“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Naura Kabur
Naura terbangun oleh suara ibunya yang membuka gorden kamar dengan kasar, membiarkan cahaya matahari menampar wajahnya tanpa ampun.
"Naura, bangun. Hari ini keluarga Al-Farizi datang."
Naura mendengus, menarik selimut menutupi kepalanya. "Aku sakit."
"Kamu tidak sakit. Kamu hanya pengecut," Diana membalas tanpa basa-basi, menarik selimut itu hingga terlepas dari genggaman Naura. "Kakimu tidak bengkak, dahimu tidak panas, dan kamu tidak muntah. Jadi bangun."
"Mama!"
"Tidak ada 'Mama'! Mereka datang jam sepuluh untuk membicarakan lamaran secara resmi. Ayahmu sudah stres setengah mati mengurus kasus Rangga. Jangan tambah beban dia dengan sikap anak kecilmu ini."
Naura duduk di tempat tidur, rambutnya berantakan, matanya masih berat. Ia menatap ibunya dengan tatapan memberontak, tapi Diana tak mundur sedikit pun. Mata sosialita itu tajam, menatap Naura dengan authoriti yang jarang ia tunjukkan.
"Ini bukan tentang kamu ingin atau tidak lagi, Naura," suara Diana melunak, tapi tetap tegas. "Ini tentang keluarga kita. Kamu sudah lihat sendiri apa yang terjadi di media sosial, sudah dengar sendiri bagaimana orang-orang memperlakukanmu. Pernikahan ini mungkin satu-satunya tameng yang kita punya."
Naura menunduk, menatap tangannya yang tergenggam di atas seprai. Tameng. Ia sudah mendengar kata itu berkali-kali. Sampai ia muak.
"Aku butuh waktu," bisik Naura.
"Kamu sudah punya waktu tiga hari," Diana berbalik menuju pintu. "Mandi, berpakaian rapi dan jangan buat malu kita lebih dari yang sudah kamu lakukan."
Pintu tertutup.
Naura duduk membeku di tempat tidur, mendengarkan suara langkah ibunya yang menjauh. Ddanya sesak, tenggorokannya terasa seperti dicekik oleh tangan tak kasat mata.
Ia meraih ponsel di meja nakas, membukanya. Layar langsung dipenuhi notifikas semua tentang Gus Azzam, tentang Zahra, tentang perjodohan yang tak diinginkannya. Dunia tiba-tiba terasa terlalu kecil. Terlalu sesak, mata yang menonton, terlalu banyak mulut yang menghakimi, terlalu banyak ekspektasi yang dipikulkan di bahunya.
Naura membuka aplikasi kalender.
Hari ini: Kamis.
Besok: Jumat.
Acara lamaran resmi: Sabtu.
"Dua hari," batinnya. "Dua hari lagi dan hidupku selesai."
Ia menggenggam ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya bergerak ke sekeliling kamar poster art gallery, rak novel, vas bunga, terrarium di meja nakas, buku harian merah muda di bawah bantal. Semuanya adalah dunianya. Dunia yang ia bangun sendiri. Dunia yang akan direnggut darinya.
"Tidak," bisik sesuatu di kepalanya. Sesuatu yang keras, liar, dan sangat familiar. Sesuatu yang selalu muncul setiap kali ia merasa terjebak. "Tidak, aku tidak akan membiarkan ini terjadi."
Naura melompat dari tempat tidur.
Ia tidak mandi. Ia tak berpakaian rapi. Ia membuka lemari pakaiannya, menarik ransel travel berukuran sedang dari bagian belakang, dan mulai memasukkan barang-barang ke dalamnya dengan gerakan yang terburu dan tidak teratur.
Baju, celana, underwear, charger, onsel. Dldompet, kacamata hitama, buku harian merah muda Dan unci mobil.
Ia mengepakan ransel itu, mengenakan hoodie hitam oversized, memasukkan rambutnya ke dalam hoodie, lalu mengenakan kacamata hitama besar. Cosplay jadi wibu.
Saat ia menarik ransel ke bahunya, matanya terjatuh pada terrarium di meja nakas. Tanaman kecil itu tampak segar, daun-daun sukulennya hijau berisi, tersenyum padanya dalam diam.
Naura menggigit bibirnya. Ia ingin membawanya. Tapi ranselnya sudah penuh dan terrarium itu... terrarium itu milik orang lain. Orang yang ia coba tinggalkan.
"Maaf," bisik Naura pada tanaman itu, sebelum berbalik dan membuka pintu kamarnya.
Lorong lantai dua sunyi. Kamar orang tuanya berada di ujung lorong, pintunya tertutup. Suara ibunya terdengar samar dari bawah sedang memberi instruksi pada pembantu tentang persiapan tamu.
