Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"Dasar aneh." gerutu Lisa memandangi kepergian Risky.
"Hay Lis, ngapain bengong disini bukannya masuk." Ucap Vika yang tiba-tiba datang.
"Kamu ih ngagetin aja." Jawab Lisa.
"Lagian kamu ngapain malah bengong disini?" tanya Vika lagi karna tadi belum dijawab.
"Tuh si Risky ga jelas, dia ngajak ketemuan nanti di cafe deket kampus." Jawab Lisa.
"Cie cie,,, dia pasti mau nembak kamu Lis." goda Vika.
"Apaan sih Vik, nggak ih, lagian kan dia sudah tau kalau aku ga suka sama dia." Jawab Lisa.
"Ya itu kan menurutmu Lis, kalau dia kan pasti akan selalu berusaha membuat kamu jadi suka hehehe," ucap Vika sambil cengengesan.
"Udahlah ga usah di bahas, ayo kita masuk." Ujar Lisa.
Mereka berdua masuk ke ruangan. Sela Aulia dan Rere juga sudah berada di dalam. Mereka menerima tugas dari dosen dan mulai mengerjakannya.
Setelah usai, Rere mengajak teman-temannya ke kantin.
"Ke kantin yuk geng,," ajak Rere.
"Ayo." jawab yang lain bersamaan.
Mereka berlima berjalan menuju kantin dan sampai di kantin mereka memilih menu makanan masing-masing.
Setelah makanan yang di pesan di hidangkan mereka segera menikmatinya, tak ada yang bersuara saat acara makan sedang berlangsung.
Kemudian ada nada notifikasi pesan di layar ponsel Lisa.
"Jangan lupa nanti jam satu ya sayang." isi pesan dari Risky.
"Apaan ini sayang-sayangan, bikin il fiel aja." Ucap Lisa dalam hati. Dia tidak membalas pesan dari Risky dan langsung mengunci lagi ponselnya.
Risky yang sedari tadi memandangi Lisa dari kejauhan hanya tersenyum.
"Kamu pasti akan aku dapatkan Lis." ucap Risky bicara sendiri.
.
.
.
Dimas.
Saat adzan dhuhur berkumandang, Dimas bangun dari tidur siangnya, dia beranjak dari kamarnya menuju kamar mandi. Dimas membersihkan dirinya dan kemudian mengambil air wudhu.
Setelah selesai Dimas masuk ke kamarnya dan melaksanakan sholat dhuhur sendirian. Selesai sholat, Dimas teringat akan mulai mencari lowongan pekerjaan hari ini.
Dimas keluar dari rumahnya dan mengendarai motornya untuk mencari tempat yang sedang membutuhkan karyawan.
Dimas sampai di suatu tempat, di sana tertulis di depan jendela ada lowongan pekerjaan. Dimas menanyakan kepada salah satu karyawan di sana.
"Assalamu'alaikum, mba apakah disini masih membutuhkan karyawan?" tanya Dimas sopan.
"Wa'alaikumsalam, iya mas masih ada lokernya, masukin aja lamarannya. Maaf kalau boleh tau ijazah mas apa? disini lagi yang dibutuhkan karyawan berijazah S1." Ucap karyawan di sana.
"Oh gitu ya mba, ya udah saya permisi dulu saja." jawab Dimas.
Dimas kembali mengendarai motornya. Kini Dimas berhenti si sebuah cafe.
"Semoga disini lagi ada loker, bismillah." Ucap Dimas dalam hati.
Saat hendak melangkahkan kakinya ke dalam cafe, Dimas melihat seseorang yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
"Bidadari itu, ternyata dia sudah punya kekasih." gumam Dimas pelan.
"Lagian kenapa aku merasa ga rela gini dia deket sama cowo lain, emang siapa aku? ya Allah kenapa hati ini merasa sakit?" Lanjut Dimas masih bicara dalam hati.
Dimas langsung masuk tanpa melihat ke arah Lisa yang duduk de depan seorang lelaki. Dan Dimas menanyakan loker kepada karyawan di sana.
"Assalamu'alaikum mba, apakah di sini ada lowongan pekerjaan?" tanya Dimas sopan.
"Wa'alaikumsalam, maaf mas disini sedang tidak membutuhkan karyawan mas." jawab karyawan di cafe itu.
"Ya sudah terima kasih mba." Ucap Dimas lalu berjalan keluar cafe.
Saat berbalik badan dimas melihat Lisa yang juga sedang melihatnya, dan mata mereka beradu.
