"Hanya aku yang boleh menyiksa dan membuatmu menderita. Hanya aku yang boleh mencintai dan memilikimu."_Sean Aznand.
Sonia Elliezza, rumah tangga yang dia idam-idamkan selama ini menjadi mimpi buruk untuknya, walaupun Sonia menikah dengan pria yang sangat dia cintai dan juga mencintainya.
Hanya karena kesalahan di masa lalu, membuat rumah tangga Sonia bersama dengan Sean Aznand menjadi sangat dingin dan menegangkan serta penuh dendam dan amarah yang tak terbantahkan.
Sean memberikan pilihan pahit pada Sonia di awal pernikahan mereka. Pilihan untuk terus bertahan atau pergi, akankah Sonia bisa meluluhkan hati suaminya? Pilihan apa yang akan Sonia ambil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vebi Gusriyeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Penyiksaan
Udara malam tidak membuat Sonia kedinginan, justru memang udara seperti inilah yang dia inginkan. Sonia melamun memikirkan bagaimana cara untuk membuat Sean seperti dulu lagi padanya, dia ingin rumah tangga seperti yang ia idam-idamkan selama ini.
Khadijah memasuki kamar Sonia dengan dua orang pelayan lain, mereka membawa nampan yang berisi makanan, segelas air putih dan jus buah. Sonia tidak bergeming sama sekali dari tempat dia berdiri, walau hanya sekedar melihat siapa yang memasuki kamarnya, dia tetap fokus menatap langit malam yang bertabur bintang.
"Nyonya, makanan anda sudah siap, tuan akan ke sini 10 menit lagi."
"Iya bu, aku akan memakannya nanti."
"Maaf nyonya, panggil saja saya Khadijah karena saya di sini pelayan anda." Sonia membalikkan tubuhnya dan menatap wanita paruh baya itu lalu tersenyum.
"Aku tidak bisa memanggil nama padamu bu, biarkan aku memanggilmu ibu." Khadijah terharu mendengar jawaban Sonia.
"Tapi kita adalah nyonya dan pelayan, rasanya tidak pantas saya mendapat panggilan itu dari nyonya." Sonia mendekat pada Khadijah dan memeluk wanita itu.
"Aku sudah lama ditinggalkan seorang ibu, aku berharap kamu bisa menjadi ibuku dan anggaplah aku ini anakmu. Tolong jangan melarang ku untuk memanggilmu ibu ya." Untuk pertama kalinya pada orang baru Khadijah luluh, biasanya dia akan bersikap dingin dan tegas.
"Baiklah, sekarang makan makananmu sebelum suamimu datang. Ini perintah seorang ibu pada anaknya." Sonia tersenyum dan mengangguk.
Khadijah serta kedua pelayan itu keluar dari kamar Sonia. Dia hanya menyentuh makanan itu sedikit karena memang perutnya sedang tidak lapar. Tak lama dari itu Sean datang dengan pakaian santainya.
"Ikut aku!" perintah Sean pada istrinya.
Sonia mengangguk dan mengekori Sean, pria itu membawa Sonia ke ruangan di lantai 3, ruangan itu sangat gelap, Sean menyalakan lampu.
Sonia sangat shock melihat isi ruangan yang ada di hadapannya sekarang, lutut nya terasa begitu lemas, kenapa Sean membawanya ke ruangan ini? Sean yang menyadari ketakutan Sonia hanya tersenyum sinis.
"Aku sudah memberikanmu pilihan, jadi ini adalah hasil dari pilihanmu sayang, nikmati saja semuanya."
"Ada satu hal yang mengganjal di hatiku Sean."
"Apa?"
"Kenapa kau tidak ingin satu kamar denganku? Kenapa kau harus menempatkan aku di kamar terpisah? Dan kenapa kamar itu selalu dikunci seakan kau membuatku bagai tawanan?"
"Aku tidak sudi satu kamar dengan jalang sepertimu, aku tidak menyukai barang bekas Sonia. Kau pasti mengerti maksudku. Kamar itu selalu aku kunci karena aku tidak ingin kau menikmati kebebasan walaupun hanya di dalam rumah." Sonia begitu sakit hati mendengar jawaban Sean yang menganggapnya seorang wanita murahan.
"Tega sekali kau menuduhku seperti itu Sean."