Naura berjinjit menyeberangi lorong, menuruni tangga belakang yang menuju ke pintu samping. Langkahnya cepat tapi hati-hati, jantungnya berdebar seperti drum di telinganya.
Ia melewati dapur, melewati ruang cuci, dan klik pintu samping terbuka.
Udara pagi yang dingin menyapu wajahnya. Gerimis tipis masih menyisakan aroma tanah basah. Awan gelap menggantung rendah, seolah langit pun sedang murung.
Naura berlari kecil menuju garasi terpisah di samping rumah. Mobil convertible merahnya parkir di sana, mengkilap di bawah cahaya yang suram. Ia membuka pintu mobil, melempar ransel ke kursi penumpang, dan duduk di kursi pengemudi.
Kunci. Start. Mesin menderu hidup.
Naura menarik napas panjang, menatap rumah megahnya melalui kaca spion. Rumah yang selama ini menjadi sangkarnya. Rumah yang kini terasa seperti penjara.
"Maafkan Naura, Ma, Pa. Naura nggak bisa. Gue belum siap."
Ia menekan pedal gas.
Mobil merah itu meluncur keluar dari garasi, membelah gerbang samping, dan meninggalkan rumah keluarga Mahendra dengan kecepatan yang lebih tinggi dari yang seharusnya.
Tak ada yang berteriak, mengejar, jangan sampai. Naura menoleh sekali, terakhir kali, lalu memfokuskan matanya ke jalan.
"Lepas," batinnya, saat angin menerpa wajahnya meski atap mobil masih tertutup. "Akhirnya lepas, tapi lepas ke mana?"
Ia tak tahu, tak punya rencana. Satu-satunya yang ia tahu adalah ia harus pergi. Jauh dari wasiat, jauh dari lamaran, jauh dari mata hitam yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih, jauh dari nama "Zahra Humaira" yang membuat perutnya terasa seperti diremas.
Naura mengemudi tanpa tujuan, membelah jalanan yang padat, berbelok semaunya, mengikuti arus lalu lintas seperti daun yang terbawa arus.
Sejam berlalu. Lalu dua jam. Hujan mulai turun lagi tadinya gerimis, lalu semakin deras. Naura menaikkan atap mobil secara otomatis, mengurangi kecepatan, dan akhirnya... berhenti.
Ia tidak tahu di mana ia berada.
Jalan kecil yang asing, deretan ruko tua yang separuh kosong Dan sebuah warung kopi kecil dengan lampu kuning yang berkedip di ujung jalan. Tak ada mall, atau cafe aesthetic, cuma ada tempat yang familiar.
Mobil berhenti di bawah pohon besar di pinggir jalan. Hujan kini turun dengan sangat deras, mengurangi jarak pandang hingga hanya beberapa meter. Naura mematikan mesin, duduk dalam kegelapan, dan mendengarkan suara hujan yang menghantam atap mobil.
Untuk pertama kalinya sejak ia melarikan diri, Naura merasakan sesuatu yang tidak ia antisipasi.
Kesepian.
Bukan kesepian yang tenang atau kesepian yang ia nikmati saat membaca novel di kamar. Tapi kesepian kesepian yang datang dari sadar bahwa ia tidak punya tempat tujuan.
Ke mana ia akan pergi? Kepada siapa ia akan meminta bantuan?
Cipa? Orang tuanya pasti akan menelepon Cipa pertama kali. Hotel? Ia butuh KTP dan kartu kredit, dan ayahnya bisa melacak transaksinya. Teman-teman kuliah? Mereka bukan orang yang bisa ia percaya.
Naura menyandarkan kepalanya di steering wheel, merasakan dinginnya plastik dan kulit di dahinya. Matanya mulai perih.
"Gue bodoh," batinnya. "Gue kabur tanpa rencana, berperang tanpa strategi. Kenapa gue selalu begini? Kenapa selalu bertindak duluan, mikir belakangan?"
Ia meraih ponsel di samping kursi, melihat layarnya. Tujuh panggilan tak terjawab dari Mama, tiga dari Papa, dua dari Cipa. Dan satu... satu dari nomor yang tidak dikenal.
Naura mengerutkan dahi, membuka pesan dari nomor asing itu.
Unknown: Naura, ini Azzam. Abi Hanan memberiku nomormu karena keadaan darurat. Ibumu menelepon pesantren. Kamu tidak di rumah. Kamu baik-baik saja?
Mata Naura melebar.
Azzam. Azzam meneleponnya. Azzam mencarinya. Azzamnpria yang ia tolak di depan semua orangbadalah orang pertama di luar keluarganya yang bertanya apakah ia aman.
Naura menatap pesan itu lama-lama. Jempolnya melayang di atas keyboard, ingin membalas, tapi tidak tahu harus menulis apa.