Deg deg deg
Jantung dimas serasa berhenti berdetak. Lisa juga merasakan hal yang sama. Risky yang melihat semua itu langsung menggenggam tangan Lisa.
"Lis," Ucap Risky.
Dimas yang melihat itu langsung keluar dari cafe, dia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Lisa melepaskan genggaman tangan Risky.
"Apaan sih ris, cepetan kamu mau ngomong apa? aku ga ada banyak waktu." Ucap Lisa sinis.
"Jangan gitu dong Lis, sebenernya aku..." Ucapan Risky menggantung.
"Aku apa? cepetan, 10 menit lagi aku ada acara." Ujar Lisa ketus.
"Lis, kamu tau kan dari dulu aku suka sama kamu. Aku mohon terima cintaku Lis," ucap Risky sambil memberikan bunga mawar untuk Lisa.
"Ris..." ucap Lisa terpotong.
"ya sayang." Jawab Risky.
"Apaan ih sayang-sayang." Ujar Lisa kesal.
"Ech maaf Lis keceplosan." Ujar Risky sambil tersenyum malu.
"Ris, aku juga suka sama kamu, selama ini kamu baik sama aku, kamu juga perhatian sama aku," mendengar kata Lisa itu Risky tersenyum penuh kebahagiaan.
"Tapi suka aku ke kamu hanya sebatas teman ris, ga lebih. Kamu baik ris, aku yakin di luar sana masih banyak wanita yang pantas mendapatkan cinta kamu." Ujar Lisa.
Mendengar ucapan terakhir Lisa, senyum Risky pudar. Wajah risky langsung berubah, dia sangat sedih mendengar penolakan halus dari Lisa. Berkali-kali Risky mengungkapkan cintanya, berkali-kali pula Lisa menolaknya.
"Lis, apa kurangnya aku di mata kamu? kenapa kamu selalu menolakku Lis? kenapa?" Ujar Risky penuh penekanan.
Lisa tersenyum,
"Riis,, kamu baik, kamu kaya, kamu juga lumayan ganteng, tapi semua itu bukan jadi ukuran untuk sebuah cinta Ris. Bukannya masalah hati itu tak bisa di paksakan? maafkan aku Ris, selama ini aku menganggap kamu sama seperti yang lainnya, kamu temen aku Ris, dan akan selamanya menjadi temenku, maafkan aku Ris, aku ga bisa membalas cinta kamu." jelas Lisa panjang lebar.
"Tapi kenapa Lis? aku sangat mencintaimu, dengan apa aku harus membuktikannya? apapun akan aku lakukan Lis." Ucap Risky dengan wajah memelas.
"Ris, aku berterima kasih karna cinta kamu, karna ketulusan kamu, tapi maaf, untuk hati aku ga bisa di paksakan untuk menerima kamu, maafkan aku Ris," Ujar Lisa lagi.
Risky hanya terdiam, dia sangat sedih dengan penolakan Lisa yang kesekian kalinya.
"Maaf ris aku harus pulang, sopirku sudah menunggu diluar, aku duluan ya," Ujar Lisa lagi sambil berdiri lalu berjalan meninggalkan riysky yang masih enggan untuk berdiri maupun berbicara lagi.
Lisa keluar dari cafe dan berjalan menuju mobil yang sudah di buka oleh pak Mamat.
"Langsung pulang ya pak." Ujar Lisa saat sudah di dalam mobil.
"Iya non." Jawab pak Mamat saat sudah bersiap di belakang kemudi.
Di perjalanan Lisa hanya diam sambil memainkan ponselnya. Di sana ada notifikasi pesan dari mamanya.
"Sayang, lagi dimana? kog belum sampai rumah?," isi pesan mama Ita.
"Ini lagi jalan pulang mah, tadi mampir di cafe sebentar, ada temen ngajak ketemu." Balas Lisa.
"Ya udah sekarang langsung pulang ya, mama tunggu dirumah," Pesan mama Ita lagi.
"Iya mah, mamah mau nitip sesuatu?" balas Lisa.
"Ga ada sayang, mamah lagi ga pengen apa-apa, kamu hati-hati ya dijalan." Pesan mama Ita.
"Iya mah," Balas Lisa.
Lisa kemudian mengunci lagi ponselnya.
**kalian tau kan harus apa biar author semangat??🤭🤗 vote dan komen, jangan lupa like juga ya,,dan klik favorit 😘