NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SEPUPU YANG NYEBELIN!

‎Dimas dan Raka kaget secara serentak.

‎Sang pengintai mendadak menghilang, tapi ia meninggalkan sebuah kalung liontin di tanah.

‎Kalung itu nampaknya tak sengaja jatuh saat ia melakukan gerakan cepat tadi.

‎Dimas menunjuk benda yang tergeletak di rumput itu. "Lihat, ada benda yang jatuh tuh, Rak!"

‎Raka mengikuti arah tunjukkan Dimas, lalu mengangguk pelan. "Wah iya... ayo kita lihat."

‎Merekapun berjalan mendekat. Raka membungkuk dan memungut kalung tersebut.

‎"Ini... liontinnya," gumam Raka sambil memperhatikan ukiran kalung di tangannya.

‎"Wah, keren juga ya," puji Dimas dengan mata berbinar. "Coba buka, Rak! Isinya apa?"

‎Raka langsung menatap Dimas dengan raut datar.

‎"Jangan lah, privasi, kocak!"

‎"Oke, oke, terserah lu deh!" Dimas menyengir.

‎"Kita harus balikin ini ke orang tadi," kata Raka mantap.

‎Dimas mengerutkan dahi. "Kenapa mesti dibalikin?"

‎"Ya karena ini punya dia, lah."

‎"Tapi gimana cara nyarinya? Orang tadi kan udah ngilang kayak ninja," cerocos Dimas sambil mengedarkan pandangan.

‎Raka memasukkan kalung liontin itu ke dalam saku celananya. "Nanti juga ketemu lagi. Sekolah kita gak seluas itu."

‎Teeet! Teeet! Teeet!

‎Bel masuk kelas mendadak berbunyi nyaring, memotong percakapan mereka.

‎"Nah kan, bel! Cabut, Rak, entar kena omel Pak Bambang lagi!" ajak Dimas panik.

‎Mereka berdua pun setengah berlari kembali ke ruang kelas.

‎Begitu sampai di dalam, suasana kelas 10-2 sudah lumayan ramai.

‎Dimas buru-buru kembali ke bangkunya di barisan depan, sementara Raka berjalan menuju tempat duduknya sendiri di pojok dekat jendela.

‎Tak lama kemudian, Pak Guru masuk ke kelas sambil menepuk tangan.

‎"Anak-anak, harap tenang sebentar. Hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari luar kota," ujar Pak Guru dengan suara tegasnya.

‎Suasana kelas mendadak riuh dengan bisik-bisik penasaran. Dimas yang duduk di depan menopang dagunya malas.

‎"Halah, palingan murid biasa..." gumam Dimas pelan.

‎"Silakan masuk dan perkenalkan dirimu," panggil Pak Guru ke arah pintu.

‎Seorang cewek dengan seragam rapi berjalan masuk ke depan papan tulis. Rambutnya terikat rapi, tapi ekspresi wajahnya tampak begitu tenang... sekaligus misterius.

‎Raka yang tadinya sengaja mengabaikan keadaan sekitar, mendadak membatu. Matanya tertuju pada pergelangan tangan dan raut wajah cewek di depan ‎kelas.

‎Buset...

‎Dimas yang menyadari raut kaget Raka dari kejauhan langsung memutar badannya ke belakang. Ia menatap Raka heran sambil memperagakan gerakan mulut tanpa suara,

 "Kenapa lu, Rak? Kok melotot gitu?"

‎Raka menelan ludah kasar. Matanya masih tak lepas dari si murid baru.

‎Dari bangkunya, Raka melambaikan tangan pelan menyuruh Dimas mendekat, lalu berbisik setengah tertahan saat Dimas menoleh lagi.

‎"Mas... lu sadar gak?" bisik Raka pelan tapi tegas.

‎"Gaya jalannya... persis kayak pengintai yang kita kejar di kantin tadi."

‎Dimas yang mendengar itu dari bangku depannya langsung mendadak terbelalak.

‎"HAH?!?"

‎Murid baru itu mulai memperkenalkan diri dengan suara yang terdengar begitu anggun.

‎"Halo, teman-teman!" Aira tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pelan.

‎"Namaku Aira. Hobiku bersepeda dan main game. Kalau kalian ada rekomendasi game seru, jangan sungkan buat sharing ya!"

‎Aira mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, seolah mencari sosok yang ia kenal.

‎Begitu matanya menangkap keberadaan seseorang, senyum tipis terukir di wajahnya.

‎"Oke, terima kasih sudah mendengarkan perkenalanku. Semoga aku bisa jadi teman yang baik buat kalian semua!"

‎"Bagus, perkenalan yang singkat dan jelas," puji Pak Guru. "Silakan, Aira, kamu bisa duduk di sebelah Alya. Kursi di sana masih kosong."

‎Aira membungkuk sopan. "Baik, Pak. Terima kasih."

‎Aira menyusuri lorong kelas menuju tempat duduknya.

