Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita pilihan Sarah
Angin malam berhembus kencang. Suara jarum jam menjadi saksi bahwa keheningan malam ini terasa lebih dingin. Nathaniel sedang duduk dan menikmati secangkir kopi di salah satu vila tempatnya tinggal selama beberapa bulan ini. Ia sedang bersantai setelah seharian bergulat dengan pekerjaan.
Kakinya bersilang. Punggungnya sengaja ia sandarkan dengan tangan kiri bersandar di atas pembatas sofa, dan tangan kanan yang memegang cangkir. Kancing atas kemeja putihnya terbuka, menampakkan dada bidangnya dengan sebuah tato berinisial huruf.
Ia meneguk kopinya perlahan. Lalu meletakkan cangkir itu di meja tanpa menimbulkan suara. Detik berikutnya, pintu terbuka. Menampakkan seorang wanita yang mengenakkan dress berwarna hitam selutut, dengan sepatu heels yang tidak terlalu tinggi. Rambutnya tergerai sepunggung. Lalu tangannya bergerak menutup pintu, kakinya melangkah perlahan menghampiri Nathaniel. Ia bisa masuk kesini karena sudah memiliki akses.
"Hai... Adikku yang manis."
Sarah Alister. Wanita berusia tiga puluh empat tahun yang sudah memiliki satu anak. Ia adalah kakak dari Nathaniel, putri tertua dari keluarga Alister. Keberadaannya cukup tertutup. Ia tidak suka drama dan lebih memilih menutup diri dari media. Semua orang tahu bahwa Nathaniel bukanlah anak tunggal. Tapi banyak yang tidak tahu wajah dari anak pertama keluarga Alister.
Nathaniel berusaha melepaskan rangkulan Sarah di pundaknya.
"Menyentuh adik sendiri saja seolah dosa terbesar." Sarah menarik tangannya. Bibirnya mengerucut, ia mengambil secangkir kopi milik Nathaniel dan meminumnya tanpa meminta izin.
"Itu punyaku. Kakak bisa buat sendiri." Nathaniel melotot kearah Sarah. Ia mengamati setiap pergerakan kakaknya yang selama ini selalu mengganggunya. Lihat dari perlakuan kakaknya itu setelah menyapa. Tangan Nathaniel berusaha merebut kembali secangkir kopi miliknya.
Tapi Sarah lebih dulu menghindar. Wanita itu menjulurkan lidah kemudian mendudukkan dirinya di hadapan Nathaniel. Ia tersenyum tanpa merasa bersalah lalu tangannya bergerak membalikkan cangkir sebagai tanda bahwa isinya telah habis. Nathaniel dihadapannya terdengar berdecak, Sarah yang melihat itu tertawa terbahak-bahak. Baginya... menggoda adiknya adalah hal paling menyenangkan.
"Makanya, cepat punya istri. Nanti kalau kopinya habis langsung dibuatkan oleh istri tercinta."
Nathaniel menatap Sarah tajam. "Tapi tugas istriku nanti di sampingku. Bukan untuk membuat kopi." kalimatnya barusan membuat sarah memutar bola mata dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Baiklah, tuan Alister. Sepertinya, istrimu nanti akan menjadi wanita paling beruntung." Sarah beralih mencondongkan tubuhnya, ia mencomot makanan ringan yang berada diatas meja dan memakannya dengan rakus.
Nathaniel menggelengkan kepala melihat tingkah sang kakak, ia melepaskan jam tangan yang berada di lengannya, menaruhnya di atas meja lalu kembali menatap Sarah.
"Dimana keponakanku?"
Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lilia di rumah. Sekali-kali.... aku juga ingin pergi keluar sendiri..."
"....Pergi berbelanja, ke salon, cuci mata. Lalu datang dan mengunjungi adikku tersayang yang jomblo sejak lahir."
Nathaniel yang mendengarnya lagi-lagi berdecak. Ia mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke arah Sarah. Dengan gerakan cepat, wanita itu menangkapnya sembari nyengir kuda. Ia tahu pembicaraannya soal status adiknya adalah hal yang selalu membuatnya kesal.
Sarah memeluk bantal itu. Ia melepaskan heelsnya dan menaikkan kedua kaki ke atas. Perilakunya sangat berbanding terbalik dengan Nathaniel. Ia tidak pernah memikirkan citra sebagai seorang keluarga Alister. Toh, orang-orang tidak mengenalnya. Mereka hanya mengetahui Sarah adalah seorang wanita dari keluarga biasa.
"Lama sekali aku tidak bertemu Lilia." Nathaniel tersenyum tipis, lalu membayangkan wajah keponakannya yang selalu terlihat lucu dan menggemaskan. Ia adalah pria yang cuek dan kaku, tapi ketika bersama Lilia... Nathaniel akan berubah menjadi seorang paman yang banyak bicara.
"Semalam dia demam."
Nathaniel seketika menegakkan tubuhnya, kaki yang semula bersilang kini sudah saling berjajar, "kenapa kakak tidak menghubungiku?" rautnya terlihat serius dan khawatir. Ia menautkan kedua tangannya dan menatap Sarah.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Apa sudah diperiksa dokter?"
Wanita itu menghembuskan napas lega. "Sekarang sudah sembuh. Demamnya tidak terlalu tinggi. Semalam, dokter langsung datang dan memeriksanya. Tadi pagi Lilia sudah main seperti biasa." Sarah berusaha menjelaskan dengan tenang.
Nathaniel terlihat bernapas lega dan kembali menyender punggungnya di sofa. Ia melihat Sarah menaruh bantal dan menegakkan tubuhnya. Wanita itu kembali menurunkan kedua kaki lalu mendudukkan dirinya dengan benar.
