agak gosong gak? Apa kurang matang?" Nadia menatap cemas kearah Rehan.
Rehan sengaja diam, dia ingin menggoda istrinya. Sedangkan Nadia, dia menggigit jarinya, takut jika rasanya tidak enak.
"Rasanya, Emmm...." Seringai Rehan. Nadia mengangguk, dia menunggu jawaban Rehan.
"Rasa kue brownies buatan kamu...." Rehan menelan kuenya. Dia tertawa melihat ekspresi tidak sabar Nadia. Pasti istrinya itu menunggu komentar dari dirinya.
"Tentu enak." Senyum Nadia mengembang. Tidak sia-sia memang dia bangun pagi dan menonton resep kue brownies di YouTube.
"Kamu masakin aku tempe aja, kalau kamu yang masak, pasti berubah menjadi rasa ayam goreng. Apalagi brownies yang enaknya seperti ini. Emang ya kamu istri idaman aku banget." Nadia tersipu mendengar pujian dari Rehan.
"Sudah aku puji kue kamu enakan?" Nadia mengangguk.
"Bantuin aku cuci mobil." Cengir Rehan.
"Apa? Mama nyuruh aku buat bantuin mama bikin roti bakar? Siap, Ma." Nadia berlari masuk kedalam rumah. Sedangkan Rehan sekarang sedang mendengus. Perasaan dia tidak mendengar suara mamanya memanggil Nadia deh.
"Dasar istri kurang ajar." Rehan kembali mencuci mobilnya sendiri. Sedangkan Nadia yang mengintip Rehan di balik pintu rumahnya, terkekeh pelan.
"Ngerjain suami sendiri ternyata sebahagia ini. Bentar lagi lebaran, minta maaf nya besok aja setelah lebaran." Kekeh Nadia.