Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pendar emas dari layar melayang itu menerangi seisi kamar yang berantakan.
Kenzo menatap tulisan di depannya. Waktu terus berjalan mundur, menyisakan kurang dari 2 jam sebelum kesempatan emas itu menguap begitu saja.
Tiga per tiga jaminan hari ini. Sungguh mubazir jika dibiarkan hangus.
Langkah kakinya membawanya berdiri di tengah ruangan, tepat di antara genangan darah kering milik preman kiriman Bimo.
Pertarungan tadi memberi ia pelajaran berharga. Otak memang bisa menyelamatkan nyawanya, tetapi tubuh yang lemah ini adalah bom waktu.
Ia butuh kekuatan yang menyatu dengan dagingnya sendiri, bukan sekadar benda tajam yang bisa patah.
Maka, ia mengetuk layar tersebut tanpa ragu lagi.
Jaminan 100% ia aktifkan. Pilihan Gacha langsung ditekan dengan mantap.
Bukan senjata luar yang ia pinta dalam hati. Ia memohon sesuatu yang bisa membuat tubuh ringkihnya bertahan di jalanan keras ini.
Berputar sangat cepat, lingkaran cahaya keemasan itu tiba-tiba berubah warna.
Bukan lagi perunggu murahan yang muncul. Pendar itu memutih, bergetar hebat, lalu meledak menjadi warna perak yang menyilaukan mata.
[DING!]
[Gacha Selesai. Kualitas: Perak.]
[Hadiah telah dipindahkan ke Penyimpanan Tak Terbatas.]
Satu senyuman tipis terukir di wajahnya yang letih. Peluang tingkat perak hanya 24,9% dan ia baru saja mendapatkannya secara cuma-cuma.
Segera ia membuka penyimpanan tak terbatasnya.
Di dalam sana, melayang sebuah bola cahaya perak yang berdentung lembut, seolah memiliki detak jantung sendiri.
"Keluarkan," bisik Kenzo.
Bola cahaya itu tidak jatuh ke tangannya. Benda itu justru melesat cepat, menghantam dadanya, lalu melebur menembus kulit.
[Item Digunakan: Esensi Peningkatan Fisik Dasar (Pasif).]
Detik berikutnya, rasa sakit yang luar biasa hebat langsung menghantam seluruh persendiannya.
Tersungkur ia ke lantai kayu yang dingin. Kenzo menggigit bibirnya erat-erat, menolak mengeluarkan teriakan yang bisa memancing perhatian tetangga.
Rasanya seperti ribuan jarum membara sedang menjahit ulang setiap serat ototnya.
Tulang-tulangnya berderak keras. Paru-parunya dipaksa mengembang melebihi batas, membuat dadanya naik turun dengan liar.
Siksaan itu terasa abadi, meski sebenarnya hanya berlangsung 15 detik saja.
Perlahan, rasa perih itu memudar, digantikan oleh hawa hangat yang menenangkan.
Ia bangkit berdiri dengan gerakan yang terasa jauh lebih ringan. Hilang sudah rasa lelah yang sempat menggelayuti pundaknya.
Mengepalkan jemarinya, Kenzo merasa seolah ia sanggup meremukkan batu hanya dengan genggaman. Ototnya tidak membesar secara berlebihan, namun terasa sangat padat di bawah kulitnya.
Matanya tertuju pada pipa besi milik Bimo yang tergeletak di dekat pintu.
Saat ia memungutnya, benda tersebut terasa seringan bulu.
WUSSH!
Satu ayunan cepat membelah udara, menciptakan suara siulan yang tajam.
Sangat presisi. Sangat bertenaga.
Sistem ini ternyata jauh lebih fleksibel dari yang ia duga. Kemampuan pasif ini telah meruntuhkan batas fisiknya sebagai manusia biasa.
Ia melemparkan pipa besi itu kembali ke lantai hingga berdentang keras.
Layar ponselnya yang retak menunjukkan pukul 4 pagi. Kamar sewa ini sudah tidak layak lagi disebut tempat bernaung.
Dengan tenang, ia memasukkan sisa pakaiannya ke dalam tas usang. Uang dari dompet para preman tadi ia kantongi tanpa sisa.
Rintik hujan di luar telah reda, menyisakan kabut tebal yang menutupi sudut-sudut kota metropolitan.
Langkah kakinya mantap melewati pintu kamar yang hancur. Ia berjalan menuruni tangga kayu yang berderit, menuju jalanan yang masih gelap.