Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Menjual berlian
Saat di kanti beberapa pasang mata tertuju ke meja Nova, Aruna yang merasakan orang-orang sedang memperhatikan meraka berbisik kepada Kinan yang berada di sampingnya.
“Orang-orang kenapa memperhatikan meja ini?” bisik Aruna.
Kinan mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Aruna dan menjawab.
“Mereka memperhatikan Nova, bukan kita,” jawabnya.
Sementara Nova hanya duduk dengan santai sambil meminum es teh di tangannya. Tanpa di sadari semua orang sebenarnya ia memperhatikan suasana di sekitarnya. Terlebih ke arah meja dimana Ethan dan yang lainnya sedang duduk, dan memperhatikannya.
“Siapa mereka sebenarnya?” batin Nova.
***
Di perjalanan pulang, saat Nova sedang berjalan menuju ke rumahnya sebuah mobil berjenis jeep berhenti di dekatnya. Nova berhenti sejenak dan memperhatikannya.
Tak lama setelah itu, turunlah dua pemuda laki-laki dan dua gadis perempuan yang menggunakan seragam yang sama dengannya.
“Nova, sebaiknya ikut dengan kami,” ucap Ethan sambil berjalan ke arahnya.
Nova mengernyitkan kening dan memindai ke empat orang di hadapannya itu, ia sedikit curiga namun berusaha tak menunjukan reaksi apapun.
“Aku tidak kenal dengan kalian, lagi pula ikut kemana? Ku tidak memiliki waktu,” ucapnya sambil melangkah meninggalkan mereka.
Pemuda yang berada di sebelah Ethan kesal dan langsung menarik bahu Nova dengan paksa, hal itu membuat aura Nova meningkat drastis lengannya refleks menepis tangan pemuda itu dan membuatnya terdorong beberapa langkah.
“Beraninya kau!” bentak pemuda itu.
Sementara Nova hanya diam tanpa ekspresi apapun, dia berdiri dengan tenang sambil menatap keempatnya.
“Aku tidak ingin mencari masalah dengan kalian,” ucapnya sambil membalikkan badan dan melangkah pergi.
Satu gadis langsung menahan Nova dengan kemampuannya, hingga Nova langsung terdiam dan sedikit bereaksi.
“Kenapa badanku sulit bergerak?” gumamnya.
Terdengar tawa dari Ethan dan yang lainnya, namun tawa itu tidak berlangsung lama saat Nova membalikkan tubuhnya dan membuat gadis yang sedang mengulurkan tangannya terdiam membeku saat merasakan sesuatu mencekik dirinya.
Nova menatap tajam gadis itu, dan membuat yang lainnya panik.
“Cukup! Hentikan!” teriak gadis yang satunya.
Nova pun menarik kembali energinya, lalu menatap ke arah gadis itu.
“Maaf, kami hanya berusaha mengajakmu untuk menemui nona kami,” ucapnya.
Nova menyipitkan matanya, walau ia penasaran siapa yang ingin bertemu dengannya ia hanya diam dan tak merespon apapun.
“Maafkan kami, kami tidak bermaksud untuk mengusikmu. Jadi bagaimana? Apa kau akan ikut dengan kami?” lanjut si gadis.
Nova menghela napasnya dan menjawab dengan tenang.
“Maaf aku tidak ada waktu, aku harus berlatih.”
Nova membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa ada yang menahannya lagi. Ethan menjadi terdiam bergitu kekuatan Eveline di patahkan oleh pemuda yang belum mereka ketahui identitas sebenarnya.
“Kita harus mengajaknya dengan cara lain, kita tidak bisa memaksanya,” ujar Calista.
Ethan mengangguk paham, sementara Darius hanya diam menahan rasa kesalnya.
***
Nova berjalan dengan banyak pertanyaan di kepalanya setelah bertemu ke empat remaja seusianya tadi. Ia jadi berpikir, apakah mereka kultivator yang sama dengannya atau manusia dengan kekuatan yang berbeda.
Sebaiknya aku tanyakan kepada Zira.
Saat sampai di rumahnya, Nova terkejut. Karena mendapati Zira sedang duduk dan membaca buku koleksinya.
Zira yang menyadari kedatangan Nova hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus membaca buku yang ada di tangannya.
“Kau bertemu dengan mereka?” tanya Zira.
Nova mengernyitkan kening, saat mendengar pertanyaan itu.
Mereka? Jangan-jangan dia mengawasiku.
“Kau mengawasiku?” tanya Nova.
Zira mengangguk dan menjawab tanpa menoleh.
“Yaa, karena khawatir jika kau tak bisa mengendalikan kekuatan mu itu.”
Nova hanya terdiam, kemudian ia melihat ke arah pintu kamar yang masih terbuka dan langsung menutupnya.
“Kenapa kau ada disini, bagaimana jika ibu melihatmu?” ucap Nova dengan nada yang terdengar cemas.
Zir menoleh sesaat lalu, menyimpan buku milik Nova ke atas meja kecil di samping ranjang.
“Tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang menyadari kehadiranku...” ucapnya sengaja menjeda kalimat dan menoleh ke arah Nova. “Apa kau akan ikut?” lanjutnya.
Nova menggelengkan kepalanya pelan, lalu menunjukan batu berlian yang ia ambil dari ruang dimensi.
“Tidak, aku akan menjual ini terlebih dulu. Aku sudah memiliki janji dengan Aruna, jadi aku akan pergi menjual berlian ini,” jawabnya. “Aku akan ke menyusulmu nanti.”
Zira hanya diam, kemudian ia melambaikan tangan dan sebuah portal dimensi terbuka, ia pun masuk perlahan disusul portal itu tertutup rapat.
Sementara Nova bersiap untuk pergi, karena dia akan di jemput oleh Aruna ke rumahnya.
Tak berselang lama, setelah Nova siap mobil Aruna sudah berada di depan rumah Nova. Ibunya Ratih hanya mengetahui bahwa Nova akan belajar bersama Aruna, tanpa ia tahu bahwa Nova mungkin akan menyiapkan kejutan, untuk mengubah nasib kehidupannya bersama sang ibu.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Aruna.
Nova mengangguk.
“Tentu saja aku siap.”
Setelah itu, si sopir pun memacu mobilnya perlahan dan menuju tempat yang akan di tunjukan oleh Aruna, dimana keluarganya memiliki sebuah bisnis yang bergerak di bidang perhiasan dan banyak lagi.
“Memangnya apa yang akan kamu jual, Nova?” tanya Aruna berusaha memecah keheningan yang ada.
Nova sejenak terdiam, ia sempat ragu namun lambat laun Aruna juga akan tahu meskipun dia menyembunyikan maksud dan tujuannya.
“Aku akan menjual berlian ini,” jelasnya sambil menunjukan batu berlian sebesar kepalan tangan itu.
Sontak si sopir dan Aruna terkejut, dan membuat mobil itu berhenti mendadak.
“APA?!” seru Aruna dan si sopir bersamaan.
“Sebesar ini?” lanjut Aruna.
Nova hanya mengangguk tanpa memberikan kejelasan apapun, tujuannya cukup satu yaitu memberikan kebahagiaan untuk ibunya.
“Iyaa, memangnya kenapa?” tanga Nova.
Aruna refleks menelan ludahnya, begitupun dengan si sopir ia hanya bisa memperhatikan batu berkilauan itu dari kejauhan.
“Jika benar ini berlian, harganya akan sangat mahal. Dan tentu saja batu ini akan memakan proses yang lama, beratnya saja mungkin sekitar satu kilo,” ujarnya.
Pak Agus si sopir langsung membelalakan matanya dengan mulut ternganga. Baru kali ini ia melihat batu berlian yang sangat besar tepat di depan matanya.
“B-benar kah itu?” tanya Nova mencoba memastikan.
Aruna mengangguk pelan.
“Benar, sebaiknya kita cepat. Sebelum ada yang melihat ini, sangat berbahaya.”
“Pak Agus ayo kita lanjutkan perjalanan kita.”
“Baik, Non.”
Sementara Nova masih memperhatikan batu berlian yang ia sengaja bawa dari ruang dimensi, untuk mengetahui keasliannya itu.
Aruna terlihat sedang menelpon seseorang, dan segera menyuruh orang di sebrang telpon untuk segera mendatangi toko yang akan di kunjunginya bersama Nova.
Tak perlu waktu lama, akhirnya mobil yang di kendarai mereka sampai di sebuah toko yang terlihat cukup ramai dan megah.
Mereka semua turun, beberapa orang langsung menyambut Aruna sambil menunduk hormat.
“Apa itu kekasihnya non Aruna?” bisik salah satu pegawai kepada teman di sebelahnya.