Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL YANG BARU
Viana tiba-tiba menunjuk benda di tangan Aleta.
"Ngomong-ngomong... Itu apaan?"
Aleta ikut melihat benda pipih berwarna hitam yang sejak tadi berada di tangannya.
"Gue juga mau nanya. Ini apaan?" tanya Aleta balik.
"Loh! Lo juga gak tahu?" tanya Viana sedikit terkejut.
Aleta mengangguk. Aura langsung mengambil benda itu.
"Ini namanya Hp. Lebih tepatnya... IPhone."
"IPhone?" Aleta mengernyit.
"Iya."
"Zaman kita dulu belum ada secanggih ini," ucap Viana.
Aura mulai memperlihatkan satu per satu fiturnya.
"Ini buat telepon."
"Ini kamera."
"Ini galeri."
"Kalau ini buat internet."
Aleta memandangi layar itu dengan penuh rasa penasaran.
"Dunia benar-benar berubah," ucap Viana.
Aura ikut mengangguk.
"Kok gue tiba-tiba ngerasa kuno ya?" gumam Aleta.
"Makanya nanti kita pelajari pelan-pelan," ucap Aura.
"Punya lo berdua mana?" tanya Aleta.
"Ga punya."
"Gak punya duit lebih."
"Emangnya mahal banget ya?" tanya Aleta.
"Harganya jutaan."
"What?! Serius Au?" pekik Viana, membuat seisi kantin menoleh ke arah nya.
"Ups... Sorry guys..." ucap Viana pada mereka.
"Buat gue sama Viana itu mahal Let. Tapi buat lo, gue rasa itu nggak berpengaruh sama sekali."
"Keluarga gue sekaya itu ya?" tanya Aleta.
"Yaps! Tapi tidak sekaya orang tua asli lo. Mereka sekarang menduduki peringkat 20 keluarga terkaya di dunia. Sementara keluarga lo yang sekarang menduduki peringkat 1 di Indonesia. Tapi setelah mereka pisah, gak lagi. Tapi lo tetap dapat 30% kekayaan dari masing-masing orang tua lo," jelas Aura.
"Lo tahu darimana Au?" tanya Viana.
"Gue cari tahu semalam." Aura menundukkan pandangannya. "Jauh berbeda dengan kondisi keluarga gue sekarang yang nggak terlalu baik."
Viana ikut menghela napas. "Rumah gue juga."
"Au," panggil Aleta.
"Iya?"
"Pindah ke apartemen gue aja."
"Hah?" mata Aura langsung membelalak.
"Apartemen gue lumayan besar. Lokasinya juga dekat sekolah. Lo dan kedua orang tua lo bisa tinggal di sana. Gue juga akan beliin kendaraan yang layak buat kalian bertiga."
Aura buru-buru menggeleng. "Nggak ah. Itu terlalu merepotkan."
"Nggak ngerepotin kok. Gue cuma ingin bantu."
"Tapi—"
"Viana juga."
"Gue?"
"Iya."
"Sorry ya Ta. Gue nggak bermaksud nolak bantuan lo tapi..." Viana menghela napas "Gue gak mau pindah."
"Kenapa?"
"Gue sayang rumah gue yang sekarang. Itu rumah pertama yang bikin gue merasa aman dan nyaman."
Aleta mengangguk pelan.
"Gak masalah. Gue tetap bakal bantu kok. Rumah lo kan bisa di renovasi."
"Hah?!" Viana langsung membelalak.
"Hanya memperbaiki, bukan mengubah. Gue yang tanggung seluruh biayanya."
"Bisa begitu ya?" tanya Viana heran.
"Bisa."
"Ya ampun..." Viana langsung memeluk Aleta erat. "Gue sayang banget sama lo."
"Mulai akhir pekan ini kita urus semuanya," ucap Aleta.
Aura yang sejak tadi terdiam akhirnya tersenyum. "Makasih. Benar-benar terima kasih."
Aleta membalas senyum kecil itu.
"Kita ini keluarga tak sedarah. So, stop sungkan sama gue."
Suasana kembali dipenuhi tawa. Setelah makanan mereka habis, ketiganya berdiri bersamaan.
"Yuk!"
"Masuk kelas."
Mereka pun berjalan meninggalkan kantin. Di saat yang hampir bersamaan, dua siswa lain juga sedang berjalan memasuki pintu kantin dari arah berlawanan.Begitu melangkah keluar dari kantin, Aleta, Aura, dan Viana berjalan berdampingan menuju kelas.
