Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??
Benarkah itu??
Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??
Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.
Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??
Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.
Penasaran dengan perjuangannya??
Langsung baca aja yak...
Jangan lupa like, vote, rate ya...
Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Ardiaz melepaskan jasnya dan memakaikannya dibadan Gaby, melihat Gaby yang berantakan membuatnya iba dan menutup tubuh Gaby dengan jasnya.
"Sudah, jangan menangis lagi." Ucap Ardiaz sambil mengangkat wajah Gaby dan menatapnya.
"Ba-bagaimana bisa saya berhenti..." jawab Gaby dengan lemah, suaranya hampir habis karena teriakan dan tangisan yang ia buat.
"Tak ada yang perlu kau takuti lagi, saya disini akan melindungimu," sahut Ardiaz mencoba menengkan hati Gaby.
Kemudian ia mengangkat Gaby dan menggendongnya hingga keluar dari restoran tersebut. Tanpa mereka sadari, sedari tadi tamu yang ada di restoran tersebut menyaksikan duel antara Ardiaz dan Davie. Bahkan sorakan mereka tak didengar Ardiaz.
"Me-mengapa rasanya nyaman sekali," batin Gaby.
Gaby menenggelamkan wajahnya didada Ardiaz dan mengeratkan tangannya yang mengait dileher Ardiaz.
Setibanya dirumah Gaby, Anny berlari keluar dan menyambut kedatangan mereka. Alih-alih senang berubah menjadi duka yang mendalam. Anny melihat Gaby yang begitu berantakan dan kelelahan seperti itu sontak membuatnya terkejut.
Ardiaz tak mempedulikan pertanyaan yang dilontarkan Anny, ia lebih memilih masuk kedalam kamar Gaby dan membaringkannya secara perlahan karena Gaby telah tertidur pulas.
"Meski begitu, kau adalah gadis yang paling berani," batin Ardiaz sambil mengusap kecil puncak kepala Gaby.
"Tuan, apa yang terjadi pada nona Gaby?" Tanya Anny yang sedari tadi khawatir.
"Dia tidak apa-apa, hanya perlu istirahat," jawab Ardiaz.
"Mana mungkin begitu, saya lihat nona Gaby begitu berantakan dan kelelahan seperti itu. Pasti ada apa-apa," ucap Anny yang meminta penjelasan pada Ardiaz.
"Akan saya ceritakan nanti, sekarang saya lelah. Apakah ada makanan?" Jawab Ardiaz. Setelah ia cukup lama menunggu Gaby keluar dari toilet, ia sama sekali tak menyentuh makanan dan langsung pergi menyusul Gaby. Hingga terjadilah perkelahian tersebut.
"Saya lapar sekali," lanjutnya dengan lesu.
"Ah baiklah, akan saya siapakan. Mohon tunggu sebentar," jawab Anny.
Tak lama kemudian Anny kembali sambil membawa nampan yang berisi makanan.
"Silahkan tuan," ucapnya sambil meletakkan satu persatu makanan yang ia bawa.
Setelah makanan berada diatas meja, Anny berlalu pergi meninggalkan Ardiaz yang akan menikmati hidangan malam.
"Gaby juga belum makan, jika ia terbangun siapkan makanan!!" Ucap Ardiaz memberi perintah dan Anny mendengar perintah tersebut.
"Baik tuan," jawab Anny.
Anny kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Apa yang terjadi??" Ucapnya pelan setelah sampai didapur.
"Mengapa kemalangan terus menimpa nona Gaby, setelah kejadian disekolahnya..." lanjutnya menggantung.
"Dan sekarang, apa yang terjadi?" Sambungnya sambil menitikkan air mata, Anny menundukkan kepalanya dan menghela nafas berat. Kemudian ia menegakkan kembali tubuhnya dan mengusap air mata yang sedari tadi terus menetes.
Ardiaz selesai menyantap makanannya dan Anny membereskan piring kotor.
"Apa kau habis menangis?" Tanya Ardiaz setelah memperhatikan bekas air mata yang ada di pipi Anny.
"Tidak tuan, saya tidak menangis." Jawab Anny dengan berpura-pura tersenyum seolah-olah ia tak pernah menangis.
"Sepintar apapun kau menyembunyikannya. Tapi kau tak bisa selamanya menyembunyikan hal itu didepanku," jawab Ardiaz sambil menopang dagu.
Anny menunduk.
"Duduklah, akan ku ceritakan mengenai kejadian Gaby hari ini. Aku tahu kau mencemaskan hal itu," ucap Ardiaz.
"Baiklah," jawab Anny yang kemudian duduk dikursi.
Ardiaz menceritakan kejadian tersebut secara rinci dan jelas, tampak raut wajah Anny yang berubah-ubah. Ia sangat terkejut dengan peristiwa yang dialami Gaby, Anny sangat sedih dengan kemalangan yang menimpa Gaby.
Selesai Ardiaz menceritakan hal tersebut, Anny mengajukkan pertanyaan.
"Tuan muda, siapakah yang ingin mencabuli nona Gaby?" Tanya Anny dengan raut wajah ketakutan.
"Belum tahu, aku belum menyelidiki hal itu. Tapi besok akan aku cari tahu," jawab Ardiaz yang menyandarkan punggungnya disandaran kursi lalu memejamkan matanya sebentar, menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
Anny baru tersadar bahwa ada sebuah luka kecil dibagian samping bibir Ardiaz.
"Ah tuan, saya baru sadar kalau anda terluka," ucap Anny.
"Benarkah? Tak terasa perih sedikit pun," jawab Ardiaz yang memang sedari tadi tak merasakan adanya perih yang ditimbulkan oleh luka tersebut.
"Biar saya obati," Anny berlalu pergi mencari obat luka sambil menyimpan piring kotor.
Tak lama setelah itu, Anny kembali dengan membawa kotak obat. Anny meneteskan sedikit alkohol pada kapas lalu mengusapnya perlahan diluka Ardiaz.
Barulah Ardiaz merasa pedih saat Anny sedang mengobati lukanya.
"Ssshh..." rintihnya menahan pedih.
"Nah sudah selesai tuan," ucap Anny dengan senyum hangatnya.
Perasaannya kini lega melihat Ardiaz dan Gaby yang baik-baik saja, walau tubuh Gaby yang lemah akibat melawan Davie. Dan juga luka kecil yang didapat Ardiaz ketika menghajar Davie.
"Aku pulang dulu," ucap Ardiaz.
"Tuan mau pulang ke apartemen?" Tanya Anny sambil membereskan obat luka yang tadi ia pakai.
"Hmm..." Ardiaz hanya berdehem.
"Tuan..." panggil Anny.
"Kenapa?" Jawab singkat Ardiaz.
"Jangan menambah luka lagi!!" Ucap Anny penuh perhatian.
"Sudah cukup sakit kan saat dapat pukulan dari orang itu?" Lanjutnya.
"Kau ini cerewet sekali, sama seperti..." Ardiaz memberhentikan ucapannya.
"Hmm sudahlah..." lanjutnya mengakhiri pembicaraan dan beranjak pergi.
"Hati-hati tuan..." teriak Anny.
"Saya tahu anda merindukannya, tapi anda tak ingin terluka..." batin Anny sambil menatap kepergian Ardiaz.
Pagi hari tiba...
"Chip ... chip ... chip." Burung-burung berkicau ria menikmati angin pagi sambil terbang diudara atau bertengger di dahan pohon.
Sinar matahari masuk kedalam ventilasi udara kamar Gaby. Gaby membuka mata perlahan, ia mencoba untuk bangun.
"Sshhh..." rintih Gaby menahan sakit di badannya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka dan menampakan sosok Anny dengan senyum hangatnya.
"Selamat pagi nona," sapa Anny dengan lembut.
"Selamat pagi..." jawab Gaby dengan senyum manisnya.
"Bagaimana keadaan anda? Apakah ada yang sakit?" Tanya Anny memeriksa keadaan Gaby.
"Hanya pegal saja, ah apakah bibi yang mengganti pakaianku?"
"Iya itu tentu saja," jawab Anny masih dengan kelembutannya.
"Oh ya, nona pasti lapar. Akan saya siapkan makanan ya," lanjut Anny setelah selesai membuka gorden.
"Ah benar juga, kemarin aku tak sempat makan," pikir Gaby.
Gaby mengangguk seraya tersenyum.
"Mau saya bawakan kekamar nona?" Tanya Anny sebelum pergi.
"Ah tidak, aku akan turun kebawah." Jawab Gaby dengan senyuman.
"Hmm baiklah," Anny pergi menyiapkan makanan.
"Syukurlah hari ini libur, jadi aku tak perlu berdebat dengan Shany lagi," ucap Gaby sambil beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.
"Huuuff ... jika Shany dan Qilla tahu tentang kejadian semalam, pasti banyak kabar tentangku dan mereka membuatku kesal," Gaby terus mengoceh sambil membersihkan tubuhnya.
"Ah sudahlah, aku terus saja memikirkan hal itu." Lanjut Gaby yang memilih berhenti mengoceh.
Gaby selesai membersihkan badan lantas kemudian ia memilih pakaian dan mengenakannya. Setelah selesai bersiap Gaby turun kebawah dan menyantap sarapannya.