Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Istana- 11
"Auriga!" ucap kedua orang tuanya serempak sedangkan yang dipanggil namanya sudah lari entah kemana.
•••
Pagi hari setelah selesai sarapan kebosanan kembali melanda Zora. Jika di zaman modern ia akan bermain ponselnya maka di dunia ini ia hanya bisa terus berjalan-jalan mengelilingi istana.
Tetapi di tengah jalan ia bertemu dengan Ratu Anindita bersama para pelayannya sedang membawa banyak sekali barang bawaan. Zora lalu memberi hormat dan menyapa Ratu Anindita.
"Ratu mau kemana?" tanya Zora.
"Aku ingin ke kuil untuk menyiapkan persembahan yang akan diadakan esok hari" ucap Ratu Anindita dengan lembut.
"Memangnya ada acara apa besok?" tanya Zora bingung.
"Sudah menjadi tradisi jika setiap satu bulan sekali kita memang harus menuju kuil untuk melakukan persembahan. Besok kau jangan lupa datang ya dan kau Ambar" ucap Ratu Anindita sambil memandang Ambar.
"Siapkan pakaian terbaik untuk putri Zora besok" ucap Ratu Anindita.
"Sendiko dhawuh Kanjeng Ratu" ucap Ambar sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya.
"Baiklah, aku pergi dulu" ucap Ratu Anindita kemudian berlalu meninggalkan Zora dan Ambar.
"Memang kuilnya ada dimana Ambar?" tanya Zora kepada Ambar setelah Ratu Anindita pergi.
"Kuil itu terletak di tengah kota agar para penduduk juga bisa mengikuti acara rutin ini meskipun mereka berada di luar" ucap Ambar kepada Zora.
"Ohh" ucap Zora sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Besok juga ada doa bersama?" tanya Zora lagi.
"Benar nona. Kita memang akan berdoa sambil melakukan persembahan besok" ucap Ambar.
"Aku ingin berdoa agar aku bisa segera kembali ke duniaku. Aku sangat merindukan ayah" batin Zora sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah langit.
"Ndoro kenapa?" tanya Ambar.
Zora tidak sadar jika air matanya telah menetes. Ia segera menghapus air matanya itu dengan terburu-buru.
"Tidak, Ambar bagaimana jika kita pergi ke pasar?" tanya Zora dengan antusias.
"Kita harus meminta izin terlebih dulu Ndoro" ucap Ambar kepada Zora.
"Langsung pergi saja lah tidak usah izin" ucap Zora yang sudah ingin keluar dari istana ini.
"Kita tetap harus izin Ndoro" ucap Ambar.
"Kau ingin izin kepada siapa? Bukankah Ratu Anindita sudah pergi sedangkan jika meminta izin kepada Prabu Adyatama bukankah itu hanya membuang waktunya yang berharga untuk mengurusi negeri ini?" tanya Zora sambil menatap Ambar dengan tajam.
Ambar nampak berpikir. Jika dipikir benar juga ucapan Zora. Dia tidak akan bisa izin kepada siapapun.
"Baiklah Ndoro" pasrah Ambar kemudian yang membuat Zora tersenyum puas. Ia lalu menggandeng tangan Ambar dan mengajaknya keluar dari istana.
Sesampainya mereka di tengah kota Zora memilih mengamati keadaan sekitarnya. Banyak orang yang berlalu lalang dan ada sebagian memiliki wajah yang asing dan berbeda dengan kaumnya. Zora yakin itu pasti para pedagang yang sedang singgah di kerajaannya sambil menunggu pergantian angin agar mereka bisa kembali ke negaranya sendiri nanti.
Zora terus mengajak Ambar berkeliling. Setelah puas berkeliling Zora lalu meminta Ambar untuk kembali ke pasar. Disana Zora membeli beberapa pernak-pernik yang ia sudah lihat kemarin saat ia pergi ke pasar ini untuk pertama kalinya.
Zora juga mengajak untuk pergi ke sebuah kedai karena ia merasa sangat lapar. Sesampainya di kedai mereka kemudian duduk di sebuah bangku yang memang sudah disediakan untuk para pengunjung.
"Aku sudah tidak sabar untuk menunggu hari esok" ucap seorang wanita yang duduk di belakang Zora.
"Memang kenapa?" tanya temannya.
"Besok adalah hari persembahan dan kau ingat bukan jika pangeran Auriga dan putri Zora sudah berpisah jadi masih ada kesempatan untuk kita mengambil hati pangeran Auriga" ucap wanita itu dengan riangnya.
"Benar juga ya. Jika begitu kita harus membeli baju yang paling bagus untuk pergi ke persembahan besok" ucap temannya tadi.
Mereka lalu keluar dari kedai setelah membayar pesanan yang mereka pesan. Sedangkan Zora hanya bisa tersenyum kecil mendengar ocehan dua gadis di belakangnya tadi.
Setelah puas berkeliling Zora kemudian memilih kembali ke dalam istana. Ia dan Ambar masuk secara mengendap-endap ke gerbang istana. Saat mereka sudah memasuki area istana mereka lalu bernapas lega karena ternyata tidak ada yang mencari keberadaan mereka. Mereka lalu kembali ke kamar milik Zora untuk beristirahat.
•••
**jangan lupa vote komen rate dan like
ps: bakal jarang udate sampai awal desember krn minggu depan udah mulai PAS**.
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