Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di satu waktu di belahan bumi lainnya, Seorang pria paruh baya dilanda kecemasan luar biasa. Semalam, ia dilanda mimpi buruk sebelum akhirnya ia terbangun. Disaat ia terbangun tengah malam, Jam menunjukkan pukul 01.20 dini hari.
Rasa cemas, takut, khawatir dan rasa bersalah kian bercampur aduk tatkala ia mengingat kembali putrinya yang kemarin ia usir.
Sekarang, bagaimana nasib Jelita? Yusman menyesal.
Terlebih lagi semalam, ia bermimpi di datangi mendiang istrinya. Sebuah peringatan dari mendiang Ambar, bahwa ia akan menyesal karna telah membuang putrinya begitu saja tanpa ingin mendengar yang sebenarnya.
Jelita, tak pernah sedikitpun bersikap barbar dan tak berakhlak selama menjadi putrinya. Namun, karna pria yang di sukai ya lebih memilih Dewi, Jelita perlu bertindak gila dengan menampar Dewi.
Tentu saja hal itu melukai perasaan Yusman sebagai ayah. Dan sekarang, Yusman sadar bahwa ia tak seharusnya mengusir Jelita.
Seorang pelayan datang tergesa dengan menyampaikan kabar berita.
"Maaf tuan besar, Non Lita berpesan pada saya untuk mengemasi semua barang non Lita dan akan di ambil nanti siang katanya".
Ungkap pelayan paruh baya yang menjadi saksi atas kehancuran Jelita saat Yusman mengusirnya.
"Suruh Jelita menemuiku dulu sebelum ia mengambil seluruh barang-barangnya. Sekarang lakukan apa yang anak itu suruh", Jawab Yusman tanpa melihat pelayan.
"Baik, tuan". Wanita itu berlalu.
Yusman tidak tau saja, bahwa sebenarnya semua itu, Radhi lah yang mengirim pesan yang mengatas namakan Jelita. Radhi Memang mengambil inisiatif untuk mengambil semua barang-barang milik Jelita, Barang yang banyak meninggalkan kenangan dari Ambar.
Sesaat Radhi datang dengan wajah datar dan menyembunyikan seluruh emosinya.
Radhi mengetuk pintu hingga Yusman menoleh dan mempersilahkannya masuk.
"Pagi, tuan". Radhi mengangguk dalam.
"Ya, mengapa kau datang hingga sesiang ini?" Tanya Yusman yang keheranan.
Radhi menangkap aura kegelisahan dari Yusman. Entah kentara atau tidak, yang jelas tidak seperti biasanya Yusman serisau ini.
"Ada sedikit kendala, tuan. Maaf. Sepertinya, dua Minggu ke depan, saya akan segera menikah".
Raut wajah terkejut itu, tak lagi mampu Yusman sembunyikan.
"Aku memberimu tugas, Radhi. Cari dan temukan Jelita untukku".
*****
Seorang gadis cantik tengah duduk termenung di sebuah kamar sederhana yang cukup sejuk. Pandangan matanya nyalang.
Jelita, tengah meresapi sakit yang selama beberapa bulan ini merengkuhnya. Menyelimuti di sekujur raga, dengan tikaman-tikaman yang menghujam seluruh hati hingga ke dasar-dasarnya.....
Jangan tanya sebesar apa lukanya. Nyatanya bukan hanya hatinya yang terluka, Namun semua.
Hati, jiwa, batin, nurani, sukmanya, bahkan sekujur raganya pun telah habis terkoyak akibat keegoisan dan penghianatan orang-orang terkasih.
Tidakkah dapat mereka rasakan? Disini, ada sebujur hati yang nyaris menjadi bangkai akibat keserakahan dan keegoisan mereka atas pembenaran mereka. Atas ego mereka yang merasa dirinya paling benar.
Atas keserakahan pria-pria laknat itu, Jelita kehilangan semua. Mamanya, harga dirinya, cintanya, dunianya, keperawanannya, pria terkasihnya kemewahan dan harta bergelimang. Tidak ada apapun yang tersisa kecuali seonggok tubuh dan hati serta jiwa yang penuh luka dan mengenaskan.
Disaat Jelita telah dibuang, Justru ia menemukan sosok yang mampu menerimanya dengan tulus. Sosok yang menjanjikan kesembuhan bagi luka batinnya. Sosok yang bersedia memberi secercah harapan akan masa depannya.
Pintu terketuk dari luar. Dengan lembut Jelita mengusap air matanya yang menemaninya seharian ini. Jelita berpikir, itu pastilah Radhi..... Calon raja yang akan menghuni hatinya.
Sosok tinggi menjulang, dialah Radhi.
Radhi Praja Bekti.
