Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KANTOR 2
Naira masih berdiri di depan meja Arga, matanya terlihat sembab karena ia sudah menangis sejak tadi, tapi kali ini bukan hanya karena sedih tapi lebih ke bingung.
"Tuan... A-aku tau aku menikah karena hutang, tapi aku tidak tau kalo ayah..."
Arga tidak terkejut.
"Aku tidak tau kalo ayah pernah sampai sejauh ini Tuan" Lanjut Naira.
Arga menatapnya beberapa detik.
"Lalu menurut kamu," ucapnya pelan, "ayah kamu itu orang seperti apa?" Mendengar pertanyaan itu membuat Naira terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, Tapi sulit dijawab.
"Ayah...keras," jawab Naira ragu.
"Kadang egois. Tapi Ayah tidak jahat." lanjut Naira.
Arga tersenyum tipis. Senyum yang membuat perasaan Naira semakin tidak tenang.
"Itu versi kamu Naira." Ucap Arga, ia berjalan perlahan ke arah meja, mengambil satu map lain dan menunjukkan nya ke arah Naira.
"Kamu tahu kenapa dia bisa bangkrut?" Tanya Arga sambil membuka map itu di depan Naira.
"K-karena terjerat hutang?" Tebak Naira.
Arga menggeleng.
"Bukan." Jawab Arga dan meletakkan map itu di meja.
"Pak Hendra bukan sekadar pengusaha." Ucap Arga.
Naira menatapnya.
"Apa maksudnya?"
Arga menatap langsung ke mata Naira.
"Dia pemain." Jelas Arga.
Hening.
"Pemain?" ulang Naira lirih.
"Di dunia bisnis yang kotor," lanjut Arga tenang. "Yang nggak semua orang tahu."
Jantung Naira mulai berdetak lebih cepat. Pikirannya sudah melayang entah kemana, apakah ayahnya adalah seorang mafia yang suka membunuh orang?
"Dulu... dia dikenal sebagai orang yang tidak pernah kalah."
Arga menyandarkan tubuhnya di meja.
"Kalau dia mau sebuah perusahaan jatuh, perusahaan itu akan jatuh."
Naira membeku. Tatapannya penuh menatap Arga, tubuhnya diam tida berani bergerak.
"Dia membeli orang dalam. Dia memainkan laporan keuangan. Bahkan, menjatuhkan pesaing dengan cara-cara yang tidak bersih."
Setiap kalimat terasa seperti pukulan bagi Naira, nafasnya tercekat dan tidak percaya mendengar
setiap fakta yang dilontarkan oleh Arga.
"Nggak..." Naira menggeleng pelan. "Papa nggak mungkin..."
"Dia pernah menghancurkan tiga perusahaan besar hanya dalam waktu dua tahun." Suara Arga tetap datar dan Tanpa emosi. Tapi Justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.
"Dan semuanya,,, dia menangkan." Lanjut Arga.
Naira mundur satu langkah, tangannya dingin.
"T-terus...?"
Suaranya bergetar.
"Kenapa dia kalah sekarang?" Tanya Arga. Hening beberapa detik, Arga menatapnya dalam.
"Karena dia lawan saya." Lanjut Arga.
Deg.
Naira langsung menatap Arga, Untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat pria di depannya.
Bukan hanya sebagai suaminya.
Tapi sebagai seseorang yang...
berada di dunia yang sama dengan ayahnya.
"Dulu, dia mencoba melakukan hal yang sama ke perusahaan saya," lanjut Arga.
"Apa?"
"Masuk lewat orang dalam. Memainkan data. dan menekan dari luar." Arga tersenyum tipis.
"Tapi dia salah langkah."
Naira tidak berkedip.
"Saya bukan orang yang bisa dia jatuhkan dengan cara seperti itu." Nada suaranya tidak meninggi, Tapi penuh keyakinan.
