Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Kecil-kecilan
"Intan, kamu tidak suka kita kedatangan tamu dari keluarga rekan bisnis papa?" tanya Ferdian menatap putrinya yang tidak ada reaksi apa-apa saat ia menyampaikan kabar yang menurutnya bagus.
"Tidak, karena aku tidak mengenalinya," jawab Intan santai. Intan lupa kalau kemarin yang mengaku sebagai calon mertuanya adalah tuan Rubin dan nyonya Rubin, alias Nahla.
Ferdian dan Nie saling memandang. Tidak menyangka bahwa putrinya sudah pikun. Ferdian yang mengerakan alis dan bahunya meminta jawaban dari kebingungan, Nie yang mengerti apa yang dilakukan suaminya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Munculah sebuah ide di kepala Nie untuk menjahili Intan.
"Sepertinya anak kita sudah pikun, Pa. Sudah tidak sabar mama melihat Intan menikah." Nie tersenyum ke Ferdian. Laki-laki paruh baya itu mulai mengerti.
"Rifal, anaknya pak Rubin akan melamar kamu dua minggu lagi. Papa harap kamu tidak menolaknya," ucap Ferdian. Intan yang mendengar Papanya mengucapkan kata 'melamar kamu dua minggu lagi' membuat minuman yang ada di mulutnya.
Intan diam tak bersuara. Nie dan Ferdian tahu jika anaknya masih syok mendengar kabar yang baru saja diucapkan. Berharap yang diucapkan Papanya adalah sebuah candaan, meskipun garing.
"Hahaha ... Papa bercanda kan? Jika Papa bercanda, Papa bisa menggelengkan kepala." Intan tertawa kikuk. Ayo, Pa, bilang. Kalau Papa hanya bercanda, batin Intan mengharapkan sebuah jawaban yang tidak membuat dirinya syok.
Ferdian menganggukan kepalanya, ternyata dugaan Intan salah. Topik pembicaraan hari ini tidak ada gurauan. Intan memandangi Mamanya, Nie pun menganggukan kepalanya. Intan benar-benar frustasi.
"Sekarang kamu harus merubah diri." Nie melepaskan kacamata yang Intan pakai. Gadis itu hanya bisa diam dan pasrah, Intan berfikir bahwa ini adalah jalan yang terbaik.
***
Dua hari setelah mendengar kabar bahwa ia akan dilamar oleh laki-laki yang bernama Rifal. Intan tidak mengutak-ngatik ponselnya, kecuali ada yang meneleponnya. Begitupun dengan esan dari sahabatnya, Intan abaikan begitu saja.
Kacamatanya sudah terlepas, rambutnya masih sama. Diikat satu, tanpa poni dan hanya dandanan natural. Dua hari pula Intan sama sekali tidak keluar dari rumahnya. Sesekali keluar hanya untuk makan, atau sekedar bercanda dengan mama papanya.
Deringan ponselnya membuat Intan sadar dari dunia lamunannya. Tertera nama pemilik toko kue, Intan mengangkat panggilan itu dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Intan menggeser tombol hijau.
"Ha-halo, Pa," sapa Intan dengan gugup.
"Maaf Intan, kamu saya pecat. Nanti saya kirim uang pesangonnya ke atm kamu," kata pemilik toko kue dari seberang telepon.
"Ta-tapi, ke-kenapa?" tanya Intan. "Apakah karena saya sudah beberapa hari ini tidak masuk bekerja?" lanjutnya lagi dengan menghujani pertanyaan.
"Maaf Intan, tapi ini sudah kebijakan dari sini," ucap pemilik toko kue.
"Baiklah." Intan menutup panggilan telepon tersebut.
Sebuah notif muncul dari ponselnya, pemilik toko kue sudah mentransfer uang beberapa juta. Tanda gaji dan pesangon Intan sudah masuk. Meskipun papanya sudah melarang ia bekerja, Intan tidak menyangka dalam waktu dekat ia sudah dipecat.
Terdengar tangisan balita yang begitu kencang, Intan keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga satu persatu. Betapa terkejutnya ia melihat kakak iparnya yang sedang menggendong ponakannya.
"Ririn!" teriak Intan, gadis itu berlari menuju kakak iparnya.
"Sini gendong sama aunty yah." Intan merebut Ririn dari Lela, istri Kori. "Kakak mana, Mbak?" tanya Intan yang tidak melihat kakaknya.
"Masih di depan. Oia, Dek, mama sama papa mana?" tanya Lela yang melihat sekeliling tidak mendapati kedua mertuanya.
