Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10--Serangan Musuh Dan Pijatan Untuk Mbak Rasti
Sementara itu di tempat terpencil di desa sukamaju. Tempat maksiat.
Rian siang siang bolong gini malah minum arak, di samping ayu yang setengah telanjang sangat manja kepadanya.
“Mas Rian, ih mainnya tadi agresif banget. Udah keluar berapa kali di dalam tadi. Nanti aku hamil gimana?”
“Halah nanti kamu pil juga aman.” ujar Rian mencium ayu membara.
Tepat saat itu brian dan wanto datang.
Brakkk!
Pintu kayu tripleks tempat prostitusi terselubung itu didorong kasar dari luar. Brian masuk dengan napas terengah-engah, peluh bercucuran membasahi wajah pucatnya. Di pundaknya, tubuh kekar Wanto terkulai lemas tak berdaya bagai karung beras runtuh.
Rian yang sedang asyik meremas pinggul Ayu spontan melepaskan tangannya dengan gusar. Dia meraih botol arak di atas meja kayu, lalu menatap kedua anak buahnya dengan mata merah merona menahan amarah karena aktivitas intimnya diganggu.
"Bajingan! Gak tahu sopan santun kalian ya?!" bentak Rian, suaranya lantang memecah keheningan ruangan pengap itu. "Sialan, bapakku itu Kepala Desa! Bisa-bisanya kalian masuk gak pakai ketuk pintu! Mau mampus, hah?!"
Ayu yang tubuh bagian atasnya hanya tertutup selembar kain kemban longgar langsung memekik kecil. Dengan manja, dia merapatkan tubuhnya ke dada Rian, mencoba menutupi belahan dadanya yang sintal dan terekspos dari pandangan liar Brian.
“Mas, ih takut.”
“kamu tenang aja sayang.”
"M-Mas Rian... Ampun, Mas! Ini darurat!" ratap Brian, langsung mengempaskan tubuh pingsan Wanto ke atas lantai tanah hingga menimbulkan bunyi gedubrak yang keras. Brian sendiri langsung berlutut di depan kaki Rian dengan tubuh gemetar hebat.
Rian mengernyitkan dahinya. Pandangannya beralih pada Wanto yang wajahnya masih pucat pasi dengan sisa air liur yang mengering di sudut bibirnya. "Loh... si Wanto kenapa? Mabok arak oplosan?"
"B-bukan, Mas! Wanto dihajar sampai pingsan... ulu hatinya dihantam cuma pakai satu pukulan!" bisik Brian dengan suara bergetar ketakutan.
"Hah?! Dihajar siapa?!" Rian terbelalak tak percaya. Di Desa Sukamaju ini, siapa yang tidak tahu kalau Wanto dan Brian adalah algojo peliharaannya? Ditambah lagi, Wanto bertubuh kekar dan jago duel. "Apa anak-anak dari desa sebelah menantang kita?"
“Bukan orang luar, Mas... Tapi... tapi si Bima ampas!"
Uhukkk!
Rian yang baru saja meneguk sisa araknya langsung tersedak hebat. Ayu buru-buru menepuk-nepuk punggung bidang Rian yang bertato dengan manja.
"Bima? Bima si gembel penyakitan yang semalam kita pukuli sampai muntah darah di kaki gunung?!" Rian tertawa terbahak-bahak, menganggap ucapan Brian adalah lelucon paling konyol siang ini. "Jangan bercanda kamu, Brian! Si ampas itu kena asap dapur saja batuk-batuk sampai mau mati! Mana mungkin bisa merobohkan Wanto!"
"Benar, Mas! Sumpah demi apa pun!" Brian merogoh saku celananya dengan panik, memperlihatkan serpihan besi belati miliknya yang sudah patah menjadi dua bagian. "Lihat ini, Mas! Belati saya bahkan dijepit pakai dua jari sama dia, terus dipatahkan begitu saja! Si Bima sekarang kesurupan setan atau gimana, Mas... badannya mendadak tegap, tinggi, dan auranya menyeramkan sekali!"
Rian menghentikan tawanya. Dia menyambar patahan belati dari tangan Brian. Matanya menyipit memperhatikan pinggiran besi yang patah rapi. Mustahil benda ini bisa dipatahkan dengan tangan kosong, kecuali oleh orang yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa kuat.
