Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Pada malam harinya Rosetta terbangun dari tak sadarkan diri, ia bangkit dan mulai turun dari ranjang.
Ia keluar dari ruangan dan menemukan betapa mewahnya tempat ini.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?"
"Oaasuu!" Latah Rosetta yang terkejut saat Luis muncul begitu saja dihadapannya secara tiba tiba.
Luis Menaikkan satu alisnya, ia tahu kalau Rosetta merasa terkejut, tapi ia tak mengerti dengan apa yang dia katakan barusan, yang ia tahu kata kata itu sama anehnya dengan Vione yang selalu mengomel dengan bahasa yang aneh.
"Kau baik baik saja?" Tanya Luis kembali.
Rosetta mengelus dadanya yang berdebar kencang, rasanya ia bisa merasakan kalau nyawanya hilang satu.
Ia tahu apa itu teleportasi, tapi tak setiba tiba itu malah langsung didepannya seperti tadi.
"Ini dimana?" Tanya Rosetta setelah merasa cukup tenang, nadanya agak canggung.
"Ini menara sihir, Vione membawamu kemari." Balas Luis.
Rosetta terdiam sejenak dan ingat tentang kekuatan barunya jadi ia ingin segera bertemu Vione untuk menceritakan masalah ini padanya.
"Eee, dimana Vione?" Tanya Rosetta lagi.
"Ada dikamarnya, jika ingin bertemu dengannya kau bisa ikuti aku." Ucap Luis yang langsung berbalik dan melangkah pergi.
Rosetta mengikutinya dari belakang, beberapa saat kemudian setelah keheningan panjang yang canggung bagi Rosetta, akhirnya ia sampai didepan pintu kamar Vione.
Sebelum Luis benar benar pergi, ia menatap Rosetta dengan wajah datar.
"Setelah selesai kau harus langsung pergi, menara sihir kami tidak menerima orang asing, kau cukup beruntung karena guru besar mengizinkan mu untuk sementara tetap disini, dan lain kali, jangan memaksa Vione untuk membawamu kesini lagi."
Lalu ia pergi setelah panjang lebar memberikan peringatan pada Rosetta.
Sedangkan Rosetta sendiri hanya bisa mengelus dadanya dan diam diam mengumpati laki laki itu, lalu ia mengetuk pintu dan membukanya setelah mendengar jawaban dari Vione.
Begitu ia masuk, ia langsung dihujani dengan beberapa pertanyaan oleh Vione.
"Tenang dulu, biar aku jelaskan semuanya." Ucap Rosetta yang langsung pergi duduk diatas kasur milik Vione.
Vione pun bergabung dengannya dan duduk sambil mendengarkan semua penjelasan dari Rosetta, dari awal hingga akhir.
Bahkan peri kecil milik Rosetta pun ternyata juga bisa dilihat oleh Vione begitu pula dengan sistem buku catatan miliknya.
"Gila! Ini sih cheat, peak!" Seru Vione sambil mengamati buku yang melayang diudara itu.
Namun sedetik kemudian ia tersadar sesuatu.
"Kalau alurnya secara otomatis berubah, kita jadi gak bisa tahu masa depan dong? sama aja zonk ini."
Rosetta pun juga setuju, ia baru menyadari hal itu.
"Itulah mengapa buku ini disebut sistem buku ramalan, host bisa menukar poin amal dengan sepotong ingatan masa depan dari alur buku baru, kalian adalah bug yang membuat dunia ini secara perlahan berubah menjadi nyata." Jelas sang peri sistem itu.
Rosetta dan Vione saling bertukar pandang, keduanya jelas merasa ini adalah keadaan yang sangat luar biasa menguntungkan bagi keduanya.
"Tapi sekarang, Caily ini bertunangan dengan Shanez, dan alur semakin gak ketebak." Gumam Vione.
Rosetta mengangguk setuju.
"Tapi seenggaknya kita tahu kalau Charlos, Chalios sama Shanez ini masih suka sama Alisa, dan kita cukup menjauh aja dan fokus ningkatin poin amal buat bisa lihat masa depan."
