"Om Kera, bolehkah aku menukar diriku sendiri dengan sebuah pisang?"
Sebuah tawaran yang membuat kera siluman setara dengan dewa tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak ingin pisang lain selain dirimu. Kaulah pisang termanis di dunia ini."
Penolakan itu pastinya tidak membuat si Bocah menyerah begitu saja.
"Semua orang tahu pisang itu manis. Sementara aku? Aku ini manusia. Rasaku tidak semanis pisang. Nah ambillah pisang ini!"
Senyuman polosnya saat menyodorkan sebuah pisang bahkan memberikan aura yang lebih manis dari pisang itu sendiri.
"Kau pikir sebuah pisang cukup untuk menggantikanmu?"
"Beri aku kesempatan untuk berkeliling dunia. Akan kupilihkan dan kumpulkan pisang terlezat diseluruh dunia. Lalu akan kuberikan padamu."
Bocah laki-laki ini masih sangat kecil tapi begitu pandai menawar. Memberikan hiburan tersendiri bagi sang Raja Kera.
"Kau tidak akan bisa menemukannya."
"Pasti bisa! Bagaimana kalau kita bertaruh? Bila aku bisa menemukannya, maka kau harus mengabdikan dirimu sebagai keluargaku. Kalau aku tidak bisa menemukannya maka kau boleh menyuruhku menanamkan pohon pisang untukmu. Bagaimana?"
Lagi-lagi si Bocah memberikan penawaran yang menguntungkan dirinya sendiri.
Apakah yang akan dilakukan si Raja Kera?
Membuat penawaran baru?
Ataukah memberikannya waktu untuk menjelajah dunia?
Atau malah membuat si Bocah Pisang menjadi pisang goreng?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chonurv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kembali
Gege memacu kudanya dengan kencang. Berlari menyusuri jalanan hutan, terbang melewati pemukiman, begitu seterusnya. Ia menggunakan jalur darat dan udara silih berganti untuk mempercepat perjalanannya. Hingga akhirnya ia sampai di perbatasan desa Thuk Banyu.
Dari sana ia mulai memperlambat lajunya dan menggunakan jalur darat seterusnya. Desa tersebut adalah sebuah desa yang berada di bawah kaki gunung yang sedang ia tuju. Tidak ingin melewatkan jalan yang ia cari, ia pun dengan jeli mengamati jalur di sepanjang perjalanan.
"Sudah lama aku tidak lewat sini. Semoga kita tidak kesasar," gumamnya sembari menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari petunjuk arah.
Tumbuhan besar nan rindang tumbuh subur di sana. Beraneka ragam bunga pun bermekaran. Sungai dengan aeir jernih mengalir di salah satu sisi jalan. Sungguh suasana perjalanan yang sangat menenangkan. Dengan catatan tidak ada hambatan berarti yang menghadang.
" Hah, rasanya senang bisa menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Dan menghindar dari kepenatan pekerjaan. Tubuhku rasanya segar kembali."
Gege menghirup napas dalam-dalam, membiarkan udara segar memenuhi relung-relung paru-parunya. Kemudian ia keluarkan secara perlahan sisa-sisa dari respirasi. Ia benar-benar menikmati perjalanannya.
Tidak lama kemudian, Gege dan kudanya sampai di perempatan jalan. Ia berhenti sejenak untuk membaca papan penunjuk arah.
"Hm. Sepertinya sebentar lagi kita sampai, Sembrani. Ayo!"
Gege kembali memacu kudanya setelah melihat papan Kayu bertuliskan 'Gunung Banyu Pethak 100 m' dan tanda jalan lurus ke depan.
Tidak jauh dari perempatan yang dilalui, Gege kembali melihat sebuah papan kayu di pinggir jalan. Terdapat tulisan 'Gunung Banyu Pethak' pada papan kayu yang sudah berlumut itu. Ia kembali menghentikan kudanya.
"Hm. Jadi kita sudah memasuki area Gunung Banyu Pethak, hah?" gumamnya seraya menoleh ke arah kanan dan ke depan secara bergantian.
Ia bingung harus mengambil jalur yang mana. Karena tidak ada lagi petunjuk arah di sana.
"Hey, Sembrani! Menurutmu jalan mana yang akan membawa kita ke puncak tertinggi gunung ini?"
Seolah mengerti pertanyaan dari tuannya itu, si Kuda Sembrani kembali berjalan tanpa aba-aba. Ia mengambil jalan berbelok yang ada di sebelah kanan mereka.
"Bagus. Aku percaya instink kehewananmu," puji Gege.
Semakin masuk ke dalam, pepohonan lebih besar dan tinggi pun semakin banyak terlihat. Jalanan terlihat sedikit gelap, meskipun hari masih siang. Hal ini dikarenakan minimnya cahaya matahari yang masuk. Lebatnya dedaunan dan dahan-dahan pohon besar yang saling tumpang tindih menghalangi paparan sinar matahari.
Setelah perjalanan tenang nan lancarnya, akhirnya Gege mendapatkan hambatan pertamanya.
"Eh? Kenapa kawanan kancil ini suka sekali menghadang perjalanan orang sih?!" gerutu Gege.
Ya. Parade kancil berlarian kembali memotong jalan, membuat siapapun tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai parade itu berakhir. Gerombolan kancil tersebut cukup sering berlarian melintang, memutus satu-satunya akses jalan yang ada.
Entah apa yang membuat gerombolan kancil tersebut berlarian. Dan entah dari mana ratusan kancil tersebut berasal. Tidak ada satu orang pun yang bisa menjelaskan venomena ini.
"Kurasa akan berjam-jam bila kita menunggu habisnya gerombolan ini. Terbang, Sembrani!" titah Gege.
Si Kuda Sembrani pun terbang melewati gerombolan kancil. Mereka terus terbang hingga melewati jembatan penghubung dataran yang terpisah jurang tebing terjal.
Terlihat sungai mengalir di bawah jurang. Beberapa air terjun kecil dikelilingi pepohonan hijau mengalir bercabang menuju sungai.
Gege terus melihat ke bawah, menikmati pemandangan indah itu dari atas. Ia tidak pernah berhenti terkagum-kagum setiap kali ia melewati jembatan merah di bawahnya.
Jembatan berusia puluhan tahun itu masih terlihat kokoh dan indah. Waktu yang berlalu pun tidak bisa mengikis kharisma dan kekuatan yang dimiliki oleh sang Jembatan.
"Kek Aki memang hebat!" decak kagum Gege di dalam hati.
Ya. Seluruh jalan akses masuk ke puncak gunung adalah buatan si Kakek saat ia masih muda. Jalan-jalan tersebut dibangunnya agar ia bisa naik dan turun gunung lebih mudah.
Waktu mengapresiasi Gege pun berakhir saat tiba-tiba sesosok makhluk melompat dari lautan hijau pepohonan rindang. Lalu, dengan kecepatan tinggi menabrak Gege.
Gege pun terjatuh dari kudanya. Makhluk tersebut terus menekan tubuh Gegee.
"Ugh sial!" umpat Gege.
Tubuhnya terus terjatuh dari atas menghantam dahan-dahan besar pohon hingga patah. Sampai akhirnya tubuhnya menghantam tanah.
Punggungnya terasa remuk. Ditambah lagi ia terjatuh di atas bongkahan emas yang sangat keras. Karena ia sedang menggendong bongkahan emas tersebut.
"Kenapa siang-siang ada Peta sih?!" batin Gege.
Peta tersebut menindih tubuh Gege, meraung-raung berusaha menggapai sesuatu yang ada di balik tubuh Gege sembari terus menyerang Gege.
"Seingatku peta penghuni gunung ini tidak akan menyerang orang deh, kalau nggak diganggu," batin Gege sembari menahan tangan-tangan si Peta agar tidak melukai dirinya.
Sementara itu, si Kuda Sembrani yang masih terbang di udara langsung berbalik arah. Ia mencari jalan untuk mengejar tuannya yang terjatuh.