Radhi menatap Jelita yang sangat anggun dengan mengenakan dress yang ia belikan siang tadi. Dress warna hitam sesuai permintaan Jelita.
Siang tadi, Saat Radhi mengirim makan siang untuk jelita, Jelita berpesan agar Radhi membelikan pakaian apa saja asal berwarna hitam. Radhi bertanya mengapa harus hitam? Jelita hanya menjawab.....
*Hidupku penuh dengan kegelapan, mas Radhi. Aku bersumpah pada Tuhan atas nama diriku dan mendiang ibuku, tak kan melepaskan warna hitam sebelum mereka membayar berbujur-bujur luka yang mereka torehkan*
Jelita terkesiap tatkala pandangan matanya tertuju pada banyak koper yang ada di belakang Radhi. Tak hanya itu, bahkan ada satu pria asing yang mengeluarkan barang-barang itu dan memasukkannya ke dalam.
"Mas Radhi?".
Radhi menebar senyum manisnya. Manis yang begitu mematikan. Pesona yang begitu berbahaya Karna dapat menaklukkan banyak wanita dari berbagai kalangan.
Namun sayangnya, mengapa Jelita tidak masuk dalam jajaran-jajaran para wanita itu?
"Ini semua barang-barang nona. Barang yang tentunya menyisakan banyak kenangan dari mendiang calon mama mertua". Senyum Radhi itu masih lah nampak menawan.
"Bagaimana mas Radhi bisa membawa keluar semua barang-barangku dari sana? Semudah itu kah Nugraha melepaskan ku".
Manik mata itu kembali berkaca. Kilat kebencian itu kembali berpendar.
"Saya mengirim pesan palsu dengan nomor yang tak mungkin dapat di lacak kepemilikan serta keberadaannya. Maaf saya mengatas namakan nona sebagai pengirimnya".
"Lalu?", Jelita kebingungan dengan apa yang ia dengar dari Radhi. Matanya menangkap seseorang yang mengeluarkan semua koper-koper tadi masih berdiri di halaman.
"Dengan kepercayaan tinggi, tuan besar memerintah kan beberapa pelayan untuk mengemasinya. Setelah terkemas rapi, tuan besar ingin menemui anda. Namun, saya bukan orang bodoh yang bersedia saja mengantar anda pada tuan. Bisa saja anda kembali terluka setelah pertemuan kalian".
"Dan....?".
"Terpaksa saya mencurinya dengan menggunakan maling-maling handal dan saya sudah mengasingkan mereka ke provinsi lain. Terkadang, kebebasan dibutuhkan tindak kriminal, bukan?", Senyum tipis terukir dari bibir Radhi. Senyum yang mengandung banyak arti dan kilat kekejaman yang tak pernah Radhi nampakkan pada siapapun.
Jelita merinding di buatnya.
"Terima kasih, mas".
"Tidak usah di kemas, nona. Malam ini juga, Saya akan membawa nona berangkat menuju desa saya. Di sana ada Ibu ku yang akan bersama nona.".
Jelita mengangguk paham.
"Saya bawakan makan malam untuk nona. Mari makan malam dulu". Ajak Radhi lembut.
Jelita luluh. Luluh akan kelembutan yang Radhi lontarkan pada Jelita.
Setelah usai menyelesaikan sesi makan malam bersama Radhi, Jelita menghampiri Radhi yang temenung sambil berdiri dengan lamunan yang tak Jelita ketahui tentang apa.
Dengan gerakan lembut, Jelita mengusap lengan Radhi, Radhi terkesiap. Sengatan-sengatan saat raganya bersentuhan dengan Jelita kembali Radhi rasakan.
"Mas Radhi?",
"Ii iya nona?".
"Berhenti memanggilku Nona. Panggil aku, Lita", Radhi mengangguk paham. Sekuat hati Radhi menyembunyikan apa yang ia rasakan.
"Jam berapa kita berangkat?" Tanya Lita.
"Setibanya mobil yang saya pesan. Mungkin sekitar jam 11 malam".
"Apa yang Mas pikirkan?", Radhi menggeleng. Ia hanya memiliki keyakinan tanpa memikirkan apapun. Membawa Jelita pergi jauh dari kota ini dan menghapus marga Nugraha dari Jelita, menggantikannya dengan marga praja Bekti.
"Persiapkan dirimu Lita. Dua Minggu sekarang, kita akan menikah".
Jelita terkesiap.
"Bagaimana secepat ini?".
"Kita tidak memiliki waktu lagi, nona. Percayalah pada saya".
"Keluargamu?".
"Mereka menerima anda sebagai menantu dari putra mereka, Radhi Praja Bekti apapun keadaan anda. Saya sudah menceritakan segalanya. Mereka telah tau".
🍁🌺🍁