"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Logika vs Jas Rapi
Gua mematung di teras Puskesmas. Cowok di depan gua ini yang ngakunya pengacara keluarga Arlan kelihatan kontras banget sama suasana desa yang becek abis hujan.
Sepatunya mengkilap, jasnya rapi, dan auranya seakan-akan mau nyeret siapa pun ke meja hijau.
"Sabotase?" suara gua keluar agak serak. "Tunggu dulu, Mas... siapa tadi namanya?"
"Rendy. Saya kuasa hukum keluarga besar Arlan di Jakarta," katanya tegas. Dia ngeluarin tablet dari tas kulitnya.
"Saya dapet pesan singkat dari Arlan sebelum dia ditangani medis. Katanya, rekan kerja Anda yang bernama Dedik melakukan tekanan mental yang bikin dia kehilangan fokus saat berkendara."
"Itu masuk kategori perbuatan tidak menyenangkan yang berujung celaka, Reyna."
Gua mau ketawa, tapi rasanya tenggorokan gua kering. "Mas Rendy, denger ya. Tadi itu murni kecelakaan. Jalannya licin, ban motor Arlan nggak cocok buat medan begini. Dedik malah yang nolongin dia!"
"Menolong setelah menyudutkan itu strategi klasik untuk menutupi kesalahan," sahut Rendy lempeng. "Mana orangnya? Saya perlu bicara."
Tepat saat itu, pintu IGD kebuka. Dedik keluar sambil masukin HP-nya ke saku celana. Dia cuma pake kaos oblong putih yang sekarang kena bercak oli dan darah kering bekas dia bantu Arlan tadi.
Rambutnya agak berantakan, tapi matanya tetep tajem kayak biasanya.
Dedik berhenti pas liat gua dikerubungin cowok jas rapi. Dia jalan deketin kita, auranya langsung berubah jadi waspada.
"Ada apa, Rey?" tanya Dedik singkat.
"Ini... Mas Rendy. Pengacaranya Arlan," bisik gua, ngerasa nggak enak banget sama Dedik. "Dia bilang lo bikin tekanan mental ke Arlan sampai dia kecelakaan."
Dedik nengok ke arah Rendy. Dia nggak kelihatan takut atau kaget. Dia malah benerin letak kacamata yang agak melorot karena keringet.
"Tekanan mental?" Dedik ngulangin kata-kata itu seolah itu adalah istilah teknis yang salah alamat. "Atas dasar apa?"
"Atas dasar pernyataan lisan dari klien saya," jawab Rendy sambil ngangkat tabletnya. "Arlan bilang Anda mengancam kariernya sebelum dia naik ke motor."
"Secara psikologis, ancaman itu menciptakan distraksi kognitif yang mengganggu refleks motorik klien saya saat menghadapi medan jalan yang sulit."
Dedik diem bentar. Dia narik napas panjang, terus ngelipat kedua tangannya di depan dada. "Distraksi kognitif? Menarik. Anda bicara soal hukum atau soal neurosains?"
Rendy agak tersentak. Dia nggak nyangka mahasiswa yang badannya penuh oli ini bakal ngerespon pake istilah yang selevel. "Keduanya berkaitan dalam kasus kelalaian yang disebabkan oleh pihak ketiga."
"Oke, mari kita bicara logika hukum kalau begitu," suara Dedik makin tenang, tapi tekanannya makin berat.
"Pertama, Arlan adalah orang dewasa yang memiliki SIM C1 untuk motor kapasitas mesin besar. Artinya, secara hukum, dia dianggap mampu mengendalikan emosi dan kendaraannya secara mandiri."
Dedik maju satu langkah, bikin Rendy sedikit mundur.
"Kedua," lanjut Dedik.
"Tekanan mental yang Anda maksud adalah gertakan soal etika kerja. Jika Arlan merasa tertekan hanya karena diingatkan soal privasi orang lain, itu masalah stabilitas mental pribadinya, bukan tanggung jawab saya."
"Secara kausalitas, penyebab utama kecelakaan adalah faktor lingkungan, jalan licin dan hujan, serta human error dalam memilih ban yang tepat."
"Tapi Anda mengancamnya!" potong Rendy.
"Buktikan," tantang Dedik. "Tanpa rekaman atau saksi mata yang mendukung adanya intimidasi fisik, tuduhan Anda cuma asumsi."
"Sebaliknya, saya punya bukti kalau saya melakukan tindakan penyelamatan darurat segera setelah kejadian."
"Tanpa bantuan motor saya, klien Anda mungkin masih tergeletak di pinggir jalan karena mobil operasional desa sedang tidak ada."
Gua cuma bisa melongo. Gila, Dedik bener-bener ngebantai pengacara itu pake argumen yang rapi banget. Rendy kelihatan mulai gelisah, dia nengok ke arah dalem IGD, mungkin nunggu Arlan keluar buat ngasih pembelaan.
"Lagian, Mas Rendy," gua ikut nimbrung karena udah gemes banget. "Mas Arlan itu sepupu gua. Masa iya keluarga mau nuntut partner kerja gua yang udah baik-baik nolongin? Ntar apa kata Mama di grup keluarga?"
Rendy benerin dasinya. "Saya hanya menjalankan instruksi keluarga besar yang khawatir, Reyna. Tapi melihat argumen Saudara Dedik... saya rasa kita bisa bicarakan ini secara kekeluargaan kalau Arlan setuju."
"Gua nggak keberatan bicara," kata Dedik. "Tapi jangan pernah bawa-bawa ancaman hukum ke proyek riset gua kalau nggak mau gua balik lapor atas pencemaran nama baik. Paham?"
Rendy cuma ngangguk kaku, terus dia buru-buru masuk ke dalem IGD buat nemuin Arlan.