"Hm, gue juga ada rencana buat ngebatalin pertunangan gue sama Charlos, seenggaknya buat investasi sejak dini untuk keselamatan diri." Sahut Vione sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Rosetta menoleh cepat dengan dahi mengerut.
"Bukannya mutusin pertunangan yang secara resmi dari raja langsung itu gak boleh ya?"
"Itu buat yang lain, Vione ini punya banyak poin prestasi, dan raja secara sukarela bakalan ngabulin permintaan siapa saja yang punya banyak poin prestasi." Balas Vione menjelaskan.
Rosetta mengangguk paham, ia jadi ingat tentang Shanez.
"Bener juga, si Shanez ini pergi berpetualang dan ninggalin tugasnya sebagai pangeran karena izin dari raja, dia manfaatin poin prestasinya dan meminta kebebasan sebagai permintaan."
"Oh iya, ngomong ngomong soal poin amal, cara dapatnya gimana?" Tanya Vione sambil menatap kearah peri kecil itu.
"Poin amal didapat dengan cara apa saja, seperti perbuatan baik, prestasi akademi dan juga peningkatan diri." Jelas sang peri kecil.
Vione menatap Rosetta dengan serius.
"Oke, hidup gue tergantung sama perbuatan baik lo."
Tapi Rosetta mendengus sinis.
"Mana bisa gitu."
"Bisalah, lo dapet cheat bisa lihat masa depan, seenggaknya lo bisa bantu gue buat ngehindarin hal buruk dari alur buku asli." Sahut Vione.
"Kalau semisal gue gak bisa ningkatin poin amal dan gak bisa lihat masa depan sama sekali, gimana?" Tanya Rosetta menatap peri sistem miliknya.
"Jika host tak bisa mengubah masa depan host sendiri, ada kemungkinan alur buku asli akan kembali secara perlahan namun dengan adegan berbeda, yang secara garis besarnya, alur itu tetap akan membuat host mati begitu pula dengan semua orang." Balas peri kecil itu.
Rosetta menahan napasnya sedangkan Vione tersentak dengan mata melotot.
Karena dalam buku aslinya, Vione mati dengan sangat mengerikan, jika alur buku aslinya kembali dan mengubah alur yang mereka jalani saat ini, maka Vione/Kalista bisa saja mati lagi meskipun masih tak diketahui akan mati dengan cara seperti apa, tapi secara garis besar ia akan tetap mati karena dipaksa alur buku aslinya.
"Oke, karena gue termasuk npc yang matinya gak jelas, gue akan kerja bagai kuda buat ningkatin poin amal." Seru Rosetta dengan tangan terkepal yang ia angkat tinggi ke udara.
"Itu... Apa gue juga bisa ikut buat ningkatin poin? gue rasa dengan prestasi gue ini, poin bakalan meningkat banyak." Celetuk Vione menatap kearah peri kecil itu.
Sebelum sang peri sistem menjawab Rosetta menyela lebih dulu.
"Jangan dong! kalo lo kasih prestasi lo buat ningkatin poin amal, gimana sama permintaan lo buat batalin pertunangannya?"
Vione terdiam sejenak dan tersadar, tapi ia tetap mengangguk dengan yakin.
"Pertunangan bisa batal kapan saja asal Charlos bisa sama Alisa seperti yang dia pengen."
"Tapi wanita bangsawan yang dibatalin pertunangannya sama pihak pria, gak bakalan bisa nikah karena dianggap gak baik, reputasi lo bisa hancur dan lo gak bisa dapet calon suami." Sanggap Rosetta menolak argumen dari Vione.
"Ini cuma masalah reputasi, gue bisa cari rakyat jelata buat dinikahin. tapi kalo nyawa, rakyat jelata mana yang mau sama tulang tengkorak?" Sahut Vione sambil memutar matanya.
Rosetta terdiam tak bisa membantah, itu sudah keputusan final dari gadis itu sendiri.
"Jadi, gimana? bisa gak?" Tanya Vione kembali menatap sang peri sistem yang sedari tadi menonton perdebatan antara host dan teman hostnya.