NovelToon NovelToon
Terpikat Mas Preman

Terpikat Mas Preman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Akira Fan

Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.

Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.

Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kejadian Tak Terduga

"Awaaas," teriak Kamila dan Veni berbarengan.

Saat dipersimpangan Veni hampir menabrak pemotor lain. Untung saja orang itu reflek berhenti menyadari ada kendaraan yang datang dari arah samping kirinya.

"Kamu?," ucap Veni dan pengendara itu berbarengan. Kamila pun reflek melongok ikut melihat orang yang hampir Veni tabrak.

"Hati-hati dong, hampir aja kita kecelakaan," gerutu orang itu yang tak lain adalah Dika.

"Maaf mas, kita buru-buru mau ke kondangan," ucap Veni kikuk.

"Lain kali hati-hati ya?," Dika terlihat mulai menurunkan nada bicaranya. "Aku duluan, ada urusan," lanjutnya.

"Iya mas, makasih," Veni mengangguk pelan kemudian melajukan kembali motornya.

"Kamu sih dibilangin ngeyel, makanya pelan-pelan Ven," imbuh Kamila ikut mengomeli Veni.

"Ya maaf Mil, kan biar cepet sampai. Jangan sampai kita telat, nanti aku bisa dimarahi ibu," jawab Veni sedikit khawatir.

"Makanya kalau tidur jangan susah dibangunin," cibir Kamila sambil terkekeh.

"Kalau itu sih susah Mil, udah bawaan orok," Veni cengengesan mengingat kebiasaan buruknya itu.

Sekitar 5 menit kemudian mereka sudah sampai di lokasi hajatan. Orang-orang kampung sudah terlihat berkumpul di rumah sepupu Veni.

Acara pernikahan di kampung terlihat sangat meriah walau hanya memakai tenda kain yang dipasang cukup elegan. Berbeda dengan zaman dulu, saat ini tenda hajatan sudah disulap bak dekorasi hajatan di gedung-gedung. Tinggal kita berani pasang budget berapa.

Pakaian yang dipakai pengantin dan keluarga pun juga sudah memakai kebaya modern. Rias pun sudah mengikuti tren saat ini. Kamila sangat antusias menikmati suasana kondangan dikampung.

"Kondangan dikampung malah lebih meriah menurutku Ven, kayak lebih akrab gitu satu sama lain," ucap Kamila bersemangat.

"Ya pastilah Mil, kan yang diundang kebanyakan juga tetangga yang hampir setiap hari bertemu. Beda banget dengan dikota, kebanyakan orang yang nggak dikenal," timpal Veni.

Mereka kemudian mencari tempat duduk yang terlihat kosong. Tidak ada meja didepan para undangan. Hanya tamu penting saja yang ada mejanya, dan mereka juga berada ditempat paling depan dekat dengan panggung atau kursi pengantin.

"Yah, kurang kelihatan dari sini Ven," Kamila mendongakkan kepalanya ingin melihat kedua mempelai.

"Resiko datang terakhir ya gini Mil, dapet duduknya dibelakang hehe," ucap Veni tanpa merasa bersalah.

"Aku pengen banget lihat pengantinnya dari dekat padahal," Kamila terlihat memasang wajah lesu.

"Tenang Mil, nanti habis acara aku ajak kedepan menemui pengantinnya. Kan mereka sepupuku. Kita punya kesempatan foto bersama malahan," ucap Veni membuat Kamila tersenyum senang.

"Beneran Ven? Janji ya?," tanya Kamila girang seperti anak kecil.

Disela-sela waktu makan, para tamu undangan disuguhkan dengan hiburan campursari yang dibawakan oleh grup orkes kampung. Walau berasal dari daerah tapi musik mereka cukup bagus dan menghibur nggak kalah dengan artis ibu kota.

Kamila terlihat menikmati kemeriahan acara itu. Tak henti-hentinya dia tersenyum saat melihat para bapak-bapak yang ikut berjoget dan menyanyi bersama para biduan. Mereka terlihat bahagia dengan kebersamaan itu.

"Nanti ikut berfoto ya Mil nemenin aku?," ajak Veni pada Kamila.

"Aku nggak enak Ven, kan aku nggak kenal saudaramu," tolak Kamila merasa nggak enak.

"Udah tenang aja, sepupuku tu orangnya asik kok. Dia pasti seneng banget kalau aku kenalin sama kamu," bujuk Veni.

Kamila pun akhirnya mengangguk pasrah. Walau dia hanya orang asing tapi dia nggak bisa menolak permintaan sahabatnya itu.

