Raina adalah seorang istri yang sholikha, baik hati, dan selalu patuh terhadap suami.
Tidak hanya itu saja dia adalah sosok wanita yang lemah lembut.
Pernikahan nya dengan Nurman Hadiwinata awalnya berjalan dengan hangat dan penuh kebahagiaan walaupun sudah 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak.
Namun kebahagiaan itu hancur saat ibu mertua Raina yang bernama Miranda datang mengusik kehidupan mereka.
Akankah Raina mampu menghadapi semua dilema kehidupan dengan ikhlas ataukah dia akan berhenti sampai disitu saja
yuk ikuti kisahnya
dan jangan lupa kasih dukungan
like
komentar
favoritkan
vote ya
dukungan kalian sangat berarti buat author
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uma shidqiyya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Waktu sudah menunjukkan sore tampak Raina menggeliat dan mulai membuka matanya.
Bergegas dia kekamar mandi dan memulai ibadahnya.
Dia sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan padanya.
Tak lama kemudian suaminya pun mulai terbangun dan juga melakukan hal yang sama seperti yang Raina lakukan.
Raina menuju dapur kecil yang memang ada di dalam kamar hotelnya yang ia pergunakan hanya untuk membuat minuman dan makanan jika mereka ingin makan masakan sendiri.
Raina membuatkan jahe hangat untuk suaminya dan dicampur dengan madu dan air lemon.
Untuk dirinya Raina membuat Teh madu dan sedikit air lemon.
Dibawanya minuman itu ke arah balkon sambil menikmati indahnya sunset yang tampak kemerahan.
Pemandangan yang membuat hangat siapa saja yang melihat.
Nurman mulai duduk disamping Raina sambil menikmati minuman buatan istrinya itu.
"Sayang ayo kita pulang, jangan terlalu lama meninggalkan pekerjaan.
Kasihan para karyawan nanti sayang.
Kita sudah merintis usaha ini dari nol lho sayang" kata Raina disela-sela dia menikmati minuman hangat nya.
Sengaja Raina tidak menyinggung ibu mertuanya karena Raina tahu kalau suaminya itu akan merasa sangat tertekan dan kurang suka jika harus membahas keinginan orangtua nya.
"Baiklah besok kita pulang sayang, tapi ada syaratnya.
Kamu jangan dengarkan apa yang ibu katakan dan jangan sekali-kali ada dipikiranmu untuk menuruti apa kata ibu" pinta Nurman.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya.
Tapi setidaknya kamu pikirkan kembali sayang.
Aku mohon padamu" permohonan Raina
"Baiklah aku akan pertimbangkan nanti, tapi aku tidak janji" kata Nurman akhirnya menyetujui kemauan sang istri.
"Oh ya sayang, boleh tidak aku buka usaha sendiri.
Aku ingin bekerja sama dengan Suami Aisyah.
Aku ingin membuat brand aku sendiri dengan desain yang aku mau.
Menurut kamu bagaimana sayang.
Aku jenuh dirumah terus" kata Raina mengutarakan kemauannya.
"Baiklah, aku ijinkan kamu.
Tapi ada syaratnya sayang" kata Nurman
"Syarat??" Raina menyipitkan matanya tanda tak mengerti
"Iya sayang syarat" Nurman mengulangi kalimatnya lagi.
"Syarat apakah itu" tanya Raina
"Kamu boleh Memulai usahamu sendiri dan bekerja tetapi aku mau kamu tetap bisa memperhatikan aku.
Sebelum aku pulang kamu harus sudah ada dirumah.
Gimana" jelas Nurman.
"Baiklah suamiku yang tampan" Kata Raina tampak berbahagia.
"Apa aku harus menyuntikkan Modal untukmu sayang" tanya Nurman yang sebenarnya sangat ingin mengeluarkan modal.
Karena tidak ingin istrinya tersinggung makanya dia bertanya terlebih dahulu.
"Tidak sayang, Insya allah aku ada Dana buat usahaku itu.
Uang penghasilan dari menulis dan menjual desainku aku kira lebih dari cukup aku pergunakan untuk usaha membuka sebuah butik yang hanya menyediakan beberapa tas, sepatu dan baju yang limited edition" kata Raina.
"Baiklah kalau itu mau mu.
Kalau ada apa-apa jangan segan meminta pertolonganku" kata suaminya itu.
Meskipun Raina punya penghasilan sendiri tak pernah Nurman meminta uang Raina untuk kepentingan sendiri kecuali saat awal-awal dia memulai usahanya itu.
Usaha yang berasal dari uang simpanan hasil kerja Raina dan uang nafkah yang diberikan Nurman selama ini.
Usaha Nurman kita berkembang pesat dan merambah ke berbagai usaha lainnya.
