"Caca gadis cantik pemilik toko bakery yang sangat mencintai seorang abdi negara namun berkali kali di buat kecewa dan memberi harapan dan menghilang selamanya.."
tidak itu saja kehidupan Caca selalu di kecewakan pria yang juga gagal menikah dengannya.
Caca terjatuh dan lagi-lagi di sakiti...
tapi siapa sangka takdirnya sangat lah beruntung.
Caca di temukan dengan orang orang yang salah dengan berbagai kekecewaan lalu di pertemukan dengan cinta yang sesungguhnya..
namun kesabaran seseorang dan keikhlasannya membuat Caca bertemu dengan seorang pria tampan, terhormat, dan memiliki perusahaan
yang besar".
Pria itu bukan orang asing baginya tetapi temannya di masa dulu..
takdir seseorang tidak pernah salah dan tertukar sama halnya dengan jodoh.
yuk dikepoin cerita hidupnya Caca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lili oktarina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12
Satu bulan telah berlalu namun tidak ada kabar dari Ardi, Caca merasa binggung apakah niat Ardi benar adanya.
Caca sempat meragukan niat baik Ardi.
"Aku tak mengerti dengan semua ini tuhan. Jika dia adalah jodohku, sejauh apapun dia pasti akan datang kepadaku" doa Caca.
Apa yang telah kau rencanakan untuk ku tuhan aku mohon jika dia adalah orangnya maka segeralah hadirkan dia dalam hidupku.
Pagi itu begitu indah entah mengapa Caca merasa sangat bahagia, walaupun tanpa kabar dari Ardi. Tapi lain halnya saat ini, ia merasa Ardi akan datang membawa lamaran untuknya. Caca percaya dia adalah lelaki yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi imam dalam hidupnya. Caca akan menunggu hingga ia datang.
Hari itu tepatnya hari Minggu. Saat itu gadis itu hanya berdua bersama ibunya duduk kursi kayu teras rumah dengan menikmati sepotong roti dan secangkir susu. Mereka hanya tinggal berdua, ayah Caca meninggal 10 tahun yang lalu, ia hanya di besarkan oleh ibunya seorang diri.
Tiba- tiba melintas mobil mewah berwarna hitam mengkilap dan ternyata mobilnya berhenti tepat di depan pagar rumah Caca, seketika itu juga diikuti oleh dua mobil mewah lainnya. Caca sangat terkejut setelah melihat pria yang keluar dari mobil itu, Caca tersipu malu melihat kedatangan Ardi.
Apakah secepat ini Tuhan mengabulkan doaku. Rasanya tidak percaya.
Berkali-kali Caca memukul wajahnya dengan kedua tangannya untuk membuktikan bahwa itu nyata bukan mimpi belaka. Mereka memang sudah lama tidak bertemu namun Caca sangat mengingat wajahnya begitu pun Ardi. Ia tidak akan melupakan teman yang di anggapnya spesial itu. Wajah sumringah yang terlihat di wajah Ardi dan keluarganya.
Bu herda merasa sangat binggung dengan kedatangan mereka yang tiba - tiba.
"Ca siapa mereka. Bukan itu nak Ardi, kenapa ramai sekali" tanya Bu Herda terkejut.
"Iya itu Ardi dan keluarganya bu, itu loohh teman lamaku dulu" jawab Caca terbata-bata dan gugup.
"Iya maksudnya apa yang ingin mereka lakukan datang kemari dan juga ramai sekali, ada apa ini Ca" tanyanya.
"Ardi datang mau melamar Caca Bu" jawabnya singkat membuat ibunya tertekun.
"Apa Va. Melamar, Bukan kah ini sangat mendadak. Apa terjadi sesuatu padamu. Kita tidak ada persiapan menyambut mereka" ucap Bu Herda.
"Sebenarnya ini direncanakan satu bulan yang lalu tapi Caca sengaja Bu tidak mengatakannya pada ibu, takutnya gagal lagi, jadi Caca pasrah saja sampai Ardi benar-benar datang" jawab Caca dengan melempar senyum bahagia pada tamu yang ada dihadapan mereka.
...
"Assalamualaikum Ca, Bu...." ucap Ardi seraya mengulurkan tangannya dan di iringi keluarga besarnya.
"Wa'alaikum salam nak Ardi..." jawab Bu Herda yang kagetnya bukan main namun jauh lubuk hatinya ia sangat bahagia.
"Silahkan masuk..." ucapnya mempersilahkan Ardi dan keluarganya masuk ke dalam rumah mereka.
"Saya Ratna mamanya Ardi dan ini Amran suami saya, papanya Ardi" ucap mamanya Ardi yang mengulurkan tanganya dan memperkenalkan laki-laki paruh baya yang berusia sekitar 50 di sampingnya.
"Iya, saya Herda ibunya Caca.."..jawabnya dengan sedikit tenang.
"Kedatangan kami kesini untuk bertemu ibu dan Caca, untuk mewujudkan keinginan anak kami, iya kan pa. Papa saja yang bilang atau Ardi sendiri yang akan mengungkapkannya" tanya Bu Ratna.
"Biarkan Ardi saja ma" ucap Ardi tegas.
"Bu kedatangan Ardi dan keluarga kesini untuk melakukan hal baik dengan niat baik dan in syaa Allah jika ada izin dari ibu. Saya Ardi Yudha Pratama putranya Amran atas izin Allah, saya ingin melamar Caca sebagai istri saya untuk selama-lamanya hingga ke Jannah. Bagaimana Bu menurut ibu" ungkap Ardi yang menyatakan keinginannya.
