NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Duel Mistis di Hutan Larangan dan Langkah Seribu

‘Masalahnya, saya tidak sanggup dan tidak yakin jika harus menghadapi Nini Kalingking sendirian, Tuan. Dulu saja, lima puluh tahun lalu sebelum saya dikubur hidup-hidup di dalam tanah stasiun itu, kekuatannya sudah sangat besar. Apalagi sekarang, setelah lima puluh tahun berlalu, saya belum tahu lagi seberapa mengerikan perkembangan kekuatan nenek sihir itu. Tapi kalau masalah kekuatan Anda, tenang saja, Tuan... Saya yang akan membantu melatih Anda dan mentransfer sebagian kekuatan gaib saya langsung ke dalam tubuh Anda.’

Kiano malah terdiam seribu bahasa. Otak modernnya mendadak korsleting memikirkan risiko menjadi murid magang seorang panglima dedemit mamba.

‘Bagaimana, Tuan? Apakah Anda mau menyetujui persyaratan dari saya?’ tanya Tengkorak Hideung, mencoba memastikan komitmen bos mudanya.

"Oke, oke! Gue mau, asalkan setelah semua beres, gue langsung—"

Ucapan Kiano terpotong secara paksa saat sebuah tangan bersuhu sedingin es mambo mendadak menepuk pundaknya dari belakang.

PUK!

"Pangeran... Kenapa Anda malah kabur dan jongkok di dalam semak-semak begini? Urusan kencan kita kan belum selesai," ucap sebuah suara wanita yang terdengar sangat lembut, namun sukses membuat bulu kuduk Kiano berdiri tegak.

"Iya, nih, Pangeran! Saya sebagai kandidat keempat sampai kesal setengah mati nungguin Anda yang gak muncul-muncul di ruang privat! Untung saja kami berdua gak sengaja melihat bokong Anda nge-pop dari balik semak ini," timpal suara wanita lain yang nadanya kembar identik.

Kiano yang sedang dalam posisi jongkok estetik langsung terlonjak kaget. Mampus gue! Kenapa nih dua kuntilanak model bisa tahu gue ngumpet di sini?! batinnya menjerit histeris.

Ia memutar kepalanya ke belakang dengan gerakan patah-patah mirip robot karatan, lalu melepar senyuman palsu yang tertutup masker leceknya. "Eh... begini, Putri-Putri yang cantik jelita bak model Citayam Fashion Week. Saya... saya hanya berniat pergi sebentar untuk mencari udara segar. Jujur, saya benar-benar kegerahan berada di dalam ruangan pengap itu. Sangat membosankan dan bikin aura ketampanan saya turun drastis." Kiano langsung berdiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan gestur kikuk.

Kedua putri yang memiliki wajah kembar identik itu serentak mengerutkan kening mereka. "Tapi... kenapa pakaian Anda bisa basah kuyup dan compang-camping begini, Pangeran?" tanya salah satu putri sambil menatap jijik ke arah kolor Upin-Ipin Kiano yang mulai mengering.

"Ah, itu! Kan tadi saya sudah bilang kalau saya kegerahan maksimal. Jadi demi keamanan nasional, saya nyemplung saja sekalian ke kali sebelah keraton. Dan ternyata rasanya lumayan juga, rasa gerah di tubuh saya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa masuk angin," jawab Kiano asal ceplos dengan tingkat kepedean tingkat dewa.

"Kalau begitu, ayo ikut kami kembali. Kita harus melanjutkan sesi kencan buta yang tertunda ini," ajak putri yang satunya lagi dengan senyuman misterius.

Tanpa sempat memberikan argumen pembelaan, kedua lengan Kiano langsung dicengkeram erat dan diseret paksa oleh kedua putri tersebut. Kekuatan mereka luar biasa besar, mirip emak-emak yang sedang berebut diskon sembako.

"Eh, eh! Tapi... tapi... saya... aduh, Mbak! Ini saya masih butuh asupan oksigen dan udara segar! Lepasin gak?!" teriak Kiano gelagapan, mencoba meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman kuat kedua jin cantik itu.

