Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. Bumi Berputar zaman beredar
Semenjak kejadian ketika di mana Barry memberi pelajaran kepada Shaila dan teman-temannya, pikiran Ryuna tak henti-hentinya berputar memikirkan entah kenapa sulit diartikan kondisi hatinya saat ini.
Suasana hatinya kembali redup ketika Viona menceritakan secara terang kalau Barry memang suka kepadanya. Jadi, heran sendiri apa yang membuat cowok itu suka padanya? Bukankah dia sudah tahu bahwasanya dirinya tak memiliki banyak teman dan ia adalah seorang introvert.
"Ryuna sayang, cinta itu apa adanya. Gue yakin Barry pasti orang baik buat lo dan bukan seperti cowok berengsek di luar sana.”
Saat ini mereka berada di kantin yang sedikit mulai ramai. Ryuna menurunkan matanya menatap semangkuk teriyaki yang masih dikepulkan asap.
"Tau apa lo tentang cinta? Kayak udah pernah ngalamin aja."
"Emang gue udah pernah kok. Tepatnya baru aja gue rasain.” Jawabnya sembari tersenyum mengkhayalkan sesuatu yang membuatnya spontan tersenyum.
Ryuna mencibir, bukan seperti orang sedang jatuh cinta yang dilihatnya, tapi sudah hampir seperti orang safih! Bagaimana tidak? Pantas saja dari tadi Viona selalu saja menyengir kuda dan terlihat sangat bahagia. Tapi, dengan siapa?
“Udahlah, jatuh cinta itu buang-buang waktu tau.”
"Buang-buang waktu kata lo? Ya kucing...." Viona menggeleng-gelengkan kepalanya, heran. Ia merasa sahabatnya itu terlalu mudah untuk tumbuh menjadi dewasa.
"Hidup itu penuh kreatif Ryuna. Lo gak bisa hanya berpikir secara kritis aja, dan lo harus bisa ngerasain semua rasa." Viona menjeda, "Rasa manis, pedas, pahit, asem juga..."
"By the way, gue nggak butuh kata-kata lo. Gue cuma mau bilang, ambil bukumu dan belajar. Perbaiki nilai lo yang cuma di bawah rata-rata itu,” Pungkasnya. Ryuna tampak begitu dingin dan datar.
“Iya-iya, gue emang nggak sepintar lo.”
Keduanya kembali disibukkan dengan sarapan masing-masing. Terkadang hal inilah yang Viona kesalkan pada Ryuna, dia terlalu menutupi perasaannya. Tidak mau mencoba menerima dan membuka hati pada seseorang yang datang padanya.
"Hehehe, kali ini lo nggak akan bisa lolos dari jebakan gue. Kemarin lo udah berani nyelakain gue habis-habisan, sekarang giliran gue yang mau balas dendam." Shaila tertawa jahat, kedua temannya hanya tersenyum sinis seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Udah, kasih aja cepat sama bu kantinnya biar urusan kita kelar!" suruh Metha.
"Terus kita cepat-cepat pergi dari sini sebelum ada yang ngeliatin kita," Imbuh Rana yang sedari tengah waspada.
Shaila mengaduk minuman dingin yang bercampur kapsul, lumayan cepat melarut dalam air sirop. "Bu, tolong kasih minuman ini ke nomor meja 9 yang badannya kecil memakai kerudung itu."
Belum sempat ibu kantin itu pergi untuk mengantar minuman itu sudah lebih dulu terlempar ke baju seragam Shaila, kedua temannya juga terkena cipratan air sirop itu.
Pecahan kaca yang berjatuhan ke lantai membuat para penghuni kantin terkesiap kaget dan tertarik untuk menoleh. Baru kali ini mereka mendengar suara nyaring seperti itu.
Ryuna dan Viona juga ikut menoleh karena terkejut, Ryuna menyipitkan matanya.
"Ngapain Barry di sana? Sama cewek-cewek stres itu lagi." Viona terbengong saat matanya menangkap raut muka Barry yang terlihat lebih serius dari biasanya.
Sial! Sejak kapan dia di sini? Shaila menjadi gugup saat Barry terus menyorotinya dengan tatapan tajam.
