Istriku terlalu boros, sementara selingkuhan ku sangat cantik dan pandai menabung, tapi ku tak sangka istriku berubah sangat drastis tanpa uang dariku. apakah dia memiliki simpanan yang menopang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 11 Soraya VS Sania
Soraya memasuki dapur dengan menghentakan kakinya. Mau tidak mau harus masak untuk masak sarapan.
"Huu, aku mau itu ada pembantu di sini." sungutnya.
Di kamar Sumarni, Beni sedang mengeluhkan apa yang menurutnya janggal.
"Bu, yakin gak sih, Sania itu jadi seorang pemulung?" tanya nya pada sang ibu.
Sumarni mengertikan keningnya, "maksudnya kamu?"
"Janggal aja bu, masa pemulung cantik, ingat nggak waktu kita kasih surat panggilan sidang dari pengadilan agama."
Sumarni manggut-manggut, dia juga tau tidak mungkin pemulung secantik Sania, tapi saat itu Sania lagi mungutin botol bekas.
"Kalau menurutku sih, dia pemulung, kan lagi pungut botol bekas." bantah Sumarni.
"Tapi saya tidak yakin, kalau dia itu pemulung." Monolog Beni dalam hatinya.
"Ya sudahlah, kamu kan sudah ada Soraya, gak usah lagi mikirn Sania itu." bujuk ibunya.
Menurutnya Soraya gadis subur dan bisa memberikan dia cucu, itulah sebabnya merestui hubungan mereka.
"Ya, bu." jawab Beni sekenanya.
"Kenapa dia tidak lagi menelponku, bahkan dia memblokir ku." runtuk Beni dalam hati.
Sementara hari ini Sunarni paling sibuk dan akan mengadakan arisan di rumah ini.
"Soraya, setelah sarapan, kamu harus lap guci, sama pel lantai ya." perintah Sumarni pada calon anak mantunya.
Wajah Soraya berubah tak suka, menatap ke arah Beni, namun yang di tatap pura-pura tidak melihat.
"Tapi bu, saya hamil." ucap Soraya dengan lembut.
Berharap calon mertuanya akan memaklumi kehamilannya.
"Lap guci dan mengepel lantai itu bagus untuk kandungan mu, saya saja hamil mereka itu sambil tanam padi di ladang." jawab Sumarni.
Jawaban calon mertuanya tidak membuatnya terpojok, dia mengingat suaminya akan buka lahan untuk ladang.
"Apakah saya juga harus jadi petani, apakah kata tetangga?" ucap dalam hati, sambil bergidik ngeri.
Akhirnya selesai sarapan semua melakukan pekerjaan rumah, karena yang akan hadir selain genk arisan, dia juga mengundang kedua orang tua Soraya, dan hari ini misi perkenalan anak mantu.
"Mas aku capek, kamu lanjutkan ya." pinta Soraya melihat suaminya sedang santai, sementara dia mengepel seisi rumah.
"Itu kan pekerjaan wanita, saya mana pantas mengerjakan itu." kata Beni.
Soraya mencengkram gagang pel yang ada di tangannya, "mas kamu itu pria harusnya kamu lebih kuat!" Bentak Soraya.
"Aku lagi hamil mas, hamil anakmu! kalau aku keguguran kau mau tanggung jawab." sambungnya lagi.
"Halah, dasar kamu saja yang malas, Sania tidak seperti kamu itu." jawab Beni membandingkan keduanya.
"Jangan bandingkan aku dengan istrimu yang jadi pemulung itu, aku lebih bermartabat darinya!" teriak Soraya tidak terima.
"Ada apa ini, kalian kenapa berteriak sampai terdengar di rumah tetangga."
Ucap Sumarni masuk dari arah luar, "kalian tidak malu!" bentaknya.
"Kamu kenapa belum selesai! lelet amat kamu!" Sinisnya pada calon mantunya.
Soraya terpaksa melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan dongkol, dia kembali mengingat mantan istri Beni yang lebih baik jadi pemulung dan hidup di kontrakan, daripada serumah dengan mertuanya.
"Pantas saja Sania tidak mengamuk saat di ceraikan sepihak, ternyata seperti ini modelan keluarga ini." kata Soraya dalam hati.
Selesai sudah pekerjaan hari ini, namun dia harus ikut Beni dengan untuk mengambil ketrin.
"Beni kamu tau kan, pesanan ibu?" ucap Sumarni.
"Iya, bu tapi tutup!" jawab Beni.
"Dia tidak tutup itu, aku sudah menelpon karyawannya."
Setelah mendengar jawaban sang ibu keduanya bergegas masuk dalam mobil, sepanjang jalan Beni rasanya ada yang beda, jantungnya bertalu-talu.
"Semoga saya bertemu Sania." doanya dalam hati.
Berbeda dengan Soraya dia ingin makan terlebih dahulu jika sudah sampai di sana, perutnya sudah mulai Demo.
"Sayang, kita makan dulu ya, kalau sudah di tempat ketrin." ucapnya.
"Makan di tempat lain saja, di sana tidak melayani makan di tempat." jawab Beni.
"Yah, sayang deh, aku itu lagi ngidam anak mu, masa kamu gak usahakan sih." jawanya dengan nada kecewa.
Beni akhirnya pasrah saja, memang kehamilan Soraya kadang susah di tebak apa maunya.
Sesampainya di sana, benar saja ada dua mobil yang baru meninggalkan tempat itu. Dan rumah makan tersebut hanya terbuka stengah pintu.
"Sepertinya tadi orang makan." ucap Soraya dalam hatinya.
Dia sudah ingin makan, sampai dia jalan terburu-buru hingga...
Bruk!
"Aduh!" rintih keduanya mereka saling bertabrakan.
"Heh!, kau punya mata nggak sih!" bentak Soraya dengan kasar.
"Kau duluan yang masuk tanpa permisi," Jawab Sania menjawab tak kalah ketus.
Dia mengetahui siapa wanita itu, tapi Soraya tidak mengenal dirinya sama sekali.
"Kamu tau nggak saya ini pelanggan setia!" bentak Soraya.
Sementara Beni yang baru keluar dari mobil langsung mendengar teriakan istrinya yang begitu nyaring.
Beni langsung buru-buru masuk, "kamu kenapa sayang?"
"Sayang, aku hampir saja di jatuh gara-gara dia." tunjuk Soraya.
Beni langsung mengikuti arah telunjuk istrinya, dan...
"Sa... Sania!" Gagapnya tak percaya.
"Kamu kenal wanita itu?" tanyanya memastikan.
"Iya, dia Sania mantan istriku." jawab Beni lancar.
Soraya menatap Sania dengan tak percaya, sebab mereka selalu mengatakan Sania itu pemulung, namun yang tampak di depan matanya, dia bukan lah seperti pemulung, memakai baju bagus, wajah glowing, kulit terawat.
"Yakin dia mantan istrimu." tanya Soraya memastikan sekali lagi.
"Iya sayang." jawab Beni di sertai anggukan pasti.
"Ohh, baguslah, kalau begitu saya mau makan, kamu jadi pelayan kan di sini, layani saya dan suamiku, kami mau makan." pinta Soraya dengan angkuh.
"Maaf, kami tidak melayani untuk makan di tempat hari ini." jawab Sania tanpa menatap.
Sania fokus pada gelang tangannya yang menjutai sebuah gelang emas, dan membuat Soraya ikut terbakar.
"Ehh, kau itu cuma pelayan, kenapa kau mau mengaturku!" bentak Soraya.
"Saya bilang hari ini kami tidak melayani makan di tempat!" bentak Sania balik.
Membuat Beni terkejut, karena selama mengenal Sania tidak pernah meninggikan suara, semarah apa pun dia.
"Sayang, aku mau makan, anak kita pengen makan di sini." keluh Soraya sambil gelendotan di lengan Beni. Menunjukan bahwa miliknya sekarang.
"Sania, layani kami makan, istriku lagi mengidam." ulas Beni dengan senyum khasnya.
Sania hanya mendelik tajam ke arah dua orang itu, Sania tanpa mau berlama-lama langsung memanggil karyawannya.
"Ana, sudah selesai kan ketring ibu Sumarni?" tanya nya pada Ana sambil mengedipkan matanya.
"Sudah, " jawab Ana cuek.
"Sudah ada ni yang mau jemput ketringnya, kamu bawakan saja semua di di sini nanti mereka angkat sendiri sampai di mobil." perintah Sania.
Ana masuk ke dalam, tak berapa lama semua kantong plastik berisi nasi kotak serta snack box langsung di angkat bersama temannya.
"Kami mau makan loh!" teriak Beni namun seolah dia tak ada di tempat.
"Silahkan lunasi pak." ucap Ana sambil memberikan bukti notanya.
Beni yang kesal akhirnya membayar dan segera mengangkat semua plastik yang berisi nasi kotak.
Sementara Sania entah hilang kemana, padahal dia sengaja mengatakan bahwa Soraya sudah menjadi istrinya, agar Sania marah atau menangis, namun yang terjadi tak sesuai harapannya.
tp makasih buat ceritanya kak ,, dtggu karya terbarunya
selalu ngerasa pasangan nya akan tetap memuja mereka apapun kesalahan mereka
wah...Manh rada rada sakit si😅
emnk situ ok ,, 😏😏😏😏
sesuatu untuk puyuh mu...
ngeles aja...dasar Casanova
kok genre nya jadi horor yaa 🥹🥹🫣
km bkal ketemu dg jodoh mu yg pas Dan di waktu yg pas juga ,,
masa jeruk makan jeruuuk 🤭🤭🤭🤣🤣🤣,,
makiin seruuu cerita ny😁😁