NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebencian yang semakin dalam

Di ruang Manager Personalia, Keenan tengah mengadakan sesi wawancara dengan Ozi, pria yang sehari sebelumnya nyaris menjadi pelaku perampokan terhadap Kinanti. Setelah kejadian yang mengguncang hidupnya itu, Ozi berjanji untuk meninggalkan masa lalu dan memulai lembaran baru.

“Jadi, saya diterima bekerja di kantor ini, Pak?” tanyanya penuh harap.

Keenan mengangguk.

“Iya. Mulai besok kamu bisa bekerja di sini. Sebelum pukul delapan pagi, kantor sudah harus bersih, terutama ruangan ini.”

Wajah Ozi langsung berbinar.

“Baik, Pak. Saya akan datang tepat waktu. Saya janji tidak akan mengecewakan Pak Keenan.”

“Bagus. Kalau begitu, sekarang kamu boleh pulang.”

“Ehm…”

“Ada yang ingin kamu tanyakan?”

Ozi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Kalau saya pulang ke kos sekarang, saya bingung mau ngapain. Apa ada pekerjaan lain yang bisa saya bantu di rumah Bapak? Potong rumput, membersihkan toren air, atau apa saja.”

Keenan menyandarkan tubuh ke kursinya sambil berpikir.

“Tidak dibayar juga tidak apa-apa, Pak,” lanjut Ozi cepat. “Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena Bapak sudah memberi saya pekerjaan.”

Keenan tersenyum tipis.

“Kebetulan rumput di halaman rumah memang perlu dirapikan. Toren air juga sudah cukup lama tidak dibersihkan. Kamu sanggup mengerjakannya hari ini?”

“Tentu saja sanggup, Pak!” jawab Ozi antusias. “Dengan senang hati saya kerjakan.”

“Tidak ada sesuatu yang gratis apalagi yang tenaga. Saya tetap akan memberimu upah yang layak.”

Ozi buru-buru menggeleng.

“Tidak usah, Pak. Saya benar-benar ingin membalas kebaikan Bapak. Lagi pula pekerjaan seperti itu tidak setiap hari dilakukan.”

Keenan memandang pria itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah, kalau itu memang maumu. Kamu masih ingat alamat rumah saya?”

“Ingat, Pak. Kemarin saya lihat di kartu nama Bapak.”

“Kalau begitu tunggu sebentar. Saya telepon istri saya dulu supaya dia tahu kamu akan datang.”

“Baik, Pak.”

Keenan segera menghubungi Kinanti dan memberi tahu bahwa Ozi akan datang untuk merapikan halaman serta membersihkan toren air.

Setelah sambungan telepon berakhir, Ozi kembali bertanya, “Saya bisa langsung ke sana sekarang, Pak?”

“Iya. Saya sudah memberi tahu istri saya.”

“Kalau begitu saya berangkat sekarang. Permisi, Pak.”

Ozi berdiri dari kursinya, menundukkan kepala dengan sopan, lalu melangkah keluar dari ruangan.

Keenan tersenyum tipis melihat perubahan sikap pria itu. Semoga saja niatnya untuk bertobat memang sungguh-sungguh.

Ia baru hendak kembali fokus pada pekerjaannya ketika ponsel di atas meja bergetar. Awalnya ia mengira itu panggilan dari Kinanti. Namun nomor yang muncul bukan nomor ponsel, melainkan nomor telepon kantor. Dengan rasa penasaran, ia segera menjawab panggilan tersebut.

//Selamat siang. Dengan siapa saya berbicara?//

//Selamat siang. Apa benar ini nomor Bapak Keenan Alfarizy, orang tua dari Yudha Prasetya, siswa SMA Putra Bangsa?//

//Benar. Saya Keenan. Ada apa, Pak?”//

//Mohon Bapak segera datang ke kantor Satpol PP//

Keenan langsung menegakkan tubuhnya.

“Satpol PP? Untuk apa, Pak?//

//Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan datang langsung ke kantor kami. Kami tunggu kehadiran Bapak secepatnya. Terima kasih//

Sambungan telepon terputus. Tanpa membuang waktu, ia segera meraih kunci mobil dan bergegas meninggalkan ruang kerjanya menuju kantor Satpol PP.

Setibanya di kantor Satpol PP, Keenan langsung menjelaskan maksud kedatangannya kepada petugas yang berjaga di bagian depan. Tak lama kemudian, seorang petugas mengantarkannya menuju sebuah ruangan.

“Selamat siang,” sapa Keenan sambil melangkah masuk.

“Selamat siang. Dengan Bapak Keenan?” tanya seorang petugas berseragam yang duduk di balik meja.

“Benar, Pak.”

“Silakan duduk.”

Keenan mengangguk lalu menarik kursi yang tersedia. Di kursi lain, Yudha sudah duduk lebih dulu dengan kepala tertunduk. Melihat putra sulungnya berada di sana, Keenan langsung memahami alasan dirinya dipanggil. Putra sulungnya itu pasti sudah membuat masalah.