"Kalau mau cari masalah sama gue, jangan bawa-bawa orang lain. Yang balas dendam kemarin itu gue, bukan orang yang lo duga,” Katanya dingin. Setelah itu Barry bergegas pergi dari kantin perempuan meninggalkan suasana yang masih hening.
Di dalam pikiran Ryuna, ia sudah tahu apa yang dilakukan ketiga manusia itu. Kayaknya, mereka gagal ngerjain gue.
"Gue ngerasa mereka mau ngerjain lo lagi, Ryuna. Ngapain coba mereka bertiga di sana? Pakai acara buat sirup lagi. Masih untungnya Barry datang nyelamatin lo, super hero emang nggak ke mana-mana ya.”
...***...
"Ke mana aja sih Ry? Ke toilet kok lama banget, ngapain aja? Buang dosa?" Lucio langsung menyerang cowok di hadapannya dengan beberapa pertanyaan.
Pemuda itu sudah kembali ke ruang latihan taekwondo. Rafan hanya meliriknya sebentar lalu kembali fokus ke bukunya.
"Abis nolongin cewek gue, masih baik gue tepat waktu buat nolongin dia yang keracunan minuman. Cewek-cewek tadi itu emang kayak iblis kelakuannya.”
Barry masih ingat apa yang dilakukan Shaila bersama teman-temannya, untung saja dirinya segera melihat kejadian itu.
“Iblis?" Ulang Lucio yang masih bingung.
"Kalau nggak salah namanya Shaila. Dia musuh cewek gue, kayaknya mereka memang tidak nggak akan pernah akur. Gue juga nggak paham kenapa mereka bisa musuhan?”
"Besok-besok gue kasih peringatan nih ke Ibu kantin. Masa dia mau-mau aja disuruh mereka." Barry menoleh ke Lucio yang masih tak mengerti dengan ucapannya.
“Udahlah, ayo latihan.”
"Oke."
Akhirnya mereka sama-sama membungkuk sebelum memulai latihan. Barry menyerang Lucio terlebih dulu dengan teknik yang sudah dipelajarinya beberapa hari yang lalu, Lucio menghindar dan memberi perlawanan dengan strategi barunya.
Kedua pemuda itu sangat lincah dalam urusan belas diri, begitulah yang ada di dalam pikiran mereka. Jika tidak ada aksi yang menegangkan seperti ini maka tidak ada yang namanya kehidupan, perkelahian dan action adalah jiwa mereka. Lebih tepatnya jiwa seorang pria sejati.
Hap!
Serangan terakhir yang diberikan Lucio menjatuhkan Barry di atas karpet.
"Huh..." Barry mencoba untuk bangun, raut wajahnya terlihat sebal membuat Lucio tertawa kecil.
"Jangan cemberut gitu dong. Gue emang ahli dalam taekwondo ini," Ucapnya dengan bangga. Ia membusungkan dadanya.
"Lo bener. Gue cuma ahli dalam bidang basket." Barry menyeka keringat di wajahnya, langkahnya membawanya mendekat ke Rafan yang sibuk dengan bukunya.
"Fan, lo gak mau lawan tuh si Sombong? Jatuhin dia kek, biar dia nggak tambah sombong." Barry menjatuhkan dirinya di samping Rafan yang terfokus pada buku di tangannya.
"Gak.”
"Rafan mana tau soal bela diri? Taunya buku aja.”
Tersinggung dengan ucapannya, Rafan spontan beranjak berdiri. Buku yang sedari tadi dipegangnya kini diletakkannya di atas lantai membuat Barry yang baru duduk di sampingnya mendongak kaget. Jangan main-main sama Rafan, Cio, atau lo dibuat jungkir balik sama dia.
"Lo mau nantangin gue?" Rafan menatapnya tajam, tapi pesona tampannya tak pernah hilang. Kini ia sudah berdiri di hadapan Lucio.
"Semangat Rafan!" Support Barry setengah berteriak yang malah memilih menyemangati Rafan.
Lucio tersenyum menyeringai, ia menyukai semangat Rafan yang tampaknya begitu menantang. "Oke, ayo kita mulai.”
Dengan memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang, Lucio mulai menangkis serangan yang diberikan Rafan. Ternyata dia benar-benar lihai dalam soal teknik bela diri. Kok?
