NovelToon NovelToon
The Ex'S Mission

The Ex'S Mission

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial
Popularitas:72.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayy

Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.

Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.

Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.

Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First, Hurricane

Aruna membuka matanya, ia masih terbaring di ruangan yang sama seperti pertama kali ia membuka mata sejak kecelakaan. Masih di ruang tempat tidurv ruang ICU yang hening dan hanya terdengar bunyi mesin control. Aruna mencoba duduk dan tubuhnya terasa ringan. Tentu saja, ia kan sekarang tidak benar-benar 'bertubuh.'

Melirik jam, Aruna tampak cukup terkejut. Sudah jam 10 pagi. Ini merupakan jam bangun tidur rekor terlama yang pernah ia lakukan. Baru saja Aruna berniat meninggalkan tempat tidurnya, seseorang terdengar membuka pintu masuk ke dalam ruangan.

Saat Aruna menoleh, bibirnya mendesis kesal, "Jay..."

Pria yang baru datang itu lalu menarik sebuah kursi dan duduk disamping tubuh Aruna yang pucat.

"Hi, Aruna. Gue dateng," ucap Jay sebagai salam pembuka.

Sementara Aruna bertubuh transparan yang sedang berdiri disamping Jay tampak sedang berusaha menjitak kepala Jay. "Ngapain lo kesini?! Buat ngetawain gue?"

"Gak nyangka gue orang seperti lo bisa tertidur santai dan tenang di jam sesiang ini." Kalimat Jay anehnya terdengar lembut, tidak ada arogansi disana.

Jay terdengar menghela nafas dan menurunkan bahunya. "Padahal, gue sudah lama tak berjumpa dengan lo. Sudah dua tahun memilih perang dingin dan menjauhi pandangan mata lo yang penuh amarah perang itu."

"Gue sebenarnya sudah benar-benar berubah, gue tak lagi dibawah pengaruh nyokap gue. Meski gue masih tetap menghormati dan menyanyangi beliau. Gue sudah jadi lebih baik setelah pasrah melepas apa-apa yang mengekang gue dan memulai semuanya dengan niatan baik. Yang jelas, hidup gue membaik tanpa ada pengaruh aliran harta keluarga Mahendra."

Ucapan Jay barusan mengejutkan Aruna, membuat Aruna perlahan duduk di tepi tempat tidur dan memilih untuk mendengarkan.

"Tapi kali ini gue harus diseret lagi kembali ke keluarga ini." Ada hening sejenak, Jay melanjutkan, "jujur gue sudah berulang kali menolak untuk kembali berhadapan dengan Papa. Gue tahu pasti ada sesuatu yang tak beres dan gue tidak ingin terlibat. Tetapi, baik itu Papa maupun Nyokap gue, keduanya sama-sama mendesak. Nyokap gue mendesak gue karena dendam pribadinya. Sementara Papa mendesak atas nama bisnis, nama baik Mahendra juga ribuan nyawa yang rejekinya bergantung pada perusahaan ini."

"Gue," kata Jay dengan nada terisak. "Gue jadi tahu betapa beban ini menyiksakan dan memberatkan lo. Seharusnya dari dulu tidak perlu gue perparah dengan ikut-ikutan membalas dendam nyokap. Maaf, Aruna, gue sadarnya telat..."

Aruna mengerjap beberapa kali, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Sanjaya. Hal ini sangat berbeda dengan 2 tahun yang lalu saat Aruna mendapati seseorang berusaha membunuhnya dan itu adalah orang suruhan Jay dan Kaliandra, Ibunya.

"Sekarang, gue ingin lari membebaskan diri dari semua prahara keluarga Mahendra yang terkutuk ini. Tapi sepertinya kekuatan keluarga ini tak bisa dianggap remeh. Sebelum gue memberikan keterangan pada kampus doktoral gue, pihak kampus bahkan sudah meminta gue mengundurkan diri. Lo pasti tahu siapa orang dibalik itu semua siapa."

