NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Benturan Dua Dunia dan Rahasia Suku Ular Putih

Gemuruh tribun belum juga surut sepenuhnya ketika Yu Fan kembali ke bangkunya di sisi timur arena.

Sisa energi dari pertarungan pertamanya masih menggantung di udara dalam bentuk yang tidak terlihat namun sangat terasa—partikel-partikel Qi yang belum sepenuhnya terdisosiasi, aroma ozon dari anak panah Caelum yang mengandung energi listrik, dan debu halus dari lantai arena yang terbakar di beberapa titik. Di kolom-kolom kristal pencatat di empat sudut arena, cahaya biru yang merekam setiap pertarungan berkedip-kedip dalam pola yang lebih cepat dari sebelumnya—data yang dikumpulkan sudah jauh melampaui kapasitas normal sesi pertama.

Yu Fan duduk. Menerima handuk lembab dari seorang murid junior yang bertugas hari ini—mengelap garis merah tipis di pipinya dari anak panah Caelum tadi yang meninggalkan tanda walau tidak menembus. Luka yang tidak berarti secara fisik namun yang akan menjadi pengingat tentang jarak evaluasi yang salah.

Di sampingnya, bangku yang ditempati Yuexin mengandung kehadiran yang terasa seperti sumber gravitasi kecil yang menarik perhatian ruangan—bukan karena tenang, melainkan karena berbeda dengan ketenangan yang ada di sekitarnya dengan cara yang sangat nyata. Yuexin duduk dengan tangan terlipat di pangkuannya, punggung tegak, mata ke depan ke arah arena yang sedang dipersiapkan untuk ronde berikutnya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Untuk Yuexin, tidak mengatakan apa-apa adalah kondisi yang jauh lebih mengancam dari mengatakan banyak hal.

Yu Fan melirik ke sisinya sekali. Kemudian menoleh ke depan.

Wasit melangkah ke tengah arena. "Ronde kedua. Mo Han dari Akademi Langit Biru melawan Seraphina dari Akademi Saint-Aurelius."

Mo Han masuk ke arena dari sisi timur dengan langkahnya yang sudah sangat dikenal di akademi ini—langkah yang mengandung kepastian akan diri sendiri yang sudah dibangun selama bertahun-tahun dan tidak pernah sepenuhnya dipertanyakan hingga Yu Fan datang dan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentangnya dengan cara yang paling efisien: dengan cara tidak perlu bertanya sama sekali karena jawabannya sudah jelas.

Namun dua tahun terakhir sudah mengubah sesuatu di dalam cara Mo Han membawa kepastian itu. Masih ada—masih sangat ada—namun sekarang mengandung lapisan yang tidak ada sebelumnya. Lapisan seseorang yang sudah mulai memahami bahwa kepastian yang paling kuat bukan yang tidak pernah dipertanyakan, melainkan yang sudah dipertanyakan dan bertahan.

Pedang Remukan Jiwa-nya belum dicabut dari sarungnya. Hanya disandang di punggung, ujung sarungnya menggores lantai arena dengan bunyi yang sangat spesifik—lebih berat dari pedang biasa, lebih dalam dari bunyi logam biasa, bunyi yang mengandung resonansi dari logam yang sudah sangat lama terbiasa dengan energi yang mengalir melaluinya.

Dari tubuhnya, aura Master Tingkat 3 Akhir memancar—satu level lebih tinggi dari Yu Fan di ronde pertama tadi, namun dengan kualitas yang berbeda karena Mo Han tidak pernah mengikuti jalur kultivasi yang lurus dan terstruktur melainkan jalur Sekte Pedang Iblis yang memaksakan kultivasi melalui konflik, melalui tekanan dari luar yang memaksa energi di dalam untuk menemukan caranya sendiri.

Ia menatap Seraphina dari jarak dua puluh meter dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dikenal sebagai meremehkan—lebih tepatnya, cara seseorang yang belum memutuskan apa yang ada di depannya karena belum punya data yang cukup, namun sudah sangat terbiasa dengan caranya merespons hal-hal yang belum diketahui: dengan keangkuhan sebagai pertahanan sementara.

"Nasibku hari ini cukup beruntung," ucapnya. Suaranya berat dan bergema dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa didengar. "Melawan penyihir kecil—"

"Hentikan kalimat itu di situ," potong Seraphina dari sisi barat arena.

Seraphina dari Akademi Saint-Aurelius adalah seseorang yang, pada pandangan pertama, memberikan kesan yang tidak akurat.

Yang pertama terlihat adalah rambutnya—merah yang hampir oranye di ujungnya, dikepang dua dengan cara yang terlihat ceroboh namun yang, jika diperhatikan lebih lama, terlihat seperti kecerobohan yang sangat diperhitungkan karena cara ikatan kepangnya memungkinkan rambut dilepas dalam satu tarikan untuk pertarungan jarak dekat jika diperlukan. Yang kedua adalah freckles-nya—tersebar di hidung dan pipinya dengan kepadatan yang membuat wajahnya terlihat lebih muda dari usianya dan yang, dikombinasikan dengan posturnya yang tidak setinggi Xueru atau setegar Yan Er, menciptakan kesan awal sebagai seseorang yang lebih ringan dari yang seharusnya ada di arena ini.

Yang tidak segera terlihat adalah kitab yang melayang di depannya—bukan melayang karena dijaga oleh tali tak terlihat, melainkan melayang karena energi yang mengalir dari telapak tangannya yang sedikit terbuka ke arahnya cukup untuk mempertahankan kitab itu di udara tanpa perhatian sadar. Seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan teknik itu hingga tidak perlu memikirkannya. Yang tidak segera terlihat adalah cara matanya yang hijau itu bergerak—selalu satu atau dua langkah di depan dari apa yang sedang terjadi, seperti seseorang yang terus-menerus membangun model tentang apa yang akan terjadi berikutnya dan menyesuaikannya setiap detik.

Dan yang paling tidak segera terlihat adalah tongkat kristalnya yang berdenyut di ritme yang sedikit berbeda dari denyutan normal seseorang yang berdiri santai—denyutan yang mengindikasikan ia sudah mulai membangun sesuatu bahkan sebelum wasit mengucapkan kata mulai.

"Mulai!"

Mo Han meledak ke depan.

Teknik Pedang Iblis : Langkah Bayangan Ungu — tubuhnya menghilang dari titik awal dalam cara yang bukan benar-benar menghilang namun bergerak cukup cepat sehingga jejak visualnya—afterimage yang memancarkan cahaya ungu selama satu atau dua detik di titik yang ditinggalkannya—terlihat lebih nyata dari tubuhnya yang bergerak. Di tangan kanannya, Remukan Jiwa sudah tercabut, bilah gelapnya menangkap cahaya arena dalam pola yang berubah-ubah.

Seraphina membuka halaman kitabnya.

"Ignis Scutum."

Bahasa yang berbeda dari bahasa yang digunakan di sini—lebih keras di konsonannya, lebih panjang di vokalnya, bahasa yang terdengar seperti seseorang memerintah sesuatu yang besar untuk melakukan sesuatu yang spesifik. Dari telapak tangan kirinya, cincin api meledak keluar—bukan dalam bentuk proyektil melainkan dalam bentuk perisai yang melingkar dan memutar, api yang berputar cukup cepat untuk menciptakan tekanan sentrifugal yang menambah densitasnya.

Mo Han menghantam perisai itu.

BOOM.

Gelombang panas yang dihasilkan dari benturan antara energi ungu pedang Iblis dan api yang berputar itu menyapu lantai arena dalam lingkaran—rumput-rumput ornamen di tepi arena yang belum terbakar dari ronde pertama tadi layu seketika. Mo Han terdorong mundur satu langkah—satu langkah yang ia konversi langsung menjadi rotasi, memutar tubuhnya dan melancarkan serangan berikutnya dari sudut yang berbeda.

Seraphina sudah tidak di sana. Ia sudah bergerak mundur dengan cara yang tidak terlihat seperti mundur—lebih seperti mengalir ke posisi baru yang sudah ia pilih sebelum Mo Han menghantam perisainya. Dari posisi barunya, tangannya bergerak.

"Glacies Sagitta."

Lima tombak es muncul di udara di sekitarnya—bukan dari arah tertentu, melainkan mengkristalisasi dari uap air yang ada di udara setelah panas dari perisai api tadi menciptakan kondensasi saat mendingin. Mereka melesat ke Mo Han dari lima sudut berbeda.

Mo Han menebas. Remukan Jiwa memotong tiga tombak sekaligus dalam satu gerakan horizontal. Dua yang dari bawah ia hindari dengan melompat—dan di udara, ia melepaskan energi ungu dari telapak kakinya sebagai proyektil ke bawah ke arah tempat Seraphina berdiri.

Seraphina membalikkan kitabnya. Dari halaman yang terbuka, lapisan energi yang berbeda dari energi fisik yang digunakan di wilayah ini keluar dalam gelombang yang menetralkan proyektil ungu Mo Han—tidak dengan kekuatan melainkan dengan cara memutus koneksi antara energi dan sumber niatnya, seperti seseorang memotong benang yang menghubungkan boneka dengan pemainnya.

Proyektil itu jatuh ke lantai sebagai butiran-butiran energi yang tidak berbahaya.

"Hanya lari?" suara Mo Han dari udara, sebelum mendarat. "Kau hanya merespons. Kau tidak pernah menyerang pertama."

"Kenapa menyerang pertama?" jawab Seraphina, suaranya tidak terengah-engah meski sudah bergerak beberapa kali. "Penyerang pertama memberikan data tentang cara mereka menyerang. Aku sudah mendapat data cukup tentangmu, Mo Han."

Mo Han menatapnya. "Kau sudah menganalisisku selama ini."

"Sejak kau masuk arena dengan cara yang sudah memberitahuku bahwa kau selalu bergerak dari sudut enam puluh derajat ke kanan dari posisi awal saat menyerang pertama."

Sesuatu di wajah Mo Han berubah—tidak banyak, namun cukup. Keangkuhan yang tadi ada sebagai lapisan permukaan mulai mengandung sesuatu di bawahnya yang lebih serius. Ia menancapkan Remukan Jiwa ke lantai arena dengan satu gerakan dan berdiri dengan kedua tangan bebas.

Teknik Iblis Tingkat Lanjut : Penghancur Elemental.

Dari kedua tangannya, energi ungu keluar dalam jalur-jalur yang berbeda dari sebelumnya—bukan langsung ke target, melainkan menyebar ke lantai arena terlebih dahulu, meresap ke dalam batu, dan kemudian muncul kembali dari bawah kaki Seraphina dalam bentuk semburan vertikal yang tidak bisa direspons dengan perisai horizontal.

Seraphina melompat. Namun di ketinggian yang ia capai, tangan kanannya menghentakkan tongkat kristalnya ke udara.

"Ferrum Radix."

Bukan dari langit—dari sisi-sisi arena, dari celah-celah di tembok formasi pelindung yang tipis namun cukup untuk dilalui oleh energi yang sangat tipis berbentuk sulur-sulur logam cair yang mengkristal saat bergerak. Sulur-sulur itu menuju lantai arena terlebih dahulu, masuk ke dalam batu, dan dari dalam batu di sekitar kaki Mo Han yang masih mengalirkan energi ungu ke lantai—mereka naik kembali ke atas, melilit pergelangan kakinya dengan kecepatan yang tidak memberinya waktu untuk mengangkat kaki.

"Sial." Mo Han mencoba memotong. Remukan Jiwa—yang sudah ia ambil kembali saat melompat tadi—menebas logam itu. Namun logam yang sudah mengkristal dalam formasi ini bukan logam biasa, ia merespons tebasan dengan cara yang berbeda dari benda keras biasa: ia bengkok menyerap energi tebasan, kemudian kembali ke bentuk dan posisinya dengan kecepatan yang membuatnya lebih sulit dipotong kedua kalinya.

Seraphina mendarat. Matanya ke atas—ke langit arena yang sudah mulai berubah warnanya bukan karena senja melainkan karena sesuatu yang ia bangun di atas sejak ia masuk arena.

Awan hitam yang tidak ada sebelumnya.

Bukan awan yang terjadi secara alami—ini adalah kondensasi energi yang dikumpulkan dari berbagai titik di arena dan di atmosfer di atasnya, ditarik ke satu titik di atas pusat arena dan dibiarkan beresonansi dalam pola yang menciptakan ketidakstabilan elektrostatis yang sangat besar.

"Tidak mungkin," bisik seseorang dari tribun. "Dia sudah membangun itu sejak awal pertandingan? Sambil bertarung?"

"Itu membutuhkan perhatian yang terbagi tiga arah sekaligus," bisik seseorang lain. "Bertarung dengan Mo Han, membangun formasi di atas, dan menjaga formasi logam di bawah—"

"Dan menganalisis Mo Han setiap detiknya," tambah yang pertama.

Seraphina mengangkat tongkat kristalnya ke atas.

Mo Han menatap awan hitam yang berputar di atas arena. Akar logam di pergelangan kakinya sudah mencapai betisnya. Di wajahnya, untuk pertama kalinya hari ini, ada ekspresi yang berbeda dari keangkuhan atau keseriusan. Ada sesuatu yang lebih dekat ke kekaguman yang ia sendiri tidak sepenuhnya mengizinkan.

Tawa meledak dari bibirnya.

Bukan tawa kemenangan—tawa seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik di dalam situasi yang seharusnya sangat buruk untuknya. "Hahaha! Selama ini kau membangun semua itu sambil bertarung denganku!" Suaranya mengandung kualitas yang jarang terdengar di sana. "Kau benar-benar luar biasa, Seraphina dari Barat!"

Kemudian aura Mo Han berubah.

Bukan secara bertahap—secara total dan seketika, seperti seseorang yang sudah sangat lama menyimpan sesuatu dan baru memutuskan untuk berhenti menyimpannya. Warna ungu yang sudah pekat berubah menjadi campuran hitam-ungu yang jauh lebih dalam, lebih tua, memancarkan bukan cahaya melainkan sesuatu yang berlawanan dari cahaya—suatu kondisi di mana cahaya di sekitarnya enggan masuk ke dalam radius tubuh Mo Han.

Di dahinya, dua tonjolan muncul—kecil, hampir tidak terlihat dari tribun, namun dari jarak arena sangat jelas. Bukan pertumbuhan yang menyakitkan—mereka muncul dengan cara yang menunjukkan ini bukan pertama kalinya, namun sesuatu yang sudah sangat lama tidak dikeluarkan.

Manifestasi Tanduk Iblis.

Pupil Mo Han memanjang—berubah dari bulat ke bentuk vertikal yang sangat sempit dengan warna ungu yang lebih cerah dari semua warna ungu lain di tubuhnya. Dan saat transformasi itu terjadi, sesuatu yang ada di dalam segel-segel formasi akar logam Seraphina mulai merespons—logam kristal yang mengikat Mo Han bergetar, frekuensinya terganggu oleh perubahan fundamental dalam kualitas energi yang mengalir melalui sasarannya.

"Aku sebenarnya tidak mau menggunakan kekuatan warisan ini," suara Mo Han mengandung resonansi yang tidak ada sebelumnya—lebih dalam, mengandung sesuatu yang terasa lebih tua dari suara itu sendiri. "Tapi kau sudah memaksaku dengan cara yang paling menyenangkan yang bisa kubayangkan."

BOOM.

Ledakan energi hitam-ungu dari tubuh Mo Han tidak menyebar ke luar melainkan meledak ke bawah—menekan tanah di bawah kakinya dengan tekanan yang sama dengan formasi yang Seraphina tanamkan di dalam batu, namun dari arah yang berlawanan. Akar logam di sekitar kakinya tidak dipotong melainkan didorong keluar dari dalam oleh tekanan yang melebihi kapasitas formasi itu untuk mempertahankan bentuknya.

Akar-akar itu pecah dari dalam.

Mo Han melesat ke atas—bukan dengan teknik meringankan tubuh biasa melainkan dengan cara yang lebih dekat ke cara Singa Petir terbang, dengan energi yang mendorongnya dari bawah dan gravitasi yang sedang ia abaikan untuk sementara. Di ketinggian yang sama dengan awan hitam Seraphina, ia berdiri di udara—berdiri, bukan melayang, dengan energi yang keluar dari telapak kakinya sebagai pijakan yang tidak terlihat namun sangat nyata.

Di bawahnya, Seraphina menatap ke atas.

Awan hitam yang sudah ia bangun selama seluruh pertandingan ini—yang mengandung potensi energi yang cukup untuk apa yang ia rencanakan—ada di ketinggian yang sama dengan Mo Han sekarang. Bukan keuntungan. Mo Han sudah masuk ke dalam formasinya sendiri, ke titik di mana membuangnya ke bawah berarti membuangnya ke dirinya sendiri karena Mo Han berada tepat di antara sumber dan target.

Namun Seraphina sudah mengantisipasi ini juga.

Matanya bersinar. Retakan cahaya putih muncul di wajahnya—bukan dari kesakitan melainkan dari koneksi, dari sesuatu yang besar yang masuk melalui tubuhnya dari sumber yang ada di luar dirinya.

"Divine Lightning—Judgment of the Heavens."

Bukan dari awan hitam yang sudah dibangunnya—dari di balik awan itu. Dari ketinggian yang jauh di atas awan itu, dari sesuatu yang Seraphina sudah bangun jauh lebih lama dan jauh lebih tinggi dari yang terlihat. Petir yang turun bukan dari awan melainkan dari lapisan yang ada di atas awan, melalui awan sebagai konduktor yang sudah dikondisikan dengan sempurna.

Petir itu menyambar Mo Han dari atas bukan dalam satu sambaran melainkan dalam serangkaian sambaran yang sangat cepat—masing-masing menarget titik yang berbeda dari tubuhnya, didistribusikan untuk memaksimalkan tekanan pada sistem energi internal yang menopang Manifestasi Tanduk Iblis-nya.

Mo Han tidak terbang menjauh. Ia berdiri.

Kulit di bahunya terbakar. Rambutnya yang diikat ke belakang mulai terurai karena listrik yang lewat. Matanya yang sudah berubah ungu menyala lebih terang—bukan redup oleh serangan ini, melainkan lebih terang, seperti api yang ditiup alih-alih dipadamkan.

Remukan Jiwa-nya terangkat ke atas.

Energi hitam-ungu yang sudah sangat padat mengumpul di bilahnya—bukan dalam satu titik melainkan di seluruh panjang bilah, membuatnya terlihat seperti bilah yang seluruhnya terbuat dari material yang sama dengan kegelapan di antara bintang. Dari segel-segel ukiran di bilah itu—yang selama ini hanya terasa tapi tidak terlihat—cahaya ungu sangat redup mulai keluar, mengalir ke atas ke arah Mo Han dan ke bawah ke arah ujung bilah.

"Tebasan Iblis : Pembalikan Takdir."

Gerakan pedangnya sangat sederhana. Sangat sederhana untuk sesuatu yang menghasilkan apa yang kemudian terjadi.

Satu tebasan vertikal ke atas—ke arah pusat awan dan ke arah petir yang masih mengalir dari atas.

Garis cahaya ungu yang keluar dari tebasan itu tidak tipis seperti jalur tebasan pedang biasa—ia memiliki lebar yang sebanding dengan lebar bilah itu sendiri, dan di dalamnya energi hitam-ungu yang sudah dikumpulkan dari seluruh pertarungan ini terkonsentrasi dalam bentuk yang bisa membelah bukan hanya benda fisik melainkan formasi energi.

Awan hitam Seraphina terbelah.

Bukan terpotong menjadi dua bagian yang masih bisa berfungsi—terbelah dengan cara yang memutus kohesi formasi yang menghubungkan semua titik yang sudah Seraphina bangun selama pertarungan ini, seperti memotong benang utama dari jaring yang sangat rumit sehingga seluruh jaring kehilangan bentuknya sekaligus. Energi yang terkumpul di awan itu lepas bukan sebagai serangan melainkan sebagai pembuangan—menyebar ke segala arah dalam gelombang tekanan yang mendorong Mo Han ke bawah dan Seraphina setengah langkah mundur.

Mo Han menukik ke bawah dari langit.

Seraphina menatap ke atas.

Ekspresinya—untuk pertama kalinya hari ini—tidak mengandung perhitungan. Hanya momen seseorang yang sudah sangat terbiasa mempersiapkan segala sesuatu bertemu dengan sesuatu yang tidak masuk dalam persiapannya.

Tendangan Mo Han mendarat di perutnya.

Bukan tendangan biasa—ini adalah tendangan yang sudah menumpuk energi dari seluruh penukikan itu, dari seluruh gravitasi dan momentum yang ia hasilkan, dari semua yang ada dalam Manifestasi Tanduk Iblis yang masih aktif di tubuhnya. Seraphina terlontar ke belakang, tubuhnya membentur formasi pelindung arena dengan suara yang terdengar hingga tribun paling jauh.

Ia turun dari dinding formasi pelindung dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah terlalu sering dilempar ke berbagai permukaan untuk kehilangan kendali diri sepenuhnya bahkan dalam kondisi ini. Satu tangan menyentuh lantai. Berlutut. Napasnya bukan memburu—sangat pelan, sangat dalam, cara seseorang yang sedang menghitung sesuatu.

Matanya bersinar putih lagi—lebih terang dari sebelumnya.

"Divine Lightning—"

Kali ini dari semua arah sekaligus—dari atas, dari sisi-sisi formasi pelindung arena yang sudah mengandung muatan listrik dari petir-petir sebelumnya, dari lantai arena yang sudah diresapi konduksi energinya. Seraphina tidak melepaskan satu serangan besar melainkan menciptakan kondisi di mana seluruh arena menjadi satu serangan.

Mo Han berdiri di tengah arena yang sudah menjadi satu medan listrik.

Jutaan volt.

Dari seluruh penjuru.

Tubuhnya bergetar dengan cara yang tidak terlihat seperti orang yang kesakitan namun terlihat seperti seseorang yang menerima sesuatu yang sangat besar dan sedang memutuskan apa yang akan dilakukan dengannya. Di permukaan kulitnya, bekas-bekas luka bakar dari sambaran pertama tadi sudah ada. Yang ini jauh lebih besar.

Namun Manifestasi Tanduk Iblis di dahinya tidak meredup.

Mo Han melangkah maju melalui medan listrik itu—satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dengan cara seseorang yang sangat sadar bahwa ia berjalan melalui sesuatu yang seharusnya tidak bisa ia jalan melaluinya namun memilih untuk melakukannya karena tidak ada alternatif yang ia terima.

Di langkah keempat, lututnya menyentuh tanah.

Di langkah kelima, kepalan tangannya menyentuh tanah.

Seraphina yang sudah mengeluarkan seluruh energi yang tersisa dalam serangan terakhir itu berdiri dengan tongkat kristalnya sebagai tumpuan—cahaya yang seharusnya ada di dalamnya sudah sangat redup, hampir padam. Di sekitarnya, halaman-halaman kitabnya yang melayang di udara selama seluruh pertarungan ini mulai turun satu per satu ke lantai seperti daun musim gugur.

Mo Han mendongak ke arahnya dari posisi berlututnya.

Matanya masih ungu. Tanduk kecil di dahinya masih ada.

Dan dari bibirnya yang sudah terbakar di beberapa bagian: senyum.

"Serangan terakhir itu," ucapnya—suaranya sudah tidak bergema seperti saat Manifestasi aktif penuh, sudah kembali ke nada yang lebih biasa namun dengan kelelahan yang tidak ia sembunyikan. "Seluruh arena sebagai medium. Itu bukan sesuatu yang bisa dipikirkan dalam kondisi pertarungan—itu harus sudah ada dalam benakmu sejak kau masuk ke arena ini."

Seraphina tidak langsung menjawab. Tongkat kristalnya gemetar sangat tipis. "Sejak kau menginjak arena."

"Kau sudah mempersiapkan itu sejak kau pertama masuk."

"Aku mempersiapkan kemungkinannya. Aku tidak yakin bisa mengeksekusinya hingga tiga menit yang lalu."

Mo Han mengeluarkan suara yang mengandung sesuatu yang—untuk seseorang yang mengenal Mo Han—sangat tidak biasa: tawa tulus yang tidak mengandung keangkuhan sama sekali. "Tiga menit yang lalu kau masih membangun formasi sambil menendang balik seranganku." Ia berdiri dari berlututnya dengan cara yang sangat lambat karena badannya sudah melewati lebih dari yang seharusnya bisa ia tanggung. "Kau adalah penyihir terbaik yang pernah aku lawan."

Seraphina menatapnya dengan freckles di hidungnya yang terlihat sangat kontras dengan kondisi pertarungan di sekitar mereka. "Dan kau adalah pejuang pertama yang pernah bisa berjalan melalui serangan terakhirku."

Keduanya berdiri saling berhadapan di tengah arena yang sudah hancur sebagian—dua orang yang sudah memberikan segalanya dan menemukan bahwa segalanya cukup untuk menciptakan hasil yang tidak ada pemenangnya.

"SERI!"

Di tribun timur, Yu Fan menatap arena yang asapnya masih mengepul dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca—di dalamnya ada sesuatu yang mengkategorikan apa yang baru ia saksikan dengan cara yang sangat serius. Mo Han telah mengeluarkan Manifestasi Tanduk Iblis, sesuatu yang bahkan dalam dua tahun di akademi yang sama tidak pernah ia lihat. Dan Seraphina telah membangun formasi yang mencakup seluruh arena sambil bertarung—multitasking yang di dunia kultivasi mereka di sini saja sudah sangat langka.

Akademi Saint-Aurelius bukan tempat biasa.

Di sampingnya, Yuexin masih duduk dengan tangan terlipat. Masih tidak mengatakan apa-apa tentang topik yang jelas masih tersimpan.

Yu Fan merasakan pandangannya dari sisi.

"Yuexin," ucapnya pelan.

"Jangan bicara." Suaranya sangat tenang. "Tonton pertandingan."

Wasit mengumumkan ronde ketiga.

Matahari sudah mulai bergerak ke barat, menciptakan bayangan panjang yang memotong arena dari sisi kiri ke kanan, dan di dalam bayangan itu, cahaya formasi arena yang berwarna biru tipis terlihat lebih jelas dari sebelumnya.

"Ronde ketiga. Lin Xueru dari Akademi Langit Biru melawan Yan Er dari Akademi Saint-Aurelius."

Keheningan yang turun ke tribun saat nama kedua orang itu disebut bersamaan adalah keheningan yang berbeda dari keheningan karena kekaguman atau karena antisipasi. Ini adalah keheningan yang terasa seperti semua orang secara bersamaan memutuskan bahwa mereka ingin sangat memperhatikan setiap detail dari apa yang akan terjadi berikutnya.

Di tribun VIP, seorang tetua tamu yang tadinya sebagian perhatiannya terbagi antara pertandingan dan teh yang dibawakan oleh murid junior kini meletakkan cangkir tehnya sepenuhnya.

Di sisi arena, Sir Alaric yang menunggangi Sleipnir memindahkan posisinya sedikit untuk mendapat sudut pandang yang lebih baik.

Di tribun timur, Yu Fan tidak bergerak.

Lin Xueru masuk dari sisi timur.

Jubah putihnya hari ini adalah jubah yang berbeda dari jubah sehari-harinya—bukan dalam bahan atau warna, melainkan dalam detail yang sangat kecil namun sangat signifikan: di tepi lengannya, sulaman teratai yang biasanya sangat halus terlihat sedikit lebih dalam, lebih tiga dimensi, lebih seperti teratai yang sesungguhnya daripada gambar teratai. Dan di pinggang kirinya, Pedang Teratai Putih sudah dalam posisi yang berbeda dari cara ia biasanya membawa pedang—sedikit lebih maju, lebih mudah dicabut, posisi yang tidak ada di sana saat ia hanya berjalan.