Pas Rendy udah ilang di balik pintu, gua langsung lemes dan duduk di kursi tunggu.
"Sumpah, Ded... lo kok bisa kepikiran ngomong 'distraksi kognitif' segala sih? Gua aja yang anak Akuntansi tadi udah mau pingsan denger istilah pengacara itu."
Dedik duduk di sebelah gua. Dia nyenderin kepalanya ke tembok Puskesmas, matanya merem.
"Logikanya, Rey... hukum itu cuma permainan kata-kata. Kalau lo takut duluan, lo kalah. Gua cuma balikin omongan dia pake bahasa yang dia ngerti."
"Tapi Arlan beneran keterlaluan ya. Masa dia lapor ke keluarganya sampe bawa pengacara segala," gumam gua kesel.
"Arlan itu tipe orang yang nggak bisa terima kekalahan. Dia kalah debat sama gua di hutan, terus dia jatuh dari motor, gengsinya hancur."
"Satu-satunya cara dia buat 'menang' lagi adalah pake kekuatan eksternal. Duit dan pengacara."
Gua nengok ke Dedik. Dia kelihatan capek banget. Baju putihnya udah dekil, mukanya kuyu, tapi dia tetep kelihatan tenang. "Maafin Arlan ya, Ded. Dan makasih lo udah belain gua... eh, belain proyek kita."
"Gua nggak belain proyek doang, Rey," Dedik buka matanya, terus nengok ke arah gua. Jarak kita deket lagi, dan kali ini nggak ada suara hujan yang berisik.
"Gua nggak suka ada orang asing yang nyoba intimidasi lo. Masalah Arlan itu urusan gua, lo nggak usah ikut pusing."
Duh, serangan jantung jilid keberapa nih hari ini? Kenapa omongan Dedik makin lama makin nggak sehat buat kesehatan jantung gua?
Tiba-tiba, pintu IGD kebuka lagi. Arlan keluar pake kursi roda, didorong sama perawat. Lengannya udah diperban rapi, dan bahunya udah dipasang penyangga. Mas Rendy jalan di sampingnya sambil bisik-bisik.
Arlan berenti di depan kita. Dia natap Dedik lama banget. Gua udah siap-siap mau pasang badan kalau mereka berantem lagi.
"Ded," panggil Arlan. Suaranya agak pelan, nggak segarang tadi.
"Hm?" Dedik berdiri, masih dengan gaya lempengnya.
"Rendy udah cerita apa yang lo omongin tadi," Arlan nunduk dikit. "Gue... gue minta maaf soal lapor ke keluarga tadi. Gue emang lagi emosi banget karena motor gue hancur."
Gua kaget. Arlan minta maaf?! Ini beneran Arlan sepupu gua yang sombong itu?
"Motor bisa diperbaiki, Lan. Nyawa nggak," sahut Dedik singkat. "Jadi, gimana soal pengacara lo?"
"Gue bakal suruh dia balik ke Jakarta. Masalah ini selesai di sini," Arlan ngelirik gua. "Dan soal foto itu... gue minta maaf juga, Rey. Gue cuma mau ngerjain kalian, tapi gue nggak sadar kalau itu bisa ngerusak reputasi kalian."
"Ya udah, yang penting lo sembuh dulu," kata gua, ngerasa lega banget.
"Tapi ada satu hal..." Arlan natap Dedik lagi.
"Tiara tadi dapet telepon dari fakultas. Karena kecelakaan gue ini melibatkan sponsor, pihak kampus mau narik tim kalian balik ke kota besok pagi. Mereka bilang daerah ini terlalu berisiko buat mahasiswa."
Gua dan Dedik kompak teriak, "APA?!"
"Iya," lanjut Arlan. "Dan kalau kalian balik sekarang, riset 'Harmoni Nada' itu dianggap gagal karena datanya belum lengkap. Dana sponsor bakal ditarik total."
Dedik langsung ngepalin tangannya. Gua bisa liat rahangnya ngeras keras. Ini adalah mimpi buruk buat seorang peneliti kayak Dedik. Semua kerja kerasnya, petikan gitarnya, dan pengorbanan bensin gua... semua bakal sia-sia?
"Nggak bisa," kata Dedik tegas. "Data gua baru masuk empat puluh persen. Gua butuh minimal tiga hari lagi di sini buat rekam suara bambu kuning pas fajar."
"Kampus nggak mau denger alasan, Ded. Pagi ini ada instruksi resmi lewat email ke Tiara," Arlan kelihatan ngerasa bersalah banget.
Dedik tiba-tiba nengok ke arah hutan yang mulai ketutup kabut malem. Dia narik napas panjang.
"Rey," panggil dia pelan.
"Ya, Ded?"
"Lo masih berani ikut gua?"
"Ke mana?"
"Kita nggak balik besok pagi. Kita selesein riset ini malem ini juga, secara mandiri. Tanpa mobil desa, tanpa asdos, dan tanpa perlindungan kampus. Cuma lo, gua, dan gitar gua."
Gua nelen ludah. Malem-malem ke hutan bambu yang tadi ada geraman anjingnya? Tapi pas gua liat mata Dedik yang penuh ambisi, rasa takut gua mendadak ilang. Sagitarius emang gila kalau udah dikasih tantangan.
"Gas lah, Ded! Siapa takut!"
Dedik senyum tipis. Benar-benar senyum yang bikin gua yakin kalau malem ini bakal jadi malem paling panjang di hidup gua.
***
Dedik dan Reyna nekat mau lanjut riset malem-malem demi nyelametin proyek mereka dari pembatalan kampus! Apa yang bakal mereka temuin di tengah hutan bambu saat tengah malem? Dan apakah Arlan bakal diem aja liat mereka nekat begini?