Barry tertawa kecil melihat keterkejutan Lucio. Sebenarnya Rafan pintar sekali dalam ilmu bela diri, hanya saja dia tidak mau memperlihatkannya.
Brak!
Tadi Lucio memang menang, Barry yang kalah. Akan tetapi, sekarang Lucio yang dijatuhkan. Tak hanya tampan, Rafan ternyata jago bela diri semakin membuatnya tampak misterius dan berkarisma tinggi di mata perempuan. Akan tetapi, ia sama sekali tak ingin menunjukkan kebolehannya itu.
"Hebat, gue selalu bangga sama lo." Barry menepuk pundak Rafan dengan kagum.
Alis mata Lucio bertaut, alih-alih berdiri dengan tegap. "Kok lo bisa bela diri?”
“Kadang-kadang gue latihan di rumah."
"Latihan sendiri?"
“Sama Ayah gue.”
“Seorang pelatih?”
"Bukan. Dia cuma ngajari gue teknik-teknik bela diri dan hal-hal yang paling penting dari ilmu bela diri.”
"Oke. Ayo, kita balik ke kelas." Barry bangkit dari duduknya.
Rafan kembali mengambil bukunya yang tergeletak di atas lantai. Hari-hari semakin berlalu, begitu pun dengan persahabatan mereka yang lambat laun menjadi kuat. Terkecuali Barry dan Rafan, mereka sudah seperti saudara kembar yang ke mana-mana selalu bersama semenjak mereka duduk di sekolah dasar.
Di saat menuruni anak tangga, mereka berpapasan dengan dua gadis cantik yang tengah bercengkerama. Barry tersenyum kecil saat berpapasan dengan Ryuna yang hanya memandangnya sekilas, lain halnya dengan Viona cukup berani menyapa ramah Rafan, tapi yang menjawab justru Lucio.
"Hai Rafan," sapa Viona sembari tersenyum.
"Hai Viona." Lucio tersenyum tak kalah manisnya, ia mengedipkan matanya dengan genit.
Viona cemberut kesal ketika Rafan sama sekali tidak meliriknya. Jika biasanya Barry selalu menghampiri gadis introvert itu dengan berani beda lagi dengan sekarang, ada sesuatu hal ditutupi yang membuatnya tak ingin menghampirinya. Akhirnya berlalu begitu saja, mereka berjalan beriringan di koridor sekolah.
"Kenapa? Kok tumben nggak nyapa cewek lo?"
Lucio mulai tahu kebiasaan temannya itu yang sering kali menyapa Ryuna di kala berjumpa. Bukannya menjawab Barry hanya tersenyum penuh misteri.
Sementara Ryuna dan Viona berdiri di balkon sekolah dengan beberapa camilan di tangannya.
"Gue kecewa banget tau nggak, kenapa sih Rafan batu banget. Seharusnya dia senyum dikit kek."
Sebenarnya bukan salah Rafan jika perasaannya tidak terbalas, hanya saja Vionalah yang terlalu berharap. Pada kenyataannya Rafan tak pernah melihatnya, sungguh tragis.
Ryuna sudah tak mau lagi menjelaskan tentang hal itu padanya, gadis itu terlalu keras kepala. Jika dikomentari malah cemberut, lebih baik didiamkan saja, biar dia berpikir sendiri kalau tindakannya itu salah.
"Ryuna, gimana pendapat lo soal... kenapa Barry nggak nyapa lo? Aneh. Dia cuma tersenyum, apa maksudnya?"
Ryuna meletakkan minuman dingin di sampingnya. Tatapannya membawanya untuk menatap pemandangan sekolah dari balkon sejenak, pikirannya mulai menerawang jauh.
"Gue harap dia nggak ada, gue mau cuma keluarga utuh dan hidup tenang.” Itu saja.
Bumi berputar zaman beredar akan selalu ada perubahan dalam hidup. Semua akan mengalami perubahan, entah buruk menjadi baik atau bahkan sebaliknya. Tentu mereka akan memiliki alasan tersendiri kenapa mereka berubah yang pada akhirnya semua akan kembali seperti semula jika waktu mau menjawab.
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja