Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palsu Menjadi Sungguhan
Semua ini dimulai dari uang, rasa terbuai akan uang yang menciptakan kebohongan. Kebohongan itu melahirkan kepalsuan, kepalsuan melahirkan bualan, bualan melahirkan tipu muslihat, tipu muslihat melahirkan penipuan, penipuan melahirkan amarah, amarah melahirkan konflik, konflik melahirkan permasalahan. Disini aku terjebak dalam lingkaran setan yang tidak akan pernah berakhir ini! Dan... pada akhirnya dari semua permasalahan ini melahirkan sebuah pernikahan yang tidak masuk akal!!!! Oh Tuhan ampuni aku yang melakukan semua kebohongan ini karena terbutakan akan uang! Aku berjanji tidak akan pernah menipu orang lagi setelah ini dalam kehidupanku. Tolong jangan sampai direkturku mengetahui identitasku!
"Apa kamu sungguh sungguh soal status janda itu?" Rey mengemudikan mobilnya sendiri untuk mengantar Nara pulang sehabis makan siang mereka tadi di Restoran.
Awalnya suasana sangat canggung dan suram mulai tergantikan dengan rasa tertegun Nara, ah iya benar tadi tanpa sadar dia mengungkap statusnya di hadapan pria ini. "Iya benar." Kata Nara rendah, setidaknya itu hal yang jujur yang dia katakan pada pria itu sejauh ini.
Rey terdiam sebentar, "Jadi .. kamu sudah mempunyai anak?"
"Hah? Belum! Tentu saja belum! Aku..." Nara menundukkan kepalanya, "Ini rumit."
"Aku punya banyak waktu."
Nara mengangkat kepalanya menatap Rey terkejut, "Se.. semua bermula dari usaha orang tuaku yang bangkrut karena ditipu oleh rekan kerja papa." Nara tersenyum tipis, baginya cukup membuat dirinya trauma mengingat masa masa itu. Masa masa dimana setiap kali dia pulang setelah mencari kerja mendapati mamanya menangis karena khawatir akan masa depan keluarganya atau juga papanya yang berdebat dengan mamanya, padahal sepanjang Nara tumbuh dewasa selalu menyaksikan betapa harmonisnya hubungan kedua orang tuanya. "Aku terpaksa menyetujui untuk menikah dengan rekan kerja papa untuk mentupi hutang, namun detik setelah aku menandatangani surat nikah ada bantuan untuk keluargaku dan aku bisa langsung menceraikan 'suamiku' itu." Nara tertawa kecil.
Rey menoleh sebentar kearah Nara lalu kembali fokus mengemudi, "Jadi kamu tidak sempat serumah setelah menikah ataupun... hmmm.." Rey ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Nara yang paham akan pertanyaan Rey dengan cepat membantah apapun yang pria itu pikirkan. "Tidak! Tentu saja tidak, aku menandatangani surat cerai hanya selang 3 jam aku menandatangani surat nikah meskipun harus melewati rangkaian rumit dan merepotkan." Nara meremas tali tasnya, "Tentu saja status aku janda, hanya sungguh sungguh status belaka." Katanya rendah.
Mobil Rey menepi di depan perumahan seperti saat itu supir Rey mengantar Nara, "Iya aku percaya."
Satu kalimat dari Rey entah kenapa membuat sudut hati Nara hangat dan merasa... lega.
"Sudah sampai, apa aku harus mengantar sampai depan rumahmu?"
Nara tersentak, "Ah iya, ti.. tidak perlu. Disini saja," Nara melepas seatbeltnya dan keluar dari mobil. "Terimakasih sudah mengantar saya." Nara menundukkan kepalanya.
Rey menatap Nara dari jendela yang terbuka. "Baik, sampai jumpa besok nona Narnia." Senyum tipis pada bibir Rey selalu membuat Nara terpesona, Kemudian Rey kembali mengemudikan mobilnya semakin jauh dari pandangan Nara yang masih berdiri menatap mobil itu.
****
Nara sedang tertidur lelap, ponselnya diatas meja bergetar. 'Drrrrrrtttt Drrrttttttt' mendengar suara getara telepon membuat wanita itu melenguh pelan dan kembali tertidur.
'Drrrrrrrrtttt Drrrrttttttt' Tapi ponselnya sedikitpun tidak berhenti bergetar.
'Drrrrrttttttt Drrrrrrtttttt'
"Siapa sih mengganggu orang tidur?!!" Dengan emosi Nara menyambar ponselnya, "Halo?!" Mata Nara masih saja memejam saat mengangkat telepon.
"Nona Narnia?"
"Narnia? Itu nama film. Aku tidak berminat meladeni salah sambung saat ini." Suara Nara lebih mirip dengan orang mengigau.
"Kamu masih tidur??"
"Iya.. aku.. ti.. dur."
"Kalau begitu kamu sedang melindur?"
"Saya tidak terima telepon iseng." Kening Nara berkerut kesal, "Anda siapa sih?!"
"Atasanmu."
"Saya tidak punya atasan! Sampai jum.."
"Aku Reynold Orlando Giordan!"
Nara terbelak dan langsung duduk, memastikan layar ponselnya siapa yang menelpon dan tertulis pasien rumah sakit jiwa di layar ponselnya.
Ini serius, pak direktur? Pukul... 4.30 pagi???! Dia sungguh tidak waras yah?!
"A.. ada perlu apa sepagi ini pak Rey?" Tanya Nara gugup.