"Papa sama mama lagi di luar kota," jawab Intan.
"Ngapain?" Bukan Lela yang bertanya, melainkan Kori, suaminya.
"Enggak tau. Mbak, Kak, aku bawa Ririn ke kamar yah. Kebetulan udah enggak nangis lagi." Keduanya pun mengamggukan kepalanya. Intan langsung membawa balita itu kekamarnya.
Di dalam kamar, Intan bercanda dengan Ririn. Mereka tertawa lepas hingga terdengar sampai ruang tamu. "Kayaknya bener deh kata papa sama mama, Intan sudah cocok untuk menjadi ibu. Buktinya Ririn saja bisa tertawa lepas." Lela duduk di samping suaminya, kemudian menempelkan kepalanya di dada Kori. Kori hanya mengelus-elus rambut istrinya.
Intan berfoto ria dengan balita yang ada di kamarnya. Ia berniat meng-upload semua fotonya yang bersama Ririn di akun sesial medianya. Foto yang sangat sempurna, seperti ibu dan anak. Tak hanya itu, Intan berniat untuk tidur dengan Ririn selama balita itu ada di rumah keluarga Ferdian.
Kori dan Lela tidak mempermasalahkannya, hanya saja mereka cemas jika anaknya akan menangis ditengah malam. Balita berumur tujuh bulan itu pun nyaman berada di dekat aunty nya. Dan sudah dua malam mereka tidur bersama. Meskipun terkadang menangis ditengah malam, Intan sudah menyiapkan susu hangat untuk ponakannya.
Seminggu lagi Intan akan melangsungkan acara lamaran dengan laki-laki yang menurutnya tidak pernah bertemu. Dan hari ini semua keluarganya berkumpul, termasuk Rena dan Mia, kedua sahabat Intan. Mereka berkumpul untuk membahas lamaran yang akan diadakan satu minggu dari sekarang.
Kori, Rudi, Lela, Nie, Ferdian, Ana, Rena, Mia dan Intan sudah duduk di taman belakang rumah. Rena dan Mia kaget, mereka diundang oleh keluarga Intan. Mereka juga tidak tahu jika Intan dari keluarga yang cukup mampu.
"Intan, beneran kamu akan dilamar?" tanya Mia yang penasaran. Intan menganggukan kepalanya. Ferdian sengaja mengumpulkan semuanya di taman, untuk berpesta dan sekedar bakar-bakaran.
"Dengan siapa?" tanya Rena yang ikut penasaran.
"Dengan anak rekan bisnis papa," jawab Intan jujur.
"Dek, Mbak mau istirahat dulu yah. Kalian lanjutkan saja pestanya." Ana meninggalkan Intan dan sahabatnya setelah mendapatkan jawaban dari Intan.
Begitu pula dengan yang lainnya, Nie, Ferdian, dan Lela sudah kembali ke kamarnya. Kini hanya Intan dan kedua sahabatnya. Sedangkan Kori dan Rudi memilih untuk duduk di teras depan rumah.
Hari semakin larut, suasana semakin hening. Mia dan Rena sudah menguap berkali-kali. Intan mengajak mereka untuk tidur dan menginap di rumahnya. Karena sudah malam, mau tidak mau mereka pun menginap.
Selama dua hari Intan jarang mengecek ponselnya, benda yang biasanya selalu Intan bawa, kini merasa terabaikan. Kedua sahabatnya sudah terlelap di alam mimpi. Intan pun menyusulnya.
***
Kediaman Rubin.
Rifal beserta ketiga sahabatnya sedang berpesta di rumah Rifal. Bunda dan Ayahnya pun ikut, tapi tidak lama mereka kembali ke kamar.
"Cie, yang minggu depan melamar anak gadis," goda Putra.
"Nikahnya kapan, Fal?" tanya Kelvin penasaran.
"Tidak lama setelah lamaran," jawab Rifal jujur. Cheryl hanya bisa menyimak obrolan mereka.
"Semoga lancar sampai hari H. Sorry, Bro. Kita tidak bisa hadir diacara lamaran." Cheryl, Kelvin, dan Putra memang sudah memiliki janji dengan klain penting. Mereka berempat mendirikan satu perusahaan agar persahabatan mereka tetap terjalin. Perusahaan yang dipimpin oleh Cheryl.
Bersambung ....
Jangan lupa dukung Author dengan cara like, komen dan vote. Terima kasih.
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor