NovelToon NovelToon
Skenario Semesta Di Jari Manis

Skenario Semesta Di Jari Manis

Status: tamat
Genre:Slice of Life / CEO / Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kanaya "Naya" Larasati (24) adalah seorang ilustrator buku anak yang berjiwa bebas, sedikit ceroboh, dan sangat anti pada aturan yang kaku. Hidupnya jungkir balik ketika neneknya yang sedang sakit keras memiliki satu permintaan terakhir: melihat Naya menikah dengan cucu sahabat lamanya.
​Dhandy "Dhan" Abimanyu (29) adalah seorang CEO perusahaan properti yang dingin, gila kerja, gila kebersihan (clean freak), dan hidupnya terjadwal hingga ke menit. Bagi Dhan, pernikahan adalah sebuah kontrak bisnis untuk menenangkan keluarganya agar ia bisa fokus bekerja.
​Ketika dua kutub yang berlawanan ini dipaksa tinggal di bawah satu atap apartemen mewah di Jakarta Selatan, "Perang Dunia Ketiga" pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Lapis Surabaya dan Pasien Manja

​Selasa sore, pukul 17.00 WIB.

​Dhandy melangkah masuk ke dalam penthouse-nya dengan perasaan campur aduk. Tubuhnya lelah setelah penerbangan satu jam dari Surabaya ditambah kemacetan Jakarta yang tak kenal ampun, tapi otaknya masih bekerja keras memproses data rapat.

​Di tangan kanannya, dia menenteng kotak paper bag bertuliskan "Spikoe Resep Kuno"—oleh-oleh Lapis Surabaya varian prunes yang dipesan Naya. Dhandy bahkan rela antre lima belas menit di bandara demi kotak kue ini, sebuah tindakan yang sangat tidak efisien menurut standarnya.

​"Saya pulang," ucap Dhandy saat pintu tertutup otomatis di belakangnya.

​Hening.

​Tidak ada suara musik dangdut koplo. Tidak ada suara TV yang menyiarkan drama Korea. Tidak ada aroma masakan gosong.

​Apartemen itu sunyi senyap dan gelap. Tirai-tirai jendela besar tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari sore.

​Alis Dhandy berkerut. "Naya?"

​Dia meletakkan koper dan kotak kue di meja makan. Perasaan tidak enak mulai merayap di dadanya. Apakah Naya kabur? Atau marah gara-gara insiden pengusiran Raka kemarin?

​Dhandy berjalan menuju kamar utama. Pintunya sedikit terbuka. Udara dingin langsung menerpa wajahnya.

​Dhandy mendorong pintu.

​Pemandangan di dalam kamar membuatnya terpaku. AC menyala di suhu terendah, 16 derajat Celcius dengan fan speed maksimum. Di tengah kasur King Size, terdapat gundukan besar di bawah selimut tebal. Hanya segumpal rambut berantakan yang terlihat menyembul keluar.

​Dhandy mendekat perlahan. "Naya? Kamu tidur sore-sore begini?"

​Tidak ada jawaban, hanya suara gigi bergemelutuk pelan.

​Dhandy menyentuh gundukan selimut itu. Tubuh di baliknya menggigil hebat. Dhandy segera menyibakkan selimut di bagian kepala.

​Wajah Naya terlihat merah padam, kontras dengan bibirnya yang pucat dan pecah-pecah. Matanya terpejam erat, keningnya berkerut menahan sakit.

​"Mas... dingin..." rintih Naya lirih, matanya tidak terbuka.

​Dhandy meletakkan punggung tangannya di dahi Naya. Panas. Sangat panas. Seperti menyentuh ketel air yang mendidih.

​"Astaga, Naya! Kamu demam tinggi!" Dhandy panik—kepanikan yang jarang terjadi. Dia segera menyambar remote AC, menaikkan suhunya ke 25 derajat dan mematikan mode turbo.

​"Perut Naya... sakit..." Naya meringkuk, memegang perutnya. "Sakit banget..."

​Otak Dhandy langsung berputar cepat menghubungkan fakta-fakta: Seblak Level 5 kemarin siang + Es Teh Manis Jumbo + Stress + Begadang.

​"Gastritis akut. Radang lambung," diagnosis Dhandy cepat. "Sudah saya bilang, kapsaisin dalam jumlah berlebih itu racun buat lambung kamu yang lemah."

​Meski mulutnya mengomel, tangan Dhandy bergerak cepat. Dia melepaskan jas kerjanya, melemparnya sembarangan ke sofa (sebuah pelanggaran protokol kebersihan yang dia abaikan), lalu melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya.

​Dia berlari ke kamar mandi, mengambil baskom kecil, mengisinya dengan air hangat, dan membasahi handuk kecil.

​Dhandy kembali ke sisi kasur, duduk di tepinya. Dia menempelkan kompres hangat itu ke dahi Naya.

​"Hhhngg..." Naya melenguh nyaman saat kain hangat itu menyentuh kulitnya.

​"Buka mulut. Saya mau cek suhu akurat," perintah Dhandy sambil memegang termometer digital telinga.

​Beep.

​39.2°C.

​Dhandy menghela napas kasar. "Hampir empat puluh. Kalau naik sedikit lagi, kamu bisa kejang. Kita ke rumah sakit sekarang."

​"Nggak mau..." tolak Naya lemah, menggelengkan kepala sampai kompresnya jatuh. "Nggak mau disuntik... takut dokter..."

​"Naya, jangan keras kepala. Ini bukan waktunya negosiasi."

​"Nggak mau, Mas... pusing... mau tidur aja..." Naya mulai merengek, air mata meleleh dari sudut matanya. "Jangan bawa ke rumah sakit... please..."

​Melihat Naya yang rapuh dan menangis seperti anak kecil, hati Dhandy mencelos. Tembok ketegasannya runtuh sedikit. Dia tidak tega menyeret istrinya yang sedang kesakitan ini keluar apartemen.

​"Baik. Kita observasi satu jam. Kalau panasnya tidak turun setelah minum obat, saya seret kamu ke IGD. Paham?"

​Naya mengangguk lemah.

​Dhandy beranjak ke kotak P3K miliknya yang lengkap layaknya apotek mini. Dia mengambil obat penurun panas (Paracetamol) dan obat lambung (Antasida cair).

​Dia kembali ke kamar, membantu Naya duduk bersandar di kepala ranjang.

​"Minum ini dulu. Obat lambung. Supaya perut kamu nggak melilit," Dhandy menyodorkan sendok obat ke mulut Naya.

​Naya menurut seperti anak burung, menelan cairan putih kental itu sambil meringis. "Pait..."

​"Namanya obat. Kalau manis namanya sirop marjan," sahut Dhandy ketus, tapi tangannya lembut mengusap sisa obat di sudut bibir Naya dengan ibu jarinya.

​"Sekarang makan sedikit, baru minum obat demam. Kamu belum makan dari pagi, kan?"

​Naya menggeleng. "Nggak nafsu. Mual."

​"Harus makan. Lambung kamu kosong, asam lambungnya naik. Saya buatkan bubur. Tunggu di sini. Jangan berani-berani turun dari kasur."

​Dhandy meninggalkan kamar, menuju dapur canggihnya.

​Kali ini, tidak ada drama kompor meledak. Dhandy memasak dengan presisi. Dia mengambil nasi putih sisa kemarin, memasaknya kembali dengan kaldu ayam asli (stok freezer), sedikit jahe untuk menghangatkan, dan suwiran dada ayam rebus yang halus.

​Lima belas menit kemudian, semangkuk bubur ayam homemade yang wangi dan lembut sudah siap. Tanpa kacang, tanpa kerupuk, tanpa sambal. Polos dan sehat.

​Dhandy membawa nampan berisi bubur dan segelas air hangat ke kamar.

​Naya sudah kembali merosot ke posisi tidur, memeluk guling erat-erat.

​"Bangun, Naya. Makan. Tiga suap saja," bujuk Dhandy, duduk lagi di tepi kasur.

​Naya membuka mata sayu. Dia melihat bubur itu. Baunya enak, tapi perutnya menolak. "Suapin..." bisiknya manja.

​Dhandy mengangkat alis. "Tangan kamu patah?"

​"Lemes, Mas... sendoknya berat..." alibi Naya. Sebenarnya dia cuma ingin diperhatikan. Kapan lagi bisa menyuruh CEO Abimanyu Group menyuapinya bubur?

​Dhandy mendengus, tapi dia mengaduk bubur itu agar tidak terlalu panas, meniupnya pelan, lalu menyodorkan sendok ke mulut Naya.

​"Aaa. Buka mulut."

​Naya menerima suapan itu. Buburnya hangat, gurih, dan lembut di tenggorokan. Perutnya yang perih terasa sedikit lebih nyaman.

​"Enak?" tanya Dhandy.

​"Hm. Lumayan. Kurang micin dikit," komentar Naya jujur.

​"Masih sakit sempat-sempatnya protes rasa," Dhandy menyuapkan sendok kedua, lalu ketiga.

​Setelah lima suap, Naya memalingkan wajah. "Udah. Mual."

​"Dua suap lagi."

​"Nggak muat, Mas. Nanti muntah."

​Dhandy tidak memaksa. Lima suap lebih baik daripada tidak sama sekali. Dia memberikan Naya obat penurun panas dan segelas air.

​Setelah Naya minum obat, Dhandy membenarkan letak bantal dan selimut Naya.

​"Mas..." panggil Naya saat Dhandy hendak berdiri membawa nampan kotor keluar.

​"Apa lagi? Mau muntah?"

​"Oleh-olehnya mana?"

​Dhandy hampir tersandung karpet. "Kamu sakit demam tinggi, mau makan Lapis Surabaya?"

​"Liat doang. Buat motivasi sembuh," pinta Naya memelas.

​Dhandy menggeleng tak percaya, tapi dia berjalan keluar sebentar dan kembali membawa kotak kuning "Spikoe Resep Kuno" itu. Dia meletakkannya di nakas (meja samping tempat tidur), tepat di sebelah lampu tidur.

​"Tuh. Pandangi sepuasnya. Tapi jangan dimakan sebelum demam turun dan perut sembuh," ancam Dhandy.

​Naya tersenyum lebar melihat kotak kue itu, lalu menatap Dhandy. "Makasih ya, Mas. Mas baik banget. Padahal saya nakal makan seblak."

​"Kamu memang nakal. Keras kepala. Ceroboh," omel Dhandy sambil mengganti kain kompres di dahi Naya. "Saya capek ngurusin kamu."

​"Tapi Mas tetep ngurusin. Berarti Mas sayang," goda Naya dengan suara serak, matanya mulai berat karena efek obat.

​"Saya cuma menjaga investasi," Dhandy mengelak, memalingkan wajah agar Naya tidak melihat rona merah tipis di telinganya. "Tidur. Jangan banyak bicara."

​Naya memejamkan mata. Napasnya mulai teratur.

​Dhandy duduk di kursi kerja di sudut kamar, membuka laptopnya. Dia berniat menyelesaikan laporan dinasnya sambil menjaga Naya.

​Satu jam berlalu.

​Hujan mulai turun di luar, membuat suasana kamar semakin dingin dan syahdu.

​Dhandy melirik jam. Pukul 20.00. Dia berjalan ke sisi kasur untuk mengecek suhu Naya lagi. Dia menyentuh leher Naya. Sudah mulai berkeringat. Demamnya mulai turun.

​"Syukurlah," gumam Dhandy lega.