Acara resepsi pun telah usai, para tamu undangan sudah mulai bubar. Hanya tinggal keluarga dan kerabat yang masih berfoto untuk mengabadikan momen spesial tersebut.

"Ayo Mil, aku kenalin sama sepupuku," Veni menarik tangan Kamila untuk menuju ke atas pelaminan.

"Oke, pelan-pelan Ven. Tungguin aku," Kamila terlihat berjalan agak cepat karena nggak mau ketinggalan Veni.

"Hai Din, Yo, selamat ya atas pernikahan kalian" Veni menyalami sepupunya dan suaminya.

"Oh ya, kenalin. Ini Kamila sahabatku dari Surabaya," lanjut Veni.

"Hallo, selamat ya mbak..mas..atas pernikahan kalian, salam kenal saya Kamila," Kamila ikut menyalami kedua mempelai.

Tapi saat Kamila menyalami Aryo suami Dina, dia merasa Aryo melihatnya tidak biasa. Kamila merasa tidak nyaman dengan pandangan laki-laki itu yang seperti menggodanya. Terlebih saat salaman tadi, sentuhan tangan Aryo terasa tidak biasa.

Kamila berusaha menepis prasangka buruknya. Dia tidak mau merusak momen bahagia sepupu Veni itu. Kemudian mereka berfoto bersama. Saat akan berpamitan terdengar ada keributan diluar tenda.

Kamila dan lainnya pun bergegas untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Saat sampai di pintu masuk tenda, ada laki-laki yang menerobos masuk dan menarik tangan Kamila. Dia menodongkan belati kecil ke leher Kamila.

"Si-siapa kamu? Lepaskan aku," Kamila meronta dengan tubuh bergetar.

"Diam! Atau pisau ini akan melukai wajahmu yang mulus ini," ancam laki-laki itu.

Semua orang yang masih disana merasa panik. Veni menangis, takut Kamila kenapa-kenapa. Orang-orang tidak berani mendekat.

"Lepaskan dia Toni! Jangan macam-macam kamu," ucap Dika muncul dalam kekacauan yang dilakukan laki-laki itu.

"Kalau kau ingin gadis ini selamat, biarkan aku pergi dari kampung ini. Aku tidak mau dipenjara," Ancam Toni.

"Kita bisa bicara baik-baik Ton, dia tidak bersalah. Jangan libatkan dia," pinta Dika mencoba bernegosiasi.

"Mas, tolong lepaskan saya. Saya tidak tahu apa-apa tentang masalah kamu," lirih Kamila mulai meneteskan air matanya.

Baru kali ini dia berhadapan langsung dengan penjahat. Selama ini hidupnya sangat aman karena mendapat perlindungan dan pengawalan dari ayahnya walau dari jarak cukup jauh. Tapi kali ini posisinya sangatlah berbeda. Dia berada di tempat baru, yang dia sendiri belum tahu harus berlindung ke siapa disaat seperti ini.

Kamila menatap ke arah Dika, memberi isyarat untuk membantunya. Seakan mengerti, Dika pun menganggukkan kepalanya. Kamila merasa sedikit lega kemudian menghembuskan nafasnya pelan.

"Oke, aku akan membantumu untuk bisa keluar dari kampung ini dengan aman Ton, jadi aku mohon lepaskan gadis itu," ucap Dika kembali mencoba melunakkan hati Toni.

"Kau janji Dika, kau harus menepatinya," jawab Toni mulai menurunkan pisaunya. Tapi masih mencengkeram tangan Kamila.

Heuh

"Iya aku janji," Dika menghela nafas panjang. Untuk saat ini keselamatan Kamila lebih penting.

"Kau yakin Dik akan melepaskan dia?," tanya rekan Dika berbisik ditelinganya.

"Iya Do, jangan sampai kita mengorbankan orang yang tidak bersalah dalam hal ini," ucap Dika mantap.

"Baiklah aku percaya kamu," Aldo memukul pundak Dika pelan.

Toni mulai melepaskan cengkeraman tangannya. Kemudian mendorong Kamila kedepan yang hampir saja membuat Kamila terjatuh. Untung saja Dika sigap dan segera menangkapnya.

"Terima kasih mas, kamu sudah menyelamatkan nyawaku," Kamila merasa seluruh tubuhnya lemas.

"Sama-sama, kamu tidak apa-apa?," tanya Dika sambil mengecek keadaan Kamila.

"Tidak apa-apa mas," Kamila tersenyum manis meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.

Ada desiran aneh dihati Dika saat melihat senyum manis Kamila. Apalagi jarak mereka saat ini yang cukup dekat.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Akira Fan: Siap kak, terima kasih supportnya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!