NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:32.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

"Gue tahu apa yang loe pikirin. Berhenti masang muka kayak kucing kehujanan gitu, makin jelek."

Teng!

Suara kunci pas yang dihantamkan ke atas meja kerja besi bergema di seantero bengkel tua itu. Bau oli, bensin, dan karat menyengat indra penciumanku, memberikan sensasi nyata yang jauh lebih baik daripada aroma kebohongan di rumah Maheswari. Bara berdiri di sana, menyeka tangannya yang belepotan oli hitam dengan kain kusam, tanpa sedikit pun menoleh ke arahku yang sedang duduk meringkuk di atas ban mobil bekas.

"Semua orang bilang aku gila, Bara," bisikku, suaraku parau. "Mama, Papa, bahkan Alvaro... mereka bilang aku punya kelainan mental yang bikin aku terobsesi jadi Airin. Kalau dunia aja nggak percaya sama aku, kenapa loe bisa seyakin itu kalau Airin yang jahat?"

Bara menghentikan kegiatannya. Ia melempar kain kusam itu ke sembarang arah, lalu melangkah mendekat. Di bawah sinar lampu bohlam yang berkedip-kedip, wajahnya yang tegas tampak semakin intimidasi. Ia berjongkok di depanku, membuat pandangan kami sejajar. Mata liarnya menatapku tajam, seolah sedang membedah setiap inci kejujuran di dalam jiwaku.

"Bapak gue selalu bilang, jangan pernah percaya sama air mata cewek, tapi percaya sama bekas luka di tangannya."

Bara meraih pergelangan tanganku dengan kasar namun hati-hati. Ia membalik telapak tanganku, memperlihatkan kapalan tipis di ujung jari dan bekas luka tusukan jarum yang masih baru—hasil dari kerja paksa menjahit gaun untuk Airin setiap malam.

"Air mata itu gratis, Aira. Siapa pun bisa akting nangis kalau tujuannya dapet simpati. Tapi luka? Luka nggak pernah bohong soal siapa yang kerja keras dan siapa yang cuma jadi parasit," desis Bara. Ia melepaskan tanganku, lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah laci besi tua yang berkarat di sudut bengkel.

Ia menarik sebuah map cokelat yang tampak lusuh, lalu melemparkannya ke pangkuanku.

"Apa ini?" tanyaku bingung.

"Laporan medis loe selama sepuluh tahun terakhir, data nilai sekolah loe dari SD, sampai catatan kunjungan psikolog yang diklaim nyokap loe itu." Bara menyalakan sebatang rokok, asapnya mengepul tipis di antara kami. "Gue penyelidik yang baik, Ra. Gue nggak bakal naruh nyawa gue buat bela orang yang emang beneran gila."

Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada salinan dokumen yang seharusnya sangat rahasia.

"Catatan psikolog ini... kosong?" aku terbelalak melihat lembaran demi lembaran yang menyatakan bahwa Aira Maheswari tidak pernah menghadiri sesi terapi apa pun, bertolak belakang dengan klaim Mama bahwa aku rutin berobat karena gangguan identitas.

"Kosong, karena loe emang nggak pernah dibawa ke sana. Nyokap loe cuma bayar orang buat bikin surat keterangan palsu biar kalau ada apa-apa, loe punya label 'gila' di dahi loe. Dan soal data sekolah? Nilai loe selalu lebih tinggi dari Airin sebelum akhirnya loe dipaksa buat ngalah dan ngasih jawaban loe ke dia," Bara menjelaskan dengan nada datar, namun setiap kalimatnya terasa seperti bom yang menghancurkan dinding kebohongan yang selama ini menghimpitku.

Aku menutup map itu, dadaku sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Selama ini aku berteriak sampai serak, tapi tidak ada yang mendengar. Lalu datanglah cowok berandalan ini, yang diam-diam telah mengumpulkan serpihan kebenaranku di saat aku sendiri sudah hampir menyerah.

"Kenapa loe mau repot-repot ngelakuin ini buat aku?" tanyaku pelan, menatap punggung tegapnya yang dibalut jaket kulit hitam yang legendaris itu.

Bara tidak menjawab. Ia justru menatap ke arah luar bengkel, ke arah jalanan yang gelap dan basah oleh sisa hujan. "Gue nggak suka liat orang pinter dikalahin sama orang licik. Itu aja."

Hening sejenak. Aku teringat sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak malam di rumah sakit itu. "Bara..."

"Hm?"

"Waktu itu... waktu ibu loe sekarat dan loe sendirian cari biaya pengobatan di depan RS... di mana ayah loe? Kenapa dia nggak ada di samping kalian?"

Pertanyaanku seolah membekukan udara di dalam bengkel. Punggung Bara menegang. Tangannya yang sedang memegang rokok berhenti di udara. Perlahan, ia memutar tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi liar, kini berubah menjadi gelap pekat—seperti sumur tanpa dasar yang menyimpan dendam ribuan tahun.

Ia tidak langsung bicara. Ia justru menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang asapnya dengan kasar.

"Ayah gue?" Bara tertawa hambar, sebuah suara yang lebih mirip geraman serigala yang terluka. "Dia sibuk ngebangun istananya di atas tangisan nyokap gue. Dia orang hebat, Aira. Terlalu hebat sampai nggak punya tempat buat anak berandalan kayak gue."

"Maksudnya?"

Bara melangkah mendekat, auranya mendadak menjadi sangat dingin hingga aku menggigil tanpa sadar. Ia meletakkan tangannya di atas kepalaku, mengacak rambutku dengan cara yang kasar namun entah kenapa terasa melindungi.

"Ada hutang yang harus dia bayar ke gue dan nyokap. Hutang yang nggak bisa lunas pake duit," bisik Bara, suaranya rendah dan sarat akan ancaman. "Nanti loe bakal tahu siapa dia. Tapi bukan sekarang."

"Apa dia orang yang aku kenal?" tanyaku lagi, instingku mengatakan ada sesuatu yang sangat besar di balik identitas ayah Bara.

Bara menyeringai dingin, sebuah ekspresi yang membuatku menyadari bahwa cowok di depanku ini jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat di sekolah. "Mungkin. Atau mungkin dia adalah orang yang selama ini loe puja sebagai pahlawan."

Aku tertegun. Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan misteri baru yang membuat kepalaku berdenyut. Siapa ayah Bara? Dan apa hubungannya dengan semua drama ini?

"Udah malem. Ayo pulang, sebelum nyokap tiri loe itu nyari alasan lagi buat ngunci loe di gudang," ajak Bara, ia menyambar kunci motornya yang tergeletak di meja.

"Bara, tunggu," aku menahan lengannya. "Terima kasih. Buat semuanya. Terutama karena sudah percaya sama bekas luka di tanganku, bukan air mata di mataku."

Bara menatapku lama, lalu ia membuang muka, mencoba menyembunyikan sedikit kilatan lembut di matanya yang keras. "Jangan banyak omong. Naik ke motor atau gue tinggal."

Aku tersenyum tipis—senyum tulus pertama setelah sekian lama. Aku berjalan mengekor di belakangnya, menatap punggung lebar yang seolah sanggup memikul beban dunia itu. Di balik jaket kulit hitamnya, aku tahu ada hati yang jauh lebih hancur dari miliku, namun ia tetap memilih untuk menjadi perisai bagiku.

Malam itu, di antara deru mesin motor dan angin yang menusuk, aku menyadari satu hal. Kebenaran mungkin sedang tertidur, tapi Bara Galaksi adalah alarm yang siap membangunkannya dengan cara yang paling brutal. Dan aku, tidak sabar untuk melihat dunia Airin hancur berkeping-keping di bawah kaki cowok ini.

