Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Masih di Sini
Khaira menjerit merasa sakit di perutnya mendapati Ziya tengah mencubit perutnya.
Ziya melotot tidak suka pada Khaira, seolah memberi peringatan.
Khaira meringis, "Kau kenapa mencubitku?" ucap Khaira sambil mengusap perutnya yang masih terasa perih.
"Sakit tau!" sambungnya tidak terima
Ziya melotot, "Kau membicarakanku, aku tidak suka," ketus Ziya
"Aku masih di sini, aku bisa mendengarnya," sambung Ziya.
"Bisa-bisanya kau menggunjing di depanku," lanjut Ziya.
Khaira nyengir, "Aku tidak menggunjing, aku memberi tau Redo agar dia lebih mengenalmu," timpal Khaira
"Yang ku bicarakan fakta, tidak ada yang salah dengan perkataanku." Sambung Khaira
"Itu lebih bagus bukan, dari pada aku membicarakanmu saat kau tidak ada. Itu akan terdengar tidak baik." Lanjut Khaira
Redo tersenyum miring melihat perdebatan antara Ziya dan Khaira. Matanya menatap Ziya dan Khaira bergantian.
"Tetap saja aku tidak suka kau membicarakanku. Dan aku tidak suka kau membicarakan kehidupanku pada orang lain." Kata Ziya
Khaira nyengir, "dia bukan orang lain, dia temanku. Dia juga akan menjadi temanmu. Jadi dia bukan orang lain." balas Khaira
Redo menegakkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya ke arah Ziya.
"Mari berteman," ucap Redo dengan uluran tangan mengarah pada Ziya
Zira bengong namun dengan cepat dia meraih uluran tangan itu dengan sedikit canggung.
Khaira tersenyum puas, rencananya untuk mendekatkan Ziya dan Redo berhasil. Melihat Ziya menerima uluran tangan Redo, Khaira menganggap itu langkah awal untuk dia memulai misi rahasianya.
Khaira meraih ponselnya lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya pura- pura sedang menerima telpon. Tidak lama dia mengembalikan ponselnya ke dalam tas lalu menatap Ziya dengan wajah bersalah.
"Ziy, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang," ucap Khaira dengan wajah bersalah.
Khaira beralih menatap Redo, "Do, nanti tolong kau antar Ziya pulang ya!" Pinta Khaira.
"Aku harus pulang, mama memintaku pulang sekarang. Urgent!" Kata Khaira meyakinkan
Belum sempat Redo menimpali ucapan Khaira, Ziya dengan cepat menyela,
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Kata Ziya
"Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri, aku sudah berjanji akan mengantarmu pulang. Jadi biarkan aku bertanggung jawab," jawab Khaira
"Kau tidak perlu sungkan, aku yang memintanya untuk mengantarmu. Aku yakin dia tidak akan keberatan." Sambung Khaira.
"Benarkan Do," desak Khaira
"Ya aku akan mengantarmu pulang, kau tidak perlu sungkan. Bukankah kita berteman?" Kata Redo menatap Ziya
Redo beralih menatap Khaira, "Kau pulanglah. Aku akan mengantarnya." kata Redo pada Khaira.
"Baiklah, jaga temanku. Pastikan dia sampai dengan selamat!" kata Khaira terdengar seperti ancaman.
"Kau jangan khawatir. aku akan menjaganya dan memastikan dia sampai dengan selamat. Pergilah!" kata Reyhan dengan sedikit menyunggingkan bibir
"Ziy, maaf. Aku harus pergi." Ucap Khaira pura-pura memelas.
"Iya, hati-hati di jalan," balas Ziya
Setelah pamit pergi, Khaira berlalu meninggalkan Redo dan Ziya berdua di tempat itu. Kepergian Khaira membuat Ziya semakin canggung, Redo bisa melihat kecanggungan itu.
Redo berdehem setelah cukup lama mereka terdiam,
"Kau akan ke mana setelah ini?" tanya Redo setelah berdehem.
Ziya menoleh setelah dari tadi matanya menatap ke sembarang arah untuk menutupi kecanggungannya.
"Aku akan pulang," jawab Ziya
"Apa kau tidak ingin kita main game dulu atau kau mau nonton?" tanya Redo.