"Iya, gue baik-baik aja. Gue cuma kabur karena gue pengecut? Tidak, gue tidak baik-baik saja. Gue tersesat dan aku bodoh." batinnya.
Sebelum ia bisa memutuskan, ponselnya bergeta lagi. Kali ini bukan pesan tap anggilan masuk.
Dari nomor yang sama.
Naura menatap layar berkedip itu, jantungnya berdebar brutal, tangannya gemetar ia tidak bisa menjawab. Tidak boleh. Karena jika ia mendengar suara bariton itu lagi, ia takut ia akan melakukan sesuatu yang sangat tidak Naura, seperti menangis, atau meminta tolong, atau mengakui bahwa ia tersesat dan tidak tahu harus ke mana.
Panggilan terputus. Lalu pesan masuk.
Azzam: Kamu tidak menjawab. Aku akan menganggap kamu tidak aman sampai kamu memberitahuku sebaliknya. Tolong balas, Naura.
Naura menggigit bibirnya hingga terasa sakit. Air mata yang sejak tadi ia tahan dengan susah payah akhirnya jatuh juga. Ia menangis di dalam mobil yang terparkir asal di pinggir jalan yang tidak ia kenal, di tengah hujan deras, sendirian, dengan ponsel di tangan yang menampilkan pesan dari pria yang seharusnya ia benci.
"Aku tidak benci dia," akui Naura akhirnya, dalam diam. "Aku tidak pernah benci dia. Aku hanya takut. Takut pada perasaan yang ia berikan. Takut karena ia membuatku merasa hal-hal yang tidak seharusnya kurasakan."
Ponselnya bergeta lagi. Pesan baru.
Azzam: Hujan deras di Jakarta sekarang. Apakah kamu di dalam ruangan?
Naura menatap hujan yang menghantam kaca mobilnya. "Tidak," batinnya. "Aku di tengah hujan, tersesat seperti orang bodoh."
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu dengan tangan yang masih gemetar ia mengetik balasan.
Naura: Nggak.
Kirim.
Hanya satu kata. Tapi itu cukup untuk membuatnya panik, kenapa ia membalas?! Kenapa ia tak mematikan ponselnya dan menghilang?! Kenapa...
Balasan datang dalam hitungan detik.
Azzam: Aku tahu. Ibumu sangat khawatir. Kamu bisa memberitahuku di mana kamu? Aku tidak akan memberitahu siapa pun jika kamu tidak mau.
Naura menatap pesan itu, dadanya sesak. "Aku tidak akan memberitahu siapa pun." Pria itu mengerti. Ia mengerti bahwa Naura butuh ruang. Ia mengerti bahwa Naura tidak ingin ditemukan setidaknya bukan oleh orang tuanya.
Tapi mengapa Azzam berbeda? Mengapa ia tak keberatan jika Azzam yang menemukannya?
Naura: Gue nggak Tau ini dimana. Jalan kecil, ada warung kopi, ruko-ruko tua. Banyak pohon.
Balasan datang cepat.
Azzam: Kamu lewat jalan apa dari rumahmu? Belok ke kanan atau kiri saat keluar gerbang?
Naura berpikir keras.
Naura: Kiri, gue belok kiri. Terus lurus sampai... sampai tersesat.
Azzam: Kiri dari gerbang rumahmu, lurus ke arah selatan. Kira-kira sejam?
Naura: Iya.
Azzam: Baik. Tetap disana, tutup pintu mobil. Nyalakan double alarm. Aku sedang dalam perjalanan kesana.
Naura terkejut. "Dalam perjalan?! Apa..."
Azzam: Jangan keluar dari mobil. Hujan terlalu deras. Aku akan menemukanmu.
Lalu tak ada pesan lagi.
Naura menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk takut, bingung, marah pada dirinya sendiri, dan... sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan tidak diundang yang merayap ke dalam dadanya.
"Dia datang mencariku."
Gadis dalam dirinya gadis yang membaca novel romance dan diam-diam bermimpi tentang pahlawan yang datang dalam badai berteriak kegirangan. Tapi wanita dalam dirinya wanita yang bangka pada kemandirinya dan menolak diselamatkan marah.
"Aku tidak butuh diselamatkan!" batin Naura. "Aku kabur karena aku tidak ingin diatur! Dan sekarang aku menunggu seorang ustaz datang menyelamatkanku?! Ini sangat memalukan!"
Tapi ia tidak mematikan ponselnya. Ia tidak mengemudi pergi. Tak bergerak sama sekali.
Ia hanya duduk di sana, di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan asing, di tengah hujan yang semakin deras, menunggu.
Menunggu seorang pria yang entah bagaimana menjadi satu-satunya orang yang ingin ia temui saat seluruh dunia terasa terlalu berat.
Naura memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di kursi, dan berbisik pada dirinya sendiri.
"Lo benar-benar masalah besar, Gus Azzam."
.
.
.