NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAGU EL UNTUK DISKA

Pagi itu Diska sudah berdiri di depan rumah, rambutnya masih agak berantakan karena tergesa. Ia mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke tanah, sementara suara mesin motor belum juga terdengar.

“Kak, ayo napa cepetan dikit! Telat nih gue!” serunya dari depan pagar, setengah kesal setengah cemas.

Dari dalam garasi, Dhika muncul sambil memasang helm. “Sabar sih,” jawabnya santai, seolah waktu masih panjang.

“Lama banget!” gerutu Diska, melipat tangan di dada. Ia tahu kakaknya memang santai, tapi pagi ini dia sedang tak punya cukup kesabaran.

Dhika hanya tertawa kecil, menyalakan motor bebeknya yang sudah sedikit berdebu. “Buru-buru amat sih. Tumben banget, biasanya juga lo santai.”

Diska enggan menjawab. Dalam hatinya, ia hanya ingin cepat sampai ke sekolah—lebih tepatnya, ke halte di ujung jalan dekat sekolah. Di sana, seseorang menunggunya.

Sejak pagi, El sudah berdiri di halte dengan tas selempang hitam dan gitar di punggungnya. Pemandangan yang akhir-akhir ini mulai jadi kebiasaan.

Saat motor berhenti di pinggir jalan dekat halte, Diska buru-buru turun. “Sampai sini aja, Kak. Gak usah sampe gerbang sekolah,” katanya sambil melepas helm.

Dhika menaikkan alisnya curiga. “Kenapa emang? Ada apaan di halte?”

“Gak apa-apa. Gue mau jalan aja sampe gerbang,” jawab Diska cepat sambil melirik ke arah El yang sedang menunduk memainkan ponselnya.

Dhika memperhatikan arah pandang adiknya, lalu tersenyum miring. “Pacar lo, ya?” tanyanya, nada suaranya menggoda.

Diska hanya nyengir tanpa menjawab.

“El dirga,” sapa Dhika kemudian sambil mengulurkan tangan. “Gue Dhika, kakaknya Diska.”

El menyambut jabat tangan itu sopan. “Eldirga, Kak.”

“Namanya keren,” puji Dhika sambil tertawa kecil.

“Orangnya juga keren, Kak. Pemain band,” ujar Diska cepat dengan nada bangga.

Dhika mengacak rambut adiknya. “Jadi cowok ini yang lo suka, ya?”

Diska tertawa pelan, pipinya sedikit memerah. “Iya, Kak.”

Dhika menatap El lagi, kali ini lebih serius. “Jaga Diska, ya, El.”

El mengangguk mantap. “Pasti, Kak.”

Dhika mendekat, memiringkan pipinya. “Cium dulu, Dis.”

“Ogah, gue bukan anak kecil lagi, Kak,” tolak Diska sambil mentoyor kepala kakaknya.

Dhika tertawa. “Buat gue, lo tetep adik kecil gue.”

“Gue udah gede, Kak. Udah punya pacar malah.”

El menahan tawa, tapi Diska menyikut perutnya pelan. “Gak usah ketawa!”

Setelah berpamitan, Dhika melajukan motornya pergi. El dan Diska berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.

“Kalo orang gak tau, lo sama Kak Dhika kayak pacaran,” goda El sambil meliriknya.

Diska tertawa kecil. “Pernah cemburu, El?”

El berpikir sebentar. “Waktu lo hampir diserempet motor, terus Kak Dhika jemput lo… iya, gue sempet gak suka. Itu cemburu bukan?”

Diska menahan senyum. “Berarti waktu itu lo udah suka sama gue, dong?”

El menggaruk kepala yang tak gatal. “Iya sih, tapi dulu gue gak pede. Takut lo nolak.”

“Terus kenapa malah galak?” tanya Diska.

El terkekeh. “Seneng aja lihat muka lo kesel. Lucu.”

“Ish, dasar!” Diska pura-pura cemberut. “Kak Dhika juga jahil mulu.”

“Kak Dhika kelas berapa, sih?”

“Satu SMA.”

“Berarti beda dua tahun sama lo?”

“Iya.”

Hening sejenak sebelum Diska bicara lagi. “El, maaf ya soal bokap gue kemarin.”

El menatapnya. “Lo manja juga, ya?” ujarnya sambil menahan tawa.

“Apaan sih, El!” protes Diska sambil mendorong bahunya.

Tiba-tiba suara Airin terdengar dari belakang. “Diskaaa!”