"Terus, gimana soal uang dua juta rupiah hasil jualan ikannya dengan Neng Wulan? Kalian berhasil rampok, kan?!" tagih Rian, matanya berkilat rakus. Dia masih tidak terima kembang desa incarannya, Wulan, malah bertransaksi dengan si ampas desa.
"G-gak bisa, Mas... Tapi dia kasih satu juta sebagai bayaran hutang," jawab Brian lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena takut dihajar Rian.
"Kalian berdua bener-bener sampah gak berguna!" raung Rian murka. Dia menendang meja di depannya hingga botol-botol arak menggelinding pecah di lantai.
Rian berdiri, auranya tampak beringas. Sebagai anak tunggal Kepala Desa yang kaya raya dan terbiasa menindas, harga dirinya benar-benar diinjak-injak mendengar si ampas desa yang biasanya merangkak memohon ampun, kini berani memukul anak buahnya dan menantang otoritasnya.
"Bima... berani-beraninya bocah sialan itu melunjak setelah sembuh," desis Rian, rahangnya mengatup rapat menahan geram. "Dia juga bilang apa tadi ke kamu?!"
"D-Bima bilang... utang lima ratus ribu rupiah beserta bunganya sudah lunas pakai uang sejuta yang tadi pagi, Mas. Dia juga mengancam, kalau Mas Rian atau kami berani mengganggu gubugnya atau Mbak Rasti lagi menggunakan hitungan bunga sepuluh persen... yang patah berikutnya adalah leher kami semua..." cicit Brian menyampaikan pesan kematian dari Bima.
Mendengar nama Rasti disebut, tatapan mata Rian mendadak berubah menjadi penuh dengan gairah cabul yang dibalut amarah. Sudah lama Rian mengincar tubuh matang nan ranum milik janda muda itu, namun Rasti selalu menolak mentah-mentah dan bersembunyi di balik perlindungan Bima. Alasan Rian memberikan utang berbunga mencekik itu sebenarnya hanya sebagai jebakan agar Rasti terpaksa menyerahkan tubuhnya demi melunasi utang sang adik ipar.
Ayu yang perawan dan masih gadis memang incaran dia juga dan dia sebal mendengar laporan Bima berduan sama ayu, tapi janda lebih menggoda.
"Utang lunas? Heh, di desa ini, aturan mainnya aku yang tentukan!" Rian menyeringai kejam, matanya berkilat penuh muslihat licik. "Berani menyentuh anak buahku, artinya dia sudah bosan hidup di Sukamaju."
Rian menoleh ke arah Ayu yang masih duduk setengah telanjang di atas ranjang bambu, menatapnya dengan pandangan manja bercampur takut.
"Ayu, pakai bajumu. Aku ada urusan penting sekarang," perintah Rian dingin.
Rian kemudian menatap Brian yang masih berlutut. "Brian, bangunkan si kasur rusak Wanto! Suruh dia minum obat. sekarang, kita kumpulkan lebih banyak pemuda desa. Kita datangi gubug si Bima ampas. Aku sendiri yang akan mematahkan kakinya di depan mata kakak iparnya yang seksi itu!"
“Aku ikut mas. Aku mau lihat sendiri gimana jatuhnya si miskin itu, hahaha!”
“Bagus itu baru gadisku.”
Ayu padahal cuma mau sok mendekat saja karena Rian itu kaya semakin dia pdkt an sama dia, maka dia baka dapat jatah uang. Gak diragukan lagi dia bakal jadi kaya dengan melorotin uang Rian.
*
Bima membawa Rasti ke kamarnnya. Berbeda dengan kemarin yang cuma pijetin kaki, sekarang dia dikasih wewenang pijetin seluruh tubuh. Hal itu bikin nafsu dia makin membara,
Apalagi aroma kamar dan rasti sudah membabukan.
“Engg … sakit … tubuhku rasanya tiba-tiba sakit, Bim.”
“Mbak tenang aja. Nanti setelah aku mijetin semua tubuh, mbak, semua bakal aman.” Ujar Bima. Mau gimana lagi dia harus mijet seluruh tubuh rasti, mengeluarkan cairan mustika kehidupan dan membuat tubuh rasti membaik.
Soalnya kutukan itu mulai menyebar ke seluruh tubuh. Alias dia kudu menyentuh seluruh tubuh jenjang Rasti! Benar-benar seluruh!
Glep
Baik Bima maupun rasti sama-sama menelan ludah penuh gairah.
“Ini serius. Serius mau lakuin?”
“Iya, mbak permisi ya.”
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