Shandra Hasanah, diusianya yang hampir kepala tiga selalu dikatain perawan tua dan dikatain memiliki wajah yang tidak cantik. Hingga suatu ketika ia dimintai menikah dengan mendiang suami adiknya, Athaya Besmana, karena sang adik yang bernama Alika dikabarkan mengalami kecelakaan dan Athaya sangat terpukul dengan kepergian sang istri.
Tak ingin membuat Athaya terus bersedih, orang tua Athaya justru meminta Shandra menjadi istri dari mendiang suami adiknya. Lalu, apa Shandra menerima permintaan orang tua Athaya?sementara Athaya masih sangat mencintai adiknya, Alika.
Ikuti kisah Shandra _Pemilik Hati Suamiku _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah seharian menjadi ratu dan raja, kini Shandra langsung diboyong ke rumah Atha. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal mendiang sang adik dan kini ia sendiri lah yang akan menempati rumah tersebut.
Shandra berdiri dan menatap rumah itu. Sekilas, bayangan Alika melintas di hadapannya. Shandra menghembuskan napas panjang, sambil berucap di dalam hati.
"Dek, maafin Mba. Semoga kamu tidak marah sama Mba. Semoga kamu ridho jika Atha menjadi suami Mba. Sekali lagi Mba minta maaf."
Walau Alika sudah meninggal, hati Shandra tetap saja merasa tak enak hati karena menikah dengan Atha. Harapannya, semoga Alika tenang dan damai di alam sana. Shandra juga berharap semoga rumah tangga yang baru saja ia bina mampu membuat Atha bisa bahagia dan pastinya ia mampu membuat Atha membuka hatinya untuknya, begitu pun juga dengannya yang harus mulai belajar mencintai Atha.
Saat tengah memandangi rumah itu, suara Atha membuyarkan lamunannya.
"Ayo masuk," ajak Atha.
Shandra tersentak mendengarnya, lalu Shandra mengangguk pelan dan mengikuti langkah Atha memasuki rumahnya. Ketika kakinya melangkah ke dalam rumah, hal pertama yang Shandra lihat adalah foto pernikahan Atha dan Alika. Keduanya tampak bahagia. Senyum keduanya menunjukkan betapa bahagianya Alika dan Atha saat menikah dulu. Senyum saling cinta, berbeda dengan dirinya, tak ada rasa kebahagiaan yang ia lihat dari Atha, yang ada sepanjang acara pernikahan tadi Atha lebih banyak diam. Senyum pun bila ada yang menyapanya.
Ya ... gimana tidak bahagia, menikah saja karena dijodohkan dan itu juga terpaksa, tapi ya sudahlah, ini memang sudah takdirnya ia berjodoh dengan mendiang suami dari adiknya. Shandra memaklumi hal itu.
Biarlah cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Bukankah cinta akan tumbuh bila sering bertemu.
"Itu kamar kamu," kata Atha menunjuk ke sebuah kamar.
Lantas Shandra pun menoleh dan menatap keheranan ke arah Atha.
Apa barusan yang dikatakan Atha? Apa pendengarannya salah tangkap?
Kamarnya, bukan kamar kita? Apa maksudnya? Shandra tahu betul letak kamar Atha dan kamar yang di tunjukkan Atha itu adalah kamar tamu.
"Kamarku?" ulang Shandra seraya menatap heran wajah Atha.
"Iya, itu kamar kamu. Kita pisah kamar. Aku belum siap satu kamar sama kamu. Kamu tahu lah maksudku," ucap Atha tanpa memikirkan perasaan Shandra.
Shandra sedikit tercengang mendengarnya, namun secepatnya ekspresi Shandra kembali normal. Ia tidak ingin banyak tanya. Shandra mengangguk saja dengan apa yang dikatakan Atha, walau hatinya sedikit sakit karena Atha belum siap satu kamar dengannya.
Ya ... memang, ia dan Atha menikah karena terpaksa, tapi mengapa harus pisah kamar.
Ia sadar diri, kalau pernikahan yang ia jalani tidak ada kata cinta, tapi harusnya jangan pisah kamar? Apa ia seburuk itu dihadapan Atha, suaminya sendiri. Padahal di dalam benaknya Shandra sudah membulatkan hatinya untuk mengabdi ke Atha yang notabenenya sudah sah jadi suaminya. Menyerahkan seluruh hidupnya terhadap pria itu, tapi rupanya Atha belum siap menerima kehadirannya sebagai seorang istri.
Shandra kali ini mencoba untuk mengerti. Tidak ingin banyak menuntut untuk tetap satu kamar dengannya. Mungkin Atha masih butuh waktu.