Mereka berdua menoleh. Airin berlari kecil menghampiri.

“Sendiri, Rin?” tanya El.

“Iya, gue sendiri. Kalian berdua nih,” jawab Airin sambil menatap mereka berdua penuh arti.

“Sirik aja lo,” balas Diska membuat mereka bertiga tertawa.

Di kelas yang masih sepi, Diska dan Airin duduk di bangku belakang.

“Belum dateng Bima sama yang lain?” tanya Airin.

“Mereka mah biasa telat,” jawab El sambil menaruh gitar di sudut kelas.

Airin terkekeh. “Lo juga biasanya siang, El. Gara-gara Diska lo jadi rajin, ya?”

“Kan biar lama ketemu Diska-nya,” jawab El kalem, membuat Airin tertawa.

“Bucin juga ternyata lo,” goda Airin. El hanya menunduk malu.

“Udah sarapan?” tanya El, mencoba mengalihkan topik.

“Udah,” jawab Diska singkat sambil tersenyum.

El lalu mengambil gitar dan duduk di kursi sebelah Diska. Jemarinya mulai memetik senar, mengalunkan lagu Mahadewi milik band Padi. Suaranya lembut, membuat Diska terdiam mendengarkan.

Saat lagu selesai, Bima masuk sambil menguap. “Lama banget gue bangun,” ujarnya lesu.

“Kayak biasa,” komentar Airin ketus.

“Siang jadi?” tanya Bima ke El.

“Jadi.”

“Dis, lo ikut kan?” tanya El.

Diska tersenyum. “Iya.”

Airin menatapnya penasaran. “Di jemput bokap lagi gak?”

“Enggak, gue udah bilang ke Ayah mau main abis sekolah.”

“Boleh tuh,” sahut Bima antusias.

Waktu istirahat tiba. Mereka duduk di kantin sambil makan siomay dan ngobrol ringan.

Tiba-tiba seorang adik kelas datang menghampiri. “Kak El…” sapa gadis berambut pendek itu, Indri.

El menatap sekilas tanpa ekspresi. “Ada apa?”

Indri tersenyum kikuk. “Bisa ngobrol bentar, Kak?”

El melirik ke arah Diska yang tampak cuek, masih sibuk dengan siomay di piringnya.

“Gak bisa,” jawab El datar, suaranya agak tinggi. Indri langsung pamit dengan wajah kecewa.

“Galak amat sama cewek,” celetuk Diska sambil melirik sekilas.

Airin ikut menyenggol. “Lo gak marah tuh, Dis, ada yang deketin El?”

“Enggak ah,” jawab Diska santai.

Bima terkekeh. “Tuh, kayak Diska dong. Gak cemburuan.”

Airin menatapnya tajam. “Ya jelas gak cemburu, El kan galak sama semua cewek. Gak kayak lo, tiap ada cewek lewat langsung senyum.”

Semua tertawa. Dalam hati, Diska tersenyum kecil. Cowok galak itu pacar gue sekarang.

Sepulang sekolah, mereka naik angkot bareng ke studio musik. Diska duduk di sebelah El.

“Kenapa tadi lo gak marah?” tanya El pelan.

“Marah kenapa?”

“Soal anak kelas satu tadi.”

Diska menatap keluar jendela. “Gak tau, mungkin karena gue percaya sama lo.”

El tersenyum, menunduk. “Gue juga seneng lo gitu.”

Setibanya di studio, El, Bima, Ryan, dan Rizki mulai latihan band. Diska dan Airin duduk di sofa, menikmati musik mereka.

“Lagunya bagus ya,” ujar Diska pelan.

Airin menatapnya. “Lo bener gak cemburu liat cewek deketin El?”

“Enggak, Rin. Gue tau hati El kemana.”

Airin tersenyum. “Kalo gitu, lo beruntung, Dis.”

Diska hanya menatap El yang sedang bermain bass. Ada rasa hangat yang tumbuh setiap kali ia melihatnya di atas panggung.

Beberapa minggu kemudian, ujian kenaikan kelas selesai. Sekolah mengadakan pentas seni, dan band Bima CS tampil.

Airin sudah bersiap di depan panggung, menatap Bima dengan wajah setengah kesal. “Awas aja lo tebar pesona,” ancamnya.

“Namanya juga vokalis, Rin. Harus banyak senyum,” bela Bima.

“Fadly vocalis band Padi aja bisa cool di atas panggung,” balas Airin.

