NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membawanya pulang.

Mobil Gavin melaju pelan membelah jalanan yang ramai lancar. Di bawah langit senja cahaya lampu jalan memantul di kaca jendela. Suasana di dalam begitu sunyi, hanya ada suara mesin dan napas pelan Azalia yang duduk di samping Gavin.

Azalia terus menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia tak tahu harus berbuat apa atau bertanya apa. Dadanya sesak, tapi juga kosong.

Gavin, meliriknya sekilas. Ia bisa melihat betapa ringkihnya tubuh Azalia dari sudut matanya. Dulu, Azalia lebih berisi. Sekarang, tulang selangkanya semakin menonjol, pipinya tirus, dan kulitnya pucat.

Azalia yang pertama kali bicara, suaranya nyaris tenggelam dalam suara jalanan.

"Kenapa kamu membawaku pulang?"

Gavin tetap menatap ke depan, tak segera menjawab. Beberapa detik hening sebelum akhirnya ia berkata, "kau pikir aku akan membiarkanmu tinggal sama mereka yang hidup kekurangan?"

Azalia menoleh ke arahnya, mencari jawaban di wajah dingin itu. Tapi Gavin tetap fokus pada jalanan, Azalia tidak bisa membaca ekspresinya.

Azalia menyesal bertanya.

Sudah jelas kalau Gavin tidak akan membiarkannya pergi karena pria itu takut kalau dia tidak muncul untuk mengesahkan perceraian mereka besok. Karena itu yang dinantikan Gavin.

Sunyi kembali menyelimuti mereka. Azalia menatap tangannya sendiri. Rasanya seperti mimpi, dibawa kembali ke rumah tempat ia pernah merasa tidak diinginkan.

"Aku tidak akan merepotkanmu. Seharusnya kamu tidak perlu membawaku pulang, karena aku tidak akan ingkar janji, aku sendiri yang datang ke catatan sipil untuk bercerai nanti." Gumamnya lirih.

Gavin mengeraskan rahangnya, tapi tak menjawab. Ia hanya menekan pedal gas sedikit lebih dalam, seakan ingin lebih cepat sampai.

Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai terasa berat.

Sementara Azalia merasa ada yang salah. Ini bukan jalan menuju rumah. Atau...dia sudah melupakannya?

Namun ternyata memang benar. Saat mobil berhenti, di depan matanya bukan rumah yang biasa ia tinggali. Itu adalah apartemen yang menjulang tinggi, entah sampai berapa lantai.

"Cepat turun! Ini rumahku. Barang yang kau bawa, biar aku menyuruh pelayan untuk mengambilnya."

Saat pintu lift terbuka, Azalia melangkah masuk ke dalam ruang yang begitu luas dan sunyi. Udara di dalam terasa sejuk, berbeda dengan rumah Niken yang selalu dipenuhi aroma teh dan tanah basah.

Tapi penthouse ini terlalu besar, terlalu bersih, dan tentunya terlalu asing untuk Azalia.

Langkahnya pelan, matanya menyapu sekeliling.

Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang modern, jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari, serta interior minimalis dengan dominasi warna gelap, hitam, abu-abu, dan sedikit sentuhan perak.

Tak ada kesan 'rumah' di sini. Semua terlihat sempurna, tapi asing.

Di tengah ruangan, ada sofa panjang berwarna abu-abu yang menghadap ke dinding kaca. Di sampingnya, rak buku yang berdiri megah, isinya tertata rapi, seolah tak ada satupun buku yang benar-benar pernah disentuh.

Azalia menggigit bibirnya. Ia bahkan tidak pernah tahu Gavin memiliki tempat seperti ini. Yang dia ketahui, Gavin jarang sekali pulang ke rumahnya, tidak tahu pulang ke mana lagi.

Tempat ini terasa seperti milik seorang yang terbiasa sendirian.

Azalia menoleh ke Gavin yang berdiri di dekat pintu, pria itu sedang melepas jasnya dengan gerakan santai tapi penuh tekanan yang tak terlihat. Tatapan pria itu tetap sama, dingin, tak terbaca, dan tak memberi jawaban.

Dari arah dalam, seorang pria muncul, menekuk punggung di hadapan mereka. "Selamat datang, Nyonya."

Nyonya?

Refleks Azalia menoleh, menunggu konfirmasi dari Gavin. Perceraian mereka sudah di depan mata, kenapa pria paruh baya itu memanggilnya 'Nyonya'?

Tapi tidak ada yang diucapkan Gavin untuk memperbaiki panggilan itu.

"Mulai sekarang kau tinggal di sini. Dan dia adalah Pak Abu, kepala pelayan di sini. Kau bisa minta bantuan padanya jika butuh sesuatu."

Pria yang disebut pak Abu kembali membungkuk pada Azalia, seakan menyanggupi perkataan itu.

"Abu, antar Nyonya ke kamarnya dan ambil barang-barang di mobil. Aku akan keluar sebentar."

"Silakan Nyonya, sebelah sini." Abu tersenyum hangat, mempersilahkan dia dengan tangannya.

Ruangan itu luas, lebih luas dari kamar yang biasa ia tempati, tapi terasa seperti belum pernah benar-benar dihuni.

Dindingnya berwarna abu-abu lembut, dengan jendela besar yang menampilkan kelap-kelip kota di malam hari. Sebuah ranjang king size dengan sprei putih bersih berada di tengah ruangan, begitu rapi hingga seolah tak pernah digunakan.

Tak ada hiasan, tak ada pernak-pernik khas seseorang. Hanya ada lemari pakaian, meja kecil di samping ranjang dengan lampu baca modern, dan kursi di dekat jendela.

Rak di sudut ruangan juga masih kosong, hanya menyisakan beberapa buku yang tertata tanpa jejak pernah disentuh.

Tak ada aroma manis lilin parfum, tak ada selimut bermotif, tak ada tanda-tanda kehidupan yang hangat. Semua serba fungsional, seperti ruangan yang disiapkan hanya untuk sekedar ada, bukan untuk dihuni dengan nyaman.

Azalia menelan ludahnya. Ia merasa seperti tamu yang kebetulan singgah, bukan seseorang yang diharapkan tinggal.

"Jika ada yang perlu saya siapkan, katakan pada saya, Nyonya." Abu di sisinya bicara.

"Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin istirahat."

Gavin masih belum pergi saat Abu kembali. Dia masih ada di meja mini bar, dengan segelas air dingin di genggamannya. Cara dia menegak, seperti orang yang sudah lama tidak menyentuh air minum.

"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?"

Gavin hanya menghela napas panjang dan berat. Wajahnya tampak tertekan.

"Tolong jaga dia selagi aku pergi. Aku tidak akan lama. Sesekali periksa dia di kamarnya. Jika ada sesuatu, segera hubungi aku."

Gavin baru mengambil beberapa langkah saat Abu berkata, "apa terjadi sesuatu dengan Nyonya?"

Langkahnya berhenti, tapi tidak berbalik. "Aku juga sedang mencaritahunya."

Malam ini seharusnya malam yang ia tunggu selama 2 tahun. Sejak Renata pergi, Gavin selalu menunggu kepulangannya.

Seharusnya ini menjadi pesta yang ia selenggarakan untuk menyambut kepulangan wanita itu. Tapi apa?

Dia malah harus repot-repot memindahkan Azalia dari rumah Niken, membawanya kembali, tidak mudah, bahkan ia rela mengemis agar diizinkan membawa Azalia bersamanya, juga sampai mencari keberadaan Dokter Wahyu.

Yang lebih menakjubkan daripada itu. Kenapa? Dia bahkan sampai membatalkan perceraian tanpa berpikir panjang.

Gavin mengacak rambutnya dengan kasar. Dia tidak menemukan jawaban itu di kepalanya.

Anak buahnya mengatakan Dokter Wahyu masih di rumah sakit sekarang.

Saat Gavin datang, Dokter Wahyu sedang mengemas barangnya.

"Bisa saya minta waktunya sebentar, Dokter?" Gavin menutup pintu ruangan itu dengan pelan, menarik kursi di hadapannya. Kali ini wajahnya jauh lebih tenang dan serius.

Dokter Wahyu diam sejenak, lalu meletakkan barangnya lagi. "Karena anda sudah repot-repot datang ke sini, saya akan mendengar."

"Tujuan saya kemari masih sama, saya tahu, hubungan saya dengan istri saya buruk. Itu sebabnya dia menyembunyikan penyakitnya dari saya. Tapi sekarang, saya sudah memutuskan untuk merawatnya dan membatalkan perceraian kami."

Gavin menegak, memajukan sedikit tubuhnya. "Dokter, ingatan istri saya sudah sangat buruk. Dia juga mulai lamban. Seperti tubuhnya perlu berpikir dua kali sebelum bergerak. Kadang ia berhenti begitu saja di tengah-tengah sesuatu, seperti lupa cara melanjutkan. Istri saya juga sering pingsan, mimisan yang tidak normal, dan tubuhnya semakin lama semakin melemah."

Semua itu adalah ucapan Niken tadi, dan sekarang dia di sini untuk mendapatkan jawabannya.

Dokter Wahyu menatap Gavin serius. Matanya terpejam, dan dia menarik nafas panjang dalam satu tarikan.

"Dokter, saya butuh kerjasama Anda di sini. Mungkin nanti Azalia tidak akan ingat kapan dia harus menemui anda, dan kapan dia harus meminum obat. Jika anda tidak mengatakan pada saya apa yang dia alami, bagaimana saya bisa merawatnya?"

Kata-kata itu keluar dengan begitu mulusnya dari mulut Gavin, ia sendiri bingung, bagaimana kalimat itu keluar begitu saja seolah ia sudah menghafal di luar kepala. Apa mungkin ini bentuk kepedulian seorang suami?

1
Adinda
perduli mu teelambat Gavin
Ais
disatu sisi senang thor tp itu ngak sebanding dgn apa yg sdh azalia alami thor baik terhadap marta yg katanya ibu kandungnya jg gavin yg msh mengaku sbg suami azalia apa arti smua itu sementara azalia menahan derita dan sakit hati fisik mentalnya selama dia hidup didunia ini
Kar Genjreng
Renata memang benar dua Pria itu b****k tetapi punya alasan karena ternya istri bukan sedang bersandiwara tetapi memang nyata kalau sedang sakit dan nya lagi wanita itu lah yang sudah menyambung nyewa alvin,,,dengan ginjalnya,,,jadi ya mau bagaimana lagi,,
Rahma Inayah
bodoh nya Marta klu di manfaatin Mahesa demi suami rela kehilangan ank kandung darah daging sendri mending klu Mahesa ayah kandung or setidknya baik PD azalia ni gak .
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!