"Aku ingin mengenalkanmu pada seorang wanita." Sarah tersenyum tipis dan baru ingat maksud dari kedatangannya malam ini.
Pupil Nathaniel melebar dengan alisnya terangkat tipis. Suasana hening sejenak, pria itu menatap Sarah dengan tatapan datar.
"Dia cantik...." Sarah mulai berbicara lagi dengan tubuh yang ia condongkan.
"....Baik."
"Anggun dan penuh wibawa," ia melihat Nathaniel yang masih belum bereaksi apapun. Pria itu hanya mengetuk-ngetukan jari ke meja dengan perlahan sehingga menciptakan bunyi yang memecah keheningan.
"Kakak yakin. Kali ini kamu pasti suka." Sarah menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum lebar dan kembali memakan makanan ringan di atas meja.
Ketukkan jari Nathaniel berhenti. Lalu ekor matanya terus menatap ke arah Sarah. Ia terdiam dan memikirkan kejadian sebelumnya, ia sudah dipertemukan dengan wanita yang kesekian kali. Nathaniel tahu bahwa kakaknya itu sangat khawatir dengan masa depan Nathaniel. Sarah selalu pikir, Nathaniel tidak memiliki niat untuk menikah. Padahal, ia hanya sedang menunggu seseorang yang tepat.
"Biarkan aku memilih pasanganku sendiri, kak." Suaranya terdengar rendah. Ia akan berusaha menolak tapi secara perlahan agar tidak menyakiti perasaan Sarah. Nathaniel selalu melihat Sarah excited jika menyangkut tentangnya, ia berusaha untuk tidak membuat Sarah kecewa.
Sesaat terdengar helaan napas berat dari Sarah. Bibir bawah wanita itu maju kedepan dengan raut yang berubah sendu. Pundaknya turun seketika, menyenderkan punggungnya di sofa dan terlihat tidak bersemangat lagi.
Nathaniel yang melihat itu merasa cemas. Ia jadi berpikir harus berbuat apa agar suasana hati kakaknya kembali baik. Ia tidak bermaksud membuat kakaknya sedih. Hanya saja.... Nathaniel mersa bahwa wanita yang selalu dikenalkan Sarah selalu jauh dari tipe wanita yang sudah ia bangun.
Pria itu mencondongkan tubuh, menautkan jari-jarinya lalu berdehem kecil. Matanya menatap Sarah yang kini hanya berfokus pada lantai. Pria itu menghembuskan napas panjang sebelum melakukan sesuatu hal yang mengharuskannya untuk kembali mengalah demi mengembalikan suasana hati Sarah yang rusak.
"Baiklah. Tapi jika tidak cocok jangan dipaksa."
Sarah menegakkan tubuhnya setelah mendengar persetujuan dari sang adik. Matanya berbinar sempurna. Ia tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya. Rayuannya kembali berhasil memanipulasi adiknya, hal itu selalu dilakukan karena ia sudah tahu kelemahan Nathaniel yang tidak bisa melihat kakaknya bersedih.
"Tidak masalah!" Ia menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Senyuman itu belum pudar sehingga membuat Nathaniel dapat bernapas lega.
"Kalian bertemu dulu. Lalu berbincang dan saling mencocokkan diri."
"Kalau tidak cocok tidak apa-apa. Tapi...." Sarah memiringkan kepalanya, ia tersenyum menggoda.
"Kakak yakin kali ini cocok."
Nathaniel hanya mengangguk kecil dan ikut tersenyum melihat raut kakaknya yang begitu bahagia. Jika saja detik ini senyum Nathaniel dapat dilihat semua orang... Maka, tidak ada lagi anggapan bahwa ia seorang pria dingin.
Tapi sayangnya. Senyuman itu hanya hadir bersama orang yang ia sayangi. Bahkan beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya terasa begitu mahal bagi orang lain.
Tanpa Nathaniel sadari, wajah seorang wanita sempat terlintas di benaknya. Wanita yang baru sehari dikenalnya dalam sebuah ruang rapat, tetapi mampu meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan. Hanya sesaat. Ia segera mengusir pikiran itu sebelum Sarah menyadarinya.
"Kalian akan bertemu kapan?" Sarah mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.
Nathaniel terlihat berpikir sejenak. "Lusa, jadwalku kosong." ucapnya dengan pelan.
"Baiklah. Aku akan segera memberi kabar baik pada wanita beruntung itu."
Sarah langsung sibuk mengetik sesuatu di ponselnya sementara Nathaniel kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Pria itu memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian mereka. Nathaniel dan Sarah menoleh, lalu melihat Attar yang baru saja masuk.
"Hai Attar." Sarah melambaikan tangannya dengan senyum lebar.
"Hallo, nona Sarah." Pria itu membalas senyum Sarah dengan sopan, ia mulai melangkahkan kakinya menghampiri dua orang itu.
"Dari mana?" Sarah kembali bertanya, ia baru sadar bahwa sejak tadi ia masuk tidak melihat Attar. Mungkin karena terlalu menggebu untuk segera menyampaikan kabar tentang pertemuan sahabat dan adiknya itu.
"Ada hal penting yang baru selesai saya urus, nona." Jawab Attar dengan sopan. Pria itu berdiri di samping Nathaniel dengan setelan jas rapih seperti biasa.
Sarah menganggukan kepala sebagai balasan. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada layar ponsel. Dalam diam, Attar menatap sesaat wajah Sarah sebagai wanita yang pernah mengisi hatinya.