Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
USG
"Al, dimana Mona?" Kenzo berjalan menghampiri Almahyra yang sedang duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit.
"Tadi dia pamit ke ruangannya, Paman." Almahyra berdiri sambil membetulkan tasnya.
"Ya udah, aku antar kamu periksa kandungan, yuk!" Kenzo meraih tangan Al dan menggandengnya menuju ruang pemeriksaan.
Semua karyawan rumah sakit menunduk hormat ketika berpapasan dengan Kenzo dan Almahyra. Kabar pernikahan siri Kenzo menyebar dengan cepat. Ada yang pro dan ada yang kontra menanggapi berita itu.
Mereka tahu jika Mona dan Kenzo belum memiliki anak meski sudah lama menikah. Menurut mereka itu alasan utama Kenzo menikah lagi. Mona adalah wanita terbaik bagi Kenzo di mata semua orang.
Sebagai pemilik rumah sakit, Kenzo tak perlu mengantri untuk melakukan pemeriksaan. Dia langsung membawa Almahyra masuk ke dalam ruangan dokter Shela.
"Selamat siang Dokter Shela!" sapa Kenzo.
"Eh, selamat siang Dokter Ken! Ada yang bisa aku bantu?" Shela merasa heran melihat kedatangan Kenzo ke ruangannya bersama anak angkatnya. Jadwalnya yang padat membuat Shela tertinggal berita gosip.
Kenzo duduk di kursi bersama Almahyra tanpa melepaskan genggamannya.
"Em, tolong periksa kandungan istri saya. Aku ingin melihat bagaimana perkembangannya." ucapan lembut Kenzo membuat Shela tersentak.
Shela menjatuhkan bolpoin di tangannya saking terkejutnya. 'Al istri dokter Ken? Sejak kapan?' ucap Shela dalam hati.
"Dokter Shela pasti terkejut. Maaf kami belum mengumumkan pernikahan kami." Kenzo berusaha mengerti keterkejutan Shela.
"Ah, eh, iya Dok. Non Al silakan bersiap ke meja pemeriksaan." Shela masih terlihat gugup. Dia merasa canggung setiap kali bersitatap dengan Kenzo.
Al berbaring untuk menjalani serangkaian pemeriksaan. Kenzo sangat antusias ketika mendengarkan detak jantung janin di dalam perut Al. Dia sangat bahagia akhirnya bisa merasakan menjadi seorang ayah.
Sesi terakhir dokter Shela melakukan USG. Kenzo menangis melihat calon buah hatinya di layar monitor. Dia sangat bersyukur calon anaknya tumbuh dengan baik dan sehat.
"Terimakasih Sayang. Kamu sudah membuatku merasakan momen-momen seperti ini. Aku senang akhirnya bisa menjadi seorang papa." Kenzo mengecup kening Almahyra dengan perasaan yang mendalam.
"Paman bawa ponsel nggak?" tanya Almahyra.
"Bawa. Kenapa Al?" Kenzo mengeluarkan ponselnya dengan sedikit keheranan.
"Paman foto hasil USG trus kirim ke mama Mila. Kemarin mama telepon aku nanyain kandungan aku gimana." Al duduk dan merapikan penampilannya.
"Oh, iya. Kemarin mama juga telepon aku, Al." Kenzo menepuk jidatnya pelan.
Kenzo mengambil gambar hasil USG Almahyra lalu mengirimkannya ke nomer orang tuanya.
"Habis ini aku masih ada pekerjaan. Aku nggak mengantar kamu pulang. Atau kamu mau tunggu aku sampai selesai." Kenzo membantu Almahyra turun dari meja pemeriksaan.
"Aku pulang sama mas Arman saja, Paman. Aku tadi minta dimasakin ikan mas pedas manis sama mbak Mita. Tadi kak Mona juga nyuruh aku pulang duluan." air liur Almahyra mengucur deras membayangkan ikan mas yang di masak oleh Mita.
"Ah, aku lupa jika istri kecilku sedang mengidam. Nanti kamu telepon aja kalau kamu pengen sesuatu. Pulang dari sini aku beliin, Al."
"Untuk saat ini aku belum menginginkan sesuatu, Paman. Nanti aku telepon misalnya aku pengen."
"Hmm." Kenzo mengangguk.
"Dokter Shela, terimakasih. Kami permisi dulu." Kenzo menggandeng tangan Al.
"Sama-sama Dokter Ken." Shela masih merasa canggung. Dia tidak berani banyak bicara.
Almahyra tak kalah canggung. Dia juga bicara seperlunya dan lebih banyak diam.
"Mas Arman, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan tolong antarkan Al pulang dulu, ya." Kenzo mengantar Al sampai ke tempat parkir.
"Baik Tuan." Arman membukakan pintu untuk Almahyra.
"Assalamualaikum, Paman." Almahyra mencium punggung tangan Kenzo sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Wa'alaikum salam, Al." Kenzo berdiri mematung hingga mobil yang ditumpangi Al tak terlihat lagi.
Setelah benar-benar tidak terlihat, Kenzo baru masuk ke ruangannya. Kenzo kembali berkutat dengan setumpuk berkas di meja kerjanya. Untung hari ini tidak ada jadwal operasi. Kenzo tinggal menunggu meeting bersama penyedia alat kesehatan dari Jerman sore nanti.
Kenzo membuka kotak makanan yang dibawakan oleh Almahyra tadi pagi. Makanannya sudah dingin. Kenzo memasukannya ke dalam mikrowave untuk dipanaskan.
"Masakanmu memang nggak ada duanya, Al." Kenzo berbicara sendiri sambil menikmati makan siangnya.
Dalam sekejap, sekotak makanan itu sudah berpindah ke dalam perut Kenzo. Kenzo membereskan mejanya dan berniat untuk istirahat sebentar. Dia menyandarkan punggungnya di kursi sambil menerawang jauh memikirkan Almahyra.
Kenzo sudah merasa rindu pada Al meskipun baru saja mereka bertemu. Kenzo tersenyum memandangi galeri ponselnya yang menampilkan potret Almahyra.
Kenzo hampir menekan tombol panggilan namun urung dia lakukan. Dia ingat jika dia memasang kamera pengintai di rumahnya. Dia bisa melihat Almahyra dari sana.
Senyum Kenzo memudar ketika mendengar percakapan antara Al dan Mona pagi tadi. Ternyata dugaannya benar. Mona mempunyai maksud lain di balik sikap baiknya pada Almahyra selama ini.
"Pantas saja kamu terlihat murung dan sedih akhir-akhir ini, Al." Kenzo mengeraskan rahangnya menahan emosi. Dia sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan emosinya.
Tanpa pikir panjang Kenzo berjalan meninggalkan ruangannya. Kenzo yang biasa ramah berubah menjadi dingin dan acuh pada semua orang yang dijumpainya. Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan Mona.
Tokk... Tokk... Tokk...
Tanpa menunggu jawaban Kenzo langsung membuka pintu setelah mengetuknya.
"Ken!" Mona melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja.
Kenzo berjalan mendekati Mona dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mona, aku heran padamu. Sebenarnya hatimu terbuat dari apa sih?" Kenzo menatap Mona tajam.
"Apa maksud perkataanmu, Ken?" Mona belum mengerti ke mana arah pembicaraan Kenzo.
"Jangan pura-pura, Mona! Aku tahu ada maksud lain di balik kebaikanmu pada Al selama ini. Kamu tega Mona. Apa kamu pikir aku akan setuju dengan ide gila kamu itu?" Kenzo mengeluarkan amarahnya.
Mona terdiam. 'Bagaimana mungkin Kenzo bisa tahu rencananya? Al pasti sudah menceritakan semuanya. Nggak akan ku maafkan. Awas kamu, Al!' Mona bermonolog dalam hati.
"Ingat baik-baik, Mona! Jangan pernah berpikir untuk memisahkan Al sama anaknya! Kamu bisa nggak sih nggak berbuat ulah. Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa tahan hidup sama kamu." Kenzo pergi setelah mengucapkan kata-kata itu. Dia menuju ke ruang pribadi di lantai atas untuk mengontrol emosinya.
Mona meraih tasnya dan meninggalkan ruangannya. Konsentrasinya buyar. Mona memilih untuk pulang dan melupakan semuanya.
Rasa benci semakin menguasai hatinya. Dia berpikir Almahyra sengaja membocorkan rencananya untuk mengambil perhatian Kenzo. Kalau bukan demi harta dan kekuasaannya di rumah sakit, Mona mungkin sudah meninggalkan pria lemah seperti Kenzo.
"Kak Mona sudah pulang. Aku pikir pulang bareng paman Ken." sapa Al melihat Mona turun dari taksi saat dia sedang memberi makan ikan di kolam depan rumah.
Mona hanya melirik Al sekilas lalu kembali berjalan dengan angkuhnya.
Almahyra merasakan hal yang berbeda. Tatapan dingin Mona membuatnya berpikir ada sesuatu yang tidak beres. Al sedih ketika harus kembali merasakan sikap acuh dan dingin Mona. Dia berharap Mona kembali bersikap baik padanya seperti sebelumnya.
Almahyra masuk ke dalam rumah. Dia menyusul Mona ke kamarnya. Dia tidak ingin masalah mereka berlarut-larut.
"Kak... Kak Mona!" panggil Al dari luar pintu kamar Mona.
"Apa? Aku malas ngomong ma kamu." Mona melipat kedua tangannya di dada.
"Kak Mona kok gitu ngomongnya. Maaf kalau aku ada salah." Almahyra menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Mona.
"Masih saja pura-pura. Kamu emang nggak bisa dibaikin. Dasar pelakor!" ucapan Mona memang tidak keras namun begitu menusuk.
"Aku benar-benar nggak tahu maksud Kak Mona." ucapan Almahyra terhenti saat tangan Mona melambai di depannya.
"Udahlah. Aku muak sama kamu. Jangan ganggu aku! Pergilah!" Mona berbalik masuk ke kamarnya lalu menutup pintu keras-keras.
Almahyra memegang dadanya yang tersentak setelah Mona membanting pintu. Al berjalan gontai menuruni tangga tak bersemangat. Harapannya untuk berdamai dengan Mona pupus sudah. Sungguh, sikap Mona sangat sulit untuk di tebak. Dia cepat sekali berubah.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo