NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Clara duduk di tepi kasurnya sambil memandangi amplop putih berisi uang dari ayahnya. Sudah hampir satu jam amplop itu berada di tangannya, tetapi pikirannya masih terus dipenuhi kecemasan. Di atas meja kecil dekat jendela sudah ada catatan pengeluaran yang ia tulis sejak beberapa hari terakhir. Ongkos bus, makan, kebutuhan mandi, sampai biaya ojek online yang ternyata jauh lebih mahal daripada yang selama ini ia bayangkan. Hidup mandiri benar-benar seperti ditampar wajan panas. Manusia kaya baru sadar harga cabai setelah harus beli sendiri. Tradisi klasik kehidupan.

Clara menghela napas panjang.

“Lima juta…” gumamnya pelan. “Kalau salah pakai sedikit saja bisa habis sebelum gajian.”

Ia menatap langit-langit kontrakan kecilnya. Tempat itu memang bersih, tetapi jauh berbeda dibanding kamar luas di rumah ayahnya. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada lemari besar, bahkan kamar mandinya hanya cukup untuk satu orang berdiri.

Namun anehnya, Clara mulai terbiasa.

Ia mengambil ponsel lalu membuka kontak Desti. Jarinya sempat ragu sebelum akhirnya mengetik pesan.

“Aku mau ke rumahmu. Ada yang ingin aku tanyakan.”

Balasan datang cepat.

“Datang saja. Ibu juga di rumah.”

Clara langsung berdiri dan mengambil tas kecilnya. Beberapa menit kemudian ia sudah berada di atas ojek online menuju rumah Bu Suci yang hanya terpisah dua gang dari kontrakannya.

Sepanjang perjalanan Clara memperhatikan jalanan sekitar. Anak-anak kecil bermain sepeda di pinggir jalan, ibu-ibu mengobrol di depan rumah, dan pedagang gorengan sibuk melayani pembeli. Dulu ia tidak pernah benar-benar melihat kehidupan seperti ini. Mobil pribadinya selalu membawa dirinya melewati semuanya tanpa sempat memperhatikan.

Begitu ojek berhenti, Clara turun perlahan.

Rumah Bu Suci terlihat cukup besar dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman bunga dan beberapa pot cabai. Tidak semewah rumah ayahnya, tetapi terasa hangat dan hidup.

Clara berjalan menuju pintu lalu mengetuknya pelan.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan Desti muncul dengan kaus rumahan serta rambut yang diikat asal.

Desti tampak terkejut.

“Kak Clara?”

Clara tersenyum kecil. “Kaget aku datang, ya?”

“Lumayan mengejutkan,” jawab Desti sambil tertawa kecil. “Biasanya Kak Clara lebih akrab sama restoran mahal dibanding rumah orang.”

Clara langsung salah tingkah.

“Itu dulu.”

Desti memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lembut.

“Masuk dulu.”

Clara melangkah masuk. Rumah itu terasa nyaman dengan aroma masakan yang samar dari arah dapur.

“Jadi ada perlu apa?” tanya Desti sambil menutup pintu.

Clara duduk perlahan di sofa ruang tamu.

“Aku mau minta tolong.”

“Aku serius. Aku mau belajar mengatur uang.”

Ekspresi Desti langsung berubah serius.

“Memangnya uang gaji kakak kurang?”

“Belum kurang,” jawab Clara cepat. “Tapi aku takut habis sebelum gajian.”

Desti mengangguk pelan lalu berteriak ke arah belakang rumah.

“Ibu! Ada Kak Clara!”

Suara langkah kaki terdengar dari arah halaman belakang.

Namun sebelum Bu Suci muncul, Doni justru keluar dari lorong sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Pria itu tampak baru selesai mandi dan langsung berhenti begitu melihat Clara duduk di ruang tamu.

Doni terlihat benar-benar kaget.

“Clara?”

Clara langsung canggung.

“Maaf kalau mengganggu.”

Doni menatap adiknya. “Ada apa?”

Belum sempat Clara menjawab, Desti langsung menunjuk halaman belakang.

“Kakak belum selesai bersihin rumput, kan?”

Doni mengernyit. “Nanti juga bisa.”

“Tidak bisa. Ibu bilang hari ini harus selesai.”

Doni menghela napas panjang. “Kalian kompak sekali mengusir orang.”

“Pergi sana,” sahut Desti santai.

Doni melirik Clara sebentar sebelum akhirnya berjalan ke belakang rumah sambil membawa sarung tangan kebun.

“Kalau ada tamu penting bilang saja,” gumamnya.

“Bukan tamu penting,” balas Desti cepat. “Ini manusia yang sedang belajar jadi rakyat biasa.”

“Desti!” protes Clara malu.

Desti malah tertawa keras.

Tak lama kemudian Bu Suci datang sambil membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng.

“Clara datang?” katanya ramah. “Kenapa tidak bilang dari tadi?”

Clara langsung berdiri sopan.

“Maaf mengganggu, Bu.”

“Duduk saja. Anggap rumah sendiri.”

Clara tersenyum kecil lalu kembali duduk.

Bu Suci ikut duduk di kursi depan Clara.

“Jadi ada apa?”

Clara tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berbicara jujur.

“Saya mau minta tolong soal mengatur uang, Bu.”

Bu Suci memperhatikan Clara dengan tenang.

“Ayah saya memberi uang lima juta untuk bertahan sampai gajian. Awalnya saya pikir banyak, tapi setelah dihitung ternyata pengeluaran saya besar sekali.”

Bu Suci mengangguk pelan.

“Itu karena selama ini kamu tidak pernah benar-benar menghitung kebutuhan sehari-hari.”

Clara hanya bisa mengangguk malu.

“Saya baru sadar hidup ternyata mahal.”

“Bukan mahal,” sahut Desti sambil mengambil pisang goreng. “Kak Clara saja yang dulu hidup seperti putri kerajaan.”

Clara mendelik kesal.

Bu Suci tersenyum tipis.

“Pengeluaran terbesar biasanya makan,” katanya tenang. “Kalau mau hemat, masak sendiri.”

Clara langsung terlihat bingung.

“Masak sendiri?”

“Iya.”

“Tapi saya tidak bisa masak.”

“Belajar.”

“Saya bahkan tidak bisa masak nasi.”

Desti langsung tertawa sampai hampir tersedak teh.

“Serius?”

Clara menunduk malu.

“Di rumah tinggal makan.”

“Ya ampun,” gumam Desti. “Benar-benar manusia premium.”

Clara memukul lengan Desti pelan.

Bu Suci justru terlihat santai.

“Tidak bisa itu biasa. Yang penting mau belajar.”

Clara tampak sedikit lega.

“Tapi saya juga tidak punya penanak nasi atau kompor.”

Desti langsung menepuk tangannya.

“Aku punya!”

Clara dan Bu Suci langsung menoleh padanya.

“Rice cooker waktu aku kost masih ada,” lanjut Desti. “Masih bagus. Kompor satu tungku juga ada di gudang.”

Mata Clara langsung berbinar.

“Benarkah?”

“Iya. Daripada berdebu dimakan laba-laba.”

Clara terlihat sangat senang.

“Terima kasih…”

“Jangan senang dulu,” kata Desti cepat. “Masalah berikutnya, Kak Clara tidak tahu cara pakainya.”

Clara langsung diam.

Itu benar juga.

Bu Suci tertawa kecil melihat ekspresi Clara yang langsung panik lagi.

“Nanti saya ajarkan.”

Clara langsung menatap Bu Suci penuh harapan.

“Benarkah, Bu?”

“Iya. Masak itu bukan bakat lahir. Semua orang belajar.”

Clara tersenyum lebar untuk pertama kalinya sejak datang.

“Kalau begitu ajarkan saya sekarang.”

Desti langsung tertawa.

“Semangat sekali.”

“Sebelum saya berubah pikiran,” jawab Clara cepat.

Bu Suci berdiri sambil tersenyum.

“Baiklah. Kita mulai dari yang paling dasar.”

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju dapur.

Dapur rumah Bu Suci tidak besar, tetapi sangat rapi. Semua bumbu tersusun dalam rak kecil dan aroma bawang goreng memenuhi ruangan.

Clara berdiri kikuk di depan meja dapur seperti murid baru hari pertama sekolah.

Bu Suci mengambil beras dari wadah besar.

“Pertama, cuci beras.”

Clara langsung menerima wadah itu dengan hati-hati.

“Lalu?”

“Masukkan ke rice cooker.”

Clara menuang beras terlalu cepat hingga sebagian jatuh ke meja.

Desti langsung tertawa keras.

“Baru mulai sudah bencana.”

Clara mendesah frustrasi.

“Kenapa susah sekali?”

“Karena selama ini kamu tidak pernah melakukannya,” jawab Bu Suci lembut.

Clara mulai mencuci beras dengan gerakan canggung.

Air cucian pertama langsung tumpah ke bajunya sendiri.

Desti sampai memegangi perutnya karena tertawa.

“Kak Clara, kamu sedang masak atau bertarung?”

Clara menatap tajam.

“Aku pulang juga bisa.”

“Jangan. Ini terlalu menghibur.”

Bu Suci menggeleng geli melihat mereka.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Clara berhasil menyalakan rice cooker.

Clara menatap alat itu dengan wajah kagum.

“Cuma begini?”

Desti menahan tawa.

“Iya. Tidak perlu ritual khusus.”

Clara menghela napas lega seolah baru menyelesaikan ujian negara.

Setelah itu Bu Suci mulai mengajarkan cara memasak telur dadar dan tumis sederhana.

Namun masalah baru muncul saat Clara mencoba memecahkan telur.

Bukannya masuk mangkuk, sebagian kulit telur justru ikut jatuh.

Desti langsung menutup wajah.

“Kasihan sekali calon suami Kak Clara nanti.”

“Desti!” bentak Clara malu.

Bu Suci tertawa pelan.

“Pelan-pelan saja.”

Beberapa menit kemudian dapur berubah sedikit kacau. Ada bawang yang gosong, garam yang hampir kebanyakan, dan Clara yang beberapa kali panik melihat minyak panas.

Tetapi suasana justru terasa hangat.

Doni yang sejak tadi membersihkan halaman belakang akhirnya masuk ke dapur sambil membawa segelas air.

Namun langkahnya langsung berhenti melihat kondisi dapur.

“Ada perang?”

Desti menunjuk Clara.

“Chef baru.”

Doni menatap Clara yang sedang memegang spatula dengan wajah tegang.

“Kamu masak?”

Clara langsung defensif.

“Kenapa? Tidak boleh?”

“Boleh,” jawab Doni santai. “Aku cuma takut dapur ibu meledak.”

Clara mendengus kesal.

Doni berjalan mendekat lalu melihat wajan.

“Itu telurnya hampir gosong.”

Clara panik lalu buru-buru membalik telur hingga bentuknya hancur.

Desti tertawa lagi.

“Sudah tidak berbentuk.”

“Yang penting matang,” bela Clara cepat.

Bu Suci tersenyum sambil mengangguk.

“Itu benar.”

Doni memperhatikan Clara beberapa detik lalu tersenyum tipis.

“Lumayan juga. Setidaknya sekarang kamu mau belajar.”

Clara terdiam sesaat.

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadanya terasa hangat.

Dulu orang-orang di sekitarnya selalu memuji dirinya karena penampilan, uang, atau status keluarganya. Tetapi sekarang, hanya karena belajar memasak nasi dan telur, ia justru merasa lebih dihargai sebagai manusia biasa.

Dan anehnya…

Perasaan itu jauh lebih menyenangkan.

Sore mulai berubah menjadi malam ketika masakan sederhana mereka akhirnya selesai.

Di atas meja hanya ada nasi, telur dadar yang bentuknya tidak beraturan, dan tumis sayur sederhana.

Namun Clara memandang semuanya dengan bangga.

“Itu hasil aku,” katanya pelan.

Desti tersenyum jail.

“Walaupun dapur hampir jadi korban.”

Clara memutar mata malas.

Mereka akhirnya makan bersama sambil mengobrol santai.

Untuk pertama kalinya setelah meninggalkan rumah ayahnya, Clara merasa tidak sendirian.

Dan di tengah rumah sederhana dengan suara kipas angin berputar pelan itu, Clara mulai belajar bahwa hidup bukan tentang kemewahan.

Kadang hidup hanya tentang orang-orang yang mau mengajari seseorang yang bahkan tidak tahu cara memasak nasi.

Manusia memang aneh. Bisa punya mobil mahal tapi kalah melawan rice cooker.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!