"Tidak," balas Ziya cepat
"Aku harus pulang," sambungnya
"Baiklah," jawab Redo.
Ziya berdiri, kemudian meraih tas yang dia letakkan di belakang kursi dan memakainya.
"Apa kita akan pulang sekarang?" tanya Redo heran, dia pikir Ziya akan lebih lama lagi di sini.
"Apa kau tidak ingin pulang sekarang?" alih-alih menjawab, Ziya justru balik bertanya
"Jika kau masih ingin di sini tidak apa, aku akan pulang sendiri." sambung Ziya akan segera melangkah.
"Jangan," ucap Redo cepat karena Ziya akan melangkah. Perkataan Redo berhasil menghentikan langkah Ziya.
"Aku juga akan pulang, tunggu sebentar." Sambung Redo
Redo memasukkan ponselnya yang berada di atas meja ke dalam tasnya lalu mengenakan tas itu. Dia berdiri dan melangkah mendekati Ziya.
"Tunggulah di sini sebentar, aku akan kesana membayar makanan tadi," kata Redo dengan telunjuk mengarah pada Kasir.
Ziya mengangguk kemudian kembali duduk. Redo melangkah menuju kasir.
"Benar yang di katakan Khaira dia benar-benar lugu dan polos." Batin Redo dengan terus melangkah.
"Bukankah Khaira yang mentraktir kami makan? Kenapa dia yang membayar tagihan ini?" batin Ziya bertanya-tanya
Selesai membayar tagihan Redo kembali ke meja mendekati Ziya, mengajaknya untuk pulang bersama. Mereka melangkah menuju parkiran.
Ziya mengikuti langkah Redo yang membawanya mendekat ke arah mobil sport merah marun yang tampak seperti baru.
Ziya menghentikan langkahnya mengikuti Redo yang juga berhenti, Ziya melihat Redo membuka pintu depan sebelah kemudi.
"Masuklah." Redo berkata setelah membuka pintu mobil.
Ziya tercengang menatap tidak percaya. Dia tidak menyangka mobil mewah itu adalah mobil Redo, yang dia rasa Redo belum pantas mengendarainya.
Ziya diam tak bergeming, "Dia membawa mobil? Dia masih SMA, apa tidak masalah mengendarai mobil? mobilnyanya juga terlihat mewah, tidak pantas anak seusianya membawa mobil mahal seperti ini," banyak pertanyaan muncul di benak Ziya.
"Masuklah," ulang Redo.
Ziya tersadar dari pikirannya yang mulai berasumsi, dengan segera Ziya menaiki mobil di susul Redo menutup pintu lalu berjalan menuju pintu kemudi. Redo masuk dan mulai menjalankan mobil itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Rumahmu di mana?" Redo bersuara setelah mobil melaju meninggalkan parkiran.
"Rumahku di Jalan Sudirman," jawab Ziya
"Kita searah ternyata," timpal Redo
" Rumahku di Villa Citra," sambung Redo
Ziya mengangguk, "Kau masih SMA apa tidak masalah membawa mobil seperti ini?" tanya Ziya menyuarakan isi benaknya
"Aku sudah 17 tahun, sudah memiliki KTP dan juga SIM. Jadi tidak akan ada masalah selama membawa mobil dengan benar." Jelas Redo
Ziya menoleh, "kau sudah memiliki SIM dan KTP?" tanya Ziya heran.
"17 tahun, bukankah usia segitu terlalu dini memiliki SIM dan KTP? batin Ziya heran.
Redo tersenyum, "ya. Usiaku sudah cukup untuk memiliki SIM dan KTP" jawab Redo yang tau arah pertanyaan Ziya.
"Apa kau sekolah menggunakan mobil ini?" tanya Ziya
Redo mengangguk dengan pandangan fokus ke depan. Ziya menatap Redo memperhatikan seragam yang di kenakan Redo, di sini dia paham seragam yang di kenakan Redo berbeda dengan seragam yang dia pakai. Di situ dia bisa melihat jelas di mana tempat Redo sekolah.
"SMA Tunas Bangsa?" Itukan SMA elit? ternyata benar dugaanku dia orang kaya. Batin Ziya.
Nyali Ziya menciut mendapati dia sedang bersama Redo yang ternyata orang kaya, dia merasa minder.
Bersambung...
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