Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Dijodohkan
Tiba di stasiun Alya segera mencari ojek online seperti biasanya, udara senin pagi ini sedikit dingin karena awan mendung menutupi sinar matahari sejak pagi tadi. Suara klakson motor mengusir lamunan Alya yang masih berdiri didekat pintu keluar stasiun. Melihat plat nomor kendaraan sesuai dengan pesanannya.
"Pak Kardi ya?" ucap Alya sambil berjalan kearah motor itu.
"Benar, dengan mbak Alya." jawab bapak pengemudi ojek online dan memberikan helm penumpang.
"Oke pak sudah bisa jalan, sesuai map ya". Jelas Alya.
"Baik mbak." Jawab driver Ojol.
15 menit waktu yang ditempuh menembus kemacetan disebrang kantor. Sepertinya sedang ada perbaikan pembuangan saluran air hingga membuat antrian panjang diruas jalan padat merayap Sudirman.
Ting !
Pintu lift terbuka segera Alya masuk kedalam, ketika pintu hampir tertutup ada jari tangan yang menghalangi pintu lift. Nampak seorang lelaki masuk kedalam lift. Ketika pintu berhasil tertutup Alya mengangkat kepalanya setelah tadi sibuk mencari ponsel didalam tas selesai turun dari ojek Ia sempat meletakkan asal. Alya kaget didepannya kini sudah ada Dimas yang tersenyum kearahnya.
"Pagi Al." Sapa Dimas.
"Pa pagi kak, eh pak." Jawab Alya.
Ting !
Pintu lift terbuka dilantai 7, Alya segera berjalan keluar sambil sedikit menundukkan wajahnya untuk pamit duluan. Sesampainya di meja kerja, sudah ada Siska yang datang lebih dulu.
"Kamu kenapa Al? kok terlihat sedikit pucat." Tanya Siska.
"Aku baik-baik aja, ke toilet dulu ya." Alya segera beranjak menuju toilet dekat ruangannya.
Siska yang masih menatap Alya dengan keheranan segera kembali duduk dan mulai merapikan meja kerjanya.
Siang hari saat jam istirahat tiba, Alya dan Siska segera berlalu menuju mushola gedung di lantai dasar.
"Kita makan apa ya Al enaknya?" Tanya siska yang masih menunggu Alya merapikan jilbabnya di ruang wudhu.
"Makan ditempat pecel lele dekat kantor aja. Sepertinya ramai terus pasti enak." Ucapnya dengan semangat.
"Boleh deh Al, Aku mau sambal yang pedes kayanya enak banget nih." Ucap Siska yang tak mau kalah semangatnya.
"Yuk Kita langsung jalan kesana." Ajak Alya berjalan lebih dulu.
"Loh Al Aku yang nungguin Kamu malah ditinggal jalan duluan." Siska geleng-geleng kepala dan berjalan menyusul Alya.
Sesampainya mereka di tempat pecel lele sudah antri orang yang hendak makan siang.
"Yah Sis Kita telat udah penuh semua bangku. Gimana?"
"Maaf mbak-mbak nya ini mau pesen makan disini atau dibungkus?" tanya dari salah satu penjual pecel yang berseragam kaos hijau tosca.
"Maunya makan disini Pak, tapi bangkunya sudah terisi semua." jawab Alya sambil melihat kesekeliling warung tenda pecel.
"Jika Mbak nya mau makan disini masih ada 2 bangku tetapi mejanya tidak ada Mbak. Disebelah sini bisa." Jelas pemilik warung.
Alya dan Siska saling pandang satu sama lain untuk meyakinkan makan disini atau tidak.
"Tidak apa deh Al, jam makan siang Kita sebentar lagi. Durasi cari tempat makan lain." Ucap Siska menengahi.
"Ya sudah kalau mau Mu begitu, Aku sih tidak masalah makan tanpa ada meja hehe. Oke Pak Kami pesen 2 pecel lele nya minum 2 teh manis panas." Alya melirik kearah Siska untuk meyakinkan pesannya.
Siska hanya memberikan anggukan kepala setuju dengan pesanan Alya untuknya. Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang dan langsung menyantap hidangan tersebut sambil memangku makanannya.
"Sis Aku mau cerita beberapa minggu ini banyak banget kejadian aneh." Ucap Alya sambil melahap sayuran pecel.
"Aneh bagaimana Al?" Tanya Siska penasaran.
"Aku dijodohin sama kakaknya Raka." Jawab Alya.