"Sebagai ibu sekaligus orang tua satu-satunya yang dimiliki Caca, ibu tidak bisa memutusknnya. Karena semuanya itu ibu serahkan kepada Caca. Karena kalian berdua yang akan menjalaninya" jawab Bu Herda kepada laki-laki tampan di hadapannya itu.
"Ardi hanya menganggukkan kepalanya yang berarti menyetujuinya."
"Bagaimana Caca, apakah kamu bersedia menerima lamaran dari nak Ardi" tanya ibunya kepada Caca dengan cepat.
"Atas restu dari ibu, Caca menerima lamarannya" jawabnya cepat sekaligus tegas karena tak ingin membuang waktu baik.
"Alhamdulillah ya allah, terima kasih" ucap syukur Ardi sembari mengeluarkan kotak kecil berwarna merah yang berisi sebuah cincin berlian yang berkilau dan indah.
Ardi pun menyematkan cincin tersebut di jari manis Caca yang menandakan resminya lamaran mereka. Semua keluarga merasa bahagia sekali dan keluarga Ardi menyusun rencana pernikahan nya Minggu depan yang membuat Caca dan ibunya lebih terkejut lagi.
Kejutan lagi. Hari Minggu pembawa hoki.
"Bagaimana Ca, apa kamu setuju. Pernikahan mu di percepat" tanya mama Ardi kepada Caca.
"Iya Tante, Caca setuju apa pun yang terbaik Caca pasti setuju " jawab Caca canggung dengan senyum tipis yang bercampur rasa malu.
"Kamu akan jadi istri ardi, mulai dari sekarang kamu panggil mama dan papa ya" ucap Bu Ratna.
"Iya Tan...eehh iya ma" jawab Caca ragu dan malu.
Semuanya menertawakan logat bicara Caca.
Keluarga mereka berbincang-bincang mengenai pernikahan itu, namun ia tak melihat sosok laki-laki yang baru saja menyematkan cincin di jari manisnya. Laki-laki yang sudah lama tidak bertemu serta bertegur sapa dengannya yang memutuskan untuk menikahi Caca. Tentu saja ia merasa canggung untuk bertemu Ardi kembali. Ardi sangatlah berbeda, sekarang iya seorang direktur sebuah perusahaan ternama di ibukota dan juga putra tunggal dari bapak Amran. Caca baru tahu kalau calon suaminya itu ternyata orang terhormat dan disegani banyak orang dan sangat berwibawa. Caca pun merasa seperti mimpi dengan lamaran ini.
Saat itu Caca berada di teras rumah seraya mencari sosok Ardi dan seperti biasa ia terbawa lamunan yang begitu jauh sehingga tak sadar di depannya berdiri seorang lelaki yang tampan dengan pakaian yang begitu rapi, iya itu Ardi calon suaminya. Laki-laki itu membawa serangkai bunga mawar di tangannya.
"Aku membelinya untukmu" ucap Ardi mengagetkan wanita di hadapannya seraya menyodorkan serangkai bunga mawar.
"Iya, terima kasih" jawab Caca malu.
Caca langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Ardi sendirian diluar, bagaimana tidak ia sangat malu dan gugup bertemu Ardi. Ardi sangatlah berbeda dari yang dulu pernah ia kenal, Caca masih tak percaya kalau Ardi adalah calon pendamping hidupnya.
Beberapa jam kemudian keluarga Ardi pun pamit pulang satu per satu kepada Caca dan ibunya namun ia tak melihat sosok yang memberinya bunga mawar. Matanya pun nanar mencari sosok itu. ia pun binggung dan malu untuk menanyakannya, terpaksa Caca diam dengan pencariannya itu.
Apakah ia marah kepadaku, setelah aku meninggalkannya sendirian diluar sana.
Mereka pun pulang dan Caca melihat di depan pagar hanya ada dua mobil yang berjajar. Ia tidak menemukan mobil hitam mengkilap yang dituruni Ardi saat itu.
"Bu Ardi kemana ya, kenapa tak terlihat saat pulang tadi" tanyanya setelah semua keluarga Ardi telah meninggalkan rumah mereka.
"Ohh tadi nak Ardi sudah pamit sama ibu, dia pulang duluan. Ada urusan penting di kantor, katanya!" jawab Bu Herda sembari memberikan ruang tamu.
"Oohh..." jawab Caca singkat.
"Nak Ardi tidak pamit sama kamu?" tanyanya.
"Tidak bu, mungkin karena Caca sibuk kali ya " ungkapnya.
"Iya mungkin, tadi ibu lihat sepertinya sangat buru-buru. Ya sudah ibu mandi dulu "jawabnya setelah membersihkan semuanya.
"Iya bu, Caca masuk kamar dulu..." katanya yang berjalan masuk ke dalam kamar untuk mencari diary kesayangannya.
Ia menarik buku kecil di dalam laci, dan menuangkan semua perasaannya kedalam buku kecil itu.
(Dear Diary )
Hari bahagiaku
ini bukan akhir dari segalanya tapi awal untuk melangkah
selamat tinggal hari kecewa
selamat datang kebahagiaan^^
^caca^
Tulisnya.....
salam dari IKYD
semangat!
mmpir balik yah,
slm dr " Rendra dan Dalia "
Karyaku juga udah up nih kak! Jangan lupa mampir ya! 🤗💖