NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Surat Rahasia dan Bayangan yang Mengintai

Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai jendela, menyentuh permukaan selimut yang masih terasa hangat. Aku terbangun perlahan, tubuh terasa jauh lebih segar dibanding kemarin malam, tidak ada lagi rasa nyeri di persendian, tidak ada lagi kedinginan yang menusuk tulang. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang bukan karena rasa segar itu, melainkan karena aku menyadari bahuku masih disandarkan pada sesuatu yang keras namun hangat.

Aku mengangkat kepala perlahan. Erlan tertidur di kursi samping tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk ke arahku, tangannya masih menggenggam ujung selimut seolah memastikan aku tidak akan terlepas atau kedinginan lagi. Wajahnya yang biasanya tampak kaku dan penuh tekanan kini terlihat damai, garis rahangnya yang tegas terlihat lebih lembut di bawah cahaya pagi. Dia benar-benar menungguku terlelap dan tidak pergi ke kamarnya sendiri.

Perlahan aku menarik tanganku yang berada di genggamannya, berniat membiarkannya beristirahat lebih nyaman. Namun gerakan sekecil itu cukup untuk membangunkannya. Matanya perlahan terbuka, sejenak terlihat bingung sebelum fokus bertemu dengan mataku. Tidak ada rasa canggung, hanya tatapan lega yang mendalam seolah dia baru saja memastikan hal paling penting di dunia ini tetap aman.

"Kamu sudah bangun?" suaranya terdengar serak khas orang yang baru bangun tidur, namun tetap lembut. Dia bangkit perlahan, merenggangkan bahunya yang pasti terasa kaku karena tidur dalam posisi duduk semalaman. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih pusing atau kedinginan?"

"Aku baik-baik saja, terima kasih," jawabku pelan, hatiku terasa hangat sekaligus cemas melihat kelelahannya. "Kau tidak perlu begadang begini, Mas. Kau pasti sangat lelah bekerja seharian."

Erlan menatapku sejenak, lalu mengusap kepalaku dengan lembut sebelum berjalan menuju pintu. "Tidak ada kelelahan yang lebih berat daripada membiarkanmu tidur sendirian saat kondisimu belum pulih. Aku akan menyuruh Bu Ratih membawakan sarapan dan teh jahe ke sini. Istirahatlah dulu sebentar lagi."

Dia keluar meninggalkan aku dalam keheningan yang penuh perasaan campur aduk. Selama ini aku berpikir perhatiannya hanya sebatas kewajiban menjaga "aset" atau janji pada dirinya sendiri. Tapi semalam dan pagi ini membuatku sadar, perasaannya nyata, tumbuh diam-diam sejak kami masih kecil, dan kini meledak begitu kuat hingga tak bisa lagi disembunyikan di balik topeng dinginnya.

Saat aku hendak merapikan bantal di samping tempat tidur, tanganku menyentuh sesuatu yang keras terselip di bawah bantal milik Erlan. Sebuah amplop surat berwarna cokelat tua yang sudah agak kusam di ujung-ujungnya. Rasa penasaran menggerayangi hatiku. Apakah ini surat penting yang dia lupa bawa? Aku mengambilnya perlahan, dan saat melihat nama penerima yang tertulis rapi di sana, napasku tertahan sejenak: "Untuk Dian Kirana, jika saatnya tiba."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membuka penutupnya. Tulisan tangan itu persis seperti milik Erlan, namun ditulis beberapa tahun yang lalu. Aku mulai membaca isinya perlahan:

"Jika kau membaca surat ini, berarti rencanaku berhasil. Aku kembali ke masa lalu dan kau selamat dari kematian itu. Aku tahu kau mungkin menganggapku aneh, kasar, atau terlalu mengatur hidupmu. Tolong maafkan caraku menjagamu. Aku tidak berani mengungkapkan semuanya secara langsung karena takut takdir akan kembali merenggutmu jika kita terlalu cepat dekat. Ingatlah satu hal: setiap sikap dingin yang kau lihat, setiap larangan yang aku ucapkan, semuanya bermula dari rasa takut kehilanganmu lagi. Aku rela menjadi orang yang paling kau benci sekalipun, asalkan kau bisa hidup panjang dan bahagia di sisiku."

Air mata menetes membasahi kertas itu. Jadi semua sikapnya yang sulit dimengerti selama ini hanyalah kedok yang ia buat demi melindungiku? Dia rela dianggap jahat hanya agar aku aman? Belum sempat aku menyelesaikan baris terakhir surat itu, suara ketukan pintu terdengar cepat dan cemas.

"Masuk," ucapku seraya segera menyembunyikan surat itu di balik bantal.

Itu Bu Ratih. Wajahnya tampak pucat dan cemas, tidak seperti biasanya yang selalu tenang dan ramah. "Nyonya Dian... maaf mengganggu istirahat Anda. Tuan Erlan meminta saya memberitahu bahwa ada sesuatu yang terjadi di luar dugaan. Semua dokumen bukti yang kami kumpulkan tentang kejahatan Paman Dika semalam... semuanya hilang dari brankas ruang kerja."

Aku melompat turun dari tempat tidur seketika, rasa hangat tadi seketika lenyap digantikan kaget dan marah. "Hilang? Bagaimana bisa hilang? Bukankah brankas itu hanya bisa dibuka dengan sidik jari Tuan Erlan saja?"