‎Begitu sampai di samping Alya, ia meloloskan tasnya lalu menoleh ke samping.

‎"Hei, Alya..." sapa Aira santai.

‎Alya menatap sepupunya itu dengan raut heran. "Lu... ngapain ke sini?"

‎"Hehe, gue khawatir sama lu," kekeh Aira pelan.

‎"Gak usah sok peduli sama gue," balas Alya cuek.

‎Aira menggeser duduknya sedikit mendekat, lalu berbisik dengan wajah yang mendadak dipasang agak sedih.

‎"Maaf ya, Al... gue telat pas kejadian kemarin."

‎"Gapapa. Sana lu, jangan deket-deket," usir Alya makin ketus.

‎Aira cuma tertawa kecil melihat respons sepupunya. "Haha, lu berubah banget ya."

‎Di sisi lain kelas, melihat Aira yang tampak begitu akrab dengan Alya, Raka segera memberi isyarat pada Dimas.

‎"Woy, Mas!" bisik Raka setengah teriak sambil melambaikan tangan dari tempat duduknya di pojok belakang.

‎Mendengar namanya dipanggil, Dimas menoleh ke arah sumber suara.

‎Begitu sadar Raka memanggilnya, Dimas mengangkat kedua alisnya. "Apaan?"

‎Raka dagunya memberi kode ke arah meja Alya. "Lihat tuh, si murid baru kayaknya kenal dekat sama Alya."

‎Dimas mengikuti arah pandangan Raka. "Hmm... iya juga ya..."

‎Dimas mendadak menaikkan sebelah alisnya bingung.

‎"Kalau mereka saling kenal, terus kenapa dia malah ngintai dari semak-semak tadi?"

‎Raka menyandarkan punggungnya di kursi. "Gak tahu. Nanti pas istirahat kita tanya aja langsung."

‎Tepat saat obrolan berakhir, bell istirahat mulai berbunyi.

‎Menandakan jam kedua telah berakhir.

‎Mendengar bell istirahat berbunyi, Raka refleks bangun dari tempat duduk.

‎Menyadari salah satu murid bangun dari tempat duduk.

‎Gurunya menimpali

‎"Raka, duduk, dulu. Berikan salam dulu"

‎"oh iya, maaf pak" membungkuk sopan.

‎"semuanya, berikan salam!"

‎"terimakasih kasih pak guru, sudah mengajar dikelas kami" jawab murid secara serentak.

‎"sama-sama!"

‎"pak guru pamit dulu"

‎"baik pak" jawab para murid

‎Ketika pak guru keluar ruangan, Raka bangkit dari tempat duduk.

‎dan mulai menoleh ke arah Dimas yang sedari tadi menahan ketawa

‎raka pun menanggapi

‎"woi, lu ngapain lu tahan tawa gitu"

‎"hahaha, habisnya lu lucu tadi"

‎muka Raka langsung merah karena malu

‎"ya, maklum refleks tadi"

‎"udahlah, daripada bahas hal kemaluan tadi, gue harus balikin liontin ini"

‎Melihat temannya gegabah, Dimas mengimbau.

‎"jangan gegabah, siapa tahu bukan dia orangnya"

‎"tapi lihat deh, dia seperti mencari sesuatu, siapa tahu dia mencari ini"

‎raka merogoh saku celananya untuk mengambil liontin itu.

‎Tanpa minta persetujuan Dimas, Raka langsung melesat ke orang yang namanya Aira.

‎"hei, ini yang kamu cari?"

‎"wah, iya, kenapa bisa ada di kamu?"

‎"tadi gue sama Dimas, Nemu di depan kantin"

‎"wah makasih"

‎Raka menyerahkan liontin itu.

‎Melihat temannya tahu pemilik liontin.

‎Dimas terkejut dan segera menuju ke tempat Raka

‎"gila, beneran ternyata"

‎Dimas langsung mendekati ke kuping Raka, untuk memberitahu hal yang mungkin Raka lupa.

‎Dimas pun baru sadar atas kejadian poster tadi.

‎"hei, rak, lu mau gak hadiah poster 100 juta berhadiah itu"

‎"loh, lu masih inget?"

‎"yaiyalah, ingat! Aku mau beli PS 5"

‎Mendengar PS 5 Raka memasang wajah datar

‎"ada-ada saja lu mas"

‎"hehe, maklum gamer"

‎Melihat dua cowok konyol itu malah asyik berdebat soal PS 5 tepat di depan mejanya—ditambah sepupunya yang cuma nyengir jahil di samping—Alya cuma bisa menghembuskan napas berat.

‎Ia memilih melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menyembunyikan wajahnya di sana. Berpura-pura tidur.

‎Dua cowok aneh, plus satu sepupu yang nyebelin.

‎Alya memejamkan matanya rapat-rapat. Tampaknya, kehidupan sekolahnya yang tenang resmi berakhir hari ini.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!