"Sudah cukup, Pangeran. Pakaian Anda basah dan Anda harus segera berganti pakaian dengan kami," ucap mereka kompak dengan nada absolut.

Namun, setelah beberapa menit diseret, Kiano mulai menyadari ada yang janggal. Alih-alih dibawa kembali ke arah keraton megah di tepi sungai, kedua putri kembar itu malah menyeretnya masuk semakin dalam ke arah hutan belantara yang gelap, angker, dan dipenuhi kabut hitam.

"Eh, sebentar... Kok kita malah jalan ke arah hutan sih? Bukannya keraton tempat makan enak tadi arahnya ke sana, ya?" tanya Kiano heran, insting bertahannya mulai berbunyi nyaring.

‘LARI, TUAN...! MEREKA BUKAN PUTRI MAHKOTA! MEREKA ADALAH ANAK BUAH NINI KALINGKING YANG SEDANG MENYAMAR!’ teriak Tengkorak Hideung tiba-tiba menggema heboh di dalam kepala Kiano.

Ah, lo mah telat bener, Tahi jahanam! Kenapa gak dari tadi kasih tahunya pas gue belum diseret begini?! batin Kiano kaget setengah mati bercampur merana tak terkira.

‘Maaf, Tuan, sinyal ingatan saya agak buffering tadi! Saya juga baru ingat garis wajah asli mereka! Wajah cantik mereka itu cuma topeng sihir untuk menipu mangsa, Tuan! Itu semua berkat khasiat darah para gadis suci yang sering mereka minum!’

Kalau gitu gak usah banyak bacot lagi! Cepetan lo keluar dari dada gue sekarang, bantuin bos lo yang ganteng ini biar gak digotong ke sarang nenek sihir! jerit Kiano panik mampus dalam hati saat tubuhnya semakin dibawa masuk ke kegelapan hutan.

’Laksanakan, Tuan!’seru Tengkorak Hideung penuh drama kebangsawanan.

Tanpa perlu dikomando dua kali oleh bos mudanya yang sudah ambyar, Tengkorak Hideung langsung melesat keluar dari segel gaib di dada Kiano.

JLEG!

Asap hitam pekat berbau kemenyan kadaluwarsa mendadak mengepul hebat. Sesosok jin pria bertubuh raksasa, berkumis tebal melintang, dan berambut gondrong awut-awutan tiba-tiba berdiri kokoh menghadang jalan kedua wanita cantik jadi-jadian itu.

"Berhenti kalian, wahai antek-antek kegelapan!" teriak Tengkorak Hideung dengan suara baritonnya yang menggelegar, sengaja merentangkan kedua tangan kekarnya agar terlihat estetik dan intimidatif.

Seketika itu juga, langkah si kembar dedemit penipu itu ngerem mendadak sampai sandal mereka berdecit nyaring di atas tanah tanah hutan.

CITT...!

Wajah cantik mereka yang palsu itu nyaris saja menabrak dada bidang si Tahi yang sekeras beton pos ronda.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau menghalangi jalan kami!" teriak salah satu dari mereka dengan suara yang mendadak berubah serak-serak basah mirip vokalis band metal.

Namun, detik berikutnya, kedua siluman itu malah saling lirik. Mereka memperhatikan penampilan Tengkorak Hideung dari ujung rambut sampai kaki dengan dahi berkerut.

"Tunggu dulu... Bukankah dia adalah salah satu dari tujuh jawara bunian yang sudah dikubur hidup-hidup oleh Guru Nini Kalingking lima puluh tahun yang lalu?" bisik salah satunya dengan ekspresi tidak percaya.

"Benar juga... Bagaimana bisa dedemit purba ini lepas dari segel kuburan wingit?!"

"Cukup basa-basinya! Rasakan ini!" bentak Tengkorak Hideung tidak sabaran.

SYUTTT...!

Tanpa aba-aba, si Tahi langsung mengayunkan lengan raksasanya dengan kekuatan penuh ke arah si kembar yang ternyata bernama Gina dan Nina itu. Angin pukulan gaibnya berembus kencang, sanggup meruntuhkan daun-daun kering di sekitar hutan.