Di saat yang bersamaan, Keira dan Ravian baru saja memasuki pintu kantin.
Bruk!
Aleta dan Keira tak sengaja saling bertabrakan.
"Aww!" teriak Keira reflek.
Seluruh kantin mendadak hening. Semua kepala langsung menoleh ke arah keduanya.
"Astaga..."
"Itu Aleta."
"Yang satunya Keira."
"Mati..."
"Mampus!"
"Pasti bakal ribut nih."
Aleta mengusap bahunya pelan.
'Siapa dia? Kayaknya gue ada lihat cowoknya di internet tadi. Kayaknya lumayan terkenal.'
Di sisi lain, Keira juga memandang Aleta beberapa detik.
'Queen bully? Mampus...'
Namun ekspresi itu hanya berlangsung sesaat. Keira baru hendak membuka mulut ketika seseorang berjalan melewatinya begitu saja.
Tap. Tap. Tap.
Suara sepatu Ravian mengisi keheningan. Ia berjalan seolah tidak memperhatikan kejadian di belakangnya. Matanya fokus pada bangku kosong yang sering ia gunakan. Keira menghela napas pelan berusaha tenang. Ia kembali menatap Aleta.
"Maaf. Gue terlalu terburu-buru"
"Gapapa."
Keira tersenyum kecil lalu segera menyusul Ravian. Sementara Aleta kembali berjalan menghampiri Aura dan Viana. Suasana kantin kembali riuh.
"Loh?"
"Gitu doang?"
"Kok Keira minta maaf?"
"Perasaan gue tadi mereka bakal jambak-jambakan."
"Aneh..."
...****************...
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Teng... teng... teng...
"Akhirnya selesai juga." Viana langsung meregangkan tubuhnya.
"Yuk!"
"Ke mana?" tanya Aura heran pada Aleta yang nampak semangat.
"Belanja."
"Eh iya ya!" seru Viana.
"Lo semangat banget," ucap Aura diselingi kekehan.
"Iya kan ditraktir."
Aleta hanya menggeleng pelan melihat tingkah Viana.
Tak lama kemudian, mobil milik Aleta berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Bibi Santi yang duduk di kursi depan langsung turun membukakan pintu.
"Nona."
"Bi, kita ke mall."
"Baik."
"Lalu mampir ke toko elektronik."
"Siap."
"Yess!" Viana langsung bersorak pelan.
Sore itu, sebuah pusat perbelanjaan tampak ramai oleh pengunjung. Viana berjalan paling depan sambil melihat-lihat setiap etalase toko.
"Ta!"
"Hm?"
"Yang ini lucu. Eh yang itu juga."
Aura hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya. Sementara Aleta mengikuti mereka dari belakang.
"Kalau suka ambil saja."
"Asikk... Suka nih kalo donatur udah bilang begini," ucap Viana.
"Artinya bebas milih ya Na?"
"Hehe... Iya Au. Kita punya sugar Mommy nih."
"Jangan sembarangan."
Beberapa jam kemudian...
Mereka keluar dari toko pakaian dengan beberapa kantong belanja di tangan.
"Non, biar saya aja yang bawa barang belanjaannya," tawar Bi Santi.
"Boleh deh Bi. Tolong bawa ke mobil ya. Oh iya sekalian bilang sama Pak Darto buat ambil belanjaan Aura dan Viana. Abis itu bibi sama Pak Darto ke sini lagi nemenin kita ya."
"Baik Non."
Perjalanan berlanjut menuju toko elektronik. Aleta berhenti di depan etalase ponsel.
"Mas. Saya mau beberapa unit."
Karyawan toko langsung menghampiri.
"Silakan, Kak."
"Yang ini 7 unit," ucap Aleta santai.
Aura langsung terkejut.
"Hah?"
"Ta... Itu kebanyakan."
Aleta menggeleng pelan.
"Selebihnya buat keluarga kalian. Anggap aja hadiah salam kenal dari gue."
"Tapi tadi kan udah kirimin baju buat mereka."
"Iya lagi. Udah ada mesin cuci sama kulkas," tambah Viana.
"Cuma itu? Kalian gue bahkan berencana beliin kalian mobil."
"HAHH!!" teriak Aura dan Viana bersamaan.
"Ta, yang benar aja? Yang tadi aja totalnya dua ratus juta lebih lho," ucap Viana mengingatkan.
"Belum juga satu miliar."
"Kita serius Ta."
...****************...
