kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Lampu neon Samsul dan sitoh menyala terang dan di kamar belakang, kecil, apinya goyang-goyang seperti tidak yakin mau hidup.
Sitoh duduk di lantai semen, punggungnya nempel ke tembok. Di depannya, bungkusan kain dari dukun semalam masih kebuka. Isinya cuma keris kecil berkarat, segenggam beras ketan hitam, sama selembar kertas yang tulisannya udah luntur.
“Yang sedarah, Kalau dalam tidak menginginkan, pakai yang diluar.” Dia baca lagi dan Ujung jarinya tidak sengaja menyentuh mata keris itu....Dingin.
"apa yang kau pikirin dek?” Suara Samsul bikin Sitoh kaget dan Samsul berdiri di ambang pintu, kaosnya basah oleh keringat, lumpur masih menempel di sepatu boot kerja. Proyek hari ini lembur sampai malmm karena mandor bilang tanah di sisi timur gampang longsor.
Sitoh menunjukan kain tersebut
“waktu Abang sekarat dan waktu itu aku harus menyelamatkan nyawa Abang...tapi”
"tapi apa". Tanya Samsul
"aku harus mengorbankan yang sedarah denganku, anak, adik atau keponakan." mendengar jawab sitoh, Samsul langsung jatuh terduduk dan punggung langsung menghantam tembok. Bunyi pelan tapi seperti ada yang patah didalam dada
Samsul tidak percaya apa yang di dengarkan nya. Samsul diam sebentar, Terus dia berbisik.“Dukun itu… minta apa lagi?”
Sitoh menunduk dan Jari-jarinya meremas kain yang dipegangnya itu sampai kusut.
“Dia bilang, kalau yang dalam tidak tembus, pakai yang di luar dan kita tidak bisa menolak permintaan tersebut atau nyawa kita jadi taruhannya.”
Samsul ketawa Tapi bukan ketawa lega. tapi Ketawa yang keluar pas orang sudah sudah tidak tau harus marah atau nangis dan sekarang timbul penyesalan di hatinya, tapi semua sudah terlambat dan tidak bisa mundur lagi.
Sitoh akhirnya mengangkat kepala dan Matanya basa oleh air mata.
“aku sebenarnya tidak mau, tapi demi menyelamatkan Abang. Aku rela memenuhi syarat dari dukun tersebut.”
"Tapi bukan dengan cara mengorbankan anak kita, bagaimanapun dia darah daging kita dan aku tidak setuju jika harus mengorbankan nya ".Samsul menghela napas dan berpikir sejenak
Sitoh hanya diam dan setelah itu." kalau begitu tidak ada cara lain lagi, kita harus mengorbankan saudaraku atau keponakanku sendiri".
keesokan harinya, sitoh berkunjung kerumah saudaranya dan pada saat itu dia membawa makanan yang sudah dicampuri santau ."assalamualaikum kak".
"waalaikumsalam salam". Jawab bibah."ehh sitoh, tumben kesini".senyum bibah karena senang melihat adiknya berkunjung kerumahnya dan saat itu dia hanya sendiri dirumah. Suaminya kerja buruh dan anaknya masih di sekolah dan sebentar lagi akan pulang.
"cuma mau main-main saja kak, oh iya.... Keponakanku yang cantik kemana". Tanya sitoh
"masih disekolah, oh iya.... Kakak dengar tokomu semakin besar ya, semoga selalu lancar rezekymu dek". Senyum bibah tulus
Mendengar jawaban kakaknya, sitoh tertegun sejenak lalu cepat menampilkan senyum terbaiknya. "Oh masih disekolah ya, Jam segini sebentar lagi juga pulang kan. Aku bawain makanan buat dia nih, biar senang pas nyampe rumah, Alhamdulillah iya kak dan sekarang tukangnya masih membangun."
mengalir lah cerita antara dua saudara tersebut dan bibah tidak tahu, dibalik senyum adiknya menyimpan racun yang mematikan yang akan membuat dia kehilangan separuh hidupnya. setelah beberapa saat, sitoh pamit untuk segera pulang."kak... Aku pamit dulu ya, toko tidak ada yang jaga, Samsul lagi mengawasi jalannya pembangunan".
"hati-hati dijalan". dengan senyuman
Bibah masih berdiri di teras, melambaikan tangan sampai bayangan Sitoh hilang di ujung gang, Senyumnya belum pudar. Dia pikir hari ini jadi hari yang hangat karena adiknya mampir.
Sitoh sendiri melangkah cepat begitu keluar dari komplek dan Mukanya datar.
“Pembangunan... Samsul...” gumamnya pelan, alasan yang dia lempar tadi terasa hambar bahkan di telinganya sendiri, karena tampa pengasawan Samsul, pembangunan itu tetap akan jalan.
Di rumah, Bibah lagi menuangkan makanan yang dibawa adiknya ke dalam mangkok dan pada saat itu anaknya yang bernama lasmi pulang sekolah dan langsung menghampiri ibunya yang lagi didapur."itu apa buk".
"sudah pulang sayang.... Oh ini makanan yang dikasi bude sitoh, tadi dia datang kesini. ayo...! ganti baju dulu dan setelah itu baru makan". Dengan senyuman hangat, bibah mengelus kepala anaknya yang dibalutin hijab
Lasmi menaruh tasnya sembarangan di kursi dan sudah menganti bajunya dengan baju rumahan. hidungnya langsung kedut-kedut mencium bau makanan dari dapur.
"wahhh....ayam goreng buk". Girang lasmi saat ayam goreng yang di berikan budenya.“Makan bareng yuk buk, Biar berkah.”
Bibah hanya mengangguk dan duduk di samping Lasmi."Lasmi aja yang makan, Ibu sudah kenyang." Bibah bahagia melihat anaknya makan dengan lahap.
Ia bahkan sempat menyeka keringat di dahi Lasmi dengan ujung kebayanya, sambil tersenyum kecil. "Pelan-pelan.....Nak, Nanti tersedak."
Lasmi mengangguk, mulutnya penuh. Matanya berbinar, senang karena ayam goreng itu rasanya persis seperti yang selalu dibelikan Budenya waktu pulang kampung dulu. Bibah tidak tahu, bahwa senyuman anaknya ini adalah awal dari tangisannya.