"What? Pak Dimas maksud Mu." Ucap siska dengan suara agak keras.
"Hush pelan-pelan ngomongnya." Jawab Alya sambil melirik mata kearah sekitar.
"Maaf-maaf Al. Kok bisa sih?" Tanyanya kembali.
"Panjang deh Sis, nanti pulang nginep yuk dirumah. Biar enak bahasnya." Ajak Alya.
"Oke nanti pulang Kita sama-sama menuju rumah Mu. Kebetulan kedua orangtua Ku masih keluar Kota. Nanti Aku minta mang Diman bawa baju ganti untuk besok." Jelas Siska.
Merekapun segera menghabiskan makan dan bergegas masuk kembali ke Kantor.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Raka keluar kelas menuju parkiran mobil, menyusuri koridor kampus. Beberapa pasang mata menatapnya dari kejauhan.
"Eh itu Raka si cowok cool, Aku hampirin dia dulu. Bye ladies." Pamit Wanita cantik blasteran Indo-Belanda itu segara menghampir Raka.
Suara high heels nya meramaikan koridor kampus, Raka menyadari ada seseorang yang mendekati segera mempercepat langkahnya menuju parkiran mobil.
"Rakaaa tunggu, Aku mau bicara." Kejar wanita itu.
Ransel Raka pun berhasil diraih Kimberly. langkahnya terhenti lalu wanita itu menoleh kearahnya.
"Ada apa Kim?" Tanya Raka malas.
"Kamu kenapa sih menghindar dari Aku?" Tanya Kim.
"Lagi malas aja ketemu orang." Jawab Raka asal.
"Alasan, gimana project tugas Kita. Jadi buat konsepnya di Bali?" Tanyanya kembali.
"Bukan Kita, tapi Aku. sudah Kamu tidak usah ikut serta." Tolak Raka dan kembali berjalan menuju parkiran.
"Rakaa, Aku pokoknya tetep mau sama dengan Kamu konsepnya." Jelas Kim kesal.
Kimberly tidak berani lagi mengejar, menatap kepergian Raka sambil mencabik cabik kertas sketsa ditangannya.
Wanita blasteran Indo-Belanda ini sudah naksir Raka dari semester 2. Kali ini Ia sudah menyusun rencana mendapatkan Raka sebelum kelulusan nanti.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Alya ditunggu Pak Dimas diruangan sekarang." ucap Berta.
"Ba baik mbak." Alya segera beranjak menuju lantai 13.
Sesampainya diruangan Dimas.
Tok .. Tok .. Tok ..
"Silahkan masuk." Ucap Dimas dari dalam ruangan.
"Permisi Pak, ada apa memanggil Saya?" Tanya Alya.
"Silahkan duduk Al." Jawab Dimas.
Alya segera duduk dikursi sebrang Dimas. Lalu Dimas menutup laptop dan menyandarkan tubuhnya dikursi.
"Begini Al, tim produksi akan launching produk di Jogja. Lalu ada beberapa market kantor yang bagus untuk kerjasama. Kamu dan tim pak Heru ikut berangkat ke Jogja selama 3 hari ya. Jadikan materi untuk masa magang Mu disini." Jelas Dimas.
"Maaf Pak, harus ya Saya ikut kesana?" Tanya Alya.
"Ya sebagai bahan referensi magang Mu disini. Kalau perlu Kamu bisa ajak Siska untuk ikut bersama." Ucap Dimas.
"Jika Siska ikut bersama juga baiklah pak." Jawab Alya.
"Oke, Saya akan infokan ke Pak Heru untuk kamis ini kalian berangkat. Saya akan menyusul esoknya." Jelas Dimas.
"Ba baik Pak." Jawab Alya.
(Kenapa Dia juga harus ikut sih, seharusnya tim produksi saja yang ikut. Huff harus Jogja ya. Monolog Alya).
"Ya sudah Kamu bisa kembali lagi keruangan Mu." Titah Dimas.
"Baik Pak, Saya permisi." Pamit Alya.
Ketika Ia baru melangkah kearah pintu, Dimas tiba-tiba memanggilnya kembali.
"Al." Panggil Dimas.
"Iya Pak." Alya menoleh kearah Dimas
"Tidak jadi Al." Ucap Dimas jahil.
(Dasar aneh tiba-tiba tidak jadi bersuara. Sebenarnya apa yang dipikirkan lelaki ini. Batinnya). Alya pun berjalan keluar ruangan.
.
.
.
Renata nya Thor