Ini gila!
Tak pernah terlintas sedikit pun di benak Gea bahwa setelah kematiannya, ia tidak pergi ke alam baka. Sebaliknya, ia justru terbangun kembali di tubuh orang lain. lebih parahnya lagi tubuh itu adalah milik Rena siswi terkenal di sekolah sebagai pembuat onar dan tokoh antagonis yang dibenci banyak orang.
Rena dikenal sebagai gadis yang gemar membully siswi lain yang berani mendekati pria yang ia sukai. Dengan sombong, ia juga sering mengeluarkan siswa dari sekolah hanya karena mereka menentangnya, berlindung di balik statusnya sebagai anak dari pemilik yayasan sekolah.
Sekarang Gea harus hidup di dalam tubuh gadis yang memiliki reputasi buruk itu.di mata semua orang, ia tetaplah Rena si pembully kejam.tak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Akankah Gea mampu memperbaiki kesalahan Rena di masa lalu?
Satu hal yang pasti…
Mulai hari ini, hidup Gea tidak akan pernah sama lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kymocyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Beberapa minggu setelah kejadian di parkiran itu, perubahan rena semakin terasa di seluruh sekolah,bukan hanya soal sikapnya yang lebih tenang.
Tapi juga… prestasinya.
Di papan pengumuman depan ruang guru, selembar kertas baru saja ditempel.
Beberapa siswa langsung berkumpul membaca daftar itu.
“Nilai ujian tengah semester?”
“Siapa yang ranking satu?”
Salah satu siswa tiba-tiba berseru kaget.
“WOY…!”Kerumunan langsung makin ramai melingkar membuat kerumunan heboh di dinding mading sekolah.
“Apa?!”
“Siapa?!”
Siswa itu menunjuk nama di paling atas dengan wajah tidak percaya. Terpampang jelas nama siswi yang menjadi pembicaraan beberapa hari terakhir.
RENATA AUSTIN GABYELLA
peringkat pertama dengan poin 294 di tiga mata pelajaran, itu artinya 6 poin lagi menuju angka sempurna.
Semua orang yang melihat menatap tak percaya dengan papan info di mading, bukan lagi nama maya yang tertera di daftar paling atas melainkan nama Rena.
“Ini bercanda kan?!”
“Rena yang dulu hampir gak pernah masuk kelas?!”
“Yang tiap hari cuma nongkrong di kantin?!”
“Gila…”
Beberapa orang masih tidak percaya apa yang mereka lihat, berkali kali mengecek kembali dan berakhir sama, nama rena kini terpampang jelas di urutan paling atas.
Sedangkan sang pemilik nama hanya tersenyum puas dengan mulut yang sibuk mengunyah permen karet, tanpa melihat poin yang ia raih rena yakin nilainya sangat memuaskan, sisil yang di samping nya menatap kagum pada rena, selain berubah sudah tidak pernah membuli dan membuat onar gadis itu juga berubah dengan nilai akademi nya yang sangat memuaskan.
Sagufta tiba tiba tertawa membuat sisil dan rena menoleh dengan tatapan bingung, "ini nggak hasil nyontek kan." ucapnya dengan bercanda.
Rena menoyor pelan kepala gufta. "harusnya kalau hasil nyontek yang di contek poinnya lebih tinggi dari gue." ucap rena dengan nada santai. Tangan gadis itu berlipat di depan dada dengan tubuh yang bersandar di dinding.
"bawa contekan mungkin."
bukannya marah gadis itu tertawa, "emang kalau punya penyakit iri gitu omongannya." ucap rena yang di balas tawa oleh sisil, lalu kedua gadis itu pergi berlalu meninggalkan gufta yang melonggo mendengar ucapan rena.
Kerumunan di depan papan pengumuman mulai berkurang. Beberapa siswa masih berdiri di sana, berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah Rena yang sudah berjalan menjauh dari papan nilai.
Sisil masih berjalan di sampingnya dengan ekspresi kagum yang belum juga hilang.
“Gue masih nggak percaya,” gumamnya pelan. “Nilai lo bener-bener paling tinggi.” lanjutnya dengan nada bangga.