1
Sonya Nada Atika
paling sebel kl bc novel udah mulai kembali klr LG antgonis...mirip tersanjung....mulek males jadinya
Yuli Yulianti
ayo bara jgn bodoh cari tau jgn sampai kamu kehilangan Aira gara gara salah paham
Allea
duhhh kamu mulai ngetik kebodohan mereka ka ga kelar2 dong 😁😁😁
Aletheia: harus masuk akal kak, bagaimana mungkin ada anak yg ditampung keluarga Dirgantara yg mana di buang keluarganya sendiri tanpa dukungan apa2,pastinya banyak orang2 yg akan iri sama hubungan mereka,dan ini masuk akal ya setiap hubungan pasti ada rintangan 🙏
total 1 replies
Ma Em
Wah pak Prasetya ditantang Aira untuk melakukan tes DNA malah kabur , berarti benar Aira bkn anaknya pak Prasetya .
Allea
kalo lo ga bongkar kebusukan si airin trus kpn bales kebusukannya ,enak si airin dong aman2 bae 😁
Salwa Blora
kak lantoot semangat kak😁😁
M ipan
semangat ya💪
Aletheia: thanks, atas komen dan like nya kak👍
total 1 replies
Ma Em
Prasetya , Ratna dan Airin kenapa selalu jadi duri dlm setiap ada kegiatan atau acara yg Aira adakan , kapan Prasetya , Ratna juga Airin akan dapat karmanya dan membiarkan Aira hdp bahagia tanpa diganggu ketiga iblis berbentuk manusia ini , semoga kebohongan Airin segera diketahui Alvaro bahwa anak yg dikandung Airin bkn darah daging Alvaro tapi benih dari tuan Burhan .
Aletheia: terimakasih kak atas komennya,bisa tulis di rating ya kak terus kesan novelnya di disana🤭
total 1 replies
Tetii Riiani
ceritanya seru n gak bertele tele
Aletheia: thanks kak atas ratingnya, semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
Rinrin Novani
sangat bagus
Aletheia: terimakasih kak atas ratingnya semoga sehat selalu dan lancar rejekinya 🙏
total 1 replies
andi tahang
lanjutyy
Ma Em
Semoga secepatnya Aira menikah dgn Bara jgn ditunggu lama lagi karena terlalu banyak orang yg akan menghancurkan Aira .
Ma Em
Aira kamu berani melawan dan hilangkan rasa trauma kamu Aira dan jgn sampai kamu tertipu oleh bapakmu , ibumu juga Airin yg licik itu mereka hanya mau memanfaatkan kamu Aira , Aira jgn terlalu senang dulu dgn modal yg diberikan pak Darmawan karena ada Alvaro yg sdh mengincar dan akan membuat usaha Aira gagal , Aira hrs hati hati jgn sampai lengah .
Aletheia: thanks ya kak udah komen,minta ratingnya karena besok mau up banyak
total 1 replies
Allea
sebenarnya Aira itu tangguh ga sih 😁
Ma Em
Ada hubungan rahasia antara Prasetya dgn tuan Galaksi tentang Aira yg selalu dikurung didalam gudang bawah tanah , apakah Aira bkn anak kandung pak Prasetya , tapi aku agak kecewa pada Aira sepertinya Aira msh suka pada Alvaro setelah Alvaro menyakiti dan selalu menghina Aira tetapi Aira diam saja saat dipeluk Alvaro , hati2 Aira kamu jgn mengecewakan Bara karena Bara yg sdh menolong mu dan mengangkat derajatmu sehingga jadi desainer yg hebat jadi lupakan Alvaro itu cuma masa lalu yg menyakitkan Aira jgn luluh dgn Alvaro .
Yeni Astriani
Alvaro sungguh pria tidak tahu malu dan gak punya harga diri sama sekali
Ma Em
Aira lawan jgn takut lagi sama Airin juga ibumu kasih pelajaran untuk Airin juga ibumu agar kapok dan tdk akan mengganggu Aira lagi , masa Aira sdh jauh2 belajar di Milan msh bisa ditekan dan diancam sama Airin .
Ma Em
Bagus Aira kamu jgn lupakan pengorbanan Bara yg sdh menolong dan menjadikan Aira designer yg handal , biarkan Alvaro menyesal karena kebodohan nya , mau tau juga bagaimana nasibnya Airin juga bapak dan ibunya , manusia sombong dan pilih kasih pada anak sendiri bagaimana kehidupan nya sekarang setelah ditinggalkan Aira .
Ma Em
Aira lupakan Alvaro masa kamu msh mau menerima Alvaro lelaki yg selalu menghina dan merendahkan kamu , ingat Aira kamu sdh diangkat derajatmu sama Bara dan sekarang sdh jadi designer yg hebat disekolahkan di Milan ingat itu Aira jgn melupakan jasa Bara hanya karena lelaki teman masa kecilmu yg sdh melupakanmu Aira , jgn sampai jadi manusia yg tdk bisa balas budi .
partini
dah ada filing akan macam ini ,, teringat novel th 2018 tapi luka karya siapa gitu di NT
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas
Aletheia: haha,tunggu aja ya kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!