Bukan Persahabatan yang Biasa, bukan juga kisah cinta segitiga.
Kisah tentang seorang gadis dan dua sahabat laki-lakinya yang terpisah dan bertemu kembali setelah 6 tahun lamanya hilang kontak.
Ga ada yang tau gimana hidup akan berjalan .....
Begitu pikir seorang gadis yang biasa di panggil Fania. Dia adalah gadis yang ceria yang punya cerita di masa remajanya yang tetap hidup dalam bayang - bayang kehidupannya setelah berpisah dengan dua sahabat laki - laki yang ia miliki kala itu.
Setelah sekian lama Fania dipertemukan oleh salah satunya yang sudah bagaikan seorang Kakak Laki - laki bagi Fania.
Bagaimana seterusnya?
***
Para pecinta Novel sekalian,
Ini adalah tulisan pertama Author yang dipublikasikan. Mohon Maaf untuk segala kekurangan yang kiranya ada ditulisan saya ini ya .... Yah namanya juga Pemula. Hehehe ....
Salam kenal dari author baru yang punya khayalan tapi baru bisa kesampaian nulis khayalannya dalam cerita. Mudahan bisa menghibur kalian para pembaca semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emaknya Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Selamat Membaca.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Oh ya, kamu sudah lama jadi vokalis Fan?“ tanya Ara memecah keheningan antara dirinya dan Fania.
“ Lumayan sih Kak, dari lulus SMA,“ jawab Fania.
“Wow lumayan lama dong kalau begitu? pantes kamu kayaknya udah keliatan pro di panggung ya? keren lah pokoknya," ucap Ara seraya memuji.
“Masih lebih senior ka Vivi, dia mah dari SMP udah wara wiri di panggung,“
“Maaf permisi,“ Pelayan wanita yang tadi menghampiri Ara dan Fania, datang dengan membawa minuman yang keduanya pesan. “ Ini minumannya Nyonya, Kak Fania,“ ucapnya lagi sambil meletakkan dua cangkir cappucino panas diatas meja dengan hati-hati. “ Silahkan...“
“Makasih ya Mba,“ ucap Fania sopan pada sang pelayan disertai anggukan oleh Ara.
"Kamu dari yang saya dengar katanya reguler juga ya di Hotel ini, di Kafe bawah?"Ara kemudian bertanya pada Fania setelah sang pelayan pergi dari hadapan mereka.
"Iya Kak," jawab Fania.
"Pantes karyawan sini kayaknya kenal kamu," timpal Ara.
Tak lama berselang, Ara bertanya lagi pada Fania.
“Oh iya Fan, kamu tau daerah Menteng ga?“
“Menteng? ... " jawab Fania dengan sedikit keterkejutan atas pertanyaan Ara barusan, yang kemudian nampak mengangguk setelah Fania meresponsnya dengan nampak sedikit bingung di mata Ara. "Tau Kak,“ sambung Fania. 'Tau banget malah! batin Fania setelahnya.
Tapi kemudian Fania membuang pandangannya seperti teringat akan sesuatu, dan Ara menyadari kalau gadis yang sedang bersamanya ini seperti sedang memikirkan suatu hal dalam kepalanya.
“Kenapa Fan? Something wrong?” tanya Ara kemudian.
“Eeeh, enggaKkak. Ga papa. Cuma inget aja dulu punya temen deket di sana,“ jawab Fania sambil menghela nafas pelan.
“Oh ya?" Ara memposisikan tubuhnya menghadap Fania dan wanita itu terlihat antusias saat mendengar kalau Fania punya temen di daerah itu.
'Eh, kenapa nih orang?' batin Fania yang merasa agak aneh dengan tingkah Ara sekarang, saat melihat sikap Ara yang menurutnya terlihat antara kepo sama excited saat mendengarnya pernah punya teman di daerah itu.
"Siapa namanya?“ Kembali Ara melontarkan pertanyaan pada Fania.
“Namanya..." yang sedikit ragu-ragu menjawab pertanyaan Ara sekarang.
Tepatnya, sedikit ada rasa sedih dalam hati Fania jika menyebut nama yang menjadi jawaban untuk pertanyaan Ara barusan.
Namun demi menghormati Ara, pada akhirnya Fania pun menyebutkan satu nama. "Reno, Kak...“
Deg!
Di mana, saat nama itu tercetus dari mulut Fania, ada hati yang berdentum di tempatnya berdiri.
♥♥♥♥♥
Praang!
Seketika Fania dan Ara menoleh ke arah bunyi gelas pecah yang mengagetkan mereka berdua, tak lama setelah Fania menyebutkan satu nama.
