NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Kepercayaan

Atap sekolah siang itu dipenuhi angin hangat yang bergerak pelan.

Langit cerah membentang luas di atas mereka, sementara suara samar kegiatan siswa dari bawah gedung terdengar jauh dan teredam.

Rachael duduk santai di pagar pendek roof top sambil memegang kaleng minuman dingin di tangannya. Di sampingnya ada beberapa bungkus roti yang tadi ia beli di kantin.

Ekspresinya terlihat biasa saja.

Padahal beberapa menit lalu ia baru saja menunjukkan catatan berisi analisis penyadap, kemungkinan jalur akses mansion, pola gerak staf, sampai kemungkinan hubungan dengan Moretti.

Axel masih menatap layar ponsel Rachael dengan ekspresi setengah tidak percaya.

“Serius...” gumamnya pelan. “Kau nyatet beginian semua?”

Rachael mengangguk kecil sambil menggigit roti cokelatnya. “Kalau nggak dicatat nanti lupa.”

“Ini bukan level lupa naruh tugas matematika, Rach.”

“Aku memang gampang lupa. Panggil aku Chael aja, jangan Rach.”

“Itu bukan poinnya!”

Leon yang berdiri tidak jauh dari mereka justru diam memperhatikan layar ponsel itu lebih lama.

Tatapannya perlahan berubah semakin serius.

Semua catatan Rachael sangat rapi.

Posisi, kemungkinan motif, pola pergerakan.

Dan yang paling mengganggu, semua analisis itu masuk akal.

Tidak berlebihan.

Tidak emosional.

Dingin. Logis. Teratur.

Leon perlahan menurunkan pandangannya ke arah Rachael.

Angin meniup rambut hitam gadis itu pelan. Rachael masih sibuk membuka bungkus roti kedua tanpa sadar kalau dua orang di depannya sekarang sedang memperhatikannya.

Leon akhirnya mulai mengerti sesuatu.

Kenapa keluarga Velencia begitu ditakuti sekaligus misterius.

Karena Rachael mungkin terlihat seperti gadis aneh yang suka melamun, bicara random, dan gampang terdistraksi— tapi otaknya bekerja jauh lebih cepat dibanding kebanyakan orang.

Ia memperhatikan terlalu banyak hal. Dan lebih berbahaya lagi, Rachael terbiasa menghadapi situasi berbahaya sendirian.

Axel menyandarkan tubuhnya ke pagar roof top sambil melirik Leon diam-diam.

Lalu sudut bibirnya perlahan naik penuh arti.

Wah, parah. Tatapan Leon sudah beda banget sekarang. Bukan sekadar tertarik lagi.

Leon melihat Rachael seperti seseorang yang benar-benar penting.

Dan Axel mengenal Leon cukup lama untuk tahu satu hal— Leon bukan tipe orang yang gampang peduli.

Apalagi sampai terus memperhatikan satu orang tanpa sadar seperti ini.

Axel langsung memotong suasana dengan nada santai sengaja.

“Chael.”

“Hm?”

“Kau sadar nggak sih Leon dari tadi natap terus?”

Rachael langsung berkedip bingung sambil masih memegang roti. “Hah?”

Leon menatap datar ke Axel. “Mulut lu memang nggak bisa diam?”

Axel malah tertawa puas. “Nah tuh defensif.”

“Aku lagi lihat catatannya.”

“Iya iya. Catatannya.”

Rachael menoleh bergantian antara Axel dan Leon dengan ekspresi polos penuh kebingungan. “Memangnya kenapa?”

Axel hampir ngakak melihat reaksi itu.

Tidak sadar sama sekali, parah banget.

Leon akhirnya menghela napas kecil lalu mengambil ponsel Rachael lagi sebentar. “Bagian ini.”

Rachael langsung fokus lagi mendekat sedikit ke arahnya. “Yang mana?”

“Jalur staf mansion.”

“Oh.” Rachael langsung ikut melihat layar. “Aku rasa akses penyadapnya kemungkinan lewat area servis belakang.”

Leon memperhatikan Rachael yang kini berdiri sangat dekat di sampingnya. Dan lagi-lagi, ada perasaan aneh muncul di dadanya.

Karena semakin lama, keberadaan Rachael mulai terasa terlalu pas di dekatnya.

Sementara Axel yang melihat itu langsung menyipitkan mata penuh kemenangan dalam hati.

Oke, fix. Leon jatuh cinta.

Bahkan sekarang Leon sudah mulai punya tatapan “dia cocok di sampingku.”

Itu lucu sekali buat Axel. Apalagi Rachael sama sekali belum sadar.

Axel tiba-tiba berdiri lalu merentangkan tubuh malas-malasan. “Aduh capek.”

Rachael melirik kecil. “Kamu dari tadi cuma duduk.”

“Itu melelahkan secara emosional.”

“Kamu lebih aneh dari aku.”

“Makasih.” Lalu Axel sengaja melangkah menjauh beberapa meter sambil mengeluarkan ponselnya sendiri. Memberi ruang dengan sengaja.

Leon langsung tahu apa yang dilakukan Axel, tapi terlalu malas menanggapi.

Sementara Rachael masih fokus menjelaskan isi catatannya.

“Kalau memang ada orang dalam,” gumam Rachael pelan sambil menunjuk layar ponselnya, “berarti informasi tentang keluarga de Arther sudah bocor cukup lama.”

Leon menatapnya serius. “Dan kamu masih mau ikut campur.”

Rachael diam sebentar.

Angin kembali bergerak pelan di rooftop.

Lalu gadis itu menjawab santai seolah hal itu sederhana.

“Kalau aku diam dan ternyata benar ada pengkhianat, nanti yang bahaya bukan cuma aku.”

Tatapan Leon sedikit berubah.

Rachael melanjutkan pelan.

“Aku nggak suka punya tempat nyaman. Tapi kalau tempat itu sudah ada...” ia menatap layar ponselnya kecil, “rasanya sayang kalau dibiarin hancur.”

Kalimat itu membuat Leon terdiam cukup lama.

Sementara di kejauhan, Axel yang pura-pura sibuk dengan ponselnya langsung menatap langit sambil menahan senyum lebar.

Gawat.

Leon benar-benar jatuh cinta kali ini.

...----------------...

Atap sekolah siang itu terasa cukup tenang.

Angin bergerak pelan melewati pagar besi roof top sambil membawa suara samar keramaian siswa dari bawah gedung.

Rachael masih duduk di lantai dekat pagar sambil memegang kaleng minumannya. Beberapa lembar catatan digital tadi masih terbuka di layar ponselnya.

Leon duduk di sampingnya.

Sementara Axel bersandar santai di tembok roof top sambil memperhatikan mereka berdua dengan tatapan penuh arti yang makin lama makin terang-terangan.

Leon tidak menyangkal apa pun sekarang.

Setelah melihat semua catatan milik Rachael tadi, pikirannya justru semakin yakin pada satu hal.

Rachael bukan hanya pintar.

Ia terbiasa hidup dalam tekanan.

Cara berpikirnya terlalu tenang untuk ukuran remaja biasa. Bahkan saat membahas kemungkinan pengkhianatan di mansion de Arther, gadis itu tetap bisa menyusun analisis dengan kepala dingin.

Rachael terlalu terbiasa menghadapi semuanya sendirian.

Leon menatap samping wajah Rachael beberapa detik lebih lama.

Rambut hitam gadis itu bergerak pelan tertiup angin. Tatapannya masih fokus ke layar ponsel, sesekali mengetik sesuatu kecil ke catatannya.

Sampai akhirnya Leon menghela napas pelan.

“Rachael.”

“Hm?”

“Kamu jangan jalan sendiri soal ini.”

Rachael berhenti mengetik sebentar lalu menoleh kecil. “Aku nggak sendiri.”

“Kamu tadi jelas mau menyelidiki semuanya sendirian.”

Rachael diam sebentar. Lalu menjawab santai seperti biasa, “Karena aku memang biasa begitu.”

Kalimat itu langsung membuat Leon sedikit mengernyit.

Sebelum Rachael sempat bicara lagi, Leon tiba-tiba mengangkat tangannya pelan lalu mengelus kepala Rachael begitu saja.

Elusan lembut seolah refleks.

Rachael langsung membeku, terdiam karena itu sangat tiba-tiba.

Axel bahkan sampai menahan napas sepersekian detik karena kaget Leon benar-benar melakukannya di depan orang lain.

Sementara Leon sendiri tetap tenang. Tatapannya turun sedikit ke arah Rachael.

“Kamu nggak harus melakukan semuanya sendiri terus.” Nada suaranya rendah, namun terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya.

Rachael masih diam. Benar-benar diam. Matanya sedikit membesar kecil karena jelas tidak siap dengan sentuhan itu.

Entah kenapa cara Leon mengusap kepalanya terasa terlalu hangat. Terlalu hati-hati, seolah dirinya benar-benar sesuatu yang berharga.

Leon sendiri baru sadar beberapa detik kemudian kalau ia belum menarik tangannya. Tapi anehnya ia tidak ingin berhenti.

Karena setiap kali melihat Rachael, ada dorongan aneh di dalam dirinya untuk melindungi gadis itu.

Menjaganya tetap dekat.

Memastikan ia tidak pergi.

Memastikan ia tidak terluka.

Dan perasaan itu sekarang semakin jelas.

Rachael perlahan menundukkan pandangannya kecil. Telinganya mulai memerah lagi.

“Otakku jadi error...” gumamnya pelan hampir tidak terdengar.

Leon samar-samar tersenyum tipis.

Sementara di sisi lain roof top—

Axel perlahan mengeluarkan ponselnya dengan ekspresi penuh kemenangan.

'Cekrek'

Foto Leon yang sedang mengelus kepala Rachael langsung berhasil tertangkap sempurna.

Axel langsung menjauh sedikit sambil mengetik cepat dengan senyum sangat jahat.

[Axel] : "Nek. FIX! Leon beneran jatuh cinta 😭"

"Dia tadi ngelus kepala Rachael sambil pasang muka lembut banget. Aku sampe trauma lihatnya. Aku rasa nenek harus mulai gerak cepat. Jodohin aja sekalian sebelum dia denial lagi."

Beberapa detik kemudian, ponselnya langsung bergetar.

Axel membuka balasannya cepat.

Dan begitu membaca isi pesan dari Evelyn, ia langsung hampir tertawa keras di roof top.

[Evelyn] : "Sudah nenek bilang dari awal. Leon tidak pernah melihat gadis lain seperti itu. Jangan ganggu mereka. Dan pastikan Rachael makan siang."

Axel langsung menutup mulut menahan tawa.

“Gila...” gumamnya pelan sambil melihat Leon dan Rachael lagi dari jauh.

Karena sekarang semuanya memang sudah terlalu jelas.

Leon Knight de Arther yang biasanya dingin, tenang, dan sulit tertarik pada siapa pun akhirnya benar-benar jatuh cinta pada seseorang.

Dan orang itu adalah Rachael Velencia.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!