Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pendekatan
"Bapak..." Sapa Ryu yang kemudian menyalami Bapak Gladys.
"Sudah malam, kenapa belum istirahat, Pak?" Tanya Ryu.
"Nemenin Gladys, dia gelisah karena kamu belum juga pulang." Jawab Bapak sambil tersenyum.
Ryu pun menoleh ke arah Gladys, namun Gladys justru membuang pandangan ke arah lain.
"Yasudah, makan dlu sebelum istirahat. Makanannya sudah di hangatkan Ibu. Bapak masuk dulu." Pamit Bapak sambil menepuk pelan bahu Ryu yang hanya bisa tersenyum.
"Hape lo ilang?" Tanya Gladys setelah Bapak masuk ke dalam.
"Ada." Jawab Ryu sambil menunjukkan ponselnya.
"Minimal kasih kabar, kek. Atau balas chat gue." Kata Gladys.
"Lo khawatir banget?" Goda Ryu.
"Enggak! Gue cuma bingung jawab pertanyaan Bapak sama Ibu yang khawatir sama lo." Sahut Gladys.
"Ada misi dadakan yang harus gue kerjain." Jawab Ryu.
"Masalah Putra sama Bokapnya, laporannya udah mulai di usut. Mungkin, besok mereka berdua di tangkap." Kata Ryu yang memberi tau mengenai laporannya di Kantor Polisi.
Mendengar itu, Gladys pun mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Makasih, karena udah bantu gue dan keluarga gue." Ucap Gladys. Meski terdengar lirih, namun ucapannya itu terasa sangat tulus.
"Udah jadi tanggung jawab gue. Bapak sama Ibu kan orang tua gue juga." Kata Ryu dengan santai, namun cukup untuk membuat debaran di hati Gladys.
"Lo mau makan, atau mandi dulu?" Tanya Gladys untuk mengalihkan perasaan.
"Mandi dulu." Jawab Ryu.
"Lo udah makan?" Tanya Ryu kemudian yang di jawab gelengan oleh Gladys.
"Kenapa gak makan duluan? Khawatir banget sama gue sampe gak nafsu makan?" Goda Ryu lagi.
"Ch! Harapan lo." Sahut Gladys yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Sementara, Ryu hanya bisa terkekeh melihat ekspresi Gladys. Ia pun mengekor Gladys masuk ke dalam rumah.
"Sayang... Saya mau mandi." Goda Ryu yang berjalan di belakang Gladys.
"Ya tinggal mandi, aja. Itu kamar mandi ada di belakang." Sahut Gladys sambil melirik tajam ke arah Ryu yang cengar - cengir.
"Saya gak bawa handuk, Sayang." Kata Ryu.
Gladys pun beranjak menuju ke kamarnya. Meninggalkan Ryu yang masih berdiri di ruang tamu.
"Sayaang..." Panggil Ryu lagi. Ia benar - benar senang menggoda Gladys di rumahnya.
"Ssst! Berisik! Buruan mandi!" Kata Gladys sambil memberikan Ryu handuk bersih dan juga peralatan mandi baru.
"Makasih, Sayang." Goda Ryu sambil tersenyum tipis. Sementara Gladys menatapnya dengan jengah.
"Sengaja banget, panggil Sayang - Sayang! Biar Bapak sama Ibu denger, gitu?" Gerutu Gladys yang kemudian mengekori Ryu ke belakang.
"Mau ikut mandi?" Tanya Ryu.
"Enggak!" Sahut Gladys yang segera berbalik menuju ke ruang makan dan menyiapkan makan malam untuk Ryu.
Setelah selesai mandi, Ryu segera menghampiri Gladys di ruang makan karena melihat gadis itu berada di sana.
"Lo yang masak?" Tanya Ryu.
"Ibu." Jawab Gladys.
"Lo bisa masak gak? Gue gak suka makan di luar." Tanya Ryu lagi.
"Bisa!" Jawab Gladys.
"Masak apa?"
"Masak air!" Jawab Gladys yang membuat Ryu terkekeh.
"Udah duduk, buruan makan. Nanti keburu dingin lagi makanannya." Kata Gladys.
Ia kemudian mengambil piring dan menyendokkan nasi untuk Ryu.
"Segini atau mau lagi?" Tanya Gladys.
Ryuga yang mendapat pelayanan seperti itu dari Gladys, terlihat kaget. Ia sampai menatap Gladys dan piring yang berisi nasi berkali - kali.
"Gak usah kaget, dikeluarga gue emang biasa ngelayanin pasangan kayak gini." Kata Gladys yang bisa membaca raut kebingungan Ryuga.