"Oh, kalau gitu aku masuk dulu," ucap Shandra dan segera memasuki kamarnya.
Sesaat, setelah Shandra masuk ke dalam kamar, Atha membuang napasnya sambil memandangi foto dirinya dengan mendiang istri tercintanya.
"Sayang, meskipun kamu sudah pergi jauh dari hidupku, kamu tidak akan pernah terganti di dalam hidupku dan aku berjanji tidak ada satu wanita pun yang aku izinkan masuk ke dalam kamar kita, meski Shandra sekalipun." Atha menjeda kalimatnya, hatinya masih sangat sedih dengan kehilangan Alika di hidupnya. Susah payah ia untuk coba bangkit dari keterpurukannya.
"Aku harap kamu tidak marah padaku yang menikah lagi," sambung Atha dengan suara yang teramat sangat pelan dan sendu.
Atha menyusut kasar sudut matanya yang basah, kemudian Atha melangkah memasuki kamarnya. Atha sengaja pisah kamar dengan Shandra, ia tidak mau kamar yang penuh dengan kenangan ditempati oleh wanita lain. Biarlah dikatain jahat oleh istri barunya, ia tidak pedulikan itu.
***
Shandra pikir, walau pisah kamar Atha akan menjalankan perannya sebagai suami, menafkahi batin istrinya, tapi ternyata sampai hampir larut malam, lelaki itu tak kunjung datang ke kamarnya. Bukan ia mengharapkan hal itu dengannya, tapi biasanya malam pertama pasti dihabiskan dengan melakukan hal yang menyenangkan. Layaknya seperti suami istri pada umumnya.
Tidak ingin berburuk sangka, Shandra lantas keluar sekaligus ingin memastikan kalau suaminya sudah tidur atau belum.
Saat sudah di depan pintu kamar, Shandra ingin sekali masuk ke kamar suaminya, tapi ia takut kalau Atha nanti marah.
Karena tidak punya keberanian, Shandra pun akhirnya memilih melangkah ke dapur saja. Ia ingin mengambil air minum. Namun, langkahnya harus terhenti manakala ia mendengar suara Atha dari arah samping teras rumah. Terdengar suaminya itu seperti sedang berbicara, tapi bicara dengan siapa? Sementara di rumah ini hanya ada dirinya dan Atha.
"Apa mungkin bicara sama sekuriti komplek?" gumam Shandra.
Tak ingin menduga-duga, Shandra pun mengecek Atha yang tengah berbicara dengan siapa? Pintu pun sedikit terbuka dan Shandra bisa mengintip ke luar.
Benar saja, suaminya itu tengah berdiri di luar, tapi hanya dia seorang. Tidak ada orang lain bersama lelaki yang beberapa jam lalu sah menjadi suaminya.
"Ternyata dia lagi telponan," gumam Shandra yang kini berdiri di balik pintu.
"Aku tidak akan menyentuh dia, untuk mencintai pun aku gak akan mungkin. Hatiku dan cintaku hanya untuk Alika dan aku yakin kalau Alika pasti masih hidup. Alika pasti akan kembali kepadaku," ucap Atha yang masih sangat yakin dengan keyakinannya kalau Alika masihlah hidup. Selama tidak melihat langsung jasad sang istri, Atha masih menaruh keyakinan kalau Alika masih hidup.
"Kalau bukan karena mama, aku tidak mau menikahi dia. Aku yakin di balik cadar yang dia kenakan wajahnya sangat jelek," lanjut Atha beropini sendiri mengenai istrinya itu, padahal apa yang ia katakan belum tentu seperti itu.
Entah Atha berbicara dengan siapa? Tapi yang jelas hati Shandra terasa diremas-remas. Sakit karena Atha tidak menginginkannya dan sudah menilai buruk. Padahal Shandra sendiri sudah mau menyerahkan diri ke suaminya itu, tapi ternyata Atha tidak menginginkannya.
Karena tidak ingin hatinya semakin sakit, Shandra pun kembali ke kamarnya. Ia tidak ingin mendengar lagi kata-kata selanjutnya. Cukup sudah hatinya terluka oleh perkataan Atha yang tidak ingin membuka hati dan menginginkannya.
"Baiklah Atha, selama kamu tidak menginginkan ku, aku juga tidak akan memperlihatkan wajahku."
aihhh jangan lah sampai kaya drama Indosiar ya Thor
aiahhh ,,semoga otak nya terbuka si atta bukanya gelap mata ingin memiliki nya kembali terus kamu di tinggal
kan
akhirnya kebongkar juga...
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya
ayo???
lanjut thor ceritanya
di tunggu updatenya