NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 26 :Rumah Berkat 4

Ep 26: RUMAH BERKAT 4

Minggu ceria. Jam 3:12 subuh.

Kamar atas Rumah Berkat

Indry bangun pelan. Nggak pakai alarm. Tubuhnya udah hafal: hari Minggu, jam 3 subuh, Rosario.

Lampu kecil nyala. Dia duduk di pinggir kasur, napas panjang. Tangan ambil rosario di laci.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pelan di pintu.

Zaki: “Sayang… doa?”

Indry buka pintu.

Rambut acak, kaos polos, celana panjang.

Zaki berdiri di depan. Kaos putih, celana training. Matanya masih ngantuk tapi senyum.

Zaki .Cup kening Indry. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Zaki: “Doa, sayang…”

Indry angguk. Dia masuk lagi. Zaki ikut. Nggak tanya. Cuma baring di sebelah. Nggak nempel, nggak jauh. Ada jarak sopan tapi hangat.

Indry mulai Doa. “Dalam nama Bapa…”

Zaki pejam mata. Nggak ikut doa, tapi ikut diam. Menghormati.

Suara hujan Karawaci pelan. Bunyi AC.

Suara Bisik bisik lantunan Salam Maria berulang.

Lalu satu kata. Yesus. Yesus. Yesus. Yesus. Yesus. entah berapa banyak.... cukup lama...

sampai Zaki beneran ketiduran.

Selesai Doa. Indry tarik napas. Tubuhnya lemas tapi tenang. Dia geser.

Masuk ke pelukan Zaki. Dada Zaki jadi tempat ternyaman yang baru.

Zaki usap punggung Indry. Pelan.

Zaki: “Kamu hebat, sayang.”

Indry: “Kamu juga. Nungguin aku doa jam 3 subuh.”

Zaki: “Aku belajar sabar dari kamu.”

Mereka diem. Nggak ada yang lebih. Cuma pelukan. Hangat. Aman.

 

_Jam 5:04 pagi. Dapur bawah._

Mama Zaki udah bangun. Selesai sholat subuh.

Mukenanya masih di bahu. Dia dengar suara dari atas. Nggak kaget.

Dia tau Zaki lagi di kamar Indry. Dia biarin. Karena dia percaya dua anak yang lagi jatuh cinta itu punya batas.

Mama Zaki rebus air. Bikin teh manis. Potong sayur buat sayur sop. Goreng tempe.

“Anak-anak itu butuh makan enak habis misa,” batinnya.

Dia nggak naik ke atas. Nggak ngintip. Cuma senyum kecil.

“Ya Allah… jaga mereka.”

 

_Jam 5:30 pagi. Kamar atas._

Zaki masih baring di sebelah Indry. Tapi kali ini dia mulai nakal.

Dia naik pelan ke atas Indry. Nggak kasar. Nggak maksa. Cuma nindih pelan, siku nyangga.

Zaki: “Ntar kita nikah… kayak gini ya, sayang. Tiap subuh aku tunggu kamu doa.”

Indry buka mata. Napasnya pelan.

Indry: “Jangan ngomong gitu, Zak. Aku nggak kuat.”

Zaki senyum nakal. Jari tangannya udah masuk ke bawah kaos Indry. Hangat. Lembut.

Zaki: “Kamu tau kan rasanya… nunggu halal itu nyiksa.”

Indry gigit bibir. Nggak nolak. Tapi tangan Indry nahan tangan Zaki.

Indry: “Tahan, Zak. Bentaran lagi. Kita udah janji.”

Zaki tarik napas panjang. Dahi ketemu dahi.

Zaki: “Aku cinta kamu, Indry. Gila rasanya.”

Indry: “Aku juga, Zaki. Tapi kita tahan. Demi yang halal.”

Zaki turun. Baring lagi di sebelah. Tarik selimut. Tutup muka.

Zaki: “Aku ke toilet dulu ya. Maaf nyiksa kamu.”

Indry ketawa pelan. Cup kening Zaki.

Indry: “Ntar aku bayar lunas, kalau udah halal.”

Zaki bangun. Jalan ke toilet. Keringetan.

Indry pejam mata. Napas belum stabil.

“Ya Tuhan… kuat kan kami.”

 

_Jam 6:45 pagi. Teras._

Mama Zaki udah rapi. Baju batik, kerudung rapi.

Mama: “Nak, bangun. Jam 7 misa. Ayo siap-siap.”

Indry keluar kamar. Rambut basah. Wajah masih merah.

Indry: “Iya, Bu. Zaki mana?”

Mama: “Di kamar mandi. Dingin-dinginin kepala.”

Zaki keluar. Kaos ganti. Rambut basah. Muka tegang.

Zaki: “Pagi, Bu.”

Mama: “Pagi, Nak. Udah siap?”

Zaki angguk. Nggak berani tatap Indry lama-lama.

Mereka berangkat. Jalan kaki ke St. Helena. 7 menit.

Mama Zaki di tengah. Indry di kanan. Zaki di kiri. Tiga orang. Satu tujuan.

 

_Jam 7:00 pagi. Gereja St. Helena._

Misa Minggu. Pastor senyum lihat mereka.

Pastor: “Hari ini ada tamu dari Tegal. Selamat datang, Ibu.”

Jemaat lambaian. Mama Zaki malu-malu.

Indry duduk paling depan. Zaki di samping. Mama di sebelah Zaki.

Pas doa syukur, Indry genggam tangan Zaki.

Zaki genggam balik. Kuat.

****

Selesai misa. Jam 8:20 pagi.

Romo masih pakai Jubah lansung kasi Kode panggil ke Indry.Lansung dong Indry keliatan Romonya kan tadi udah keluar, kok Romo balik masuk lagi.

Indry nunjukin arah dirinya, maksudnya kode, Romo Panggil saya, dari jauh.

Romo ngangguk kasi kode sekalian Zaki sama Ibu nya. Indry Faham. lalu nyolek Zaki dan Ibu buat segera Nyamperin Romo.

"Indry, Zaki ikut saya bentar ya... "

Pastoran St. Helena. Aromanya masih kopi dan dupa.

Indry termasuk Aktif di Gereja.

Romo udah Notice liat Ibu kerudungan masuk Gereja sama Zaki disebelah nya. kontras sama Indry pake Mantila

(dalam Gereja tadi *) agak lain memang pasangan ini. dalam hati Romo. Perlu ku panggil pula selesai Misa Nanti ini.

begitu selesai lepas jubah, Romo duduk di kursi sebelah. Zaki, Indry,Mama Zaki masih berdiri dekat pintu masuk yang dibuka lebar.

Pastor: “Zaki, Indry, Ibu… mari sebentar. Duduk ya.”

Dia nunjuk sofa kayu kecil. Di meja ada Alkitab dan gelas air putih.

Pastor senyum ke Mama Zaki dulu.

Pastor: “Ibu, selamat datang di Karawaci. Terima kasih sudah datang jauh-jauh. Saya dengar Ibu yang paling hebat bela dua anak ini.”

Mama Zaki malu-malu: “Aduh Romo, saya cuma ibu biasa.”

Pastor ngangguk, lalu tatap Zaki dan Indry.

Pastor: “Jadi gini ya . Romo udah ngobrol panjang sama Zaki kemarin. Romo tau kalian serius. Tapi karena ini nikah beda agama, ada beberapa hal yang Gereja wajib jelaskan. Bukan buat nahan kalian, tapi biar kalian kuat.”

Zaki: “Siap, Romo. Saya denger.”

Pastor: “Pertama, Indry. Kamu masih mau Katolik kan?”

Indry: “Iya, Romo. Saya nggak akan pindah.”

Pastor: “Bagus. Dan Zaki, kamu izinkan Indry tetap Katolik, dan izinkan anak-anak kalian dibaptis Katolik?”

Zaki tarik napas. Tatap Indry. Terus jawab tegas:

Zaki: “Saya izinkan, Romo. Saya hormat iman Indry. Saya nggak akan paksa.”

Pastor angguk pelan.

Pastor: “Itu yang namanya dispensasi. Suratnya nanti Romo yang urus ke Keuskupan. Tapi surat itu nggak ada artinya kalau kalian berdua nggak saling hormat setiap hari.”

Mama Zaki pegang tangan Indry.

Pastor lanjut:

Pastor: “Romo nggak tanya Zaki mau pindah atau nggak. Itu urusan Zaki sama Tuhan. Tapi Romo minta satu hal: Zaki, jaga Indry baik-baik. Jangan bikin dia kecewa. dan kamu. Indry, doakan Zaki. Biar hatinya makin lembut.”

Zaki: “Siap, Romo.”

Indry: “Siap, Romo.”

Pastor berdiri. Ambil rosario kecil dari laci.