"Itulah yang membuat kami bingung, Nyonya. Tidak ada tanda-tanda perusakan, tidak ada orang asing yang masuk. Seolah-olah orang yang membukanya mengetahui kode dan memiliki sidik jari yang cocok," jawab Bu Ratih dengan suara bergetar.

Aku segera berlari menuju ruang kerja Erlan. Di sana sudah ada Erlan yang berdiri di depan brankas yang terbuka kosong, kepalan tangannya begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Wajahnya tidak marah meledak-ledak, tapi diamnya itu justru terasa jauh lebih menakutkan. Dia berbalik saat melihatku datang, matanya memancarkan kekhawatiran mendalam.

"Mereka tidak hanya mengambil dokumen itu," ucapnya pelan namun tegas. "Mereka juga meninggalkan sesuatu." Dia menunjuk selembar kertas yang tergeletak di tengah meja.

Aku mendekat dan membacanya. Tulisan itu berbeda dari pesan sebelumnya, kali ini nadanya penuh amarah dan kecemburuan yang meluap-luap:

"Kau mencuri kesempatan kedua itu, Erlan. Kau mencuri wanita yang seharusnya bisa kujaga jika aku tidak terlambat. Bukti itu hanyalah permulaan. Jika kau berani menyentuhnya dengan penuh kasih sayang yang tidak kau miliki, aku akan menghancurkan segala hal yang kau lindungi termasuk rahasia kematian orang tuamu yang sebenarnya."

Darahku terasa berdesir hebat. Jadi Dimas tidak hanya tahu tentang aku dan Erlan, dia juga menyimpan rahasia tentang kematian orang tua Erlan yang selama ini dianggap kecelakaan biasa?

"Dimas tahu lebih banyak dari yang kita duga," gumam Erlan, seolah membaca pikiranku. Dia melangkah mendekat dan menggenggam kedua tanganku erat. "Dia tidak bertindak sendirian. Dia punya akses ke teknologi atau informasi yang hanya bisa didapatkan oleh orang yang berada di lingkaran terdekatku. Ada pengkhianat di antara orang-orang yang kami percaya di dalam rumah atau perusahaan."

"Siapa yang bisa melakukannya?" tanyaku, suaranya hampir tak terdengar. "Semua orang yang bekerja untukmu sudah bersamamu bertahun-tahun."

"Itulah yang sedang aku cari tahu sekarang," jawabnya mantap. "Tapi satu hal yang pasti: mereka mengira dengan mengambil bukti itu mereka bisa membuat kami tak berdaya. Mereka salah. Bukti terpenting tidak ada di atas kertas, tapi di dalam ingatan kita berdua. Dan mulai detik ini, aku tidak akan lagi menyembunyikan perasaanku sebagai tameng. Jika mereka ingin perang, aku akan tunjukkan bahwa kau bukan lagi istri kontrak yang bisa mereka ancam sesuka hati. Kau adalah nyawaku."

Siang itu, suasana damai di rumah itu hilang sepenuhnya. Erlan memanggil seluruh staf dan pengawal untuk memeriksa latar belakang mereka kembali satu per satu, sementara aku duduk di beranda belakang memikirkan isi surat tadi dan ancaman yang baru saja kami terima. Dendam Dimas ternyata jauh lebih rumit dan berbahaya daripada yang kami bayangkan. Dia tidak hanya ingin membalas Paman Dika atau memisahkan kami, dia ingin menghancurkan seluruh fondasi kehidupan Erlan hingga tak bersisa.

Tiba-tiba ponselku bergetar lagi. Bukan pesan, melainkan sebuah foto yang dikirimkan secara anonim. Foto itu menampakkan wajahku yang sedang tertidur lelap tadi pagi di kamar, diambil dari sudut jendela balkon yang tertutup tirai tipis. Di bawah foto itu tertulis satu kalimat pendek yang membuat bulu kudukku meremang:

"Aku selalu melihatmu, Dian. Bahkan saat dia pikir dia satu-satunya yang menjagamu."

Aku mendongak cepat menatap ke arah jendela balkon. Angin berhembus lembut menggerakkan tirai, tapi aku merasa sepasang mata sedang menatap tajam ke arahku dari balik pepohonan rindang di kejauhan. Dia ada di sini. Dia sudah masuk ke dalam wilayah aman kami dan bermain sesuka hati seolah menantang kami untuk menangkapnya.

Erlan berlari masuk saat melihat wajahku pucat pasi. Begitu melihat isi ponselku, amarahnya meledak. Dia meremas ponsel itu hingga jarinya memutih, lalu menatapku dengan tatapan yang bercampur rasa bersalah dan tekad yang tak tergoyahkan.

"Maafkan aku, Dian. Aku pikir aku sudah menjagamu dengan sempurna, tapi ternyata aku masih kurang," ucapnya parau. "Mulai sekarang, kau tidak akan pernah terpisah dariku sedetik pun. Kita akan menghadapi mereka bersama, dan aku berjanji... aku akan memastikan orang yang berani melanggar batas ini tidak akan pernah bisa melihatmu lagi."

Malam itu aku menyadari satu hal yang menakutkan: musuh kami bukan hanya orang yang memiliki ingatan tentang masa depan, tapi juga seseorang yang tahu setiap kelemahan, setiap tempat persembunyian, dan setiap rahasia yang kami simpan. Dan di antara orang-orang yang kami percaya, ada satu yang diam-diam membuka pintu bagi bahaya itu masuk. Siapakah dia? Dan rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di balik kematian orang tua Erlan yang bisa mengguncang segalanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!