Seorang pria yang ketampanannya separipurna Ara dalam penilaian Fania, nampak telah berdiri tak jauh dari tempat kedua wanita itu duduk.
“Hon... “ Ara kemudian langsung beranjak dari duduknya, menghampiri seseorang yang berdiri terpaku , dimana didekat kakinya terdapat pecahan gelas.
Pria super tampan yang menjadi sumber rasa aneh dalam hati Fania. “Hon?... “ panggil Ara lagi pada pria itu karena tak langsung menanggapinya.
Panggilan kedua Ara padanya, seketika pria itu melihat ke arah yang bersangkutan. “Sorry, Babe...“ ucapnya . kemudian, lalu menoleh ke satu arah kemudian nampak memberi kode pada seseorang untuk membersihkan pecahan wadah minum di dekat kakinya. “Sorry ya kalau mengagetkan kalian?“ ucap pria itu kemudian setelah memalingkan wajahnya lagi dari arah ia menoleh sebelumnya.
Pria itu lalu melempar senym kepada Ara, kemudian pada Fania.
“It’s oke...” ucap Fania dengan canggung membalas ucapan pria itu.
“Oh iya Fania, kenalin ini suami saya,“ Ara memperkenalkan pria tersebut kepada Fania kemudian, sambil merengkuh pinggangnya, yang juga melakukan hal yang sama pada Ara, kemudian keduanya melangkah mendekati Fania.
“Nice perform, Fan - Fania.... “ pria itu terdengar sedikit gugup. "Ya? nama kamu?" tanyanya kemudian.
"Iya, Tuan," jawab Fania santun dan telah bangkit dari duduknya. “Makasih pujiannya, saya senang kalau penampilan saya dan anak-anak, bisa membuat Tuan dan yang lainnya merasa puas.“ Fania berkata dengan sopan pada pria yang diketahui adalah suaminya Ara itu.
“Oh iya, sorry tadi sempet dengar kalian bicara sebelum insiden tadi, katanya kamu tau daerah Menteng? Pernah tinggal disana?“ tanya pria itu lagi dengan terlihat lebih santai, namun tersirat rasa ingin tahu dalam hatinya.Sangat penasaran dengan gadis bernama Fania yang sedang berdiri di depannya ini.
Karena sebenarnya pria ini, adalah sosok yang menyimpan harapan besar untuk bisa menemukan gadis tomboy kesayangannya yang hilang dari hidupnya beberapa tahun ini. Hanya saja walaupun gadis yang sedang ia ajak bicara ini juga bernama Fania, tapi penampilannya berbeda 360 derajat dari Fania yang ia kenal. Jadi pria ini ragu bahwa Fania yang ada di hadapannya ini, adalah sosok yang selama kurang lebih 6 tahun ini ia cari.
Namun pria itu sangat memperhatikan sosok gadis di depannya ini, dari mulai gelagat sampai apa-apa yang dikenakannya.
“Oh itu... i-iya siiihh... tapii...“ Fania yang terdengar menggantungkan jawabannya atas pertanyaan suami Ara itu, tak memperhatikan jika dirinya sedang ditelisik seseorang. 'Kenapa ni laki bini kepo soal itu daerah sih?' sebab Fania sibuk dengan kecanggungan serta keheranannya.
“Kita ini tinggalnya di daerah Menteng Fan, makanya kalau kamu tau, kita jadi bisa undang kamu main ke rumah kita. Ya kan Hon?” ucap Ara yang kemudian memandang suaminya dan di balas dengan senyuman lagi.
“Ohh... gitu Kak. Jadi kak Ara dan suami tinggal di daerah sana ya?“ sahut Fania dan Ara pun mengiyakan.
Fania kembali berkata setelah mendengar respons Ara.
“Aku tahu kok, tapi udah lama banget ga kesana. Soalnya temen aku juga udah lama ga ada di daerah itu, jadi ga ada alasan lagi buat maen maen kesana kecuali sekedar lewat.“
Fania memberikan penjelasannya kepada suami istri di depannya itu. Di mana, ada rasa yang sedikit tak mengenakkan hatinya saat Fania mengucapkan kalimat tersebut. Karena di daerah itu dulu, adalah tempat 2 sahabat laki-lakinya tinggal.
Sahabat tersayangnya Fania selain sangat akrab.
Jadi bohong kalau Fania bilang tak tahu daerah itu.
Karena Fania sering banget datang ke rumah mereka buat main bahkan menginap.
Rumah Reno terutama.
“By the way, Teman kamu itu...pindah kemana?“ Kini Reno yang bertanya.
Yang jawaban Fania membuat hati Reno berdentum sekali lagi. “London...“
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
To Be Continued.