Semua berkat doa dan dukungan sang istri yang sabar dan setia membantunya juga mendampinginya.
Hari sudah nampak gelap dan adzan maghrib juga sudah mulai terdengar.
Raina dan Nurman segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Bukan hanya kewajiban tetapi itu sudah menjadi kebutuhan bagi keduanya.
Selesai melakukan ibadah Nurman mengajak Raina untuk membeli oleh-oleh untuk dibawanya pulang dan dibagikan ke kerabat juga sahabat.
Tidak lupa Raina membelikan oleh-oleh buat mertuanya.
Saat berada disalah satu butik yang cukup ternama Raina sedang memilih baju dan tanpa sengaja bertemu dengan mantan kekasihnya dahulu yaitu Hardi.
" Rania, benarkah kamu Raina" sapa Hardi.
Nurman yang saat itu berada disamping Raina langsung menoleh dan mendekat kearah Raina dan sia melingkarkan tangannya kepinggang Raina sebagai tanda dia adalah miliknya.
"Anda kenal istri saya" jawab Nurman mendahului Raina yang saat itu mau menjawab sapaan Hardi.
"Maaf saya tidak tahu kalau ada anda sebagai suaminya.
Perkenalkan saya Hardi teman SMA Raina" Hardi memperkenalkan dirinya walau sedikit kikuk itu.
"Benarkah sayang dia teman kamu" Tanya Nurman yang tidak membalas jabatan tangan Hardi.
"Iya mas, Dia mas Hardi teman sekolahku dahulu" Raina mencoba memperkenalkan Hardi kembali.
Nurman tampak enggan berkenalan, terlihat jelas diwajahnya rasa tidak suka dengan kehadiran Hardi.
Ada sedikit rasa cemburu yang menjalar dihatinya.
"Mas Hardi perkenalkan ini suamiku mas Nurman" kata Raina mengurai kecanggungan yang terjadi.
Nurman hanya mengangguk dan tersenyum paksa.
"Salam kenal pak Nurman.
Baiklah kalau begitu saya permisi dahulu karena ada hal yang harus saya kerjakan.
Selamat berbelanja pak Nurman dan Raina" setelah memberi salam Hardi berpamitan.
Dia menyadari gelagat tidak suka dari wajah suami Raina.
Karena tidak ingin memperkeruh keadaan akhirnya dia berpamitan agar tidak terjadi kesalah pahaman.
Hardi tidak ingin Raina mendapatkan amarah suaminya yang sedang dibakar api cemburu itu.
"Aku lihat dia sepertinya sangat menyukaimu sayang, jangan bilang kalau dia adalah mantan pacar kamu ya.
Soalnya dari gelagatnya dia begitu mendamba dan mencintaimu" kata Nurman penuh selidik dan terkesan sedikit rasa tidak nyaman.
"Ah itu hanya perasaan mas aja kali.
Kan sekarang dihatiku cuma ada mas aja" jawa Raina mencoba menghilangkan kecurigaan suaminya itu.
"Benarkah sayang, tidak ada yang kamu sembunyikan kan" Nurman masih merasa curiga.
"Dia memang dulu mantan kekasihku sayang, tapi dulu saat kami masih sama-sama duduk dibangku sekolah.
Dan kami berpisah memang orangtua dia tidak merestui kami dan kami juga berpisah baik-baik untuk masa depan kami berdua.
Itupun juga sudah berlalu dan tidak meninggalkan sedikit rasapun untuk dia lagi" akhir nya Raina menjelaskan karena tidak ingin suaminya itu salah paham.
"Benar kamu tidak bohong sayang" kata Nurman berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Benar sayang, karena dihati ini hanya ada kamu seorang tidak dengan yang lainnya" jawab Raina meyakinkan.
"Udah ah gak usah cemberut begitu nanti ketampanan suamiku ini hilang lho" rayu Raina agar Nurman luluh hatinya.
"Kamu paling bisa membuat aku kembali bahagia lagi sayang.
Terima kasih sudah selalu setia mendampingiku hingga kita bisa sampai dipuncak kesuksesan ini" kata Nurman tulus.
"Sama sayang,
yuk ah kita lanjutkan belanjanya" ajak Raina.
Setelah memilih beberapa baju yang dirasa pas dihati dan seleranya Raina dan Nurman mulai membayar belanjaan mereka.
Setelah itu mereka mulai berjalan-jalan lagi menuju toko-toko yang lainnya untuk melihat-lihat kalau ada yang cocok nantinya mereka beli.
semangat terus updatenya kak
gdeg sm mmhnya nurmn .. bner" ichh mrtua kek gtu mit amit .. jgn smpe lh ... ckup d dunia novel aj hee