NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11

...Pelangi Setelah Hujan Season 3...

Molly duduk di salah satu kursi setelah menaruh barang-barangnya di meja lalu memperhatikan sekelilingnya. Ruangan yang nggak terlalu luas dan biasanya dipakai untuk kelas music yang jatahnya cuma sekali seminggu untuk satu kelas. Ada berbagai alat music di lemari -gitar, biola dan drum (keadaannya sudah mulai usang dan sepertinya sudah lama nggak ada penambahan baru). Tapi, di tengah-tengah ruangan sekolah punya piano yang kelihatannya masih baru atau memang dirawat dengan baik.

Tuts-nya tertutup rapat saat Molly membukanya. Jadi ingat dulu di rumah juga ada piano dengan merek Pleyel yang kalau nggak salah harganya mahal sekali. Soalnya dulu Mama-nya Molly seorang pianis juga.

Ia berhenti main piano karena kecelakaan yang membuat jari-jarinya patah dan ia benar-benar kehilangan semangat untuk mengejar mimpinya. Meskipun ada banyak hal-hal dasar yang nggak bisa Molly ingat, tapi ia tahu di masa kecilnya Mama pernah mencoba mengajarinya

-itu sebelum jari-jarinya patah.

Terbayang, bagaimana ia duduk di samping Mama yang mengeja do-re- mi-fa-sol-la-si-do agar Molly dapat mengingatnya. Tapi, suatu hari tiba- tiba ada yang berbeda. Entah sejak kapan, setiap melihat piano Mama jadi benci. Pernah satu kali ia melempar piano itu dengan kursi -di depan Molly yang masih kecil. Lalu Papa menyingkirkannya dari ruang tengah dan hingga detik ini Molly nggak pernah melihat benda itu lagi atau mendengar Mama memainkannya. Molly juga bahkan nggak pernah mendengar Mama mengaku pada kenalannya bahwa dulu ia seorang pianis.

Bunyi yang terdengar ketika Molly memberanikan diri untuk memencet tut do-nya, mengembalikan semua itu dalam sesaat. Ia jadi merindukannya karena sekarang Mama nggak lagi seperti saat ia masih kecil. Banyaknya masalah serta keadaan Molly yang sekarang membuatnya berubah.

Waktu Molly duduk di kursinya, perasaan itu seakan kembali. Rasanya jadi ingin memainkan piano lagi. Dan ada satu lagu yang bermain di kepalanya -lagu yang biasa dimainkan Mama saat mengajarinya.

Tale as old as time,

True as it can be,

Barely even friends then somebody bends

Unexpectedly. . .

Lagu itu masih bisa membawa kenangan dari masa kecil yang udah ditinggalkan, dan andai bisa kembali lagi ke sana; saat Mama nggak pernah tahu bahwa Molly terlahir disleksia. Semua pasti terasa lebih baik dari sekarang, andai saja. . .

"Kamu main piano?" tegur seseorang yang berdiri cukup lama di depan pintu, mendengarkan beberapa nada yang dimainkan Molly dengan jari- jarinya yang kaku.

Molly terkejut, segera menengok ke belakang. Sosok seorang cowok asing yang nggak pernah ia kenal ada di depan pintu yang terbuka. Sekarang, ia jadi bingung dan takut. Separah itukah?

Cowok itu mendekat. Melangkah pelan ke arah Molly dengan kedua kakinya yang panjang -cowok itu beneran tinggi banget (lebih tinggi dari Getta malah). Dilihat dari penampilan dan raut wajahnya sih mungkin anak kelas tiga tapi Molly nggak bisa memastikan karena ia keburu ketakutan dan menjauh dari piano.

Cowok itu tersenyum. "Kamu anak kelas satu ya?" tanya dia.

Molly menggeleng ragu-ragu. "A. . . aku anak kelas dua," jawabnya, lalu tertunduk.

Cowok itu mengangguk-angguk, sambil tertawa pelan memperhatikan sikap Molly yang menurutnya lucu -cewek itu kelihatan ketakutan padahal juga nggak diapa-apain. Baru sekali ini ketemu cewek yang pemalu banget -jaman sekarang lagi, cewek-cewek umur belasan biasanya berapi-api dan agresif. Tapi, yang satu ini kayak berasal dari jaman antah berantah dan nggak pernah lihat cowok mungkin.