Kini Aruna diam terhenyak, tidak tahu harus merasa iba atau kesal harus mengasihani nasib Jay yang mungkin tidak lebih baik dari kondisi dirinya.

Jay menghapus airmatanya dengan lengan baju. "Akhir-akhir ini gue gak bisa tidur. Pekerjaan lo yang dialihkan ke gue cukup berat dan menyita waktu. Gue kelelahand an siklus tidur gue terganggu. Jadi... daripada gue semalaman merasa resah, gue mencari cara untuk mendapatkan ketenangan dalam sepinya hidup sendiri di apartment. Gue merajut."

Jay tampak merogoh saku dalam jas hitam yang ia kenakan, "ini Amigurumi. Kuda. Gue buatkan saat memikirkan beban kerjaan."

Sambil memainkan boneka rajut kecil di atas selimut Aruna, Jay melanjutkan, "Lo kayak kuda. Kerja tanpa lelah. Entah dari mana energi lo bisa bekerja dengan performa seperti itu. Lo bukan kayak orang yang berlari untuk sebuah tujuan. Lo malah kayak orang yang lari karena ketakutan. Haha, I mean... adrenalin manusia saat takut kan terpacu lebih besar."

Menghela nafas, Jay meletakkan amigurumi kuda di atas meja Aruna. "Jadi, bagaimana lo mendapatkan semua adrenalin itu? Apa benar lo berlari karena takut akan sesuatu? Apakah itu karena takut perihal bisnis?"

"Ah, seandainya gue tahu. Gue juga butuh adrenalin itu. Tapi gue gak punya ketakutan soal bisnis, Aruna. Sebab gue tidak sedang merasa bisnis ataupun perusahaan ini milik gue," ujar Jay lagi sambil bersandar di kursi.

***

"Oi, lagi apa lo?" Chas tiba-tiba muncul saat Aruna sedang duduk di tepi atap gedung rumah sakit.

Aruna melengos malas dan menajwab, "memangnya gue bisa apalagi selain bengong-bengong gini nungguin elo?"

Terkekeh, Chas menepuk pundak Aruna. "Nanti kalau lo sudah cukup familiar, mungkin lo bisa keliaran sendiri."

Menoleh dengan semangat, Aruna bertanya, "wah, kapan tuh gue bisa begitu? Bisa keliaran kemana?"

"Ya keliaran ke kenangan hidup lo doang si-"

"Semuanya? ke semua kenangan?" tanya Aruna tak sabar.

Chas memutar bola matanya, "ya yang di kehendaki Tuhan juga."

"Kapan?" tanya Aruna lagi.

"Hmmm.. mungkin 100 tahun lagi, itupu-"

Aruna langsung membuang muka, tak lagi mendengarkan Chas.

"Hahaha, hey, 100 tahun itu bukan waktu yang lama untuk dunia seperti ini. Lo bahkan ga akan tambah tua atau pun jadi lebih muda selama ada di dunia ini," hibur Chas saat mengetahui Aruna sudah bersungut-sungut.

"Haisssh! Dunia apa sih ini!" ucap Aruna kesal sambil mengacak-acak rambutnya.

"Dunia yang harus lo hadapi, sebagai konsekuensi keputusan yang pernah lo buat selama hidup, gue rasa sih," jawab Chas sambil menggosok dagunya dengan jari telunjuk.

Menghela nafas, Aruna terdiam sejenak lalu bertanya, "yasudah, Hari ini kita kemana?"

"Hari ini kayaknya akan cukup berat, siapkan mental dan hati ya!"

Dan lagi, tepat setelah kalimat Chas tadi, mereka sudah berada di ruangan lain.

***

"Halo Ma," sahut Aruna yang saat itu berada di depan laptop, duduk dengan malas.

"Mama ada di depan rumah kamu, Aruna," sahut suara dari sebrang ponsel yang sontak membuat Aruna lekas berdiri.

Aruna tergopoh-gopoh membuka pintu dan mendapati ibunya sedang berdiri disamping sebuah sedan hitam mewah. Kontras sekali pemandangan wanita paruh baya dengan mobil dan supir berada disebuah jalan sempit perumahan kontrakan Aruna.

Menelan ludah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Aruna berjalan ragu. Ia lalu mengambil tangan ibunya dan mengecup tanda salam hormat. "Kok Mama gak bilang mau datang? Kana sedang tak di rumah, Ma."

Mengernyitkan alis, Lastri menjawab ketus, "Mama memang hanya perlu mengobrol dengan kamu. Ayo masuk!"

"Tapi, Ma..."

"Kita ngobrol di The Royale," potong Lastri tanpa menoleh dan langsung masuk ke dalam mobil.

Aruna menutup bibirnya rapat. Ibunya tahu bahwa The Royale adalah restoran favorit Aruna. Sudah hampir satu tahun Aruna tidak pernah lagi mencicipi makanan disana. Padahal, sebelum menikahi Kana, bisa hampir setiap weekend, Aruna sudah pasti menikmati masakan para chef ternama.

Setelah bergegas merapikan diri dan mengunci rumah, Aruna menyusul ibunya ke dalam mobil. Tak lupa ia telah mengirimkan pesan singkat pada Kana yang sore ini sedang mengambil kelas mengajar tambahan sebagai assisten dosen.

***

Ponsel Kana berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Belum tahu apa isinya, Kana sudah menguum senyum, sebab nama suaminya tertera di layar ponsel.

"Duh, enaknya punya suami! 5 menit sebelum jam pulang juga udah di tanyain, aaaaaaak iriiiiii," keluh Dian sambil mengigit hijabnya sendiri.

Kana hanya menanggapi dengan tertawa, ia lalu emmbaca pesan singkat Aruna tersebut dan mendadak, senyumnya hilang. Aruna pergi dengan ibunya dan tampaknya ibunya akan membicarakan hal serius seperti mengeluhkan perpanjangan semester Aruna lagi.

"Huh, apa sih yang bikin elo iri, Dian? Mending mana, lo gak punya suami trus makan malam sendiri atau punya suami tapi makan malam sendiri?" tanya Kana saat mendapati DIan sedang memukul-mukul pundak Agung yang kebetulan mampir ke ruang para asdos.

"Eh?" Dian tampak bingung menajwab pertanyaan Kana. "Mending gak punya suami trus makan malam sendirian lah," jawabnya kemudian.

"See?" sahut Kana. "Malam ini gue harus makan sendiri. Suami gue lagi dijemput buat ngobrol sama ibu negara!"

Dian dan Agung saling tatap lalu saling terkikik.

"Hahaha, sorry Say. Habisan lo dan Aruna kan couple golas yang terkenal banget. Jadi apa-apa tentang lo dan Aruna tuh selalu bikin greget aja gitu!" kata Dian setelah puas tertawa.

Menghela nafas, Kana sebenarnya tidak terlalu sedih juga harus makan malam sendirian. Ini lebih baik dibanding ia harus makan malam bertiga bersama ibu mertuanya yang tak pernah melirik barang sedetikpun pada Kana. Ibu Aruna masih menilai Kana sebagai orang yang membuat Aruna diluar kendalinya sekaligus mengacaukan rencana keluarga Mahendra.

"Kalian harus tau," ucap Kana. "Gak semua yang kalian lihat romantis itu sempurna, ada banyak konflik di setiap hubungan. Ada perjuangan-perjuangan keras yang dialami setiap orang dalam sebuah hubungan. Jadi intinya, bersyukur aja terhadap apa yang kita jalani sekarang."

Dian mengangguk, lalu berkata dengan ragu, "hm... memangnya lo ada konflik dengan Aruna? Sorry, bukannya kepo. Eh tapi kepo juga sih. You guys looks like two perfect love birds (kalian seperti pasangan sempurna)."

Kana menggantungkan tas punggungnya di satu bahu kanan saja dan bergegas ke pintu. "Entahlah, gue merasa ga ada konflik. Tapi rasanya kaki gue selalu bergetar seolah akan ada gempa dan angin topan yang gue sendiri gak tahu asalnya dari arah mana saja."

Ada hening mengganjal di ruangan yang isinya cuma mereka bertiga itu.

"Ehem!" Agung berdehem. "Kaki lo bergetar karena akan ada gempa dan angin topan atau lo nya lagi lapar, Kan?"

"Pppfft! Hahaha, Iya juga, bener lo Gung!" Kana mendadak tertawa, diikuti oleh Dian. Suasana perlahan mencair.

"Gue bawa motor, lo bawa kan Yan? Kita makan bertiga aja di angkringan Pak Kancil?" ajak Agung.

Dian mengangguk dengan semangat, "boleh! boleh! Yuk Kan!"

Kana mengangguk dan tersenyum. Beruntung ia tidak makan sendirian malam ini. Dan meski hatinya sedikit terhibur oleh Agung dan Dian, ada gusar yang mengerubungi hati Kana. Apa gerangan yang ibu mertuanya itu bicarakan dengan Aruna. Kana mengepalkan tangannya. Di dalam hati, ia berdoa agar Aruna kuat menghadapi ibunya sendiri.

***

Chas dan Aruna duduk di meja bagian ujung ruangan.Keduanya mengawasi dengan serius sebuah meja yang berhawa dingin seolah akan ada perang diantara kedua orang yang menempati kursinya.

Tepat disebrang mereka, duduk Aruna muda dengan tampang gusar dan Ibu Lastri yang melipat tangan di dadanya. Begitu seorang pelayan selesai mengambil pembayaran dari meja itu, Ibu Aruna mengangkat punggungnya untuk duduk tegak.

"Ini!" Lastri membanting sebuah dokumen yang ia ambil dari tasnya ke meja.

Aruna membuang wajahnya, ia sudah tahu dokumen apa itu. Itu adalah skripsinya. Ya, skripsi bab 3 yang tak kunjung berhasil ia revisi.

"Kamu mau mengulur waktu berapa lama lagi Aruna, ini bukan hal sulit untuk kamu selesaikan. mama tahu itu, Mama ini adalah ibumu. Mama tahu kemampuan kamu," kelur Lastri sambil berusaha menjaga nada suaranya.

"Aku juga sudah berusaha, Ma. Tapi memang aku lagi gak bisa fokus! Beri aku waktu untuk menenangkan diri, nanti juga aku akan bisa cepat menyelesaikan semua ini!" jawab Aruna tak kalah sengit. Melihat skripsi yang telah dicoret-coret dimeja makan saja sudah membuatnya segera mual dan ingin memuntahkan makanan yang baru saja ia makan itu.

"Aruna, ini sudah hampir satu tahun kamu melebihi perjanjian untuk lulus tepat waktu. Seharusnya perjanjian 'pendapat bebas' kamu itu sudah tidak berlaku lagi. Ini semua sudah diluar rencana kamu! Sudah diluar kendali kamu, apalagi setelah kamu menikah!" Lastri terpancing amarah, ia tahu sudah memantik emosi Aruna.

"Memangnya kenapa sih dengan pernikahan aku, Ma? Apa yang salah?!" Aruna sudah tak lagi ingin mengtrol kemarahannya.

"Pernikahan kamu. Jadi apa kamu dengan pernikahan itu, hah?"

Aruna bergetar menahan diri, ibunya bisa saja melontarkan keluhan apapun, tapi ia mohon, jangan sampai menyinggung nama Kana, istrinya.

"Kamu jadi mengundur kelulusan kamu. Kerja apa kamu sekarang? Dengan ijzah SMA?! Apa cukup menghidupi rumahtangga kalian?! Kalian begitu kekeuh ingin hidup mandiri, lihat, istri kamu bahkan tetap harus bekerja ini itu juga untuk mencukupi biaya rumah tangga. Lalu bagaimana kamu bisa fokus menyelesaikan kuliah kamu?!"

Lastri sudah siap memuntahkan semua yang ia pendam selama hampir satu tahun ini, "semua sudah Mama dan Papa persiapkan untuk kamu. Aruna, kamu adalah anak satu-satunya Mahendra! Kepada siapa Papa meneruskan perusahaan kita?! Kamu lupa ada Kaliandra dan anaknya yang bersiap menikam keluarga dan bisnis bertahun-tahun yang Papa dan Mama bangun?!"

"Aruna! Lihat Mama!" bentak Lastri saat Aruna memalingkan pandangannya yang penuh kesal.

"Semuanya saat ini sedang kacau, tidak ada yang sedang berjalan dengan baik! Kamu, kuliah kamu, kehidupan istrimu, juga perusahaan dan bisnis kita! Apakah ini yang kamu ingin kan, Aruna?!"

Brak!!

Disebrang sana, Chas hampir saja berteriak kaget. Aruna yang ada bersamanya baru saja menggebrak meja saat Chas sedang fokus menonton perdebatan anak dan ibunya.

"Ayo kita pergi, Chas!" ajak Aruna sambil menarik Chas menjauh dari pertengkaran yang semakin sengit di meja seberang. Ia tak tahan mendengar tuduhan dan rasa penyesalan yang dijejalkan ibunya karena kesalahan-kesalahan dari keputusan yang Aruna ambil.

Rasa itu begitu menyesakkan dan sangat membuatnya putus asa. Ia seperti merasa sedang tak tertolong. Ia terus-menerus dinilai tidak mampu dan gagal. Bahkan Kana, ya... Kana saat itu... hanya bisa menghibur saja, istrinya saat itu bahkan tidak pernah terlihat percaya dan menggantungkan harapan lebih pada suaminya. Semua orang, ya... saat itu, semuanya... menilai Aruna gagal dan tak berguna.

***

 

 

 

1
Mom Dee🥰🥰
gak niat lanjut kah thor?udah setahun aja nih... ceritamu luar biasa bagus loj
Mom Dee🥰🥰
😍😍😍😍
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
keputusan yg bodoh aruna?!melepas untuk bahagia,sampai saat ini q masih mempertanyakan dimana letak kasih sayangnya???bukankah itu justru menyakiti???disaat pasangan ingin bersama kita dan siap menghadapi apapun bersama,sementara kita justru melepas hanya karna merasa tak sanggup membahagiakan.bukankah itu terlihat bullshit?!gak bisa jaga komitmen.
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa sampai sini,q jadi gedeg bnget ma aruna.bener2 labil jadi cwok.belum siap jadi suami sok2 an ngajak nikah,akhirnya jadi suami toxic
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa hati rasanya seperti diaduk aduk ya baca cerita ini??😢
Devi Kartika
bahasanya bagus bgt, kita kyk diajak untuk ikut kedalam cerita
krisbow
bagus baget ceritanya
Senandung Jelita
kpn up thor?
Novita Sari
udah stengah taun thooorr☹️
Novita Sari
dari bab sebelum ini,air mataq g bisa ditahan...sayang ceritanya gak diterusin😔
Just Love It
aduh Thor, jangan patah semangat dong...Aku seneng bgt ama karyamu terutama yg the Bridesmaids secret. serius karyamu keren bgt. sedikit diantara ribuan karya di NT yang aku suka. 😍😍😍
eve
up...up...thor...
Erna Sujan
duuhh Sam kamu di blacklist deh 🙊
ratmie lutfy
menunggu klanjutanya, duh. awal baca nyesek trus, kesini mlah kocak. 😂
ratmie lutfy
aku suka alur mundur.. nyeseknya itu brasa bgt
OFF
Masih meraba alurnya..dibaca pelan dan diresapi...
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Siti Halimah
hadeee
🍭aiNa_SAN🦭
kasiiiian nya kana
Tri Dikman
Baru tau ada novel baru thor

Mulai baca
eve
novel kak ayy ini menyayat hati menguras emosi, masih kental dalam ingatan berdeau nya air mata maya di tinggal nikah ikhsan, lahh ini, 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!