Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Gerbang Reruntuhan Awan
Kabut tebal membungkus lereng Lembah Bintang Kelabu saat matahari mulai terbenam di ufuk barat. Angin dingin berembus kencang, membawa aroma tanah basah dan desis energi Qi yang samar namun pekat.
Kaelen menggenggam erat gagang pedang besi berkarat di pinggangnya. Langkah kakinya menyusuri batu-batu tajam reruntuhan kuil kuno yang telah hancur ribuan tahun lalu. Di depannya, struktur gerbang raksasa dari batu hitam berdiri megah, meskipun separuhnya telah tertutup lumut darah.
"Tempat ini... getaran energinya terlalu menekan," bisik Lyra dari samping. Jemarinya yang lentik memegang botol racun alkimia dengan siaga. "Kaelen, rumor bahwa Faksi Tengkorak Darah sudah mengirim pengintai ke sini mungkin bukan sekadar gertakan."
Kaelen tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap ukiran rumit di atas ambang gerbang—ukiran naga tanpa mata, simbol dari Mazhab Pedang Purba yang telah hilang dari sejarah.
"Jika kita berbalik sekarang, kita tidak akan pernah tahu mengapa Pedang Berkarat ini terus bergetar setiap kali mendekati reruntuhan ini," kata Kaelen dengan suara berat. "Lagipula, Vance tidak akan membiarkan kita keluar dari perbatasan ini hidup-hidup."
Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari balik dinding kuil. Bau amis darah menyengat udara seketika. Sesuai dugaan mereka, bayangan-bayangan hitam mulai bermunculan dari balik kabut.
Suasana di dalam aula reruntuhan kuil kuno yang diselimuti kabut aura mistis terasa begitu mencekam. Gelombang tekanan dari Perebutan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit dan Pengkhianatan Faksi Sekte Kuno mendatangkan keheningan luar biasa bagi Kaelen dan Lyra.
Tanpa diduga, Kaelen terjebak dalam perundingan alot dengan pimpinan faksi oposisi lokal. Situasi ini memaksa mereka untuk mengubah strategi bertahan secara drastis demi menyelamatkan misi keseluruhan.
"Biarkan mereka datang. Kita akan akhiri permainan ini malam ini juga," kata Kaelen sambil mengepalkan tangan erat-erat.
Langkah demi langkah kaki mereka menyusuri lorong sunyi, bersiap menyambut babak baru pertarungan yang jauh lebih menantang di depan.
Kabut yang sebelumnya hanya menyelimuti lereng, kini merayap masuk ke dalam reruntuhan, menyatu dengan kegelapan abadi di sana. Dari balik tirai putih itu, bayangan-bayangan hitam yang disebutkan Lyra mulai membentuk wujud. Bukan sekadar ilusi, melainkan entitas semi-fisik yang tercipta dari kondensasi Qi gelap, memancarkan aura dingin yang mengikis vitalitas. Mereka adalah para penjaga—atau lebih tepatnya, korban—dari ilmu hitam Faksi Tengkorak Darah, jiwa-jiwa yang terperangkap dalam bentuk tidak wajar, ditugaskan untuk menjaga gerbang ke kedalaman yang lebih mengerikan. Mata mereka, jika bisa disebut mata, berpendar merah menyala dalam kegelapan, menatap Kaelen dan Lyra dengan kebencian purba.
Kaelen menarik Pedang Besi Berkarat dari sarungnya. Bilah yang seharusnya tumpul itu kini memancarkan aura keabu-abuan yang aneh, seolah setiap karatnya adalah mata rantai yang menghubungkan ke dimensi lain. Sebuah getaran halus merambat dari gagangnya—bukan getaran ketakutan, melainkan semacam desakan, nafsu yang terpendam, keinginan untuk berinteraksi dengan energi di sekitarnya.
"Mereka datang lebih cepat dari yang kuduga, Lyra," gumam Kaelen. Suaranya tenang, namun terselip ketegasan baja. "Strategi kita harus dieksekusi sekarang."
Lyra di sampingnya mengangguk. Jemarinya yang lentik sudah siap; botol-botol kecil berisi racun alkimia yang disuling dari bunga-bunga beracun lembah terlarang tersemat di antara jari-jarinya. Aura hijau gelap mulai melingkari telapak tangannya, siap melepaskan jurus "Tangan Pemurni Racun Api" miliknya.
Bayangan terdepan melesat, bergerak seperti hantu namun dengan kecepatan dan kekuatan fisik yang mengejutkan. Cakar-cakar mereka, yang terbuat dari Qi hitam pekat, mengoyak udara dengan suara siulan menyeramkan. Kaelen tidak gentar. Tubuhnya bergerak bagai angin puyuh, sebuah manifestasi dari "Teknik Jiwa Pedang Hampa" yang belum sempurna. Pedang berkarat itu berkelebat, bukan dengan jurus-jurus anggun yang diajarkan sekte-sekte besar, melainkan dengan gerakan efisien, brutal, dan mematikan. Setiap ayunan menghasilkan suara desingan rendah, dan setiap kali bilah itu mengenai bayangan, entitas gelap itu menjerit tanpa suara, buyar menjadi kepulan asap hitam yang segera diserap oleh bilah berkarat Kaelen. Ini adalah taktik yang telah mereka sepakati setelah perundingan alot yang memaksa Kaelen memilih jalan paling agresif: menerobos langsung, menyingkirkan semua penghalang tanpa ragu, dan menunjukkan bahwa mereka bukanlah mangsa yang mudah.
Lyra tidak tinggal diam. Dengan gerakan presisi seorang ahli alkimia, ia melemparkan botol-botol kecilnya. Cairan zamrud pekat di dalamnya meledak di tengah gerombolan bayangan, menciptakan semburan api hijau yang mematikan. Api alkimia itu membakar Qi gelap, membuat bayangan-bayangan itu menggeliat kesakitan sebelum lenyap. Namun, untuk setiap bayangan yang lenyap, dua bayangan lain muncul, lebih agresif dan lebih padat, seolah reruntuhan itu sendiri memuntahkan lebih banyak penjaga.
Tekanan di udara semakin berat, dan Kaelen bisa merasakan getaran pada pedangnya semakin kuat, seolah artefak di dalam reruntuhan itu memanggil—atau mungkin merespons—kehadirannya.
"Mereka ingin menghentikan kita masuk ke jantung reruntuhan, Lyra," ucapnya, suaranya kini lebih dingin dan tajam dari bilah pedangnya. "Tapi Jiwa Pedang Hampa-ku tidak akan diam. Pedang ini ingin melihat apa yang ada di baliknya."
Dengan setiap bayangan yang dienyahkan, jalan mereka semakin terbuka. Kaelen dan Lyra tidak berlama-lama di satu tempat. Mereka bergerak maju, menembus gelombang musuh, mendorong ke dalam gerbang raksasa yang kini sepenuhnya terbuka, menampakkan lorong panjang dan gelap di baliknya. Ini adalah "lorong sunyi" yang mereka antisipasi, namun sunyi bukanlah berarti aman. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran kuno yang nyaris tak terlihat dalam kegelapan, dan udara di sini terasa jauh lebih pekat, sarat dengan energi purba yang menekan. Suara desiran langkah mereka dan deru napas sendiri menjadi satu-satunya melodi di tengah keheningan yang menyesakkan, membawa mereka lebih dalam ke jantung reruntuhan, menuju Jiwa Artefak Reruntuhan Langit yang dirumorkan, serta potensi pengkhianatan yang mengintai di setiap sudut. Di sinilah "babak baru pertarungan" yang Kaelen sebutkan akan benar-benar dimulai.
Lorong sunyi bukanlah sekadar jalan, melainkan sebuah koridor waktu yang membeku. Ukiran-ukiran di dinding, yang tadinya samar, kini tampak lebih jelas di beberapa titik, memancarkan kilau redup yang aneh—piktogram tentang perang kosmik dan ritual penyegelan kuno. Setiap garis dan lekukan seolah menyimpan gema dari era yang telah lama tiada. Udara di sini terasa lebih berat, mencekik, seperti bernapas dalam timbunan sejarah yang tak terhitung. Aroma metalik bercampur dengan bau lumut purba dan jejak energi Qi yang begitu pekat, sampai terasa seperti lapisan tipis yang menempel di kulit. Pedang besi berkarat Kaelen, yang selalu terasa dingin di genggamannya, kini berdenyut dengan ritme samar, memancarkan kehangatan aneh yang merayap ke lengannya, seolah bilah itu sendiri tengah menyesuaikan diri dengan aura purba reruntuhan.
Setiap langkah yang mereka ambil terasa seperti melanggar sumpah keheningan ribuan tahun. Gema langkah kaki mereka sendiri menjadi satu-satunya suara, namun Kaelen merasakan bisikan-bisikan tak kasat mata merayapi benaknya—bukan kata-kata, melainkan sensasi: sebuah kerinduan, kemarahan yang tertidur, dan janji akan kekuatan yang tak terhingga. Lyra berjalan di sampingnya, siluetnya yang ramping bergerak tanpa suara, sementara matanya yang tajam menyisir setiap bayangan dan setiap retakan di dinding. Aura misteriusnya seolah menjadi perisai tak kasat mata di tengah tekanan yang mengimpit, menjaga fokusnya tetap tajam, siap menghadapi bahaya yang bisa muncul kapan saja.
Tiba-tiba, Kaelen mengangkat tangan, menghentikan langkah mereka. Otot-ototnya menegang, dan pedang di tangannya bergetar hebat, bukan lagi dengan denyutan samar, melainkan getaran peringatan yang mendesak.
"Ada yang tidak beres," bisiknya, suaranya serak dan tegang. "Energi di sini... seperti ada yang mengawasi kita."
Lyra mengangguk, sudah merasakan sensasi serupa. Dari celah-celah halus di antara ukiran dinding, sekelebat cahaya violet mulai memancar—tipis pada awalnya, lalu memadat menjadi untaian energi yang nyaris tak terlihat. Untaian-untaian itu merayap di sepanjang lorong, melingkari mereka berdua, membentuk pola geometris rumit di udara, siap menjerat. Ini bukan bayangan gelap yang brutal, melainkan perangkap magis kuno, dirancang dengan kecerdasan yang mematikan.
"Formasi Penjara Kuno," desis Lyra, matanya menyipit saat ia membaca pola energi yang terbentuk. "Sangat jarang. Konon, formasi ini bisa mengunci jiwa, bukan hanya raga. Sentuhan sekecil apa pun akan mengaktifkannya sepenuhnya."
Udara di sekitar mereka berdesir, dan cahaya violet semakin terang, memancarkan tekanan yang membuat napas terasa sesak. Kaelen tidak menunggu. Ia tahu bahwa dalam situasi seperti ini, keraguan adalah kematian.
"Teknik Jiwa Pedang Hampa!" serunya, suaranya memantul di dinding lorong, mengoyak keheningan.
Pedang besinya berputar di tangannya, bukan untuk menyerang secara fisik, melainkan untuk memanipulasi energi. Aura pedang yang biasanya berpusar ke luar kini ditarik ke dalam, menciptakan sebuah pusaran hampa yang menyedot energi di sekitarnya.
Jaring energi violet itu, alih-alih menjerat, kini mulai sedikit melengkung, tertarik ke arah pedang berkarat Kaelen. Itu adalah langkah berisiko, menguji batas kemampuan pedang dan penguasaan Kaelen atasnya, mengikis jaring itu sedikit demi sedikit tanpa menyentuhnya secara langsung. Di saat yang sama, Lyra bertindak. Ia mengeluarkan sebotol bubuk berkilau yang terbuat dari bahan-bahan alkimia langka.
"Ini akan mengganggu resonansinya!"
Tanpa ragu, ia melemparkannya ke dinding terdekat. Bubuk itu meledak dalam semburan cahaya perak yang memukau, menciptakan gelombang kejut energi yang berbenturan dengan formasi, melemahkannya dari luar. Formasi Penjara Kuno itu berkedip-kedip, menolak untuk menyerah, tetapi kombinasi serangan presisi Kaelen dan gangguan dari Lyra mulai membuahkan hasil. Retakan halus muncul pada pola energi, dan sebagian dari jaring itu mulai memudar, membuka celah tipis.
"Terus maju!" Kaelen menggeram, mendorong energi Jiwa Pedang Hampa-nya hingga batas, merasakan setiap urat di tubuhnya menegang.
Mereka menerobos celah itu, melangkah ke bagian lorong yang sedikit lebih lebar, meninggalkan formasi penjara yang kini berjuang untuk memperbaiki dirinya sendiri di belakang mereka. Getaran pada pedang Kaelen kini tidak lagi samar; itu adalah panggilan yang jelas, sebuah tarikan magnetis yang menariknya lebih dalam dan lebih mendesak.
Jiwa Artefak Reruntuhan Langit, target utama mereka, terasa semakin dekat, memancarkan aura kekuatan yang tak terlukiskan, bercampur dengan bisikan-bisikan kuno yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang peka. Namun, di balik panggilan yang menggoda itu, Kaelen merasakan sesuatu yang lain—sebuah bayangan dingin, janji pengkhianatan yang semakin mendekat, seperti predator yang mengintai mangsanya dari kegelapan.