"Dan sejak saat itu, semuanya berbalik." Arga berjalan mendekati Naira.
"Perusahaan dia mulai runtuh. Satu per satu."
"Relasi menjauh."
"Keuangan kacau."
"Sampai akhirnya... dia jatuh dan terlilit banyak hutang, seperti yang kamu lihat"
Air mata Naira kembali jatuh.
"Tuan..." suaranya hampir putus.
"Berarti semua ini..."
Arga tidak memotong. Ia membiarkan Naira menyusun sendiri potongan itu.
"Semua ini karena ayah kalah dari Tuan?"
Hening. Arga tidak langsung menjawab. Tapi tatapannya cukup jelas.
Sebagian… iya.
Naira menutup wajahnya dengan tangan.
Tangisnya pecah lagi.
"Bahkan setelah jatuh pun dia tetap masih bermain" lanjut Arga pelan,
Naira mengangkat wajahnya perlahan.
"Maksudnya?"
"Dia tidak berhenti."
Arga mengambil berkas yang tadi.
"Pinjaman atas nama kamu, bukan sekadar butuh uang."
Naira menegang.
"Ini cara dia bertahan, atau...." Arga menatap Naira dalam,
"cara dia memulai lagi."
Deg.
Jantung Naira terasa jatuh.
🌻🌻🌻
Hening panjang memenuhi ruangan. Untuk pertama kalinya Naira merasa tidak benar-benar mengenal ayahnya sendiri.
Dan lebih dari itu, ia mulai sadar. Dirinya bukan hanya terjebak di pernikahan karena hutang. Tapi apakah menikahi Naira adalah cara Arga untuk balas dendam juga terhadap ayahnya?
Tapi...
di tengah permainan besar yang belum selesai.
Ruangan itu kembali sunyi setelah semua penjelasan yang terasa terlalu berat untuk dicerna dalam satu waktu.
Naira tidak bergerak dari tempatnya.
Matanya kosong.
Pikirannya penuh.
Tentang ayahnya.
Tentang masa lalu.
Tentang dirinya yang ternyata berada di tengah permainan yang bahkan tidak ia pahami. Arga memperhatikannya beberapa detik.
"Kamu bisa duduk," ucap Arga akhirnya.
Naira tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan ke sofa di sudut ruangan, lalu duduk tanpa tenaga.
Kepalanya terasa berat.
Sangat berat.
"Pusing" bisiknya hampir tidak terdengar.
Arga tidak menyahut, tapi matanya tetap mengawasi.
Beberapa menit berlalu.
Tanpa sadar, Naira menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu memejamkan mata.
Dan perlahan...
ia tertidur.
🌻🌻🌻
Awalnya hanya napas yang tidak teratur. Lalu keningnya mulai berkerut. Tubuhnya sedikit menggigil. Kepalanya sangat berat sekarang. Suaranya merintih sakit.
Arga yang sedang membaca berkas langsung menyadari perubahan itu. Ia berdiri dan berjalan mendekat Ke arah Naira.
"Naira?"
Tidak ada respon.
Arga mengernyit, lalu menyentuh kening Naira dengan punggung tangannya.
Panas.
"Ck..." Arga berdecak menyadari bahwa Naira demam.
Tanpa banyak bicara, Arga melepas jasnya lalu menyelimuti tubuh Naira dengan hati-hati.
Gerakannya pelan, Seolah takut membangunkannya. Namun Naira justru sedikit bergerak, wajahnya meringis.
"Dingin..." gumamnya lemah.
Arga terdiam sejenak. Lalu, tanpa banyak berpikir, ia duduk di sisi sofa dan sedikit menarik tubuh Naira agar lebih bersandar dengan nyaman.
Tangan Naira refleks mencengkeram ujung kemeja Arga. Seolah mencari sesuatu untuk ditahan. Arga menatapnya.
Diam.
Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Perlahan ia mengangkat tangan dan menyibakkan rambut Naira yang menempel di keningnya.
"Naira..."
Tidak ada jawaban.
Hanya napas panas yang terasa semakin tidak normal. Arga mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.
"Siapkan obat dan panggil dokter ke kantor. Sekarang."
Suaranya tetap sama, datar dan kalem. Setelah itu, ia kembali menatap Naira.
Untuk pertama kalinya...tanpa jarak dan Tanpa dingin.
Ia menyesuaikan posisi duduknya, lalu membiarkan kepala Naira sedikit bersandar ke bahunya.
Naira tidak sadar.
Tapi tubuhnya langsung lebih tenang. Tangannya masih menggenggam kemeja Arga. Dan Arga membiarkan itu sama sekali tidak melepaskannya.
🌻🌻🌻
Beberapa saat kemudian, Naira sedikit terbangun. Matanya setengah terbuka. Pandangan masih buram.
"Tuan...?"
Suaranya lemah.
Arga menunduk sedikit. "Iya?."
Naira terlihat bingung beberapa detik, sebelum akhirnya menyadari posisi mereka. Ia bersandar di bahu Arga dan tangannya masih menggenggam kemeja pria itu.
Refleks ia ingin menjauh, Namun tubuhnya terlalu lemas.
"Maaf..." bisiknya.
Arga tidak bergerak.
"Diam saja." Ucap Arga menyuruh Naira untuk diam karena tubuhnya yang terus bergerak.
Nada suaranya rendah, Tidak memerintah.
Lebih seperti menenangkan.
Naira menelan ludah, Jantungnya berdetak lebih cepat—bukan karena demam.
"Tuan, apa aku...berat?"
Arga menghela napas pelan.
"Iya." Jawab Arga ngarang, jika dibandingkan dengan Raisa, berat badan Raisa lebih berat, tubuh Raisa berisi di tempat yang tempat, dan membentuk body, sedangkan tubuh Naira lebih kecil, ia juga lebih pendek dari Raisa.
Naira langsung merasa bersalah. "Maaf"
"Tapi saya tidak keberatan."
Deg.
Naira terdiam. Untuk beberapa detik mereka hanya diam.
Dekat. ini Terlalu dekat, Arga menatap wajah Naira yang pucat.Tanpa sadar, ibu jarinya menyentuh sudut pipi Naira, menghapus sisa air mata yang tadi mengering.
Gerakan itu pelan, Hati-hati. Seolah itu sesuatu yang rapuh.
Naira menatapnya.
Jarak mereka begitu dekat sampai ia bisa melihat jelas mata Arga yang kali ini tidak sepenuhnya dingin.
"Tuan"
Suaranya hampir hilang, Arga tidak menjawab. Tapi tangannya masih di sana. Dan untuk sesaat tidak ada jarak di antara mereka.
🌻🌻🌻
Klik.
Pintu terbuka. Suara itu membuat keduanya sedikit tersentak. Raisa berdiri di ambang pintu. Matanya langsung menangkap pemandangan di depannya dengan dahi yang berkerut, sedetik kemudian bibirnya menyeringai tipis.
Naira yang bersandar di bahu Arga, Tangan Arga di wajah Naira. Jarak yang...terlalu dekat untuk sekadar formalitas.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Raisa mengangkat alis tipis.
Tidak marah, tidak kaget berlebihan. Hanya memperhatikan.
"Ups! Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat." Ucap Raisa sarkas
Nada suaranya tenang, Tapi cukup untuk membuat suasana langsung berubah.
Naira langsung mencoba menjauh, panik.
"T-tidak! Ini bukan..."
Senyum tipis muncul di bibir Raisa.
"Oh."
Ia melangkah masuk perlahan.
"Jadi...sekarang sudah sejauh ini."
Kalimat penuh arti. Dan untuk pertama kalinya suasana di antara mereka bertiga
berubah.
🌻🌻🌻