Pastor: “Ini buat kalian berdua. Rosario ini Romo doakan khusus. Biar setiap kali kalian pegang, ingat: cinta itu sabar. Cinta itu memberi ruang.”

Dia serahin ke Indry. Indry terima, air mata udah di ujung mata.

Pastor taruh tangan di kepala Zaki dan Indry.

Pastor: “Tuhan memberkati kalian. Jaga kasih itu. Romo doakan kalian bisa sampai ke altar dengan tenang.”

Mama Zaki nangis pelan.

Mama: “Makasih Romo. Saya tenang sekarang.”

Pastor ketawa kecil:

Pastor: “Ibu tenang, Romo juga tenang. Sekarang pulang, makan sop ikan buatan Indry. Romo lapar.”

Semua ketawa pecah. Suasana berat jadi ringan.

--

saat hendak keluar HP Indry bergetar. Paman Marsel. Video call.

Indry angkat. Paman muncul. Wajah tegas. Background rumah kampung.

Paman: “Indry! Ada Zaki kan? Biar ngomong langsung!”

"Iya ada paman. tapi ini masih di gereja. sebentar lagi. sebentar sampai rumah nanti Indry Telfon balik ya, bisa, Paman? "

Tuttt... Vidio Call dimatikan.

Begitu sampai rumah. Minum air putih.

"Zak, kamu siap kan ngomong sama Paman aku? "

"Iya, Sayang.... aku siap. Telfon gih. "

Tuuttttt... Vidio Call lansung diangkat.

Indry kasih HP ke Zaki.

Zaki: “Selamat pagi, Paman.”

Paman: “Pagi! Saya Paman Marsel. Saya mau tanya langsung. Kamu serius sama Indry?”

Zaki: “Serius, Paman. Saya siap nikah. Siap jaga dia.”

Paman: “Kamu Islam. Dia Katolik. Anak nanti gimana?”

Zaki: “Kami sepakat. Anak ikut Katolik. Saya hormat itu. Saya nggak akan paksa.”

Paman: “Hormat doang nggak cukup! Kamu harus tanda tangan! Kamu harus janji di depan pastor!”

Zaki: “Saya siap, Paman. Saya udah ketemu Romo. Saya paham konsekuensinya.”

Mama Zaki maju. Ambil HP.

Mama: “Pak Marsel, saya Mama Zaki. Saya ibu Zaki. Saya yang besarkan dia. Saya tau anak saya. Dia bukan laki-laki main-main.” serobot aja Mama Zaki, belain anak nya ya harus gitu.

Paman: “Bu, saya takut anak saya kehilangan iman!”

Mama: “Pak, iman itu bukan hilang karena cinta. Iman itu dijaga karena cinta. Zaki jaga Indry. Indry jaga Zaki. Itu cukup.”

Paman diem. Tarik napas.

Paman: “Kalau begitu… saya serahkan ke Tuhan. Saya nggak mau musuh keluarga.”

Zaki: “Makasih, Paman. Kami akan jaga kepercayaan itu.”

Paman: “Jaga Indry baik-baik. Kalau kamu sakiti dia, saya datang ke Tegal.”

Zaki: “Siap, Paman.”

Paman, "Foto Cincin nya kirim nanti. "

bleeessss ini Paman Indry kalo ketemu ngeri kali...

Video call dimatiin. semua tarik nafas panjang.

Mama Zaki peluk Zaki.

Mama: “Kamu hebat, Nak.”

Zaki: “Makasih, Bu.”

Indry peluk Mama Zaki.

Indry: “Makasih, Bu. Ibu bela kami.”

Mama: “Karena kalian anak Ibu.”

Ibu Zaki ingat kata Romo, “Keluarga itu jembatan. Bukan tembok.”

 

_Jam 10:30 pagi. Grup WA “Keluarga AndreBetari” meledak._

Meta setelah tau kabar Paman Indry telfon Zaki, lansung send ulang ke kontak sodara sodara. pesan sama.

Meta: “DRY!!! GIMANA TADI!!! PAMAN MARSEL TEGAS BANGET YA GAK NERIMA ZAKI!!!” Meta lansung tembak Group setelah update berita dari Indry.

Carel: “Tapi Kak Zaki jawab tenang banget. Aku merinding.”

Paul: “Mama Zaki keren. Belain kalian.”

Mauba: “Kak, aku bangga. Keluarga kalian dewasa.”

Ogah: “KAK!!! PAMAN MARSEL BILANG MAU DATANG KE KARAWACI!!! SIAPIN MARTABAK!!!”

Indry, "Meta..... kamu ember bocor banget, udah cerita apa aja sama anak anak... hadewwww... "

"Ogah, ke Tegal bukan karawaci, tu kalo Zaki Nakalin kakak. "

Meta, "BERITA BAIK JANGAN DISIMPAN LAMA2!!!!! BISA KADALUARSA, ZEYENKKKKK!!!! "

Zaki ketik: “Semua tenang ya. Paman udah paham. Kita jaga batas. Kita jaga doa.”

Indry: “Makasih kalian semua. Doa kalian sampai.”

Meta: “EH TAPI GUE JUGA MAU UPDATE!!! MR BULE UDAH KETEMU MAMA GUE!!! MAMA GUE BILANG ‘BOLEH, ASAL NGGAK NAKAL’!!!”

Semua: “WOOOO!!!”

Meta: “DIA BILANG MAU LAMARAN BULAN DEPAN!!! KARTU DIA SIAP BUAT BELI SOFA LAGI!!!”

Indry: “Meta… istigfar.”

Semua ketawa.

Grup jadi panjang. Cerita Meta, cerita Carel kerja, cerita Paul mau ambil S2, cerita Mauba diajak Dara main ke rumahnya.

Tapi semua ujungnya balik ke Zaki-Indry.

Carel: “Kak, kapan kalian lamaran?”

Zaki: “Tunggu kakak mu bisa ambil cuti kerja agak lama, kan kita balik Kalimantan bersama. atau kalo gak dapat cuti secepatnya pindah kerja, kakak yakin bakal lagi kerjaan. atau gak usah kerja aja ya...jadi istri yang slalu ada buat suami. ciiieeee.”

Semua: “WOOOOwwwwwww!!!”

 

_Jam 2:00 siang. Rumah Berkat._

Mama Zaki Goreng Ayam buat sambel. Indry bantu. Zaki potong tempe.

Bau dapur penuh.

Mama: “Nak, kamu capek nggak kemarin malam?”

Indry merah. “Bu…”

Mama: “Ibu tau. Ibu juga muda dulu. Tapi tahan ya.

Nanti kalau udah halal, nggak ada yang larang.”

Indry: “Iya, Bu.”

Mama: “Zaki itu laki-laki baik. Jaga dia ya.”

Indry: “Iya, Bu.”

Zaki denger dari luar. Dia nggak masuk. Cuma senyum.

“Perempuan-perempuan ini… aku nggak layak,” batinnya.

 

_Jam 9:00 malam. Teras Rumah Berkat._

Hujan lagi. Lampu kuning remang.

Indry dan Zaki duduk. Mama Zaki udah tidur.

Zaki: “Sayang… capek ya hari ini?”

Indry: “. Nggak sih...aku lega.”

Zaki: “Paman Marsel udah tenang. Ibu udah bela kita. Tinggal kita.”

Indry: “Tinggal kita tahan.”

Zaki: “Tahan, sayang. Bentaran lagi.”

Indry: “Berapa lama, Zak?”

Zaki: “Cincin udah jadi. Kamu bisa mulai cuti di kapan? berapa lama? ”

Indry: “Besok aku kabari ya, Zak”

Zaki: “Aku tunggu kamu, Indry.”

Zaki cup kening. Cup pipi. Cup bibir. Pelan.

Indry nggak nolak. Tapi tangan Indry nahan.

Indry: “Udah, Zak. Nanti kita kebablasan.”

Zaki: “Iya, sayang. Maaf.”

Mereka diem. Denger hujan.

Zaki: “Aku bahagia, Indry.”

Indry: “Aku juga, Zaki. Sangat bahagia.”

Di atas, kamar Ogah masih nyala. Dia doa rosario.

Di kamar Paul Rumah Lain di kota lain, buku tebal terbuka.

Di kamar di tempat lain. Mauba, Dara tidur pulas.

Di kamar Meta Kost an nya, VC bule masih nyala.

Di kamar tamu,Rumah berkat Mama Zaki tidur nyenyak.

Di teras, dua hati yang 15 tahun menunggu, akhirnya punya rumah. Punya restu. Punya janji.

Indry: “Zaki… aku nggak takut lagi.”

Zaki: “Aku juga, sayang. Karena ada kamu.”

Hujan Karawaci turun pelan.

Rumah Berkat jadi makin berkat.

Besok nya jam 3 subuh Zaki dan Ibu Pulang ke Tegal lagi.

Aku Lega. Tuhan Tau

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!