Mendengar penjelasan dari Gladys, Ryuga pun tersenyum. Ada perasaan seperti menggelitik di hatinya saat 'dilayani' seperti ini oleh Gladys.
"Yu! Mau lagi atau udah cukup? Malah senyum - senyum. Kesurupan, lo?" Cicit Gladys.
"Tambah sedikit lagi." Kata Ryu. Gladys pun menambahkan sedikit nasi ke piring Ryu.
"Kebanyakan. Sedikit lagi aja." Kata Ryu yang membuat Gladys mengurangi sedikit nasi yang baru ia tambahkan.
"Jangan banyak - banyak dong, nguranginnya. Tambahin lagi sedikit." Pinta Ryu.
"To the point aja, mau berapa butir tambahnya, biar jelas." Kata Gladys sambil menatap kesal le arah Ryu. Namun, yang di tatap justru terkekeh geli melihat ekspresi Gladys.
"Udah - udah, cukup." Kata Ryu yang masih saja terkekeh.
"Mau pake apa?" Tanya Gladys.
"Mau ayam kecapnya." Jawab Ryu.
"Ayam atau kecapnya?" Tanya Gladys yang balik mengejek Ryu.
"Tulangnya aja, Gla." Jawab Ryu yang membuat Gladys tersenyum.
Setelah melayani Ryu, barulah ia mengambil makanan untuknya sendiri. Gladys kemudian duduk berhadapan dengan Ryu.
"Biasanya kalo pasangan itu, duduknya deketan. Ini kita kayak lagi kena covid." Kata Ryu.
"Takut di gigit." Jawab Gladys asal.
"Gue gak suka gigit. Suka jambak aja." Kata Ryu yang kembali membuat Gladys tersenyum.
Sejenak, suasana menjadi hening. Hanya suara dentingan piring yang beradu dengan sendok. Baik Gladys maupun Ryu, terlihat sama - sama menikmati makanan di piring mereka.
"Masakan Ibu enak." Puji Ryu.
"Lo bisa masak kayak gini?" Tanya Ryu.
"Bisa." Jawab Gladys.
"Kalo gitu, nanti lo harus masakin gue tiap hari." Pinta Ryu yang hanya di jawab anggukan oleh Gladys.
Setelah selesai makan Gladys membereskan bekas makannya dan Ryu. Sementara Ryu duduk di teras belakang rumah Gladys yang menghadap langsung ke kebun singkong.
Tak lama, Gladys pun menyusul Ryu. Tentu setelah ia selesai mencuci piring.
"Lo ngerokok?" Tanya Gladys.
"Kayak yang lo lihat." Jawab Ryu.
"Gue gak suka orang ngerokok." Kata Gladys yang kemudian duduk di sebelah Ryu.
"Kalo gak suka, ngapain duduk di sini?" Tanya Ryu.
"Emang gak boleh?" Gladys justru balik bertanya.
Pada akhirnya, dengan terpaksa Ryu mematikan rokoknya yang masih cukup panjang. Ia kemudian membuang batang rokok yang baru ia hisap dua kali.
Mereka berdua mengobrol kesana dan kemari. Baik Gladys maupun Ryuga, sama - sama menceritakan tengang pekerjaan mereka yang tak banyak di ketahui, meskipun tak semua mereka ceritakan.
"Lo abis jalanin misi?" Tanya Gladys.
"Enggak." Dusta Ryu.
"Rahang lo kegores. Padahal sebelumnya gak ada luka itu." Kata Gladys.
"Lo merhatiin banget." Kekeh Ryu.
"Gak di perhatiin juga kelihatan." Sahut Gladys.
"Tidur, sana! Udah larut. Besok kita harus balik ke Kota." Kata Ryu.
"Lo gak tidur?" Tanya Gladys.
"Kenapa? Mau tidur sama gue? Gak takut ketahuan Bapak? Ayo, kalo mau tidur sama gue." Goda Ryu.
"Astaga orang ini, bener - bener deh, ya. Kalo ngomong gak dipikir dulu!" Omel Gladys.
"Lagian lo juga, kebanyakan nanya." Jawab Ryu.
"Yaudah, gue tidur duluan." Pamit Gladys.
"Iya. Kunci pintu kamar lo yang bener. Jangan lupa kalo gue ahli nyelinap di kamar yang gak kekunci." Kata Ryu.
"Gue hajar lo, kalo sampe macem - macem." Sahut Gladys yang di jawab senyuman oleh Ryu.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author