Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Kitab Pedang Langit Terbang
Seminggu telah berlalu sejak malam yang mengubah kehidupan Cang Xuan untuk selamanya. Rumah kecil di pinggiran Desa Awan Timur kini terasa jauh lebih sunyi dibandingkan sebelumnya. Tidak ada lagi suara lembut yang menyambut kepulangannya setiap hari, dan tidak ada lagi seseorang yang menunggunya di dalam kamar yang sederhana itu. Namun waktu tidak pernah berhenti berjalan hanya karena seseorang tenggelam dalam kesedihan. Cepat atau lambat, setiap orang harus kembali melangkah maju.
Pagi itu, ketika matahari baru saja naik dan kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sebuah suara tajam terus bergema di tengah hutan yang berada tidak jauh dari Desa Awan Timur.
Sreet!
Sreet!
Sreet!
Kilatan pedang berulang kali membelah udara, meninggalkan jejak-jejak samar yang menghilang dalam sekejap. Di sebuah area yang cukup terbuka, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun sedang berlatih tanpa henti. Pedang tua di tangannya terus bergerak dari satu tebasan ke tebasan berikutnya, seolah tidak mengenal rasa lelah.
Anak laki-laki itu tidak lain adalah Cang Xuan.
Dalam seminggu terakhir, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berlatih dan berburu. Kesedihan akibat kehilangan ibunya masih tersimpan jauh di dalam hati, tetapi ia memilih menyalurkan semua emosi tersebut ke dalam ayunan pedangnya daripada larut dalam keputusasaan.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Pakaian yang dikenakannya telah menempel pada kulit akibat latihan yang berlangsung sejak pagi buta, sementara napasnya terdengar sedikit berat. Meski demikian, genggamannya pada gagang pedang tetap kokoh dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Di hadapannya berdiri beberapa batang pohon besar yang telah menjadi sasaran latihannya selama beberapa hari terakhir. Permukaan batang-batang pohon itu dipenuhi bekas tebasan dengan kedalaman yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya bahkan hampir terpotong sepenuhnya akibat terus-menerus menerima serangan dari tempat yang sama.
Cang Xuan kembali mengayunkan pedangnya dengan seluruh tenaga yang dimiliki. Bilah pedang itu membentuk lengkungan cepat sebelum menghantam batang pohon di depannya dan meninggalkan bekas tebasan baru yang lebih dalam dari sebelumnya. Setelah itu ia tidak langsung berhenti, melainkan melanjutkan gerakan berikutnya dengan ritme yang teratur, seolah sedang berusaha menyempurnakan setiap ayunan yang dilakukannya.
Setelah menyelesaikan latihan pedangnya, Cang Xuan tidak memberikan waktu bagi dirinya untuk beristirahat. Ia hanya mengatur napas selama beberapa saat sebelum langsung berlari meninggalkan area tempatnya berlatih. Langkah kakinya menggema di antara pepohonan saat ia menyusuri jalur hutan yang telah berkali-kali dilewatinya selama beberapa tahun terakhir.
Pada awalnya, kecepatannya masih stabil dan ringan. Satu putaran berhasil diselesaikan tanpa kesulitan berarti, kemudian jumlah itu terus bertambah menjadi sepuluh putaran. Keringat mulai membasahi dahinya, tetapi ia tetap mempertahankan ritmenya. Waktu terus berlalu, dan jumlah putaran yang berhasil ditempuhnya perlahan meningkat hingga mencapai lima puluh. Pada titik itu, napasnya sudah mulai terasa berat, sementara kedua kakinya perlahan menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Namun Cang Xuan tidak memperlambat langkahnya.
Ia terus berlari melewati jalur yang sama berulang kali, memaksa tubuhnya bergerak meskipun otot-ototnya mulai terasa nyeri. Baginya, rasa lelah hanyalah sesuatu yang harus dilampaui. Jika berhenti setiap kali merasa tidak nyaman, maka ia tidak akan pernah menjadi lebih kuat dari dirinya yang sekarang.
Ketika akhirnya putaran ke seratus selesai, tubuhnya telah dipenuhi keringat dari ujung kepala hingga kaki. Napasnya terdengar kasar dan berat, sementara dadanya naik turun dengan cepat akibat kelelahan. Meski demikian, ia tetap berdiri tegak dan menolak untuk langsung menjatuhkan diri ke tanah.
Setelah mengatur napas beberapa saat, ia kembali melanjutkan latihannya.
Kali ini, targetnya bukan kecepatan atau daya tahan, melainkan kekuatan fisik.
Tidak jauh dari tempat itu berdiri sebuah pohon besar yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Di bawah pohon tersebut terdapat sebuah batu raksasa yang hampir setinggi pinggangnya. Batu itu sudah lama berada di sana dan selama ini digunakan Cang Xuan sebagai alat latihan.
Ia berjalan mendekat lalu berdiri di depan batu tersebut. Setelah menarik napas dalam-dalam, kedua tangannya segera meraih bagian bawah batu dan mulai mengerahkan seluruh tenaganya.
Otot-otot di kedua lengannya langsung menegang. Urat-urat halus terlihat menonjol di bawah kulit akibat tekanan yang diterimanya, sementara wajahnya perlahan memerah karena harus menahan beban yang sangat berat.
Batu itu bergeser sedikit.
Kemudian perlahan terangkat dari tanah.
Gerakan tersebut berlangsung sangat lambat, seolah setiap inci yang berhasil diangkat membutuhkan usaha luar biasa. Meski tubuhnya gemetar akibat tekanan yang terus meningkat, Cang Xuan tetap menggertakkan giginya dan mempertahankan posisinya.
Keringat kembali menetes dari dahinya dan jatuh ke tanah satu per satu. Kedua lengannya terasa seperti terbakar, sementara otot-otot di punggung dan bahunya menjerit karena dipaksa bekerja hingga batas kemampuan. Namun ia tidak melepaskan batu itu.
Sebaliknya, ia terus bertahan sambil memaksa tubuhnya menyesuaikan diri dengan beban yang ada.
Setelah menyelesaikan latihan kekuatan fisiknya, Cang Xuan masih belum berniat mengakhiri latihannya. Ia berjalan menuju sebuah area yang dipenuhi batang-batang pohon tumbang, lalu memilih salah satu batang yang panjang dan sempit sebagai tempat melatih keseimbangan. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melompat ke atas batang tersebut dan berdiri tegak sambil menjaga pusat gravitasi tubuhnya.
Latihan ini terlihat sederhana, tetapi kenyataannya jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Batang pohon itu tidak rata, sementara angin yang berembus di antara pepohonan terus-menerus mengganggu keseimbangannya. Beberapa kali tubuhnya sedikit bergoyang ketika hembusan angin yang lebih kuat datang dari samping, bahkan ada saat ketika salah satu kakinya hampir tergelincir dari pijakan. Meski demikian, Cang Xuan tidak pernah menyerah. Setiap kali kehilangan keseimbangan, ia segera menyesuaikan posisi tubuhnya dan kembali berdiri tegak.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Matahari perlahan bergerak ke ufuk barat, sementara bayangan pepohonan semakin memanjang di atas tanah hutan. Cahaya keemasan sore menyelimuti seluruh area dengan warna hangat yang menenangkan, tetapi Cang Xuan tetap bertahan di atas batang pohon itu, memaksa dirinya untuk terus berlatih hingga batas yang telah ia tentukan sendiri.
Baru ketika matahari mulai tenggelam dan langit perlahan berubah menjadi jingga kemerahan, ia akhirnya melompat turun. Tubuhnya terasa lelah setelah menjalani latihan seharian penuh, tetapi di saat yang sama ia juga dapat merasakan perkembangan yang perlahan muncul dari hasil kerja kerasnya selama seminggu terakhir.
Sore terus berganti menjadi malam.
Ketika kegelapan mulai merayap dari sela-sela pepohonan dan cahaya di dalam hutan semakin redup, Cang Xuan segera mengambil pedang serta barang-barang miliknya. Pengalamannya hidup di dekat hutan telah mengajarkannya bahwa bertahan terlalu lama setelah matahari terbenam bukanlah keputusan yang bijaksana.
Ia menatap langit yang mulai menggelap sebelum bergumam pelan, "Aku harus pulang sebelum terlalu banyak Monster Abyss bermunculan."
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia pun segera memulai perjalanan kembali menuju Desa Awan Timur.
Pada awalnya, perjalanan berlangsung tenang. Namun setelah memasuki area pinggiran hutan yang lebih dekat dengan desa, suara geraman rendah tiba-tiba terdengar dari antara pepohonan. Cang Xuan langsung menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan ke arah sumber suara tersebut.
Tidak jauh di depannya, dua Monster Abyss tingkat rendah muncul dari balik bayangan hutan.