Waktu berlalu begitu cepat. Hari demi hari berganti menjadi minggu, dan minggu demi minggu berubah menjadi beberapa bulan. Kehidupan mereka perlahan kembali berjalan seperti semula, meski tidak pernah benar-benar sama.
Keluarga Aura akhirnya menerima tawaran Aleta untuk tinggal di apartemennya. Awalnya Pak Surya dan Bu Lilis terus menolak karena merasa tidak enak. Namun, setelah dibujuk berkali-kali oleh Aura dan Viana, mereka akhirnya bersedia pindah. Meski hidup di tempat yang jauh lebih nyaman, keluarga kecil itu tetap mempertahankan kebiasaan mereka yang sederhana dan penuh rasa syukur.
Sementara itu, rumah Viana juga telah selesai direnovasi. Atap yang dahulu bocor kini diganti dengan yang baru, dinding yang mulai rapuh kembali kokoh, dan seluruh bagian rumah tampak lebih layak untuk ditempati. Keluarga Viana berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Aleta, meski gadis itu selalu menganggap bantuan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Di sekolah, hubungan Aleta, Aura, dan Viana menjadi semakin erat. Meski masih sering menjadi pusat perhatian, perlahan para siswa mulai terbiasa melihat ketiganya berjalan bersama. Julukan-julukan lama terhadap Aleta sebagai queen bully pun mulai memudar seiring perubahan sikap nya.
Di balik kehidupan yang terlihat tenang itu, Aleta diam-diam terus melakukan penyelidikannya sendiri.
Setiap malam, ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop dan ponselnya. Ia mempelajari berbagai berita lama, arsip digital, hingga dokumen yang masih dapat diakses publik. Sedikit demi sedikit, potongan-potongan informasi mulai berhasil ia kumpulkan.
Ia akhirnya mengetahui bahwa kedua orang tuanya di kehidupan sebelumnya ternyata masih hidup.
Namun, keberadaan mereka seolah menghilang dari dunia. Tak ada satu pun catatan yang menunjukkan tempat tinggal mereka sekarang. Mereka seperti sengaja menghapus seluruh jejak dan memilih bersembunyi dari dunia bawah.
Meski begitu, usaha Aleta tidak sia-sia. Ia berhasil menemukan lokasi pemakaman mereka berlima. Makam Anneta, Naura, Viona, Luna, dan Leo.
Kelima makam itu berada di sebuah taman pemakaman yang sama di pinggiran kota. Mewah dan selalu tampak bersih, seolah masih ada seseorang yang rutin datang merawatnya.
Tak hanya itu, ia juga menyelidiki apa yang sedang terjadi di dunia bawah. Dunia bawah yang dulu porak-poranda akibat perang antar organisasi ternyata telah kembali bangkit. Kini, hampir seluruh wilayah kekuasaan dikuasai oleh organisasi yang dipimpin Joe. Pria yang pernah menjadi kekasihnya di kehidupan sebelumnya.
Setelah kematian Dark Blood, Joe berhasil memperluas pengaruh organisasinya hingga menguasai sebagian besar jaringan dunia bawah. Banyak kelompok kecil memilih bergabung dengannya, sementara yang menolak perlahan menghilang tanpa jejak. Meski begitu, Joe bukanlah orang terkuat.
Dari berbagai informasi yang berhasil Aleta kumpulkan, masih ada satu organisasi misterius yang kekuatannya berada di atas milik Joe. Organisasi itu hampir tidak pernah muncul ke permukaan. Tidak ada foto pemimpinnya, tidak ada identitas anggotanya, bahkan keberadaannya hanya diketahui oleh sedikit orang di dunia bawah. Semua informasi tentang mereka seolah sengaja disembunyikan.
Aleta memandangi layar laptopnya cukup lama. Matanya kemudian beralih pada sebuah foto lama yang menampilkan Joe.
"Gue masih nggak nyangka kalo dia yang bunuh gue. Ternyata dia masih hidup. Apa gue ditakdirkan hidup kembali buat balas dendam? Apa gue bisa balas dendam?" Ia menutup laptop perlahan.
Masih terlalu banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
'Di mana kedua orang tua gue berada? Siapa yang memimpin organisasi terkuat itu? Bukankah dulu itu Dark blood? Seharusnya kalau Darkness berhasil mengalahkan Dark blood, posisi terkuat nomor satu itu milik Darkness.'
'Dan...'
'Apa cuma Gue, Aura, Viana yang hidup lagi? atau Leo dan Luna juga? Atau bukan cuma kita bertiga?'
Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya.
mana dipanggil honey lagi /Doge/