Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Aroma antiseptik yang tajam menyengat indra penciuman begitu pintu kaca tebal ruang perawatan intensif Rumah Sakit Pusat Medika terbuka. Di lantai paling atas gedung paviliun eksekutif ini, suasana terasa sangat sunyi, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Jakarta.
Lorong di depan kamar nomor 901 itu dijaga ketat oleh tiga pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam tanpa atribut perusahaan, tim pengamanan independen eksternal yang disewa khusus oleh Narendra Baskara demi menjamin keselamatan putranya.
Di dalam ruangan yang serbaputih itu, deru halus dari mesin patient monitor berbunyi ritmis, menayangkan grafik detak jantung yang kini jauh lebih stabil dibandingkan malam kelam pasca-operasi besar itu.
Di atas ranjang tidur elektrik, Reza terbaring dengan perban tebal yang masih membalut sebagian dada dan perutnya. Selang oksigen tipis terpasang di hidungnya, dan beberapa jalur infus menancap di punggung tangan kirinya.
Di sudut ruangan, Sarah duduk di sebuah kursi lipat sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah jendela besar yang menampilkan siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta di bawah siraman matahari siang.
Ia hampir tidak tidur semalaman, setia mendampingi dan memastikan bahwa tidak ada satu pun orang asing yang bisa mendekati area steril tersebut.
Pip... pip... pip...
Grafik di layar monitor mendadak berfluktuasi sedikit lebih cepat. Kelopak mata Reza bergerak-gerak gelisah. Jemari tangan kanannya yang bebas dari jarum infus mulai berkedut, mencengkeram pinggiran selimut rumah sakit yang berwarna hijau pucat. Sebuah erangan pendek yang samar dan serak lolos dari tenggorokannya yang kering.
"Hani..." bisik Reza, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di antara deru mesin medis.
Sarah yang memiliki pendengaran jeli langsung tersentak dari lamunannya. Ia menegakkan posisi duduk, meletakkan ponselnya ke atas meja kecil, lalu bergegas mendekati sisi ranjang. "Pak Reza? Anda bisa mendengarku?"
Reza membuka matanya perlahan. Pandangannya sempat mengabur, berputar sesaat akibat sisa efek obat bius total yang masih mengalir di dalam sistem tubuhnya.
Cahaya lampu ruangan terasa menusuk retinanya, membuatnya harus berkedip beberapa kali sampai fokus matanya benar-benar kembali. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah langit-langit ruangan yang asing, disusul oleh wajah Sarah yang tampak sangat cemas di atasnya.
"Sarah..." kata Reza, suaranya parau seperti habis menelan pasir. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, namun rasa sakit yang luar biasa hebat laksana sayatan pisau langsung menjalar dari area perut hingga ke dadanya, memaksanya kembali terbaring sambil meringis menahan perih.
"Mohon jangan bergerak dulu, Pak! Jahitan operasi Anda bisa robek lagi," tegur Sarah setengah berbisik, nadanya terdengar tegas namun tersisip rasa lega yang amat sangat di dalamnya.
Ia segera meraih segelas air putih dengan sedotan fleksibel dari atas meja, lalu mengarahkannya ke bibir Reza yang tampak pecah-pecah. "Minum sedikit dulu. Pelan-pelan."
Reza menyedot air tersebut dengan rakus, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya yang terasa terbakar. Setelah beberapa tegukan, ia mengembuskan napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang sempat memuncak akibat rasa sakit fisik tadi.
"Hani... di mana Hani?" Itulah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Reza begitu kekuatannya sedikit pulih. Ingatan terakhirnya sebelum kesadarannya meredup malam itu adalah jeritan histeris Hani dan genangan darahnya sendiri di atas lantai aspal dermaga lama tempat penyerangan itu terjadi.
Sarah mengembus napas panjang, menatap Reza dengan pandangan maklum sekaligus kagum atas kepedulian atasannya itu. "Anda baru saja lolos dari lubang jarum kematian, Pak, dan hal pertama yang keluar dari mulut Anda adalah nama Hani."
"Sarah, aku tidak sedang bercerita kosong," potong Reza, matanya menatap Sarah dengan kilat keseriusan yang tajam, mengabaikan denyut nyeri di kepalanya. "Apakah dia aman? Bajingan-bajingan anak buah Surya Adiguna itu..."
"Dia aman, Pak Reza. Tenanglah," sela Sarah dengan cepat sebelum atasannya itu nekat mencopot selang infusnya sendiri. "Hani selamat. Dia tidak terluka sedikit pun malam itu. Ayah Anda sendiri yang mengoordinasikan tim evakuasi rahasia untuk membawanya kembali ke Jakarta subuh tadi."
Mendengar kata-kata Sarah, ketegangan di pundak Reza perlahan mengendur. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke bantal, menatap langit-langit ruangan dengan embusan napas lega yang panjang. "Syukurlah... Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
"Tapi ada satu hal yang harus Anda ketahui," lanjut Sarah, menurunkan volume suaranya menjadi bisikan yang sangat rendah, memastikan tidak ada suara yang keluar dari tirai pembatas ruangan. "Hani tidak langsung dibawa ke rumah sakit ini. Subuh tadi, dia memutuskan untuk pergi bersama seseorang... seseorang dari masa lalu ayahnya. Namanya Pak Gibran."