***

"Aku permisi dulu," kata Molly segera mengemasi barang-barangnya di atas meja. Lalu pergi dengan terburu-buru seolah cowok ini punya niat jahat terhadapnya.

Tapi, cowok itu cuma tersenyum, lalu ngakak setelah Molly nggak terlihat lagi. "Dasar aneh. . .," gumamnya sambil memperhatikan piano yang baru saja dimainkan cewek yang sebelumnya nggak pernah ia lihat itu.

Cewek itu nggak menutup tuts-nya karena keburu ketakutan melihatnya datang. Lalu matanya tertuju ke tempat di mana cewek itu tadi menaruh barang-barangnya. Tas kecil mirip tas notebook -kira-kira apa ya isinya?

Tapi, melihat ada sesuatu di bawah meja, cowok itu yakin isinya pasti alat gambar. Karena ia menemukan sebuah krayon warna biru tercecer di lantai.

Cewek itu ceroboh juga rupanya.

****

Duuh! Malu-maluin!, Molly mencak-mencak di dalam hati sambil memeluk tas kecilnya. Ia berjalan dengan cepat sepanjang lorong dengan muka merah. Kenapa juga harus memerah?

Cowok itu. . . cowok itu. . . dengan senyumnya itu, melihat Molly sebagai sesuatu yang lucu!

Ya Tuhan, Molly pasti bertingkah memalukan di depan cowok itu! Cowok itu keren lagi. . .

Molly terkejut saat tiba-tiba tasnya terlepas dari pelukannya! Ia menabrak seseorang sampai rasanya ingin memukul kepalanya dan menyumpahi dirinya sendiri.

"Kamu nggak apa-apa, Molly?"

Yang ditabrak malah Pak Heru lagi!

Molly menggeleng-geleng, sambil memunguti tasnya dan isinya yang jadi berceceran. "Nggak. . . nggak apa-apa, Pak,"

"Kamu kenapa?" Pak Heru ikut jongkok sambil membantu memunguti barang-barangnya. "Kamu sakit?"

Molly menggeleng dengan putus asa. Kenapa begoknya bisa berurutan begini sih?

"Maaf, Pak, saya. . . nggak sengaja. . .," ucapnya gemetaran, dan berusaha berdiri tegap setelah ia kembali memeluk tasnya.

"Nggak apa-apa," jawab Pak Heru tersenyum. "Kamu ke kelas sana, sebentar lagi jam istirahatnya habis"

Molly mengangguk dan berjalan lagi. Berusaha untuk tenang supaya nggak menabrak orang lewat lagi. Tapi, lorong itu beneran sepi, hanya ada beberapa anak yang sedang menuju ke kelas mereka yang melangkah menjauh darinya. Di kejauhan Molly menemukan Bu Sandra yang tengah menatap ke arahnya dan sosok belakang Pak Heru yang menghilang di ujung lorong.

Molly berusaha tersenyum menyapa. "Selamat siang, Bu Sandra. . ."

Bu Sandra nggak membalasnya. Ia hanya menatap Molly sampai gadis kecil itu berlalu dari hadapannya. Entah Molly sadar atau nggak, Bu Sandra kayaknya lagi bte sama apa yang barusan dia lihat. Gimana nggak, Pak Heru bantuin Molly memunguti barang-barangnya?

Sedangkan Molly mempercepat langkahnya menuju gedung sebelah karena kelasnya ada di sana; juga melewati ruang guru di mana ia melihat Lara si jutek baru keluar. Molly sempat berhenti untuk menatap

dan bertanya kenapa Lara memandangnya seperti itu? Lagian ngapain di ruang guru sendirian?

Rasanya aneh, begitu Molly sudah duduk di kursinya, Lara masih aja melototin sampai Molly jadi merinding.

Siapa sih yang nggak kenal sama cewek judes dan pemarah itu? Nggak ada seorang pun yang mau berteman dengannya. Makanya dia selalu sendirian -seperti Molly. Tapi, Lara terkenal karena sifatnya yang kasar dan ketus, nggak ada yang mau berurusan dengannya.

Apalagi Molly.

ooOoo

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!