"Hanya mau memastikan kamu akan mengangkat telepon saya dan tidak kabur lagi."
"Apa?? Di.. di jam 4 dini hari??"
Tingkat ketidak warasan pria ini sudah taraf apa sih?????
"Ini karena aku cukup sibuk." Jawab Rey santai.
"Saya juga sibuk!" Balas Nara kesal.
"Sibuk tidur??" Rey terkekeh pelan.
"Jika ada orang yang sibuk bekerja lantas kenapa tidak ada orang yang boleh sibuk tidur?? Ini kan negara demokratis. Apa saya tidak boleh sibuk semau saya di negara yang menjunjung tinggi demokrasi ini??" Nara membalas kesal ucapan Rey.
..........
Rey terdiam di sebrang sana membuat Nara sedikit bergidik takut jika dia salah bicara.
Kamu sungguh penakut Naranika!
"Ppfftt.. aku tidak tau kamu masih tidur di jam segini."
Nara sempat tertegun kendemgar suara tawa Rey, Dia tertawa? Sungguh?
"Kita kan akan menikah, anggap saja aku morning call dengan kamu." Rey tersenyum.
"Ja.. jangan sembarangan bicara." Pipi Nara merona, "Kita hanya pura pura mau menikah, bisa repot kalau ada orang lain yang mendengar dan salah paham." Dengus Nara.
Morning call apaan udah kaya pacaran beneran aja!!
"Lagi pula anda tidak salah tuan Rey, memilih waktu untuk morning call di waktu subuh seperti ini??"
"Begitu yah? Baiklah jika begitu kamu bisa melanjutkan kesibukanmu untuk tidur. Saya tutup yah."
"Iya." Nara kembali menguap.
"Sampai bertemu besok."
"Iya." Mata Nara sudah kembali sayup sayup.
Besok? Ah aku tidak per..duli. Bersamaan dengan di tutupnya telepon, Nara kembali terpejam melanjutkan tidurnya.
..
"Pak Direktur terlihat senang." Bastian yang sedari tadi mengemudikan mobil mengintip dari kaca spion.
"Benar, lumayan juga." Rey tersenyum.
Bastian terus menerus mengintip Rey dari spion tengah. Subuh subuh sudah melepon wanita, lalu dari menelpon sampai sekarang dia tersenyum seperti itu. Aneh sekali.
"Apa itu nona Natha palsu?" Tanya Bastian penasaran.
"Benar." Lagi lagi sudut bibir Rey bertambah naik, dia mengingat semua perkataan Nara yang menurutnya sangat lucu.
Sudah kuduga, dia sebagai calon pendamping itu tidak buruk. Selama ini aku tidak pernah memikirkan seperti apa itu tipe wanita idealku. Ternyata seleraku itu... "Wanita yang lucu." Rey terkekeh pelan.
Bastian membelakkan matanya lebar lebar.
Lu.. lucu?? Kal.. kalimat itu kekuar da.. dari mulut.. seorang Reynold??!!!
Bastian langsung menoleh kearah Reynold.
"Pak direktur apa yang baru saja anda ucapakan??!"
Rey menyipitkan matanya menatap Bastian. "Kemudikan saja mobil dengan benar! Perhatikan jalan!"
Bastian masih memasang wajah shocknya,
Mengerikan seorang Reynold bisa berlaku demikian, apa aku sedang mimpi?? Jelas jelas dia hanya memperkerjakan wanita itu!
"A.. anu pak direktur, apa yang harus saya laporkan pada pak presdir. Setelah pak direktur bilang akan menikah, beliau terus menerus meneror untuk menanyakan perkembangannya. Saya benar benar merasa di serang habis habisan oleh beliau." Bastian memasang wajah pilu nya mengingat dia terus menerus menghadapai pak predir yang membuatnya hampir gila dengan teror pesan serta teleponnya.
Rey memasang wajah malas, "Sampaikan pada pak presdir. Bahwa saya tidak jadi menikahi nona Nathania."
"Benarkah?? Baik!" Bastian memasang wajah sumringah. Namun dia tersadar sesuatu, "Ap.. apa jika demikian pak presdir pas.. pasti tidak akan diam saja mendengar itu dan bertambah marah! Lalu.. menerorku!" Bastian memasang wajah shock.
Rey tersenyum miring, "Baik jika begitu apa aku menikah saja dengan nona Nathania Wan?"
"Jangan!!!" Reflek Bastian dengan intonasi tinggi.
Ups aku tidak sadar berteriak. Bastian menutup mulutnya dan membuat Rey semakin tersenyum.
Sepertinya dia suka sekali dengan Nathania Wan, wanita yang seharusnya di jodohkan denganku. Dan malah aku menemui wanita aneh di perjodohan. Ini semua memang takdir.
"Sampaikan pada pak presdir untuk tidak perlu khawatir karena aku akan tetap menikah." Rey mengusap dagunya dan menatap keluar jendela.
"Apa?? Dengan siapa?"
"Sampaikan juga bahwa aku akan segera memperkenalkannya." Rey tersenyum mengangkat sebelah alisnya. "Akan kubuat yang palsu menjadi sesungguhnya!" Katanya tegas.
Sementara itu Nara tiba tiba menggigil dalam tidurnya. "Bbrrŕr brrrrr kenapa tiba tiba aku menggigil." "Haachoow!" Bahkan wanita itu bersin.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.