“Udah, jangan berantem mulu,” sela Diska sambil tertawa kecil.

Saat band naik panggung, sorakan penonton menggema. Nama Bima dan El paling sering disebut.

“Sebel deh sama anak kelas satu. Udah tau Bima punya pacar masih aja teriak-teriak,” gumam Airin.

Diska menepuk bahunya. “Gak apa-apa, Rin. Asal lo yakin hatinya cuma buat lo.”

Airin mengangguk. “Kalo kayak El sih gue juga yakin.”

Diska tersenyum. Dari bawah panggung, ia menatap El yang tampak keren dengan bass dan topi miliknya.

“Lagu ini gue tulis buat seseorang,” suara El menggema lewat mikrofon. “Seseorang yang bikin gue berani percaya diri, yang jaga hati gue. Diska.”

Suara cewek-cewek penonton langsung histeris. Airin menatap Diska tak percaya. “Gila! Cowok segalak El bisa se-bucin itu!”

Diska tersenyum malu. “Cowok galak itu pacar gue.”

Setelah pertunjukan selesai, El menghampiri Diska yang menunggunya di bangku depan panggung.

“Capek?” tanya Diska sambil memberikan sebotol air mineral.

“Thanks, sayang,” jawab El sambil tersenyum.

Ryan datang menyela. “Guru kesenian bilang lagu lo keren banget.”

“Ya iyalah,” sahut Bima, “lagu ciptaan El, bro.”

El menatap Diska lembut. “Lo suka lagunya?”

Diska mengangguk. “Suka banget.”

Beberapa hari kemudian, mereka nongkrong di rumah Airin. “Libur dua minggu, nih,” kata Ryan.

“Yang pacaran gak bisa ketemuan dong,” goda Rizki.

“Tenang aja, latihan band tetep jalan tiga kali seminggu,” jawab Bima cepat.

Airin tertawa. “Dis, besok jalan yuk ke mall.”

“Boleh, sekalian gue mau beli buku,” jawab Diska.

“Gak heran. Otak lo emang gak jauh-jauh dari buku,” sahut Airin geli.

“El ikut?” tanya Diska.

“Iya, bareng Bima juga,” jawab Airin.

Ryan dan Rizki langsung kompak. “Ogah ikut, males liat yang pacaran.”

Keesokan harinya, Airin, Bima, dan El sudah menunggu di lobi mall.

“Mana Diska?” tanya Bima.

“Gue udah telepon tapi gak diangkat,” jawab Airin.

Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi. Diska turun dari mobil, melambai ke ayahnya.

“Ayah jalan dulu ya, have fun kalian,” kata sang Ayah sebelum pergi.

“Kirain gak jadi,” celetuk Bima.

“Jadilah,” jawab Diska singkat.

“Ryan beneran gak ikut?” tanya Diska pada El.

“Gue ajak, tapi gak mau,” jawab El.

“Gue mau ke toko buku dulu, ya,” kata Diska.

“Yuk, gue temenin,” sahut El.

Di dalam toko, Diska berkeliling dengan mata berbinar. “Lo gak bosen nemenin gue, El?”

“Enggak, kenapa emang?”

“Soalnya Kak Dhika kalo gue ajak ke sini, suka marah-marah. Katanya kelamaan.”

El tertawa. “Gue beda, Dis. Gue malah seneng liat lo antusias gitu.”

Setelah memilih beberapa buku, Diska ke kasir. Saat hendak membayar, El menahan. “Gue yang bayar, ya.”

“Jangan, El. Ini hasil tabungan gue,” jawab Diska lembut.

El menatapnya. “Kenapa gak boleh?”

Diska tersenyum kecil. “Ayah ngajarin gue buat nabung dari uang jajan, terus beli buku dari hasil sendiri. Rasanya beda, El. Bangga aja.”

El mengangguk paham. “Oke, Dis. Gue gak maksa.”

Mereka keluar dari toko dengan tangan bergandengan ringan.

“Lo mau makan apa?” tanya El.

“Gue gak mau makan, masih kenyang. Milkshake coklat aja, ya.”

“Yaudah, berdua sama gue aja,” kata El sambil tersenyum.

Diska mengangguk pelan, matanya berbinar. “Boleh.”

Dan sore itu, di antara hiruk pikuk pengunjung mall, dua anak muda itu duduk bersebelahan, berbagi tawa, cerita, dan rasa yang mulai tumbuh semakin dalam.

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!