Tubuh mereka tidak sebesar monster yang sering diceritakan dalam kisah-kisah mengerikan, tetapi penampilan mereka tetap cukup menyeramkan. Mata merah mereka bersinar samar di tengah kegelapan yang mulai turun, sementara cakar-cakar tajam di kedua tangan mereka menggores tanah saat bergerak maju.
Raungan mereka menggema di antara pepohonan, memecah kesunyian senja yang tersisa.
Jika kejadian ini terjadi beberapa minggu lalu, mungkin Cang Xuan akan merasa jauh lebih gugup. Namun setelah menjalani latihan keras setiap hari selama seminggu penuh, baik kekuatan fisik, kecepatan, maupun ketepatan ayunan pedangnya telah mengalami peningkatan yang cukup jelas.
Alih-alih mundur, ia justru perlahan menggenggam gagang pedangnya.
Tatapannya tetap tenang ketika kedua monster itu menerjang secara bersamaan.
Tubuh Cang Xuan bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Begitu monster pertama memasuki jangkauan serangannya, pedang di tangannya langsung berkilat di bawah cahaya senja yang tersisa. Tebasan yang cepat dan tepat melintas di udara, meninggalkan luka dalam pada tubuh monster tersebut sebelum makhluk itu sempat bereaksi.
Monster kedua segera menyusul dari arah lain, tetapi Cang Xuan telah memutar tubuhnya lebih dahulu. Pedangnya kembali bergerak dengan lintasan yang bersih dan efisien, menghantam titik vital lawannya tanpa membuang gerakan yang tidak perlu.
Pertarungan berakhir hanya dalam waktu singkat.
Kedua Monster Abyss itu tumbang di atas tanah tanpa mampu memberikan perlawanan berarti.
Cang Xuan mengembuskan napas perlahan sambil menurunkan pedangnya. Ia sempat memperhatikan kedua bangkai monster tersebut selama beberapa saat untuk memastikan mereka benar-benar tidak lagi bergerak. Setelah yakin tidak ada ancaman lain di sekitar, ia menyarungkan kembali pedangnya dan melanjutkan perjalanan menuju desa.
Tidak lama kemudian, Cang Xuan akhirnya tiba di Desa Awan Timur. Perjalanan pulang berjalan cukup lancar setelah pertemuannya dengan dua Monster Abyss tingkat rendah di pinggiran hutan. Selain itu, sebelum meninggalkan hutan, ia juga berhasil memburu seekor babi hutan yang cukup besar. Meskipun hasilnya tidak sebanding dengan enam ekor serigala yang pernah hilang sebelumnya, setidaknya kali ini ia tidak perlu pulang dengan tangan kosong.
Sesampainya di desa, ia langsung menuju tempat pedagang yang biasa membeli hasil buruannya. Setelah memeriksa kondisi babi hutan tersebut, pedagang itu menyerahkan beberapa keping koin sebagai pembayaran. Jumlahnya tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sederhana selama beberapa hari ke depan.
Dengan uang itu, Cang Xuan membeli beberapa potong roti untuk mengisi perutnya yang telah bekerja keras sepanjang hari. Baru setelah itu ia berjalan menuju rumah kayu kecil yang berdiri di pinggiran desa.
Malam telah turun sepenuhnya ketika ia tiba di depan rumah.
Cahaya bulan yang redup menerangi halaman yang sunyi, sementara angin malam berembus perlahan melewati dinding-dinding kayu yang sudah tua. Cang Xuan berdiri beberapa saat di depan pintu sebelum akhirnya mendorongnya dan melangkah masuk.
Seperti yang selalu terjadi selama seminggu terakhir, tidak ada suara yang menyambut kepulangannya.
Tidak ada lagi sosok yang menunggunya di dalam rumah.
Tidak ada lagi suara lembut yang menanyakan apakah ia sudah makan atau apakah perburuannya berjalan lancar.
Yang menyambutnya hanyalah keheningan.
Cang Xuan menundukkan kepala sesaat.
Meskipun tujuh hari telah berlalu sejak kematian ibunya, perasaan kehilangan itu masih belum sepenuhnya memudar. Setiap kali kembali ke rumah, ia masih secara tidak sadar berharap mendengar suara yang selama bertahun-tahun selalu menemaninya.
"Aku pulang..."
Suara pelan itu terdengar di dalam ruangan yang kosong.
Namun seperti sebelumnya, tidak ada jawaban yang datang.
Setelah menarik napas panjang, Cang Xuan berjalan menuju meja kayu sederhana yang berada di tengah rumah. Ia meletakkan tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah buku tua yang selama seminggu terakhir selalu ia simpan dengan hati-hati.