Tidak ada celah di antara pepohonan yang saling bertautan dan tumpang tindih itu. Si Kuda pun langsung melesat kembali ke arah jembatan dengan kecepatan penuh.
Si Kuda memasuki hutan dari sana. Dengan mengandalkan instink dan indra penciuman, si Kuda mencari keberadaan tuannya. Ia memang bukan seekor anjing, namun indra penciumannya cukup bisa diandalkan.
Tidak lama kemudian, si Kuda melihat tuannya yang sedang bergelut dengan sesosok makhluk berbulu runcing menutup seluruh bagian tubuh belakang, dan tangan yang berkuku panjang tajam. Tanpa pikir panjang si Kuda pun langsung menyemburkan api pada makhluk tersebut.
Peta yang terkena semburan api itu pun meraung, dan lenyap bersama suaranya yang semakin memudar..
"Aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkanku," ucap Gege seraya berdiri.
"Tapi berhati-hatilah saat menyemburkan api! Kau hampir membakkarku juga tahu!" lanjutnya sedikit kesal.
Ia memberikan tatapan mata tajjam kepada si Kuda. Ia hampir saja berakhir menjadi manusia bakar gara-gara kudanya itu. Untung saja ia cukup sigap untuk membentuk perlindungan.
Sesaat setelah peta yang menyerang Gege menghilang, gemerisik dedaunan terdengar. Bunyinya semakin keras. Pepohonan besar di sekitar mereka pun bergetar hebat.
"Eh? Ada apa ini?!" tanya Gege kebingungan seraya mengamati sekitarnya.
Si Kuda pun terus meringkik, membuat suasana semakin riuh.
Tiba-tiba segerombolan peta muncul dari balik pepohonan mengepung mereka. Gege pun menelan ludah.
"Gawat! Bagaimana caraku melawan peta sebanyak ini?" katanya dengan khawatir.
Tidak disangka perjalanan tenangnya bisa berubah menjadi menegangkan dalam sekejap mata. Jantung Gege berdesir dengan cepat. Keringat dingin pun mulai keluar dari telapak tangannya yang mengepal.
Lagi-lagi tanpa pikir panjang si Kuda Sembrani langsung berubah ke mode apinya. Api melapisi sekujur tubuh si Kuda.
Si Kuda membuat pusaran api yang langsung membakar habis puluhan peta sekaligus. Pepohonan pun turut terbakar. Meskipun kali ini ia tidak mengenai Gege.
"Kuda Sembrono!" pekik Gege marah.
Namun, tetap saja Gege marah karena si Kuda hampir saja membakar seluruh area hutan. Bukan hampir. Tapi kebakaran hutan itu sedang terjadi saat ini.
Dengan sigap Gege langsung membuat hujan buatan, "Teknik alam. Pembuka gerbang Tirta."
Awan mendung dengan cukup luas pun tercipta di langit. Kemudian hujan deras langsung mengguyur tempat itu.
Di saat yang bersamaan, di sekitar kaki Gege mulai tercipta pusaran air yang mengelilinginya. Pusaran tersebut semakin membesar, lalu menyembur kesegala arah, membuat hujan lokal di dalam hutan yang tertutup.
Dengan sigap si Kuda pun terbang ke atas Gege untuk melindungi Gege dari guyuran hujan menggunakan tubuh dan bentangan sayapnya.
Siraman air dari sisi dalam dan luar sekaligus membuat pemadaman api semakin cepat. Hujan pun berhenti begitu api padam sepenuhnya.
Akan tetapi, itu bukanlah waktu bagi Gege untuk bisa bernapas lega. Karena setelah hujan reda, peta-peta baru kembali bermunculan.
"Ayolah! Sebenarnya berapa banyak peta yang mendiami hutan-hutan di gunung ini, hah?" keluh Gege.
Ia sudah mengeluarkan energi cukup banyak untuk membuat hujan buatan dengan jangkauan cukup luas. Dan ia masih harus menghadapi peta yang jumlahnya dua kali lipat dari sebelumnya.
"Hey Sembrani, bertindaklah lebih hati-hati kalau kau tidak mau namamu kuganti Sembrono!" ucap Gege memperingatkan kudanya agar tidak membakar hutan lagi.
Si Kuda meringkik paham. Ia tidak lagi mengaliri tubuhnya dengan api. Ia mendekati peta satu per satu dan membakar mereka dari dekat.
Gege memfokuskan tenaga dalam murninya ke kedua telapak tangannya. Ia berputar, menendang peta yang mendekat padanya.
Saat lima peta mendekat kepadanya sekaligus, Gege pun melompat ke atas untuk menghindar. Sayangnya di atas ada peta berwujud kelelawar raksasa siap menyambarnya.
Gege mendongak ke atas, menatap makhluk yang mencengkeram bahunya. Sembrani menyeruduk peta berwujud kelelawar itu, kemudian membakarnya, membuat Gege kembali terjatuh ke bawah.
Peta lain berusaha menyambar Gege. Namun Gege meninjunya dengan kepalan tangan yang baru teraliri setengah tenaga dalam. Tinjuannya cukup untuk membuat peta berwujud burung gagak bertanduk itu terpental.
Gege menginjak kepala peta yang menyambutnya dari bawah, menjadikannya tumpuan untuk melompat dari satu kepala ke kepala lain, menghindari tangan-tangan yang mencoba meraihnya. Hingga akhirnya ia pun berhasil mendarat ke tanah.
"Sebenarnya apa yang membuat peta-peta ini menjadi beringas dan menyerangku?" batin Gege penasaran.
Kini tenaga dalam murninya telah terkumpul sepenuhnya. Terlihat cahaya putih melapisi kedua telapak tangannya.
Ia merentangkan kedua tangannya saat dua peta mendekat dari arah yang berlawanan. Ia letakkan telapak tangannya itu ke dahi peta.
"Teknik pemurnian. Cahya saka arupadatu."
(Teknik pemurnian. Cahaya dari surga.)
Seketika lambang di dahi para peta pun seperti terbakar api putih. Kemudian peta tersebut memudar dan menghilang.
Bersama Sembrani, Gege terus menghabisi sisa-sisa peta yang ada dengan cara yang sama. Hingga cahaya di telapak tangan Gege mulai memudar. Karena ia mulai kehabisan tenaga dalam.
Sesosok peta berwujud tirex berkaki enam dan berekor tiga berhhasil menubruk Gege dari belakang. Hingga Gege jatuh tersungkur ke tanah. Peta itu mengambil buntalan dari tas Gege.
"Emasnya!" seru Gege.
Gege pun segera bangkit dan mengejar peta tersebut.
"Tidak akan kubiarkan kau mencuri emas kek Aki. Dasar Peta sialan!" rutuknya.
Sembrani yang melihat buntalan itu berada di cengkeraman kaki si Peta pun langsung melesat mendekat. Ia menggigit kaki peta tersebut hingga buntalannya pun terjatuh. Lalu keduanya pun bertarung.
Buntalan yang terjatuh terus menggelinding. Gege berlari mengejarnya dengan napas yang mulai tersengal-sengal.
"Dapat!"
Setelah berusaha keras, akhirnya Gege berhasil menangkap buntalan tersebut. Sialnya buntalan tersebut menggiringnya ke ujung jurang.
Kaki Gege tidak lagi menapak di dataran. Tubuhnya terjun bebas ke dasar jurang yang tertutup kabut tebal.
"Sial! Kuharap aku punya sayap. Atau setidaknya bisa terbang," harap Gege di dalam hati dalam keputus asaan.
"Jadi, hidupku tidak berakhir setragis ini. Jatuh ke jurang tanpa ada orang yang bisa menemukan jasadku. Hewan-hewan liar penghuni dasar jurang pasti menertawakanku. Karena mengira aku sebagai jomblo kesepian abadi yang bunuh diri."
Gege terus meratapi nasibnya sambil memeluk erat buntalan emas. Tidak disangka hari pertama ia bermaksud untuk mengunjungi sang Kakek setelah sekian lama tidak berkunjung akan menjadi hari terakhir baginya untuk menjalani kehidupan.
Mari saling mendukung