Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pagi datang pelan di pinggir hutan Kerajaan Wales.
Ratu Aurelia terbangun bukan karena suara penjaga atau ketukan pintu, melainkan karena bau kayu terbakar yang samar dan suara panci disentuh pelan dari arah dapur. Matanya terbuka perlahan. Ia menatap langit-langit kayu beberapa detik, lalu menghela napas kecil.
Bukan istana.
Kesadaran itu membuat bahunya terasa lebih ringan.
Ratu Aurelia bangkit dari tempat tidur. Selimut tebal yang semalam menghangatkannya ia lipat rapi. Ia membuka jendela sedikit. Udara pagi masuk, dingin tapi segar. Di luar, Snow berdiri tenang di dekat pohon, mengibas-ngibaskan ekornya.
Dari arah dapur terdengar suara langkah.
“Princess,” suara Bibi Ema terdengar tanpa teriak, “kalau sudah bangun, langsung makan. Tehnya jangan dibiarkan lama.”
Ratu Aurelia tersenyum kecil.
“Iya, Bibi.”
Ia keluar kamar dan berjalan ke ruang makan. Bibi Ema sudah sibuk di sana, menata meja kayu kecil dengan roti, mentega, dan sup hangat. Rambut putihnya diikat rapi ke belakang, celemek sederhana menutupi pakaiannya.
"Anda bangun lebih pagi dari biasanya,” kata Bibi Ema sambil menuang teh.
“Terbiasa bangun pagi,” jawab Ratu Aurelia singkat.
Bibi Ema meliriknya. “Bukan karena kebiasaan. Anda selalu begitu kalau sedang banyak pikiran.”
Ratu Aurelia tidak menyangkal. Ia duduk dan mulai makan. Supnya sederhana, rasanya ringan, tapi cukup menghangatkan perut. Beberapa saat mereka makan dalam diam.
“Apakah tidur anda nyenyak?” tanya Bibi Ema akhirnya.
“Lumayan,” jawab Ratu Aurelia jujur. “Sudah lama tidak tidur tanpa suara apa pun.”
Bibi Ema mengangguk, seolah mengerti betul maksudnya.
“Rencananya anda ingin tinggal di sini berapa lama?” tanyanya kemudian.
Ratu Aurelia berhenti mengaduk supnya.
“Belum tahu.”
Bibi Ema tidak memaksa. “Kalau mau tinggal lebih lama, tinggal saja. Rumah ini akan selalu terbuka untuk anda.”
Ratu Aurelia menunduk. “Terimakasih bibi, tapi aku tidak ingin merepotkan bibi .”
“Anda tidak pernah merepotkan,” jawab Bibi Ema cepat.
Kalimat itu membuat Ratu Aurelia terdiam sejenak.
Setelah selesai makan, Ratu Aurelia berdiri dan membantu merapikan meja. Bibi Ema sempat menatapnya, lalu membiarkannya membantu tanpa komentar.
“Princess,” ucap Bibi Ema sambil mencuci mangkuk, “jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu anda putuskan sekarang.”
Ratu Aurelia mengangguk pelan. “iya bibi, terimakasih atas sarannya"
Mereka keluar rumah beberapa saat kemudian. Matahari sudah naik, sinarnya menembus sela-sela pohon. Udara masih dingin, tapi tidak menusuk. Ratu Aurelia berdiri memandangi desa yang di tinggali bibi ema , tangannya terlipat di depan.
Untuk sesaat, ia lupa bahwa di tempat lain ada istana, ada bangsawan, ada keputusan yang menunggunya.
Pagi itu sederhana. Tidak ada yang menuntutnya menjadi siapa pun.
Dan untuk sementara, itu sudah cukup.
Matahari sudah naik cukup tinggi ketika Ratu Aurelia kembali masuk ke rumah. Udara siang terasa lebih hangat dibanding pagi, meski angin hutan masih sesekali menyusup lewat celah-celah kayu.
Bibi Ema sedang duduk di ruang tamu, menjahit sesuatu dengan kacamata bertengger di ujung hidungnya. Tangannya bergerak pelan, terampil, seolah pekerjaan itu sudah ia lakukan sepanjang hidupnya.
Ratu Aurelia berhenti sejenak di ambang pintu.
“Bibi tidak capek?” tanyanya.
Bibi Ema mendongak. “Kalau tidak menjahit, tanganku malah pegal.” Ia tersenyum berkata " Apakah anda dari luar?”
“Iya, Desa nya tidak terlalu banyak berubah bibi”
“iya, di sini tidak banyak berubah,” jawab Bibi Ema. “Yang berubah biasanya orangnya.”
Ratu Aurelia tidak langsung menanggapi. Ia duduk di kursi kayu di dekat jendela, memandangi halaman kecil di depan rumah. Tidak ada pagar tinggi, hanya beberapa batu penanda dan pohon tua yang berdiri setia.
“Bibi masih sendiri di rumah ini?” tanya Ratu Aurelia kemudian.
“Masih,” jawab Bibi Ema ringan. “Sudah terbiasa.”
Ratu Aurelia menoleh. “Tidak pernah ingin pindah?”