Buku itu adalah benda terakhir yang diberikan ibunya sebelum mengembuskan napas terakhir.
Perlahan ia meletakkannya di atas meja, lalu memandangi sampulnya dalam diam.
Sampul buku tersebut berwarna hitam kebiruan dan tampak sangat tua, seolah telah melewati waktu yang sangat panjang. Di bagian tengahnya terdapat simbol pedang berwarna perak yang masih terlihat jelas meskipun usia buku itu tidak lagi muda. Tepat di bagian atas, empat huruf besar tertulis dengan goresan yang kokoh dan tajam.
Kitab Pedang Langit Terbang.
Menurut perkataan ibunya, kitab itu merupakan peninggalan ayahnya, sebuah benda yang telah disimpan dan dijaga selama bertahun-tahun tanpa pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Cang Xuan menarik sebuah kursi lalu duduk di depan meja. Sambil memakan roti yang baru dibelinya, ia terus memandangi kitab tersebut tanpa mengalihkan pandangan.
Api lampu minyak yang menyala di sudut ruangan memantulkan cahaya redup ke permukaan sampul tua itu, membuat simbol pedang berwarna perak terlihat semakin mencolok.
"Sudah seminggu sejak Ibu pergi..."
Gumamannya memecah keheningan yang memenuhi rumah.
Tangannya yang memegang roti sedikit mengencang.
"Ibu melarangku pergi ke Dunia Atas untuk mencari Ayah."
Kalimat itu masih teringat jelas di dalam benaknya. Ia dapat mengingat setiap kata yang diucapkan ibunya pada malam terakhir mereka bersama.
Namun semakin ia memikirkan semuanya, semakin banyak pertanyaan yang muncul di dalam hatinya.
Jika ayahnya benar-benar masih hidup, mengapa pria itu tidak pernah kembali?
Mengapa ia membiarkan seorang wanita yang sakit-sakitan membesarkan anak mereka seorang diri?
Dan mengapa selama bertahun-tahun tidak pernah ada kabar sedikit pun?
Tatapan Cang Xuan perlahan berubah.
Di balik kesedihan yang masih tersisa, mulai muncul tekad yang semakin kuat.
"Tapi aku harus mencari Ayah untuk mengetahui alasan kenapa dia meninggalkan Ibu dan aku."
Rumah kembali sunyi setelah kalimat itu terucap.
Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.
Karena itulah ia tahu bahwa suatu hari nanti ia harus menemukan jawabannya sendiri.
Tatapannya kembali jatuh pada Kitab Pedang Langit Terbang yang berada di atas meja.
"Aku harus menjadi lebih kuat."
Suaranya terdengar tenang, tetapi mengandung keyakinan yang tidak tergoyahkan.
"Jika suatu hari aku cukup kuat, mungkin aku akan meninggalkan desa ini dan menjelajahi dunia yang lebih luas."
Selama dua belas tahun hidupnya, Desa Awan Timur adalah seluruh dunia yang ia kenal. Namun kini ia mengetahui bahwa di luar sana masih ada tempat yang jauh lebih besar, lebih luas, dan lebih luar biasa daripada yang pernah dibayangkannya.
Tempat bernama Dunia Atas.
Tempat di mana ayahnya berada.
"Untuk mencari petunjuk tentang Dunia Atas dan pergi ke sana."
Cang Xuan perlahan menundukkan kepala.
Bayangan wajah ibunya kembali muncul di benaknya.
Ia masih mengingat harapan terakhir wanita itu, harapan yang memintanya untuk tidak mencoba mencari ayahnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara yang terdengar selain nyala api lampu minyak yang bergoyang perlahan.
Kemudian sebuah senyum pahit muncul di wajahnya.
"Maafkan aku, Ibu."
Tatapannya tetap tertuju pada kitab tua di atas meja.
"Mungkin suatu hari nanti aku akan melanggar harapan terakhirmu."
Bukan karena ia ingin mengabaikan pesan terakhir ibunya, melainkan karena ada terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa diabaikannya. Semakin ia mencoba melupakan semuanya, semakin besar keinginannya untuk mengetahui kebenaran mengenai masa lalu keluarganya.
Malam terus berlanjut.
Di luar rumah, desa perlahan tenggelam dalam kesunyian, sementara angin malam berembus lembut di antara pepohonan. Di dalam rumah kayu kecil itu, seorang anak laki-laki duduk seorang diri di depan meja dengan sebuah kitab kuno di hadapannya, memikirkan masa depan yang masih dipenuhi ketidakpastian.
End Chapter 5