Mata Reza kembali membelalak. "Pak Gibran? Mantan kepala pengamanan Gunawan yang hilang delapan tahun lalu?"
"Ya," Sarah mengangguk pasti. "Ayah Anda yang menceritakannya padaku lewat telepon satu jam lalu. Pak Gibran ternyata selama ini bersembunyi di tempat terpencil untuk melindungi bukti asli skandal finansial Baskara Group. Mereka sempat dikejar oleh anak buah Surya di jalur alternatif perbukitan, tapi mereka berhasil lolos. Sekarang, Hani, Pak Gibran, dan ayah Anda sedang berada di gedung Disaster Recovery Center di Jakarta Selatan untuk mengunci seluruh data itu."
Reza mengepalkan tangan kanannya di atas tempat tidur. Rasa bangga sekaligus cemas bercampur aduk di dalam dadanya. Hani, gadis yang awalnya mengira dirinya hanyalah korban tak berdaya, kini telah bertransformasi menjadi pejuang yang berdiri di garis depan demi memulihkan kehormatan keluarganya.
"Surya Adiguna pasti akan menggila," bisik Reza, rahangnya mengetat. "Rapat pleno dewan komisaris dijadwalkan sore ini, bukan? Pukul tiga tepat?"
"Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Sarah terkejut.
"Sebelum aku berangkat malam itu, aku sempat meretas draf undangan digital terenkripsi yang dikirimkan oleh faksi Surya ke beberapa komisaris independen," jawab Reza, sebuah senyum tipis yang sarat akan kelicikan taktis khas muncul di sudut bibirnya.
"Surya ingin memanfaatkan insiden penyeranganku untuk mengesankan bahwa ayahku tidak lagi kompeten menjaga stabilitas keamanan internal perusahaan, sehingga dia bisa mengambil alih kendali penuh dan mengesahkan Proyek-X baru itu."
Reza melirik jam dinding digital di ruang rawatnya. Pukul sebelas lewat lima belas menit siang. Waktu terus berjalan mundur laksana bom waktu yang siap meledak dalam hitungan jam.
"Sarah, ambilkan laptopku di dalam tas hitam di bawah sofa," perintah Reza dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
"Tapi Pak..." Sarah membelalak tidak percaya. "Dokter bilang Anda harus istirahat total selama minimal empat puluh delapan jam pasca-operasi! Organ dalam Anda baru saja dijahit!"
"Aku tidak butuh organ dalamku untuk mengetik, Sarah. Aku hanya butuh sepuluh jariku," balas Reza, menatap Sarah dengan tatapan memohon namun keras kepala.
"Ayah dan Hani sedang memegang peluru fisik berupa dokumen dan kartu memori di Jakarta Selatan. Tapi mereka butuh jalur digital terisolasi agar bisa masuk ke dalam sistem presentasi utama di ruang rapat pleno tanpa diblokir oleh sistem keamanan TI yang dikuasai orang-orang Surya. Aku harus membukakan pintu belakang untuk mereka dari sini."
Sarah menatap Reza selama beberapa detik, mencoba mencari celah keraguan di wajah atasannya itu, namun ia gagal. Kesetiaan Reza pada ayahnya, dan terutama cintanya yang mendalam pada Hani, telah melampaui batas rasa sakit fisiknya sendiri.
Dengan helaan napas pasrah yang berat, Sarah akhirnya berdiri, berjalan ke arah sofa, dan mengambil sebuah laptop hitam tebal dengan spesifikasi militer dari dalam tas Reza. Ia meletakkan laptop itu di atas meja dorong rumah sakit, lalu menggesernya hingga tepat berada di hadapan Reza yang setengah bersandar.
"Jika terjadi sesuatu pada jahitan Anda, saya tidak bertanggung jawab," ucap Sarah cemas, meskipun tangannya dengan lembut membantu mengganjal punggung Reza dengan dua bantal tambahan agar posisinya lebih nyaman.
"Terima kasih, Sarah," bisik Reza dengan senyum tulus.
Jemari Reza mulai menari di atas papan ketik. Suara ketikan yang cepat dan ritmis segera memenuhi keheningan kamar steril itu.
Layar laptop menampilkan barisan kode-kode hijau yang merefleksikan arsitektur jaringan siber Baskara Tower. Di tengah rasa sakit yang sesekali membuat keringat dingin menetes di pelipisnya, pikiran Reza tetap jernih.
Ia sedang membangun sebuah jembatan siber tersembunyi, sebuah protokol enkripsi yang tidak akan bisa dideteksi oleh tim keamanan siber Surya Adiguna.
Jalur inilah yang nantinya akan digunakan oleh Narendra dan Hani untuk meledakkan seluruh kebenaran di hadapan dewan komisaris pada pukul tiga sore nanti.
"Tunggulah aku, Hani," batin Reza di sela pertarungan digitalnya. "Kita akan menyelesaikan permainan catur ini bersama-sama."