Sontak saja, Gina dan Nina yang menyadari bahaya langsung melompat mundur ke belakang demi menyelamatkan wajah hasil operasi plastik mistis mereka. Akibatnya, mereka terpaksa melepaskan cengkeraman tangan mereka dari tubuh Kiano.

Beruntung, insting bertahan hidup Kiano sebagai anak gaul Jakarta Barat langsung aktif di level maksimal. Ia dengan sigap langsung mengambil posisi tiarap dan berjongkok di atas tanah.

Keputusan kilat itu menyelamatkan nyawanya, karena ayunan tangan raksasa si Tahi barusan melesat tepat satu milimeter di atas kepala Kiano. Kalau Kiano telat merunduk sedikit saja, fiks kepalanya bakal kena gibeng dan melayang sampai ke Monas.

"Woy! Liat-liat dong kalau mau nyerang, Tahi jahanam! Masa bos lo sendiri yang gantengnya nyaingin Jungkook BTS ini mau lo hajar juga?!" protes Kiano histeris dari bawah tanah sambil mendekap kepalanya yang penuh tanah.

"Maaf, Tuan! Saya sudah terlanjur gatal ingin menghajar antek-antek penyihir ini! Sebaiknya Anda segera minggir dan berlindung di tempat aman, bila perlu silakan pergi sejauh mungkin dari sini!" seru Tengkorak Hideung penuh drama kebangsawanan.

Mendengar instruksi emas tersebut, Kiano tidak perlu berpikir dua kali. Tanpa mau membuang waktu berharga untuk mendengarkan kelanjutan curhat heroik si Tahi, Kiano ternyata sudah mengambil langkah seribu. Kakinya yang cuma dibalut kolor Upin-Ipin basah itu sudah ngacir melesat entah ke mana, menembus semak-semak hutan dengan kecepatan roket fusi nuklir.

Gina dan Nina yang melihat mangsa utama mereka mendadak hilang dari pandangan langsung mengeraskan rahang dengan murka.

"Sialan! Ini semua gara-gara kau, dedemit purba! Mangsa berharga kami jadi kabur, kan?!" teriak Gina dengan wajah yang mulai retak-retak, memperlihatkan kulit aslinya yang keriput dan membusuk dari balik topeng sihirnya.

Tengkorak Hideung mendengus remeh. Ia membetulkan letak kumis tebal melintangnya dengan gaya sombong nan teatrikal. "Jaga bicaramu! Dia bukan sekadar mangsa, melainkan Tuan baruku yang sah!"

Tanpa menunggu komando lanjutan, Gina dan Nina serentak melompat maju. Wajah cantik mereka kini pecah sepenuhnya, bertransformasi menjadi keriput mengerikan dengan kuku-kuku hitam yang memanjang tajam. Dari pori-pori kulit mereka mengeluarkan cairan aneh yang berbau busuk. Mereka melesat bak bayangan, mengincar dada bidang Tengkorak Hideung dengan pekikan melengking khas vokalis band metal bawah tanah.

Sret! Brak!

Tengkorak Hideung menangkis cakaran maut itu dengan lengan kekarnya yang sekeras beton pos ronda. Percikan api gaib memancar di tengah kegelapan hutan saat kekuatan fisik sang mantan panglima beradu dengan sihir hitam anak buah Nini Kalingking.

Seketika, wajah garang Tengkorak Hideung berubah menjadi tengkorak yang hitam legam bagai arang. Sepasang matanya bersinar merah menyala.

Brak!

Dengan kekuatan raksasanya, ia menarik lalu menghempaskan tubuh kedua wanita jadi-jadian itu hingga menghantam pohon-pohon besar sampai tumbang.

Sementara itu, jauh di dalam kerimbunan semak belukar, Kiano terus memacu sepasang kakinya tanpa memedulikan estetika lagi. Dengan modal celana kolor Upin-Ipin basah yang mulai terasa gatal karena hempasan daun-daun liar, ia melesat lurus menembus kabut hitam.

"Napas gue... napas gue berasa mau pindah ke lambung, Gusti!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!