Rena hanya mengangkat bahu santai sambil terus mengunyah permen karetnya.
“Ya belajar lah. Masa gue mau bego terus,” jawabnya ringan, ingatkan pada semua orang jiwa ini milik gea bukan rena jadi sudah pasti pintar.
Ya gea memang pintar...
Mereka baru saja sampai di ujung koridor ketika langkah seseorang tiba-tiba berhenti di depan mereka.
Sisil otomatis ikut berhenti
.
Rena mengangkat alis sedikit saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Dio.
Cowok itu terlihat sedikit canggung. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket sekolahnya sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari sana.
Sebuah cokelat batang kecil.
Sisil langsung menatap Dio dengan mata membesar.
Sedangkan Rena hanya memandang benda itu sekilas.
Dio berdeham pelan.
“Selamat,” ucapnya singkat.
Rena memiringkan kepala sedikit.
“Buat apa?” tanyanya santai, menatap dio dengan raut wajah yang santai.
Dio mengerutkan alis.
“Nilai lo.”ucapnya sambil Ia kelurkan cokelat itu dan di ke arahkan ke Rena.
“Naiknya gila.” ucapnya dengan senyum bangga.
Beberapa siswa yang masih berada di koridor langsung melirik ke arah mereka. Adegan itu cukup menarik perhatian.
Dio… memberi sesuatu pada Rena.
Sisil sampai menutup mulutnya sendiri agar tidak berseru. Hadiah? Coklat? Dari dio? Ini momen yang membuat siapa saja kaget sekaligus tak percaya.
Rena menatap cokelat itu beberapa detik, lalu mengambilnya tanpa banyak ekspresi.
“Thanks.”Jawabannya terdengar datar, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat,Ia memutar cokelat itu di tangannya sebentar sebelum memasukkannya ke dalam saku baju seragamnya.
Dio menghela napas pendek, seolah lega.
“Gue kira lo bakal nolak.” ucapnya di akhiri dengan tawa kecil.
Rena mengangkat bahu lagi.
“Gratisan kenapa ditolak.”ucap rena dengan santai.
Sisil hampir tersedak mendengar jawaban itu.
Dio justru tertawa kecil.
Namun tanpa mereka sadari beberapa meter dari sana, dua pasang mata sedang menyaksikan semuanya.
Maya berdiri di dekat tangga koridor dengan tangan terlipat di dada,tatapannya tajam tertuju pada cokelat yang tadi berpindah tangan. Dio memberi rena coklat. Bahkan dari mereka awal pacaran pria itu tidak memberi dirinya coklat walau tau kalau ia menyukai makanan manis itu.
Tapi ini bahkan rena tidak meminta dio memberinya. Hal itu cukup membuatnya kesal.
Galaksi yang berdiri di sampingnya juga merasa heran bukan hanya rena yang berubah tapi juga dio, dengan expresi tenang ia menoleh pada maya gadis yang ia suka untuk melihat reaksi gadis itu.
Maya menghela napas pendek, rahangnya menegang.
“Serius?”gumamnya pelan.
Galaksi tidak langsung menjawab.
Matanya masih tertuju pada Rena yang kini sedang berjalan pergi bersama Sisil, terlihat santai seolah kejadian tadi bukan hal besar.
Beberapa detik kemudian Galaksi baru bersuara.
“Dia emang berubah.”Nada suaranya datar.
Maya mendengus pelan.
“Berubah apanya?” tanyanya tanpa melihat lawan bicaranya.
Tatapannya kembali pada Dio yang masih berdiri di koridor.“Menurut gue dia cuma lagi cari perhatian.”
Galaksi sedikit memiringkan kepala.
“Dengan belajar sampai nilainya nomor satu?”
Maya tidak langsung menjawab.
Tatapannya semakin tajam ke arah punggung Rena yang makin menjauh.
Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari situasi ini.
Dulu Rena hanyalah gadis menyebalkan yang mudah ditebak.
Tapi sekarang…
Gadis itu terasa berbeda dan yang paling Maya benci Dio mulai memperhatikannya.
Maya mengepalkan tangannya pelan.