Bibi Ema menggeleng. “Rumah ini cukup. Lagipula, tidak semua orang cocok hidup di tempat ramai.”
Ratu Aurelia mengangguk pelan. Ia paham betul maksudnya.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Hanya suara jarum yang menembus kain dan angin yang menggeser dedaunan.
“Princess,” ucap Bibi Ema tiba-tiba tanpa menoleh, “Anda terlihat lebih kurus.”
Ratu Aurelia tersenyum kecil. “Bibi selalu memperhatikan hal-hal seperti itu.”
“Karena dari dulu anda susah makan,” jawabnya cepat. “Harus disuapi.”
Ratu Aurelia tertawa pelan, singkat. “Aku ingat.”
Bibi Ema berhenti menjahit dan menatapnya. “apakah anda jarang tertawa seperti itu.”
Ratu Aurelia terdiam. Senyumnya perlahan memudar. “Di istana… tidak banyak alasan untuk tertawa.”
Bibi Ema tidak langsung menjawab. Ia kembali menjahit, namun nadanya lebih lembut ketika berbicara.
“Kalau anda ingin tinggal lebih lama, tinggal saja. Tidak ada yang perlu anda cemaskan”
Ratu Aurelia menatap jemarinya sendiri. “Aku tidak bisa lama-lama.”
“bibi tahu,” jawab Bibi Ema. “Tapi bukan berarti anda tidak boleh beristirahat sebentar.”
Keheningan kembali hadir, kali ini lebih dalam.
Menjelang siang, Bibi Ema berdiri dan berjalan ke dapur. “Bibi akan memasak makan siang , princess tunggu dulu , jangan kemana mana , kita akan makan bersama.”
Ratu Aurelia tersenyum tipis. “Baik, Bibi.”
Ia berdiri dan membantu mengambilkan kayu bakar kecil di sudut rumah. Tidak ada yang memerintahnya. Tidak ada yang melarang. Semua berjalan sederhana.
Saat ia kembali masuk, Bibi Ema meliriknya.
“Anda kelihatan seperti dulu.”
Ratu Aurelia berhenti. “Dulu yang mana?”
“Ketika anda belum banyak memikirkan banyak hal,” jawab Bibi Ema singkat.
Ratu Aurelia tidak menjawab. Namun siang itu, di rumah kayu yang tenang, ia merasakan sesuatu yang jarang ia miliki.
Waktu.
Dan untuk sementara, ia memilih untuk menggunakannya di sana.
Malam turun pelan di pinggir hutan Kerajaan Wales.
Ratu Aurelia melangkah keluar rumah kayu itu tanpa membawa apa pun selain mantel tipis. Ia tidak memberi tahu Bibi Ema ke mana ia pergi. Bukan karena ingin pergi jauh, hanya ingin berjalan sebentar.
Tanah masih lembap sisa hujan semalam. Setiap langkahnya meninggalkan jejak samar. di malam hari terasa berbeda—lebih sunyi, lebih tenang, namun juga lebih luas.
Ia berhenti di bawah sebuah pohon tua, batangnya besar dan kasar. Dulu, ia sering duduk di sana bersama Bibi Ema, mendengarkan cerita-cerita sederhana.
Ratu Aurelia menyandarkan punggungnya ke batang pohon dan menarik napas pelan.
Tidak ada suara perintah.
Tidak ada sapaan formal.
Tidak ada yang memanggilnya “Yang Mulia”.
Hanya dirinya sendiri.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya. Tangan yang sama yang biasa menandatangani dokumen kerajaan, kini kosong. Tidak ada cincin kebesaran. Tidak ada sarung tangan putih.
“Aku hanya ingin diam sebentar,” gumamnya pelan, entah kepada siapa.
Angin sore menggerakkan dedaunan. Beberapa daun kering jatuh di dekat kakinya. Ratu Aurelia memungut satu, memutar-mutar di jarinya, lalu melepaskannya kembali ke tanah.
Ia duduk perlahan di akar pohon, lututnya ditarik mendekat. Pikirannya berkelana, tapi tidak sejauh biasanya. Tidak pada bangsawan. Tidak pada rapat. Tidak pada kerajaan.
Hanya pada dirinya sendiri.
Wajah-wajah lama muncul sekilas—masa kecil yang terasa singkat, suara-suara yang menuntutnya menjadi kuat, dan jalan hidup yang tidak pernah benar-benar ia pilih sendiri.
Langit mulai berubah warna. Jingga perlahan merambat di antara pepohonan.
Ratu Aurelia berdiri kembali. Ia tahu ia tidak bisa berlama-lama di sana. Bukan karena tidak mau, tapi karena dunia di luar rumah kayu itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Ia menepuk debu di mantelnya dan melangkah pulang.
Dari kejauhan, asap tipis terlihat mengepul dari cerobong rumah. Bibi Ema pasti sedang menyiapkan makan malam.
Ratu Aurelia mempercepat langkahnya sedikit.
Untuk malam ini, kesendirian sudah cukup.
Ia tidak perlu lebih.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
30 Desember 2025
Berarti ini udaa beberapa tahun kemudian begitu kah🙈