“Jadi begini, Pak Keenan,” ujar petugas yang memperkenalkan dirinya sebagai Pandu. “Putra Bapak, Yudha Prasetya, terjaring razia pelajar yang membolos saat jam pelajaran sekolah berlangsung.”

Keenan menoleh ke arah Yudha. Remaja itu masih menundukkan kepala, tidak berani menatapnya. Kekecewaan perlahan merayap di hati Keenan.

Saat ini Yudha sudah duduk di kelas dua belas. Selama ini ia tidak pernah mendapat laporan buruk dari sekolah mengenai putranya itu. Karena itulah, mendengar kabar ini membuatnya sangat terpukul. Meski begitu, ia memilih menahan emosinya.

“Anak saya ditemukan di mana, Pak?” tanyanya tenang.

“Di Warnet 777,” jawab pak Pandu.

“Menurut keterangan yang kami peroleh, Yudha dan beberapa temannya diduga sedang bermain game online.”

Keenan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Siswa yang lain mana?”

Petugas itu menghela napas.

“Sayangnya mereka berhasil melarikan diri melalui pintu belakang saat razia berlangsung. Hanya putra Bapak yang berhasil kami amankan.”

Keenan mengangguk pelan.

“Saya juga sudah menghubungi pihak sekolah,” lanjut pak Pandu. “Namun hari ini guru BP berhalangan hadir, jadi proses pembinaan akan dilanjutkan pihak sekolah nanti.”

Beberapa detik ruangan itu diliputi keheningan.

“Saya tidak keberatan kalau anak saya ditahan di sini,” ujar Keenan tiba-tiba.

Yudha sontak mengangkat kepala.

Wajahnya langsung pucat. Padahal Keenan tahu Satpol PP tidak memiliki wewenang untuk menahan pelajar dalam kasus seperti ini. Namun, ia sengaja mengucapkannya agar putranya menyadari kesalahan yang telah diperbuat

“Pak... jangan,” ucap Yudha panik.

Ia membayangkan dirinya harus mendekam di balik jeruji besi yang sempit dan pengap. Jantungnya berdebar kencang.

“Saya mohon, Pak. Jangan tahan saya. Saya berjanji ini pertama dan terakhir kalinya saya membolos.”

Tak ada jawaban dari Keenan, Yudha semakin gelisah.

“Saya benar-benar menyesal. Saya nggak akan mengulanginya lagi.”

Keenan menatap putranya dalam-dalam.

“Ayah pegang omonganmu.”

Yudha mengangguk cepat.

“Kalau sampai sekali lagi Ayah menerima laporan kamu membuat masalah, Ayah akan mengirim mu ke pondok pesantren.”

Mata Yudha membelalak.

“Iya, Yah,” jawabnya cepat. “Aku janji.”

Petugas Pandu tersenyum tipis melihat perubahan sikap remaja itu.

“Oh ya, Pak Keenan. Pihak sekolah juga menyampaikan bahwa Yudha diperbolehkan pulang hari ini, tetapi harus belajar dari rumah selama dua hari ke depan.”

“Anak saya diskors?” tanya Keenan.

“Benar, Pak. Mungkin itu bagian dari kebijakan sekolah. Saya hanya menyampaikan informasi.”

“Baiklah. Terima kasih atas informasinya.”

Ia bangkit dari kursinya.

“Kalau begitu, kami permisi.”

Yudha ikut berdiri. Keduanya menyalami petugas Pandu secara bergantian sebelum meninggalkan ruangan.

Di dalam mobil, suasana terasa sunyi.

Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Keenan membuka percakapan.

“Sudah berapa kali kamu membolos?”

Yudha menelan ludah.”

“Baru kali ini, Yah.”

“Kenapa?”

Remaja itu menundukkan kepala.

“Aku dipaksa teman-teman.”

“Dipaksa?”

“Mereka bilang aku penakut. Katanya aku nggak setia kawan kalau nggak ikut.”

“Jadi, menurutmu membolos sekolah adalah tindakan yang berani?”

Yudha langsung menggeleng.

“Tidak, Yah.”

“Lalu kenapa kamu tetap ikut?”

“Aku…”

Keenan menghela nafas panjang.

“Orang yang berani itu bukan yang ikut-ikutan melakukan kesalahan. Orang yang berani adalah yang mampu berkata tidak saat semua orang mengajaknya berbuat salah.”

Kata-kata itu membuat Yudha semakin tertunduk.

“Aku mengaku salah, Yah. Aku minta maaf.”

“Kali ini Ayah maafkan. Tapi ingat baik-baik. Kesempatan kedua tidak selalu datang dua kali. Kalau kamu membuat masalah lagi, Ayah benar-benar akan mengirim mu ke pondok pesantren.”

“Iya, Yah. Aku mengerti.”

Setelah itu tak ada lagi percakapan di antara mereka.