​Tiba-tiba tangan Naya bergerak, menangkap pergelangan tangan Dhandy yang sedang mengecek suhunya.

​"Jangan pergi..." igau Naya dalam tidurnya. "Mas Dhandy... jangan pergi kayak Papa..."

​Dhandy tertegun. Dia teringat cerita Oma Ratih bahwa orang tua Naya meninggal kecelakaan saat Naya masih SMP. Gadis ceria ini ternyata menyimpan trauma kehilangan yang dalam.

​Hati Dhandy terasa nyeri. Dia tidak melepaskan tangan Naya. Sebaliknya, dia duduk di tepi kasur, membiarkan tangannya digenggam erat oleh istrinya.

​"Saya di sini, Naya. Saya tidak ke mana-mana," bisik Dhandy lembut.

​Naya, yang masih setengah sadar, menggeser tubuhnya mendekat ke arah Dhandy. Dia memeluk lengan Dhandy, menyandarkan pipinya yang panas ke lengan kemeja Dhandy yang sejuk.

​"Dingin... enak..." gumam Naya, mendusel seperti kucing mencari kehangatan.

​Posisi ini sangat tidak ergonomis bagi Dhandy. Punggungnya pasti akan sakit kalau tidur duduk begini. Tapi melihat Naya yang mulai tenang dan tidak merintih lagi, Dhandy tidak tega bergerak.

​Perlahan, rasa kantuk juga menyerang Dhandy. Kelelahan fisik dan mental hari ini menuntut bayaran.

​Dhandy mencoba melepaskan tangannya pelan-pelan, tapi Naya merengek protes dalam tidurnya dan memeluk lengannya makin erat.

​"Baiklah. Kamu menang," bisik Dhandy pasrah.

​Dhandy akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di sisi kasur, di samping Naya. Dia masih mengenakan kemeja kerja yang kusut, tapi dia tidak peduli lagi.

​Tidak ada guling pembatas malam ini. Tembok Besar Cina telah runtuh oleh demam dan rasa iba.

​Naya secara naluriah mencari posisi nyaman, melingkarkan kakinya ke kaki Dhandy dan menyusupkan wajahnya ke dada bidang pria itu.

​Dhandy kaku sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Aroma sampo stroberi Naya bercampur dengan aroma minyak kayu putih memenuhi indra penciumannya.

​Ini berbahaya untuk Pasal Pamungkas. Sangat berbahaya.

​Tapi tangan Dhandy bergerak sendiri, mengusap pelan rambut Naya yang berantakan.

​"Cepat sembuh, Istri Bandel," bisik Dhandy, mengecup puncak kepala Naya sekilas—sangat kilat, nyaris tak terasa.

​Lima menit kemudian, CEO Abimanyu Group yang terkenal dingin dan disiplin itu tertidur pulas sambil memeluk istrinya yang sedang demam, melupakan semua email yang belum dibalas dan koper yang belum dibongkar.

​Malam itu, hujan di Jakarta menjadi saksi bahwa di dalam penthouse mewah itu, sebuah "skenario semesta" sedang bekerja merajut dua hati yang keras kepala.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Alissia
ngakak bacanya nay🤣🤣🤣🤣
destiana
ceritanya bagus banget
destiana
lucu banget sih lu nay🤣🤣🤣🤣
Vera Ellen
👍
Septi Lahat
ceritanya indah,,Terima kasih tuk karya nya kak thor,, sukses terus selanjutnya😍😍😍
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
lumayan seru🙂
Riana Zahrah
suka bgt yang gak bertele-tele gini, semoga hidup mu juga gak bertele-tele ya penulis.
ms. S
ceritanya simpel tapi mengena bgt, suasana mendukung bikin suasana hati yg mengggeltik di tiap adegan. suka karena episode nya sedikit tapi bagus bgt. good job. semoga novel ini byk yg baca setelah ini
Pappan Boquet
intinya w suka ceritanya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!