"Jangan banyak bicara lagi dan nikmatilah hidup barumu Sonia Elliezza."
"Ya Allah, apakah penderitaanku dimulai hari ini dan di tempat ini?" jerit hati Sonia saat melihat ruangan itu.
Sonia mengedarkan pandangan di ruangan yang cukup luas itu, di sana banyak terdapat beberapa alat penyiksaan yang Sonia sendiri tidak tahu kegunaannya untuk apa saja.
"Are you ready?"
Mendengar suara Sean, Sonia hanya diam terpaku, saat ini dia sangat takut dan tertekan, tapi tidak sama sekali menyesal dengan pilihannya. Sonia menarik nafas dalam dan berjalan mengikuti Sean.
"Bersiaplah untuk awal kehidupan barumu sayang, untuk pertama kali mungkin akan sedikit sakit tapi jika kamu alami setiap hari maka tubuhmu akan kebal dan kamu akan kuat," kata Sean sambil mengikat kedua tangan Sonia ke atas, kedua tangan yang diikat dengan rantai ke atas dan kaki yang juga diikat dengan rantai.
"Kenapa hidupku harus begini ya Allah, tolong kuatkan aku," do'a Sonia di dalam hatinya.
"Kau ingin bicara?" tanya Sean dengan senyum devil-nya, Sonia hanya menggeleng pelan.
"Nikmati dan rasa sakitnya akan berkurang, jangan terlalu cengeng, rasa sakit di tubuh itu bisa sembuh sayang tapi di hati, akan susah," kata Sean santai.
"Maafkan aku yang sudah menyakitimu, lakukanlah apapun yang membuatmu tidak benci lagi padaku."
"Oke, memang itu yang akan aku lakukan sekarang, mulai pemanasan dulu. Sekarang katakan padaku, alat mana yang kau inginkan?"
"Maksudmu?"
"Hari ini aku sedang berbaik hati padamu sayang, silahkan pilih salah satu di antara semua alat ini, manakah yang kamu inginkan?" Sonia tidak tahu harus memilih yang mana, melihat alat-alat penyiksaan itu saja sudah membuatnya ngeri.
"Terserah padamu saja, aku tidak keberatan."
"Haha oke."
Sean memilih sebuah cambuk, melihat nya saja sudah membuat jantung Sonia akan berhenti, dia tidak bisa membayangkan bagaimana cambuk itu akan melayang di tubuhnya.
Selama ini Sonia tidak pernah menerima kekerasan fisik dari siapapun, dia begitu takut dengan yang namanya kekerasan, itulah kenapa Sonia memiliki sifat yang sangat manja serta selalu membutuhkan sandaran hidup.
Teringat dengan tetangganya Bu Visa yang selalu mendapat kekerasan oleh suaminya, setiap hari Sonia selalu melihat wajah dan tubuh Bu Visa memar, setiap hari pula dia mendengar teriakan serta umpatan dari suami Bu Visa.
"Kamu kenapa nak?" tanya Emir pada putri kecilnya yang sedang menutup telinga karena takut mendengar Bu Visa bertengkar dengan suaminya.
"Sonia takut yah, pasti Bu Visa ditampar dan dipukul lagi sama suaminya." Emir yang sangat tahu ketakutan Sonia langsung memeluk erat tubuh mungil anaknya, ketika itu usia Sonia baru 8 tahun.
"Biarin aja, itu urusan mereka. Gimana kalau sekarang Sonia ikut ayah nonton kartun Doraemon, filmnya udah mulai." ajak Emir untuk menghilangkan rasa takut Sonia.
Ini juga yang menjadi alasan, kenapa Emir dan istrinya tidak pernah bertengkar di hadapan Sonia, dia sangat takut putrinya kena mental.
"Kamu siap?" tanya Sean yang seketika itu membuyarkan ingatan masa lalu Sonia. Sonia berharap jika Emir ada di sini sekarang dan menolongnya tapi hal itu sangat mustahil terjadi.
"Senyum dong." Sean mendekati Sonia, dia masih tidak habis pikir jika orang yang dia jadikan pelindung dan tempat sandaran sekarang malah menjadi seorang monster yang menakutkan.
Sonia memejamkan matanya seakan siap dengan cambukan yang akan Sean layangkan.
