NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Jejak yang Tak Hilang

Malam itu jamuan makan berakhir lebih awal dari rencana. Berita yang tersebar diam-diam tentang kepergian Aisyah dan surat yang ditemukan membuat suasana menjadi canggung dan penuh kecurigaan. Namun berkat ketenangan Aruna dan wibawa Argan yang tak goyah meski hatinya sedang berkecamuk, tak ada skandal besar yang terungkap malam itu. Para tamu pulang dengan anggukan sopan, meski bisik-bisik pasti akan terus terdengar di perbincangan mereka selanjutnya.

Kini kediaman besar itu kembali sunyi senyap. Argan duduk di ruang kerjanya, menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampakkan pantulan cahaya bulan yang redup. Di mejanya masih tergeletak sisa remasan surat Aisyah yang sudah diluruskan kembali oleh Bimo. Setiap baris kalimat di sana terasa seperti paku yang menancap kembali pada luka yang baru saja ia coba sembunyikan.

Aruna mengetuk pintu pelan, lalu masuk membawa secangkir teh hangat dan segelas air putih. Ia meletakkannya perlahan di sudut meja, tak berani mengganggu kecuali diminta. Namun saat ia hendak berbalik pergi, suara Argan terdengar pelan memanggil namanya.

“Aruna... tunggu sebentar.”

Gadis itu berhenti, lalu berbalik perlahan. “Ada apa, Argan? Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Argan menghela napas panjang, napas yang terdengar begitu berat seolah memikul beban bertahun-tahun. “Kau pasti membencinya... membenciku, atau setidaknya menyesal telah mengambil tempat yang seharusnya miliknya. Kau tahu sekarang pernikahan ini bukan sekadar perjodohan biasa, melainkan awal dari sebuah rencana jahat.”

Aruna melangkah maju sedikit, berdiri tegak di hadapan meja besar itu. “Saya tak menyesal, Argan. Dan saya tak membenci Anda. Justru sekarang saya semakin yakin bahwa keputusan saya malam itu adalah hal yang benar. Anda tak pantas dipermainkan seperti itu.”

“Tapi kau tak tahu apa yang sedang kau hadapi,” potong Argan pelan, matanya menatap tajam namun penuh kepedihan. “Mereka bukan hanya mengambil keuntungan bisnis. Mereka berniat menghancurkan nama baikku, meruntuhkan kepercayaan orang-orang padaku, dan membiarkanku hancur sendirian di kursi roda ini. Dan sekarang kau terlibat di dalamnya. Kau bisa terluka karenaku.”

“Lebih baik terluka karena berdiri bersama orang jujur, daripada bahagia di atas kebohongan,” jawab Aruna mantap tanpa ragu sedikit pun. “Jejak kejahatan kakak saya mungkin ada di sini, tapi jejak kesetiaan dan ketulusan saya pun mulai tertinggal. Dan saya tak akan membiarkan jejak jahat itu yang mendefinisikan siapa saya, atau siapa Anda.”

Argan terdiam mendengar kalimat itu. Selama ini ia hanya melihat dunia sebagai tempat yang penuh tipu daya dan kepalsuan. Namun di hadapannya berdiri seorang gadis sederhana yang tak ragu berani memegang tangan saat dunia berusaha mendorongnya jatuh. Tanpa sadar, tangannya terulur perlahan, menyentuh jari-jari tangan Aruna yang tergeletak di tepi meja. Sentuhan itu begitu singkat, namun terasa begitu hangat—seperti setitik cahaya yang menembus kegelapan yang selama ini ia bangun sendiri.

“Terima kasih,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar. “Untuk pertama kalinya... ada yang berani mengatakan hal seperti itu padaku.”

Aruna tersenyum tipis, matanya berbinar lembut. “Kita mulai dari awal lagi, Argan. Tanpa kebohongan, tanpa kepura-puraan. Kita hadapi semuanya bersama-sama.”

Malam itu, meski luka pengkhianatan masih terasa perih, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Jejak masa lalu yang kelam belum hilang sepenuhnya, namun kini ada jejak baru yang mulai terukir—jejak kebersamaan, kepercayaan, dan harapan yang perlahan tumbuh kembali dari keterpurukan.

Lanjut ke Bab 7 sekarang?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!