Rambutnya dikuncir penuh ke belakang malam ini—cara yang tidak sering ia pilih namun yang memperlihatkan garis rahangnya dengan sangat jelas dan yang secara praktis memastikan tidak ada satu helai pun yang bisa menghalangi pandangannya dalam kondisi terburuk.

Wajahnya mengandung ekspresi yang paling netral yang bisa dihasilkan oleh seseorang yang sudah sangat terlatih dalam mengontrol ekspresi. Namun bagi siapa pun yang sudah cukup lama mengamatinya—dan Yu Fan sudah cukup lama—ada sesuatu di dalam ketenangan itu yang berbeda dari ketenangan biasanya. Ketenangan biasa Xueru adalah ketenangan air yang tenang. Ketenangan malam ini adalah ketenangan air yang sudah sangat dingin dan sangat dalam.

Yan Er masuk dari sisi barat.

Dalam jubah biru dengan tepi putih dari Akademi Saint-Aurelius itu, dengan cara berjalan yang sudah berbeda dari malam di panggung pasar dan sudah lebih berbeda lagi dari gadis dalam jubah yang lebih lusuh yang bertarung di sana, Yan Er masuk ke arena dengan cara yang—bagi siapa pun yang belum mengenalnya—tidak akan segera teridentifikasi sebagai berbahaya.

Yang akan segera teridentifikasi adalah cara ia membawa pedang-pedangnya—bukan di pinggang, bukan di punggung. Keduanya di tangan dari momen pertama ia masuk, pedang kiri sedikit lebih rendah dari pedang kanan, postur yang sudah sangat terlatih hingga menjadi postur istirahat yang alami daripada postur siaga yang disengaja.

Dua wanita berdiri di ujung-ujung arena yang berlawanan.

Di tribun, beberapa percakapan singkat:

"Siapa yang lebih kuat?"

"Tidak bisa dibandingkan langsung. Tekniknya dari sistem yang berbeda."

"Latar belakangnya berbeda juga. Yang satu sekte tertua di dunia ini. Yang satu—tidak ada yang tahu asal-usulnya sebelum dua bulan lalu."

"Dan mereka punya alasan personal untuk bertarung sungguh-sungguh."

"Itu yang paling bahaya."

Yan Er membuka percakapan dengan suara yang cukup keras untuk terdengar dari tribun—bukan karena sengaja ingin didengar, melainkan karena di arena yang sudah cukup sunyi, suara yang tidak ditahan terdengar jauh. "Jadi kau adalah 'teman' yang sering disebut-sebut itu." Tangannya memutar pedang kanannya dalam satu rotasi penuh yang sangat fluid—bukan pemanasan, melainkan cara membaca densitas udara dan kondisi lantai arena. "Teratai suci yang murni dan bersih. Tapi aku sudah bisa mendeteksi sesuatu di balik kesucian itu yang tidak begitu murni dan bersih."

Xueru tidak merespons segera. Ia menatap Yan Er dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai tatapan penilai atau tatapan yang sudah memutuskan sesuatu—sesuatu di antaranya. "Di sini," ucapnya akhirnya, "kita adalah perwakilan dari dua institusi yang berbeda. Itu sudah cukup alasan untuk bertarung."

"Sepakat." Yan Er tersenyum—senyum yang tajam di tepinya namun tidak tidak tulus. "Maka mari kita mulai."

Wasit mengangkat tangannya.

"Mulai."

Yan Er bergerak.

Tidak ke depan—ke samping, menyusuri keliling arena dalam gerakan yang sangat cepat namun sangat merata dalam kecepatan dan arahnya, menciptakan jalur sirkuler di sekitar Xueru yang semakin lama semakin mengecil radiusnya. Bukan serangan spiral—lebih seperti cara air melingkari sesuatu sebelum memutuskan cara terbaik untuk memasukinya.

Xueru berputar mengikuti pergerakannya—tidak bodoh untuk membiarkan sisi atau punggungnya terbuka.

Yan Er melancarkan serangan pertama dari sudut tiga puluh derajat, bukan dari depan—pedang kanannya menyambar ke bahu kiri Xueru dengan jalur yang membutuhkan defleksi diagonal, bukan defleksi tegak lurus yang lebih natural. Bersamaan, pedang kirinya sudah bergerak ke posisi yang menutup respons paling natural dari defleksi diagonal tersebut.

Teknik Pedang Ganda Tanpa Nama : Jebakan Dua Sungai.

Xueru tidak melakukan defleksi diagonal yang diharapkan. Ia melangkah mundur setengah langkah—meninggalkan seluruh sudut serangan itu dengan menghilang dari ruang yang diserang daripada membelanya. Dari posisi setengah langkah mundur itu, tangan kirinya membentuk segel sangat cepat.

"Teknik Teratai Putih : Kelopak Penggiring."

Tiga kelopak energi putih—masing-masing setipis kertas namun bertepi sangat tajam, bergerak bukan dalam garis lurus melainkan dalam kurva yang mengikuti jalur tertentu dari Qi di udara—melesat dari ujung jarinya ke tiga posisi yang Yan Er bisa masuki berikutnya berdasarkan momentum gerakannya yang belum selesai.

Yan Er membaca ketiga kurva itu dalam sepersekian detik. Ia memilih jalur keempat—jalur yang tidak ada dalam tiga kemungkinan Xueru—dengan cara memutar seluruh tubuhnya ke arah yang berlawanan dari momentum sebelumnya, membuang momentum itu sepenuhnya dan memulai dari nol, teknik yang menguras lebih banyak energi namun yang membuat prediksi berbasis momentum menjadi tidak berguna.

Kelopak-kelopak Xueru melewati ruang kosong yang Yan Er tinggalkan.

Pertarungan berlangsung dalam ritme yang meningkat—setiap pertukaran lebih cepat dari sebelumnya karena setiap sisi belajar dari setiap pertukaran dan merespons dengan mempercepat waktu antara membaca dan merespons. Dentingan logam dan kelopak energi putih mengisi udara arena.

KLANG. KLANG. KLANG.

Setiap dentingan adalah pertarungan kecil tersendiri—kecepatan vs teknik, adaptasi vs keterampilan, dua sistem yang tidak pernah didesain untuk berinteraksi satu sama lain menemukan cara berinteraksi dalam waktu nyata.

Di sela-sela pertarungan, Yan Er berbicara—bukan untuk mengganggu, melainkan dengan cara yang menunjukkan seseorang yang bisa melakukan dua hal sekaligus tanpa salah satu menderita. "Kau terlalu kaku, Xueru. Setiap gerakanmu sudah bisa diprediksi tiga langkah ke depan karena terlalu terstruktur."

Xueru tidak menjawab. Ia memusatkan perhatiannya dan melantunkan jurus.

"Teratai Suci : Penjara Cahaya."

Dari tanah di sekitar Yan Er, garis-garis cahaya putih muncul—tidak dari serangan langsung melainkan dari formasi yang Xueru sudah bangun melalui kelopak-kelopak yang menyentuh lantai selama pertarungan ini. Garis-garis itu naik ke atas dan bergabung di atas kepala Yan Er, membentuk sangkar yang dibuat bukan dari baja melainkan dari energi yang sangat padat.

Yan Er melihat sangkar itu menutup di sekitarnya.

Matanya memindai sangkar itu dengan sangat cepat—mencari celah. Menemukan satu: di sudut kiri atas, di titik pertemuan empat garis yang seharusnya saling mengunci namun karena geometri dari cara Xueru membangun formasi ini dari bawah, ada sudut yang energinya sedikit lebih tipis dari titik-titik lain.

Yan Er bergerak—bukan ke celah itu secara langsung. Ia melompat ke atas, ke sudut kanan bawah yang berlawanan, kakinya mendorong pada garis sangkar di sana dengan seluruh kekuatan kakinya untuk menghasilkan dorongan balik yang mengirimnya ke sudut kiri atas tempat celah itu ada.

Tubuhnya melewati celah itu dalam cara yang terlihat lebih seperti cairan daripada benda padat.

Sangkar Xueru rusak dari dalam—gaya yang Yan Er terapkan pada satu titik menciptakan tegangan yang tidak bisa ditanggung oleh formasi yang bergantung pada keseimbangan tekanan dari semua titik sekaligus.

Yan Er mendarat di luar sangkar. Cahaya putih formasi itu pudar.

Namun dari posisi mendarat itu—dengan satu lutut di tanah—sebuah tendangan menyapu mengakhiri platform teratai yang Xueru aktifkan untuk mempertahankan jarak vertikal. Platform itu hancur. Xueru kehilangan ketinggiannya dan turun ke lantai arena—satu langkah yang terlihat kecil namun yang mengubah seluruh dinamika posisi karena Yan Er yang ada di bawah tadi kini berada di ketinggian yang sama.

Bahu kiri Xueru mendapat hantaman yang menyebabkan ia terdorong ke samping—darah merembes dari sudut bibirnya, sangat tipis namun ada.

Ia mendarat dengan satu tangan di lantai, mencegah jatuh sepenuhnya. Napasnya masih teratur. Matanya masih sangat fokus.

Di dalamnya, sesuatu yang sudah lama hanya ada sebagai kemungkinan kini mengambil keputusan untuk menjadi kenyataan.

Xueru menutup matanya selama tiga detik.

Tiga detik yang terasa sangat lama di dalam arena yang sudah sangat sunyi karena semua orang yang menonton menahan napas.

Saat matanya terbuka kembali, warnanya masih biru pucat yang sama. Namun cahaya yang ada di dalamnya berbeda—lebih dalam, lebih purba, seperti seseorang membuka jendela ke ruangan yang sudah sangat lama tertutup dan cahaya yang masuk dari sana adalah cahaya dari tempat yang jauh lebih tua dari semua tempat yang ada di sini.

Dari tubuhnya, aura yang berbeda dari energi Yang Sekte Teratai Putih biasa meledak keluar.

"Sekte Teratai Putih, Manifestasi Teratai Suci."

Cahaya perak-putih yang menyelimuti Xueru tidak terlihat seperti cahaya biasa—lebih seperti seseorang melapis permukaan dunia dengan lapisan yang sedikit berbeda di mana cahaya bergerak dengan kecepatan yang tidak persis sama. Di sekitarnya, lantai arena yang sudah rusak dari pertarungan sebelumnya—sebagian diperbaiki oleh formasi otomatis arena, sebagian masih dalam kondisi tidak sempurna—mulai mengandung aroma yang tidak ada sebelumnya. Aroma bunga yang tidak ada di arena ini.

Yu Fan berdiri dari bangkunya tanpa ia sadari melakukan itu.

Di sampingnya, Yuexin—yang sudah mengesampingkan semua hal yang ingin ia katakan untuk nanti—juga berdiri. Matanya tidak pada Yu Fan. Matanya pada arena.

Aura ini, pikir Yu Fan. Ada sesuatu yang sangat kuno di dalamnya. Sesuatu yang lebih tua dari Xueru sendiri. Lebih tua dari Sekte Teratai Putih versi yang ada sekarang.

Setiap ayunan tangan Xueru dalam kondisi Manifestasi Teratai Suci ini menghasilkan gelombang yang tidak hanya mengandung energi—mengandung sesuatu yang lebih prinsipil, lebih fundamental, sesuatu yang bekerja pada tingkat yang lebih dalam dari pertukaran Qi biasa. Lantai arena retak di tempat yang gelombang itu menyentuhnya bukan karena kekuatan fisik melainkan karena sesuatu dalam resonansinya tidak kompatibel dengan struktur material biasa.

Yan Er dipaksa bertahan total.

Pedang-pedangnya bergerak lebih cepat dari sebelumnya—bukan karena ia lebih kuat dari sebelumnya, melainkan karena serangan yang datang dari Xueru sekarang tidak bisa dibiarkan melewati pertahanan dengan hanya menghindar. Setiap gelombang energi yang Xueru hasilkan melacak posisi Yan Er bukan berdasarkan di mana ia sekarang melainkan berdasarkan di mana ia akan ada—pelacakan yang tidak menggunakan informasi tentang momentum dan arah melainkan menggunakan sesuatu yang lebih tidak bisa dijelaskan dan lebih sulit dikelabui.

Luka sayatan kecil mulai muncul di lengan dan bahu Yan Er—dari tepi-tepi energi yang melewati pertahanannya meski ia sudah memaksimalkan semua yang ia miliki untuk mencegah itu.

Namun kemudian—di dalam tekanan yang sudah sangat besar itu—Yan Er tersenyum.

"Kau ingin tahu kenapa aku dipanggil Gadis Rembulan?"

Tangannya membuka—kedua pedangnya dilepaskan.

Tidak jatuh ke lantai. Mereka melayang, masing-masing di satu sisi tubuh Yan Er, seperti sayap yang sedang menunggu instruksi.

Dari dalam tubuh Yan Er, sesuatu bergerak.

Rambutnya berubah pertama—dari hitam ke putih, tidak secara bertahap dari ujung ke akar melainkan sekaligus, seperti seseorang mengganti warna sesuatu yang sangat besar dengan sangat cepat. Kemudian di dahinya, sebuah tanda lahir yang tidak ada sebelumnya muncul—bentuk bulan sabit sangat tipis berwarna biru perak yang posisinya tepat di tengah dahinya.

Dan kemudian—bagian bawah tubuhnya.

Ini bukan transformasi yang terjadi secara paksa atau menyakitkan. Ini terjadi dengan cara yang sangat alami, seperti sesuatu yang sudah sangat lama menunggu giliran untuk ada dan akhirnya diberi izin. Rok biru yang ia kenakan tidak robek—ia memudar dan digantikan oleh sesuatu yang bukan pakaian. Sisik-sisik putih dengan kilau mutiara di setiap permukaannya muncul dalam lapisan-lapisan yang tersusun dengan presisi yang tidak bisa dicapai oleh proses biologis biasa.

Ekor ular raksasa berwarna putih.

Di tribun, keheningan total selama beberapa detik.

"Suku Ular Putih?!" suara Wakil Dekan Ruan Jing dari panggung kehormatan—suara yang jarang sekali mengandung keterkejutan nyata. "Sekte legendaris yang seharusnya sudah tidak ada sejak puluhan ribu tahun lalu—"

Di bangku di tribun timur, Yu Fan menatap Yan Er yang sudah dalam wujud penuhnya—lebih besar dari sebelumnya karena ekornya menambahkan panjang dan volume yang signifikan, dengan kedua pedangnya yang sudah berubah dari baja biasa ke emas dengan bilah melengkung yang memancarkan cahaya bulan yang tidak ada sumbernya di arena ini—dengan cara yang berbeda dari cara ia menatap banyak hal baru.

Suku Ular Putih. Puluhan ribu tahun. Angka itu ada di dalam benaknya dengan cara yang familiar dan tidak familiar sekaligus.

Di arena, ekor raksasa Yan Er bergerak.

Kecepatan yang dihasilkan oleh ekor itu jauh melampaui kecepatan kaki manusia karena panjangnya yang ekstrem menghasilkan kecepatan ujung yang berlipat ganda dari kecepatan sumbernya. Dari gerakan itu, Xueru tidak sempat sepenuhnya menghindar—terhantam dengan cara yang mengirimnya ke udara, melampaui jarak yang seharusnya tidak bisa ditempuh oleh hantaman fisik, dan mendarat di sisi arena yang berlawanan dengan cara yang menunjukkan sistem pertahanan tubuhnya sudah bekerja maksimal untuk meredam dampak namun tidak bisa sepenuhnya berhasil.

Darah di bibirnya sekarang tidak hanya di sudut. Jubah putihnya tidak lagi sepenuhnya putih.

Namun mata biru pucat Xueru—saat ia bangkit dari posisi jatuhnya—masih mengandung cahaya Manifestasi Teratai Suci yang belum padam.

"Aku tidak akan kalah di sini," ucapnya. Suaranya berbeda dari seluruh pertarungan ini—lebih langsung, lebih tanpa lapisan, lebih seperti seseorang yang sudah melepas satu atau dua hal yang biasanya ia jaga.

"Aku juga tidak akan mempermalukan suamiku," balas Yan Er—dan dalam konteks wujud penuhnya, kalimat itu mengandung lapisan yang tidak ada sebelumnya.

Keduanya mengumpulkan apa yang tersisa.

Xueru membentuk teratai dari energi jiwa yang sudah sangat terkuras—bukan kelopak-kelopak yang terpisah melainkan satu teratai yang utuh, sangat besar, mengambang di atas lengan kirinya dalam kondisi yang terlihat hampir seperti suatu makhluk hidup daripada energi yang dimanifestasikan.

Dari sisi Yan Er, cahaya bulan yang ia kumpulkan ke ujung ekornya dan ke bilah pedang emasnya menciptakan kondisi yang membuat seluruh wujud serpentinnya terlihat seperti dilapisi oleh bulan yang sangat dekat—tidak reflektif melainkan emanatif, cahaya yang keluar dari dirinya sendiri.

"ULTIMATUM TERATAI—PENGHANCURAN SURGA!"

"SIHIR BULAN SABIT—TARIAN ULAR PUTIH!"

Dua kekuatan itu bertemu di tepat di tengah arena.

Yang terjadi bukan ledakan dalam pengertian biasa. Ini adalah konvergensi dua hal yang secara fundamental berbeda—dua sistem yang tidak didesain untuk bertemu—dan akibatnya adalah sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai ledakan atau penyerapan atau defleksi. Cahaya yang meledak bukan satu warna melainkan semua warna sekaligus selama satu atau dua detik yang terasa jauh lebih panjang dari itu.

Suara yang dihasilkan terdengar di kota terdekat. Beberapa murid di tribun paling jauh kehilangan keseimbangan karena gelombang tekanan yang menyebar.

Formasi pelindung arena bergetar dengan intensitas yang membuat kristal-kristal pencatat di empat sudut retak.

Ketika semua itu mereda—ketika debu mengendap dan cahaya kembali ke kualitas normalnya dan udara berhenti bergetar—dua wanita berdiri di sisi-sisi arena yang berlawanan.

Yan Er dalam wujud manusia biasanya kembali—rambut putih perlahan kembali ke hitam, tanda bulan sabit memudar, ekor yang sangat panjang mengecil dan menghilang, digantikan oleh kaki yang berdiri di lantai arena dengan sangat tidak stabil. Di tangannya, pedang-pedang emasnya sudah kembali menjadi baja yang sedikit lebih kusam dari saat ia masuk tadi.

Xueru berdiri dengan cara yang sangat serupa—sangat tidak stabil, cahaya Manifestasi Teratai Suci yang tadi ada di dalamnya sudah sepenuhnya padam, dan dalam padamnya cahaya itu wajahnya terlihat lebih lelah dari apa pun yang Yu Fan pernah lihat di wajahnya dalam dua tahun ini.

Kemudian Yan Er tersenyum—ke arah tribun timur, ke satu titik yang sangat spesifik. "Aku... menepati janjiku..." bisiknya.

Matanya terpejam.

Tubuhnya jatuh.

Xueru bertahan dua detik lebih lama—dua detik yang terasa seperti kemenangan kecil yang sangat diperjuangkan. Kemudian tubuhnya menyusul.

"SERI!"

Tim medis masuk segera—dua kelompok dari masing-masing sisi, murid-murid senior dengan tas berisi pil pemulihan dan pembalut meridian yang sudah disiapkan sejak awal acara karena pertarungan di level ini selalu meninggalkan sesuatu yang perlu diperbaiki segera.

Di tribun timur, Yu Fan menatap arena tempat kedua wanita itu dibawa dengan tandu darurat—Yan Er ke sisi barat, Xueru ke sisi timur. Ekspresinya tidak mudah dibaca bahkan oleh orang yang sudah dua tahun mengenalnya.

Di sampingnya, sebuah tangan mungil meraih telinganya.

Sangat pelan. Sangat terkontrol. Seperti seseorang yang telah memutuskan dengan sangat sabar bahwa ini adalah momennya dan tidak akan dilewatkan.

"Aduh."

"Ikut aku, Yu Fan." Suara Yuexin tidak berteriak. Justru karena tidak berteriak suaranya terasa lebih berat dari teriakannya yang biasa. "Malam ini kita bicara. Dari awal sampai akhir. Tanpa ada yang terlewat."

Yu Fan menatap arena sekali lagi—Xueru sudah tidak terlihat di balik tim medis yang mengerumuninya, Yan Er sudah dibawa ke sisi barat. Di panggung kehormatan, Dekan mengumumkan penundaan.

Kemudian ia menarik napas panjang dan mengikuti Yuexin keluar dari tribun—atau lebih tepatnya, mengikuti telinganya yang masih dipegang oleh tangan yang sangat tidak mau dilepas.

Murid-murid yang mereka lewati di lorong tribun memandang dengan ekspresi yang bervariasi antara simpati dan hiburan yang tidak sepenuhnya bisa disembunyikan.

Mo Han yang duduk di sisi lain tribun dalam kondisi yang juga tidak terlalu baik—luka bakar di sebagian permukaan kulitnya sudah dibalut namun Manifestasi Tanduk Iblis yang tadi ia keluarkan meninggalkan efek yang lebih lama dari yang terlihat di luar—menatap Yu Fan yang lewat dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya, mengandung simpati yang tulus. "Semoga selamat," ucapnya pelan.

Yu Fan meliriknya sebentar. "Kau juga."

Fa Hai yang duduk di sebelah Mo Han mengatupkan tangannya. "Amitabha."

Kamar pribadi Yuexin di gedung murid istimewa—satu-satunya kamar yang memiliki karpet dari Kerajaan Tianwu yang dikirim oleh Raja Jin Wu dengan alasan untuk memastikan kenyamanan putrinya selama studi, yang warnanya sangat mencolok di antara dekorasi standar akademi namun yang tidak ada yang berani mengomentari karena itu adalah karpet dari raja—malam itu diterangi oleh dua lampion yang diletakkan di posisi yang persis menciptakan cahaya yang tidak menyisakan sudut gelap di manapun di ruangan itu.

Yuexin duduk di kursi kerjanya yang diputar menghadap ke tengah ruangan—bukan menghadap ke meja kerjanya yang berisi catatan kuliah, melainkan ke arah kursi yang ia letakkan di tengah ruangan dengan cara yang sangat spesifik sebelum mereka tiba.

Yu Fan duduk di kursi tengah itu.

Tangan Yuexin terlipat di pangkuannya. Punggungnya tegak. Ekspresinya—dalam cahaya dua lampion yang hangat—tidak marah. Lebih kompleks dari marah. Marah adalah sesuatu yang sederhana. Yang ada di wajah Yuexin malam ini adalah sesuatu yang membutuhkan banyak bahan yang berbeda untuk dibuat.

"Ceritakan," ucapnya. "Dari awal."

Yu Fan menatap wajah itu selama dua atau tiga detik—wajah yang sudah sangat ia kenal dalam dua tahun ini, yang selalu mengandung sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh ekspresi apa pun yang dipilihnya karena terlalu hidup untuk bisa sepenuhnya tersembunyi.

Dan ia bercerita.

Malam di pasar. Tanghulu yang tidak jadi dibeli karena matanya menangkap jubah putih yang terbang terlalu cepat. Kembali ke pasar setelah sembuh dari luka. Panggung, duel, koin emas yang dikembalikan. Kalimat tentang istri yang tidak ia setujui namun juga tidak secara aktif ia tolak dengan cara yang seharusnya lebih tegas. Kotak kue lacquer merah yang masih ada di dalam cincin dimensinya.

Yuexin mendengarkan tanpa memotong. Matanya tidak bergerak dari wajahnya.

Saat Yu Fan selesai, keheningan berlangsung selama beberapa detik.

"Kau memberikan rekomendasi untuk program latihan tiga bulan di akademi," ucap Yuexin akhirnya. "Tanpa memberitahuku."

"Ya."

"Dan kotak kue itu masih ada di dalam cincin dimensimu."

"Ya."

Keheningan lagi. Sedikit lebih panjang.

"Kenapa tidak memberitahuku?" Suaranya sangat pelan sekarang—jauh lebih pelan dari semua suara Yuexin yang ia kenal, termasuk suaranya saat tengah malam di atas atap paviliun. "Bukan tentang rekomendasi. Bukan tentang kuenya." Matanya turun sebentar ke tangan yang terlipat di pangkuannya, kemudian naik kembali. "Tentang apapun yang kau anggap tidak perlu aku ketahui."

Yu Fan tidak langsung menjawab.

"Bukan karena aku tidak mau memberitahumu," ucapnya akhirnya. "Lebih karena aku tidak selalu tahu apa yang penting untuk diceritakan dan apa yang tidak. Dan aku—" Ia berhenti sebentar, mencari kata yang tepat dengan cara yang jarang ia lakukan karena biasanya kata-kata yang ada sudah cukup. "Aku tidak ingin membuatmu khawatir tentang hal-hal yang belum tentu perlu dikhawatirkan."

"Yu Fan."

"Ya."

"Aku sudah hampir jantungan tiga kali dalam dua tahun karena hal-hal yang tidak kau ceritakan." Matanya bertemu matanya dengan cara yang sangat langsung. "Membuat aku tidak khawatir bukan dengan cara tidak memberitahuku. Membuat aku tidak khawatir adalah dengan cara memberitahuku sehingga aku tahu."

Di dalam kamar dengan dua lampion itu, malam yang di luar masih riuh dengan sisa-sisa kegembiraan penonton dari pertandingan hari ini, keheningan itu mengandung berat yang berbeda dari berat kata-kata yang baru saja diucapkan.

"Mengerti," ucap Yu Fan.

Yuexin menatapnya satu detik lagi. Kemudian tangan yang terlipat di pangkuannya mengendur sedikit. "Dan Yan Er itu—"

"Bukan apa-apa yang kau pikirkan."

"Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan, Yu Fan. Itu masalahnya." Suaranya kembali ke nada yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya namun masih jauh di bawah nada normalnya. "Gadis yang mengaku jadi istrimu muncul di barisan lawan, bertarung hampir mati sampai jadi ular raksasa, dan jatuh pingsan dengan menyebut namamu. Itu bukan sesuatu yang mudah untuk tidak dipikirkan."

Yu Fan tidak bisa membantah logika itu.

"Aku akan menjelaskan lebih baik," ucapnya. "Mulai sekarang."

"Kau berjanji?"

"Ya."

Yuexin menatapnya beberapa detik lagi dengan cara yang sedang memverifikasi apakah yang baru diucapkan mengandung bahan yang cukup untuk dipercaya atau tidak. Kemudian ia berdiri dari kursinya, berjalan ke meja kerjanya, mengambil sesuatu, dan meletakkannya di hadapan Yu Fan.

Dua cangkir teh yang sudah dingin.

"Aku sudah menyiapkan ini sejak tadi," ucapnya. "Sebelum kita bicara. Karena aku tahu percakapan ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama." Ia kembali ke kursinya. "Minumlah."

Yu Fan menatap cangkir teh yang sudah dingin itu. Kemudian ia mengambilnya dan meminumnya—teh yang sudah tidak panas namun masih mengandung rasa yang menunjukkan seseorang yang menyiapkannya dengan sangat hati-hati sebelum dingin.

Di luar jendela kamar Yuexin, cahaya bulan yang sama yang memberikan kekuatan pada Yan Er tadi—bulan purnama yang masih di posisi tertingginya malam ini—memancarkan cahayanya ke atap-atap akademi dan ke lapangan arena yang kini sudah kosong dari penonton namun masih menyimpan jejak-jejak dari semua yang terjadi sore ini di permukaan lantainya.

Dan di dalam cincin dimensi Yu Fan—berdenyut sangat pelan dan sangat teratur, tidak sabar namun sangat sabar sekaligus—telur emas-putih-biru itu menghangatkan tangannya dari jauh, seperti sesuatu yang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang belum selesai di luar malam ini.

Dua ronde lagi. Dua seri.

Dan Sir Alaric masih belum turun dari punggung Sleipnir-nya.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!