"Akhh," erang Sonia saat cambuk itu melayang di tubuhnya, rasanya begitu sakit dan perih, Sean melakukannya berulang kali di bagian punggung dan kaki Sonia.
Tubuh putih mulusnya kini sudah berubah menjadi merah bercampur darah, baju Sonia bagian belakang pun robek walau tidak banyak.
Selama 20 menit, Sean membabi buta mencambuk Sonia, namun istrinya itu tidak bersuara sama sekali, Sonia menahan suaranya sendiri, menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sakit.
"Ayaahhh tubuh Sonia sakit yaahh," jerit batin Sonia.
Sean menghentikan aksinya dan beristirahat sejenak, dia mengambil sebatang rokok kemudian membakar dan menghisapnya.
"Bagaimana? Sakit?" tanya Sean santai sedangkan Sonia sudah meringis kesakitan.
"I-iya," jawab Sonia dengan lemah dan terbata.
"Baru 20 menit, waktu kita masih panjang, aku ingin kamu di sini selama satu jam, berarti masih ada 40 menit lagi. Aku akan kasih kamu waktu 10 menit untuk istirahat dan kita akan mulai kembali, aku masih belum puas karena belum mendengar teriakan kesakitan dari mulut mu."
Sonia tidak menjawab ucapan Sean lagi, dia fokus pada tubuhnya yang saat ini terasa sangat perih.
Kekerasan yang selama ini dia takuti malah datang menghampirinya dan itupun Sonia dapatkan dari suaminya sendiri.
Sean mendekati Sonia, memandang remeh istrinya, keringat Sonia sudah membasahi seluruh tubuh, lutut Sonia begitu lemah untuk berdiri saat ini.
"Yang kamu rasakan saat ini hanya sakit di bagian luarnya saja Sonia, kamu bisa bayangkan bagaimana sakitnya aku ketika kau tinggalkan dulu."
"Maafkan aku," ucap Sonia pelan tanpa menatap wajah Sean.
"Sssttt jangan minta maaf terus, aku tidak butuh maafmu. Sekarang katakan padaku, sudah berapa kali kau tidur dengan papaku?"
Sonia hanya bungkam tak menjawab, dia tidak mau buka suara mengenai hal itu, dia lebih baik disiksa daripada harus menjelaskan pada Sean.
"Ayo jawab! Sudah berapa kali?"
Sean yang tidak menerima jawaban apapun dari istrinya langsung menjambak kuat rambut panjang Sonia hingga kepala Sonia mendongak menatap Sean, Sonia kini terisak, dia menyudutkan rokok yang masih menyala ke lengan Sonia.
"Tinggal jawab saja apa susahnya hah? Apa segitu cintanya kau pada tua bangka itu sampai kau rela bungkam dan disiksa olehku?"
Sonia masih diam tak bicara sepatah pun, dia hanya menangis tanpa suara.
"Baik,aku akan membuatmu bersuara."
Sean kembali mengambil cambuk dan terus mendera istrinya, cambukan itu melayang di permukaan kulit Sonia, air matanya tak henti mengalir namun suaranya masih dia tahan hingga 20 menit berlalu, kondisi Sonia saat ini begitu mengenaskan, tubuhnya penuh dengan darah.
Sonia mengatur nafas dan terduduk di lantai setelah Sean melepaskan rantai di tangan dan kakinya.
"Khadijah akan mengobati mu, besok aku ingin kau lebih kuat dari hari ini agar aku bisa membuat luka baru di tubuh cantikmu ini. Tubuh yang sangat aku benci karena sudah ternoda dan itu sangat menjijikkan bagiku." Kata-kata Sean sangat menusuk dan menyakitkan.
Sean melenggang keluar, membiarkan Sonia menangis sendiri di ruang penyiksaan. Sonia dengan tertatih berjalan menuju kamarnya, dia harus kuat karena ini baru awal.
Dia akan menghadapi hal ini setiap harinya hingga lima tahun ke depan. Sonia membersihkan tubuhnya dan berendam dengan air dingin di dalam bathub, mencoba untuk menetralisir rasa sakit dan perih di sekujur tubuhnya.
"Aku bisa bertahan, aku yakin bahwa aku mampu," kata Sonia menyemangati dirinya sendiri.
...•••...
Sorry aku langsung emo... geram perangai perempuan mcm nie.