Setibanya di rumah,

Keenan dan Yudha turun dari mobil dengan suasana hati yang jauh berbeda. Keenan masih berusaha menahan kecewa, sementara Yudha berjalan dengan kepala tertunduk, enggan menatap siapa pun.

Di halaman rumah, Kinanti dan Kalila tengah mengawasi Ozi yang sedang merapikan rumput. Keduanya tampak heran melihat Keenan pulang di jam kerja.

“Lho, Mas? Yudha kok pulang bareng Mas?” tanya Kinanti cemas.

“Semuanya baik-baik saja ‘kan?”

Keenan menghela nafas panjang.

“Mas dapat telepon dari kantor Satpol PP. Mereka meminta Mas menjemput Yudha.”

Kinanti mengernyit.

“Menjemput? Memangnya ada apa?”

“Dia terjaring razia saat membolos sekolah dan ditemukan di warnet.”

Mata Kinanti langsung membesar.

“Kamu membolos, Yudha?”

Yudha tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala semakin dalam.

Tiba-tiba Kalila melangkah mendekat lalu menjewer telinga keponakannya.

“Bandel kamu, ya!” gerutunya. “Jam sekolah bukannya belajar, malah keluyuran ke warnet!”

“Aduh, Aunty! Sakit!” protes Yudha sambil berusaha melepaskan tangannya.

“Biar tahu rasa! Siapa suruh membolos!”

“Kalila, sudah,” tegur Kinanti lembut.

Kalila akhirnya melepaskan jewerannya, meski wajahnya masih kesal.

Kinanti menatap Yudha dengan sorot penuh keprihatinan.

“Yudha, banyak anak di luar sana yang ingin sekolah, tapi tidak punya kesempatan. Sedangkan kamu bisa bersekolah di tempat yang bagus. Kenapa malah disia-siakan?”

Yudha tetap diam.

“Ayahmu bekerja keras setiap hari untuk membiayai pendidikanmu. Kalau kamu membolos seperti ini, bukankah itu sama saja dengan tidak menghargai pengorbanannya?”

Entah karena malu atau karena emosinya yang selama ini terpendam, Yudha tiba-tiba mengangkat wajah. Tatapannya tajam penuh kemarahan.

“Kamu ini cuma orang asing! Kamu nggak punya hak buat menasihati aku!” bentaknya.

Kinanti terdiam.

“Kamu menikah dengan Ayah cuma karena ingin menikmati hartanya, ‘kan?”

“Yudha!”

Suara Keenan menggelegar. Semua orang terkejut. Seumur hidup, hampir tak pernah Yudha mendengar ayahnya membentak sekeras itu.

“Jaga mulutmu!” hardik Keenan dengan wajah memerah.

Yudha membelalak. Untuk sesaat ia benar-benar terkejut.

“Sudah,” sela Kinanti cepat sebelum suasana semakin buruk. “Masuklah ke dalam.”

Yudha menggertakkan giginya. Ia menatap Kinanti beberapa detik. Tatapan yang dipenuhi amarah dan kebencian. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik lalu masuk ke dalam rumah.

Suasana mendadak hening. Keenan mengusap wajahnya yang terasa panas.

“Kalila, kapan kamu datang?”

“Sejak pagi aku di sini,” jawab Kalila.

“Nggak sama Ibu?”

Kalila tersenyum tipis.

“Ibu lagi sibuk.”

Keenan mengangguk pelan.

“Ya sudah. Mas harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Hati-hati ya, Mas,” ucap Kinanti dengan senyum tulus.

Keenan membalas senyum itu lalu melangkah menuju mobil.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Kinanti dan Kalila hampir bersamaan.

Mobil Keenan perlahan meninggalkan halaman rumah.

Kalila menatap pintu kamar Yudha yang tertutup rapat.

“Aku harus bicara sama anak itu.”

Ia hendak melangkah masuk, tetapi Kinanti segera menahannya.

“Jangan sekarang.”

“Kenapa?”

“Yudha sedang marah. Dia juga baru saja dimarahi Mas Keenan. Saat seperti ini, dia butuh waktu untuk menenangkan diri.”

Kalila menghela nafas.

“Mbak terlalu baik sama Yudha.”

Kinanti hanya tersenyum tipis.

“Aku cuma berusaha memahami perasaannya.”

Namun Kinanti tidak tahu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat itu, Yudha sedang duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan mengepal kuat. Remaja itu terus mengingat bentakan ayahnya beberapa saat lalu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Keenan membentaknya di depan orang lain.

Dan dalam pikirannya, hanya ada satu kesimpulan. Semua itu terjadi karena Kinanti. Perempuan itu telah merebut perhatian ayahnya. Perempuan itu telah membuat ayahnya berubah.

Perlahan, kebencian yang selama ini tersimpan di dalam hati Yudha tumbuh semakin besar. Ia pun mulai memikirkan satu hal:

Bagaimana caranya membuat Kinanti pergi dari rumah itu.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!